Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Mimpi



Jam tidur telah tiba dan gadis itu datang lagi dalam mimpi William.


Ia berjalan menghampiri, berniat untuk menyapa. Terlihat dia menggigit bibir bawahnya sedikit menarik pipinya untuk tersenyum.


Dengan suara seperti anak kecil ia bertanya, "kakak mau main denganku lagi? Maukah?"


Ia lalu mengulurkan tangan pada William.


William pun menyambut uluran tangan itu dengan suka cita.


Mereka kemudian menulusuri jalan setapak yang sama seperti biasa bersama.


Di sepanjang jalan, nampak sangat jelas kebahagian pada wajah William.


Meskipun ini hanya mimpi dan meski terlalu mustahil untuk bisa bertemu dengan gadis yang di gandengnya itu di dunia nyata, William tetap merasa bahagia.


Karena itu dia.


Gadis imajiner bernama Nara.


William tak ingat pertemuan pertama kali ia dengan Nara.


Yang ia ingat hanyalah Nara selalu berada di sisinya saat ia tengah bermimpi.


Di saat ia baru saja mengalami hari sulit, Nara pun akan datang dan menyeka tangis William dengan lembut.


Di saat ia sedih atau kesepian, ia hanya perlu pergi tidur dan Nara sudah berada di sampingnya, menemani dengan setia.


Sebenarnya bukan hanya itu saja penyebab William menyukai Nara.


Sulit mengatakannya tapi,


hati gadis itu seperti pohon sejuk, yang memberikan tempat berlindung.


Senyumnya pun cerah bagai mentari yang menyinari hari.


Genggaman tangannya sedia untuk memeluk segala penderitaan William.


Ekspresi wajahnya bahkan bisa membuat William yang murung tersenyum.


Dan suaranya... suaranya adalah obat yang menguatkan William.


Juga langkah kakinya yang selalu memandu saat William kehilangan arah.


Jadi bagaimana mungkin William tidak mencintai gadis menggemaskan itu?


Gadis yang kedatangannya bagai anugrah, yang membuat William ingin menjaganya selamanya.


***


Langit berwarna jingga seperti jus jeruk yang mereka berdua minum, segera menenggelamkan matahari dan menyambut bulan.


Kedua pasangan sejoli itu tengah duduk di atas bukit, menyandar pada pohon sembari menyantap makanan piknik, di bawah lampu berkelip.


"Kak Iam... aaaaaaaaa..." Nara menyodorkan sepotong kue kepada William.


William pun membuka mulutnya.


"Aaaaaaaa..."


Namun Nara tak jadi menyuapi dan memasukkan kue itu ke mulutnya sendiri.


"Kamu makan itu setelah nawarin ke kakak?" ucap William dengan ekspresi meep.


Nara hanya membalas dengan tawa tanpa bicara.


"Dasar," ucap William sembari mencubit pipi chubby Nara.


"Sakit," keluh Nara cemberut.


"Sukurin. Suruh siapa gemesin," sahut William puas.


"Huh!" Nara memalingkan wajahnya sembari melipat tangan di dada, merajuk.


"Pemandangannya bagus ya," ujar William sembari memangku dagu. Ia mencoba mengalihkan agar Nara tidak berlama-lama marah padanya.


"Waaah... iya. Dari sini manusia kelihatan kaya sampah," celetuk Nara, membuat William menatapnya terkejut.


"Belajar kata itu darimana?" tanya William, masih memajang wajah shock.


"Anime," jawab Nara dengan wajah polos.


"Hah? Kamu nonton anime juga?" tanya William semakin terkejut dan Nara hanya menjawab dengan anggukan riang.


"Anime apa aja yang udah kamu tonton?" tanya William lagi.


"Aku nonton anime yang kakak tonton," jawab Nara, tanpa melepas senyuman.


William mengernyitkan dahi.


"Emang kamu tau... anime apa aja yang udah kakak tonton?" tanyanya dan dijawab anggukan lagi oleh Nara.


"Kok bisa?" tanya William lagi.


Dengan suara halus Nara menjawab, "karena aku selalu perhatikan kakak."


William terdiam sesaat. Ia lalu memasang wajah serius dan dengan berhati-hati bertanya, "Nara... kamu sebenernya apa? Apa kamu memang ilusi, atau makhluk ghaib yang nempelin kakak?"


Tempat yang asing dan sedikit seram.


Sebuah tebing curam dengan banyaknya tanaman rambat.


Nara kemudian menunjuk ke dalam dasar.


Ada sesuatu di sana.


Sebuah mayat yang tergeletak tengkurap dengan darah yang menggenanginya.


William terdiam cukup lama sembari mengepalkan tangan.


Ia lalu menoleh menatap gadis lucu di sampingnya.


"Itu kamu?" tanyanya.


Malaikat itu mengangguk dengan senyum.


William merasa tak percaya. Ia ingin memeriksa dengan matanya sendiri.


Dengan nekat ia pun menuruni tebing perlahan, sembari berpegangan pada tanaman rambat di sekitaran tebing.


Nara tak mengikuti. Ia hanya berdiri memperhatikan.


Dan tak lama kemudian, William pun berhasil mencapai dasar.


Walaupun telapak tangannya menjadi terluka karena beberapa cabang yang ia pegang ternyata berduri, bahkan dahinya sempat tergores oleh duri itu.


"Kak Iam..." panggil Nara yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan William.


Gadis itu menghadang sembari menggeleng pelan, mengisyaratkan agar William tidak terlalu dekat dan mencoba untuk melihat wajah dari mayat dirinya.


Namun William tak menghiraukan.


Ia tetap menghampiri mayat itu, duduk berlutut, lalu membalikkan posisi wajah dari mayat itu agar dapat ia lihat.


Seketika itu William merasa sesak, ia tak bisa menahan tangis.


Mayat gadis dengan gaun merah muda di hadapannya cukup mirip dengan Nara.


Meski ada sedikit perbedaan. Karena kulit wajah mayat itu sudah membiru dengan darah yang mengalir keluar dari goresan-goresan lukanya. Namun selebihnya tetap sama cantiknya dengan Nara.


William lalu mengusap rambut yang menutupi sebagian wajah mayat itu, kemudian membelai pipinya. Pipi yang terasa sama seperti pipi Nara yang ia cubit sebelumnya.


William lalu tersenyum dengan air mata yang sudah mengalir.


Dibandingkan takut, William lebih merasa iba.


Iba karena gadis itu harus mati di usia semuda ini.


Dan juga iba karena gadis itu mengapa bisa berakhir di tempat mengerikan seperti ini.


William lalu memeluk mayat Nara dipangkuannya. Menangis dengan suara parau karena kemalangan gadis manis itu.


Arwah Nara pun ikut menangis di sampingnya. Terduduk dengan menggenggam tangannya sendiri.


Tiba-tiba terdengar sebuah lagu yang familiar di telinga mereka berdua.


"Ano suiheisen ga toozakatteku.


Ao sugita sora ni wa ashita sura egake nakute.


Iki mo dekinai kurai yodonda hito no mure


Boku wa itsukara koko ni moguri kondan da."


Lagu itu membuat William spontan membuka matanya.


"Akhirnya lo bangun," ujar Dante seraya menaruh kembali jam alarm dengan desain karakter Anime di atas meja.


"Ini jam berapa? Lo ngapain di sini?" tanya William, sembari menundukkan wajahnya dan mengumpulkan nyawa.


"Ini jam 12 malam dan gue sedang ada perlu dengan lo," ujar Dante sembari menyodorkan keripik kentang.


"Lo ngapain jam 12 malem ganggu orang tidur, hah? Terus ngapain jam segini nawarin cemilan?" tanya William heran.


"Gue lihat lo menangis. Sepertinya lo bermimpi buruk. Jadi gue menawarkan keripik itu," jelas Dante.


"Dimana-mana kalo ada orang nangis yang ditawarin itu tisu, atau nggak ya sapu tangan. Bukan cemilan. Lo nyuruh oe elap air mata pake bungkus chiki?" keluh William tak habis pikir.


"Ah, i see. (Ah, begitu)," ucap Dante.


"Gue pikir menawari keripik bisa membuat seseorang berhenti menangis," ungkapnya.


William memasang wajah meep, lalu mengusap air matanya sendiri dengan selimut.


"Jadi, lo ada perlu apa setan?"


"Lo ahli IT.


Jadi gue ingin lo lacak seseorang," pinta pemuda tak tau waktu itu, sembari menyerahkan sebuah flashdisk usang berwarna hitam dengan gantungan tengkorak ikan pada kawannya yang saat ini sangat ingin memukulnya.


Bersambung...