
"We all live under the same sky, but we don't all have the same horizon."
(Kita semua hidup di bawah langit yang sama, tapi kita semua tidak memiliki cakrawala yang sama.)
***
Sebenarnya Bayu tak ingin kembali ke tempat ini. Ia benar-benar tak ingin datang. Kenangan itu masih menyakitkan. Bahkan saat ia ingin tidur di malam hari, mimpi buruk di tempat ini selalu menggentayangi.
Namun Bayu tak ingin menjadi pengecut dan berakhir mengecewakan kedua orang tuanya.
Lalu selangkah demi selangkah ia memberanikan diri untuk masuk dan mencoba menghindari bertemu dengan orang-orang. Ia berencana tak akan berhenti hingga ia bisa sampai ke dalam kelasnya, satu-satunya tempat yang bisa melindunginya.
Tapi sebelum berhasil menuju ke sana, seseorang menyapanya dari belakang. Sosok yang benar-benar ia takuti daripada genderuwo di toilet sekolah.
"Hey, kacung," panggil Hans.
Bayu tak merespon. Ia membisu dan tak mau berbalik. Ia justru terus berjalan, meski Hans mulai mengikutinya dari belakang.
"Lo tuli?" tanyanya berusaha untuk menyusul, namun Bayu mempercepat langkahnya, kemudian berlari untuk melarikan diri.
Hans yang geram pun memerintahkan kawan-kawannya untuk mengurus si pembangkang itu.
***
Genangan air yang berasal dari atap bocor menyambut Bayu.
Ia bersimpuh di sana dengan ketakutan dan ketidakberdayaan pada monster berwajah manusia yang berada di hadapannya.
Perasaan hina yang selalu ingin Bayu lupakan, diingatkan lagi oleh Hans manakala kaki panjang milik Hans berada di atas kepalanya.
Hans lalu menarik rambut Bayu agar ia mendongak.
Bingkai kacamatanya patah, lensanya pun retak dan menggores hidung Bayu.
Terlihat pula air matanya sudah menetes ketika menatap, kemudian bercucuran ketika memohon.
Hans masih ingin memukuli Bayu.
Ia melakukannya tanpa jeda dan tanpa ampun.
Rin yang menyaksikan itu pun merasa kasihan pada Hans yang kelelahan memukuli Bayu. Ia pun menyuruh Hans untuk beristirahat sejenak dan memerintahkan orang lain untuk melanjutkan memukuli Bayu.
***
Valen yang memaksakan diri untuk ke sekolah mulai merasa tidak enak badan.
Ia tak bisa berdiri lebih lama lagi mendengar pidato Kepala Sekolah yang membosankan. Ia pun memaksa Dante untuk menemaninya pergi ke UKS.
Mereka berdua pun berjalan keluar dari barisan meninggalkan lapangan.
Tak ada percakapan diantara mereka selama perjalanan.
Dante sibuk dengan pikirannya dan Valen sibuk membaca pikiran Dante.
Namun ketika berjalan di bawah tangga, Valen mendengar suara yang begitu gaduh.
Ia pun menarik lengan Dante untuk mencari tau darimana arah suara itu berasal.
Dante terlihat pasrah, karena masih sibuk dengan pikirannya. Ia masih melamunkan rencana kejam untuk si perebut wanitanya.
Dan saat mereka sampai di gudang sekolah, tercium aroma busuk yang menyengat hidung dan terdengar suara gelak tawa yang menggema dari dalam sana.
Ketika pintu yang tertutup itu Valen buka, ia mendapati sosok Hansel dan teman-temannya sedang bersenang-senang di sana. Bermain dengan korban-korban mereka yang lemah tak berdaya.
Rey pun di sana, meski hanya menonton, ia tetap ikut bersenang-senang.
Terlihat Bayu memberi sinyal SOS. Matanya berkabut seperti telah menahan lebih banyak tangis, karena ia dipaksa untuk menelanj*ngi seorang gadis gemuk berlumur lumpur yang meringkuk di sebelahnya, sementara orang-orang yang hadir di sana memvideokan.
"Ada keperluan apa?" tanya Hans, berdiri angkuh.
"Kalo tidak mau bernasib sama seperti mereka, lebih baik kalian berdua pergi," ancamnya.
"Lo ingin dipukul?" ujar Hansel mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Silahkan pukul," ucap Valen, menawarkan pipinya sendiri.
"Jangan ganggu dia," ujar Rey seraya bangkit dari kursi berniat melindungi Valen.
Hansel berdecih meledek Rey.
"Yo, man, setelah kematian Delisa, tipe lo menjadi begitu rendah."
"Excuse you?" sahut Rey, ia nampak tersinggung.
Hansel mengamati dada Valen dengan senyum miris.
"Ada banyak perempuan yang bisa gue kenalkan. Kenapa lo justru memilih mendekati perempuan yang kurang pantas?" cibirnya pada Rey.
"Kurang pantas?"
"Perempuan itu terlihat biasa, dari kalangan biasa dan keluarga yang biasa. Lo bisa mengencani perempuan manapun. Kenapa dia?"
"Sepertinya lo cuma mengencani orang yang setara dengan lo," sindir Dante.
"So? What?" Hans yang ingin menyinggung dengan kata-katanya, menjadi lebih tersinggung dengan kata-kata Dante.
"Gue mau mendekati siapapun bukan urusan lo, Hans," ucap Rey.
"Iya, bukan urusan lo Hans. Tapi urusan Dante. Yakan sayang?" Valen secara tiba-tiba menggandeng lengan Dante dengan mesra.
"Hah?" Dante terheran dengan mengangkat satu alis.
Valen pun mencubit pelan Dante sebagai kode.
"Oh ya, benar. Jadi jangan sembarangan lagi mengganggu gadisku," ujar Dante terpaksa berakting, sembari menepuk pucuk kepala Valen pelan.
Rin merasa tak terima dan mendorong Valen menyingkir dari Dante.
"Chagi... lalu bagi kamu, aku apa?" tanyanya seraya mengguncang bahu Dante.
"Sudah gue bilang, tidak ada," jawab Dante dingin.
Rin merasa hatinya tertusuk. Ia pun menutup mulut dengan satu tangan dan berlari keluar dengan air mata berlinang. Siswi-siswi lain yang berada di sana pun melakukan hal yang sama, termasuk Sintia yang tengah dibully.
Hans dan Rey mengerjapkan mata berkali-kali melihat pemandangan itu.
Tampilan keren dan gaya mewah mereka sepertinya tidak bisa menandingi pesona Dante di mata para wanita.
Dan selagi mereka berdua mematung, Valen membawa kabur Bayu.
Dante pun menyusul dengan berjalan santai dari belakang.
Ryan menepuk pundak kedua temannya yang masih mematung.
"Kalian masih lama bengongnya? Kalo masih lama, gue mau cari seblak dulu," ujarnya.
"Mau cari seblak di mana? Tukang seblak yang jualan di depan sekolah udah diusir," sahut Raka dengan gips yang masih berada di lengannya.
"Di sekolah SD ada kayanya," jawab Ryan.
"Ya udah hayuk."
Raka dan Ryan pun pergi membeli seblak bersama.
Sementara itu Hans dan Rey yang ditinggalkan begitu saja pun mulai saling pandang.
"Lo ingin seblak?" tawar Rey.
"Gue tidak tau seblak itu apa. Tapi, ya, gue ingin," jawab Hans, menerima tawaran. Ia berpikir seblak bisa menjadi healing atas shock yang baru ia alami.
Bersambung...