
"Seru ya cuy main bolanya," ujar Benni sembari berjongkok di samping tiang gawang.
"Seru your head, main juga belum," sahut Cassi.
"Sok inggris lu," gerutu Benni.
"Tau ah bodo amat. Mending gue keliling ngecekin meteran warga." Cassi pun pergi karena bosan menunggu teman-temannya yang lain yang belum juga sampai.
Tinggalah Bayu dan Benni yang masih sabar menunggu.
Benni lalu teringat dengan kejadian di kelas tadi pagi, tentang celana renang miliknya dan milik anak-anak lain yang hilang. Ia lalu bertanya pada Bayu mengapa bisa celana-celana renang itu bisa terkunci di dalam loker tua tanpa pemilik, dan mengapa saat di sekolah Bayu melarang Benni untuk hari ini saja tak boleh dekat-dekat dengan air.
Sembari menyantap cilok, Bayu tiba-tiba memberitahu bahwa Benni sebenarnya bukan anak semata wayang. Faktanya, Benni adalah satu dari dua bersaudara yang kembar.
Benni dengan sedikit tidak percaya pun bertanya, "saudara kembar gue emang kemana? Kok gue gak pernah liat dan gak pernah tau? Apa udah meninggal? Atau diculik? Atau diadopsi orang lain?"
Bayu tak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan Benni. Ia justru menatap ke arah samping kanan Benni. Raut wajahnya seperti sedang meminta persetujuan untuk menceritakan segalanya.
Setelah beberapa saat, Bayu kembali membuka mulutnya. "Masmu itu bukan manusia dan ndak hidup di dunia kita."
"Ha?" Benni mengernyit. "Maksud lo apaan? Jadi dia udah mati?"
Bayu menggeleng pelan. "Ndak, belum."
"Terus maksud lo apa? Abang gue bayi bajang?" tanya Benni dan tiba-tiba kepalanya tersentak ke depan seperti ada yang memukul kepala belakangnya.
"Bjir barusan apaan?" tanyanya panik dan menoleh ke segala arah sembari memegangi kepala belakangnya.
"Di suatu malam yang gelap dan petir saling bergantian menghantam di sekitaran pantai..." ucap Bayu dengan suara yang berbeda dari biasanya, lebih tenang dan berwibawa. Tanpa adanya logat Jawa yang biasanya begitu kental terdengar di telinga.
"Angin kencang berhembus di laut dengan gelombang yang besar, menerjang terjalnya karang di tepi pantai," lanjutnya sembari mengeluarkan buku catatan dan sebuah pena, kemudian membuat sebuah sketsa di sana. "Kapal yang ditumpangi ayah dan ibumu masih berlayar malam itu. Terjebak dalam bahaya," sambungnya sembari menunjukkan hasil goresan penanya yang begitu cepat sudah selesai, pada Benni.
Awalnya Benni mengira bahwa Bayu sedang melukis dirinya, karena gambar yang Bayu tunjukkan padanya sangat mirip dengannya. Yang berbeda hanyalah pakaian, postur tubuh dan bagian tubuh bawah yang cukup aneh. Seperti siluman, karena nampak sebuah ekor di dekat kaki gambar itu.
"Dih, nolong tapi gak ikhlas," celetuk Benni. "Mau nolongin tapi minta uang," gerutunya.
Bayu tiba-tiba tersenyum aneh seraya menatap Benni, tatapan yang teduh dengan manik mata yang berkilat biru seperti kelereng. "Sayangnya... tidak semua bayaran melibatkan uang."
"Terus minta dibayar pake apaan? Pake Crypto?" tanya Benni dan dijawab Bayu dengan pukulan di kepala.
"Bjir lu gak sopan! Kepala gue nih udah di ruqyah tau gak lu!" seru Benni tak terima. Untuk sekedar info, sebenarnya yang dimaksud Benni adalah di Aqiqah.
Tanpa mempedulikan keluhan Benni, Bayu kembali melanjutkan ceritanya. "Bayaran yang diminta adalah mengambil 1 dari dua janin yang sedang di kandung ibumu saat itu."
Mendengar itu, Benni menampakkan raut wajah terkejut. "Dikasih? Mama gue nurutin gitu aja?"
"Awalnya... orang tuamu mengingkari janji," jawab Bayu. "Tapi saudara kembarmu setelah lahir memiliki segala cacat dan keburukan," lanjutnya.
"Cacat kaya gimana? Keburukannya apaan?" tanya Benni.
"Coba kamu sebutkan 100 jenis penyakit kulit. Apa yang kamu sebut, penyakit itu pasti ada di tubuh saudara kembarmu, Beldenmornington."
"Jadi... karena cacat... abang gue dibiarin dibawa demit nenek moyang? Kata lainnya... abang gue dibuang?" tanya Benni, ia tak menyangka kedua orang tuanya bisa setega itu.
Bayu menggeleng pelan. "Ibumu kasihan padanya, yang terus kesakitan karena penyakitnya dan setiap hari merasa sengsara karena kutukannya. Jadi ibumu merelakannya. Lagipula, di tempatnya sekarang saudara kembarmu hidup cukup bahagia. Ia adalah Pangeran di sana."
Benni lalu menatap gambar yang dipegangnya lagi. "Jadi ini gambar abang gue?" tanyanya.
Bayu mengangguk. "Dia memakai jubah biru dari sutra, mahkota perak dan membawa pedang baja. Kaki dan tangannya memiliki sisik putih. Dan ekor buaya tumbuh di belakang tubuhnya." Lalu setelah mengatakan itu semua, tubuh Bayu tumbang dan ia tak sadarkan diri.
"Lah? Napa pingsan? Eh, lo belum kasih tau kenapa celana renang gue sama celana renang anak-anak ilang! Lo juga belum kasih tau siapa yang nyembunyiin! Apa abang gue yang nyembunyiin? Terus hubungannya sama gue gak boleh deket-deket air hari ini apaan?" ujar Benni sembari mengguncang-guncang tubuh Bayu agar segera siuman. "Jawab woi! Gue butuh jawaban! Ah membag#ngkan!" serunya kesal.
Bersambung...