Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Hadeuh (2)



Dante menatap monitor Holter di samping ranjang adik bayinya. Ia begitu khawatir, karena garis-garis itu bisa berubah datar kapan saja.


"Agie..." ucap Dante lirih seraya mendekap tangan mungil adiknya itu dalam genggaman.


"Dokter bilang dia tidak apa-apa. Hanya pingsan karena dehidrasi. Lo lebih baik obati diri lo dulu," ujar Hans, namun Dante mengabaikan.


"Keras kepala," gerutu Hans, menggelengkan kepala. Ia tak mengira bahwa bayi yang sedang tidur di atas ranjang itu begitu berharga untuk rivalnya, Dante. Bahkan pria batu itu sampai rela meluncur ke dalam mobil yang akan diratakan mesin p3lum4t hanya untuk menyelamatkan adiknya itu.


Meski ia harus akui bahwa itu keren. Bahkan ketika Dante keluar menerjang kaca jendela yang berada di belakang mobil dengan darah yang mengalir dari luka goresnya, sangat mirip dengan aktor di film action yang pernah ia tonton. Sungguh sangat hebat.


Namun, ia merasa dirinya tak kalah keren dan hebat, ketika ia berhasil menghancurkan mesin pengontrol dengan kunci inggris, hingga mesin itu korslet dan mengeluarkan asap.


Meski... sebenarnya itu adalah tindakan percuma, karena hal itu tak membuat alat p3lum4t yang menggencet Dante dan adiknya berhenti, justru tetap bergerak turun untuk meratakan mereka berdua dalam mobil.


Tapi setidaknya, usahanya cukup untuk membuat orang yang melihat terharu.


"Oh yah, tentang anak itu, adik Sintia yang masih lo sekap. Akan lo apakan?" tanya Hans dan mendudukkan diri di sofa.


"Terserah lo. Bukannya lo ingin bertanya padanya tentang penyihir," sahut Dante.


"Oh benar. Gue hampir lupa."


"Ak-ka...aak..." ucap Agie yang sudah terbangun dengan suara lemah.


"Syukurlah, kamu bangun," ujar Dante dan meraih tubuh kecil Agie untuk dipeluk.


"Am scayi." Kenangan menyakitkan membuat Agie mengatakan itu.


"Tak apa, kakak di sini. Gak ada yang harus kamu takutkan lagi."


"Hu-um..."


Agie kemudian menyadari ada darah kering yang menempel di wajah kakaknya. "Akak akit?"


"Nope. Kakak baik-baik saja," sahut Dante, bersikap tangguh. Meski lukanya mulai terasa sakit.


"Agie!!!" pekik Daniel yang datang menerobos pintu dengan kasar.


"Nanin!" balas Agie.


Daniel lalu buru-buru berlari menghampiri adik kecilnya itu, memberi pelukan, kemudian menempelkan pipinya pada pipi chubby Agie.


"Menyingkir," ujar Dante. Ia yang cemburu pun mendorong Daniel agar menjauh dari Agie. Lalu memberi ekspresi seperti menyuruh Daniel untuk sadar diri.


"Duuh..." Daniel mengelus lengannya yang menubruk meja kecil di samping ranjang.


"Salahku ap---


hiiiiiiih..." Daniel yang baru menyadari kondisi Dante pun langsung mundur ke belakang, merapatkan diri dengan dinding karena merasa ngeri. Terlihat darah masih merembes keluar dari kemeja putih yang dikenakan kakaknya itu. Di leher, kening dan dagunya pula terdapat darah yang sudah mengering.


"Astagfirullah, lo kenapa Dan?" tanya Juni yang baru saja datang, ia panik sekaligus ngeri.


"Ini keringat," sangkal Dante. Ia lalu memakai blazer-nya kembali untuk menutupi dan berdiri tegak seperti tak pernah terjadi apa-apa padanya.


"Lo kira gue sebego apa gak bisa bedain keringet sama darah!" seru Juni. Sangat jelas ia begitu mencemaskan sahabatnya.


"Lo gak perlu bereaksi berlebihan. Ini gak seberapa. Hanya luka ke---"


"Dan," sapa Gagas yang berkunjung bersama Zoey.


Saat melihat gadis pujaannya itu datang, Dante seketika berakting lemas. Ia pun menghuyung-huyungkan tubuhnya dari satu sisi ke sisi lain.


Ia lalu dengan sengaja menjatuhkan diri saat Zoey mendekatinya.


Ia hanya ingin ditolong Zoey.


"Ckck, kelakuan," decak Juni, mendelik.


"Kamu tak apa?" tanya Zoey cemas, seraya membantu Dante untuk duduk.


Dante menggeleng. "Aku kesakitan. Aku mengalami cedera pada punggung dan kaki karena menghantam mobil dari dalam," tuturnya seraya meraih pinggang Zoey, melingkarkan tangannya di situ dan menyandarkan kepalanya di antara perut gadis blasteran itu.


Zoey mencoba melepaskan tangan Dante dari pinggang rampingnya. "Nanti pacarmu melihat."


Namun Dante justru lebih mengeratkan pelukannya. "Aku bilang, aku sangat kesakitan. Uhuk... uhuk..." Sikapnya terlihat begitu manja, bahkan ia sampai berpura-pura batuk.


"Siapa yang bereaksi berlebihan sekarang?" sindir Hans seraya menghela napas dan pergi meninggalkan ruangan.


"Si b#ngke malah uwu-uwuan. Gue mending beli cilok di depan daripada jadi obat nyamuk," dengus Juni. Ia pun pergi meninggalkan ruangan setelah Hans.


"Ikut bro." Gagas pun bergabung dan berjalan mengekori.


"Terus aku ngapain?" Daniel yang ditinggalkan tanpa diajak merasa bingung.


"Udahlah, aku pura-pura tidur aja," ujarnya dan cepat-cepat naik ke kasur Agie dan berniat menyembunyikan diri dalam selimut.


"Nanin, ino-aulus" celoteh Agie seraya menunjukkan jari telunjuk kecilnya yang terbalut plester dinosaurus.


"Iya, dinosaurus. Yuk bobok yuk," ajak Daniel. Agie pun mengangguk dan memejamkan mata sembari memeluk kakak keduanya itu erat.


"Dante, apa kamu sudah diobati?" tanya Zoey.


"Belum," jawab Dante. Ia lalu memegang tangan Zoey dan menggerakkan tangan mulus itu untuk mengelus wajahnya. "Cukup begini. Aku tidak mau diobati."


"Tapi kamu harus. Lukamu bisa infeksi."


"Jika kamu memaksa, aku punya syarat," ucap Dante, modus.


"Syarat apa?" tanya Zoey.


Dante tiba-tiba mendongak menatap wajah cantik Zoey.


Ia lalu menyentuh bibirnya sendiri dengan jari, sebagai isyarat minta untuk dicium.


Wajah Zoey memerah, ia menggeleng, menolak dan malu.


"Jika kamu tidak mau...


jika begitu biar saja aku kehabisan darah, biar saja aku mati. Maka itu salahmu," ancam Dante, meski itu lebih terdengar seperti rengekan.


Zoey terdiam. Ia tidak bisa memutuskan setuju atau tidak dengan permintaan Dante, karena ia tak ingin mendapat julukan PHO (Perusak Hubungan Orang) diantara Dante dan pacarnya, Valen.


"Maaf Dante, aku tidak bisa," tolak Zoey tegas.


Dante tak ingin memaksa. Ia pun melepaskan tangannya dari pinggang Zoey.


Meski ia kecewa, ia tetap tersenyum.


Tersenyum nakal.


"Kalau begitu, bantu aku obati lukaku," pintanya seraya menanggalkan blazer-nya kembali dan membuka kancing kemejanya satu-persatu.


Zoey tak menolak kali ini. Ia mengangguk meski dengan wajah yang telah kembali memerah.


Bersambung...