
***
Hari masih pagi. Kabut tipis nampak masih menyelimuti. Terlihat sosok pelajar SMA dengan pakaian yang seluruhnya hitam sedang menunggu jemputan di pinggir jalan sembari menggendong bayi mungil dalam dekapan.
Bayi yang tadinya asik menghisap dot-nya itu tiba-tiba teralihkan oleh sosok pengamen berkostum di sebrang jalan.
"Akak... akak... adut pin-ipin," celotehnya sembari menunjuk-nunjuk ke arah sosok itu.
"Iya, badut Upin-Ipin," sahut sang kakak, yang tak lain adalah Dante menyahuti dan memperjelas celotehan adiknya Agie.
"Akak... acih adut wang," pinta Agie.
"Hmm... kakak tidak membawa receh Agie," ujar Dante membuat Agie kecewa dan mengerang dengan nada rengekan.
"Nghhngghng... akak, adut acihan. Adut angis maw mam," celoteh Agie lagi. Mata bulatnya terus menatap ke arah badut berkostum kartun asal Malaysia itu dengan perasaan iba.
"Hmm..." Dante berpikir sejenak. Ia kemudian memeriksa dompetnya, lalu mengambil selembar uang berwarna merah dan memanggil pengamen badut di sebrang untuk menghampirinya. Karena ia tak bisa ke sana sebab sedang kerepotan membawa barang bawaan beserta adiknya dalam gendongan.
Sang badut pun mendatangi dengan sesekali memperlihatkan gerakan-gerakan ceria untuk menghibur bayi dalam gendongan orang yang memanggilnya.
Langsung saja Dante memberikan uang yang dipegangnya.
Sang badut pun terlihat begitu berterima kasih karena nominal uang yang diberikan cukup besar dari yang biasanya ia dapat.
Tapi bagi Agie, uang yang diberikan kakaknya pada badut itu belum cukup. Ia lalu menyerahkan botol dot-nya pada sang badut. Namun Dante berhasil mencegah dengan menahan tangan adik kecilnya itu.
"Badut tidak minum susu formula, Agie," ujar Dante menjelaskan.
"Umh? Adut mimik eth ceyut yhah?" tanya Agie, menatap Dante dengan wajah polos.
"Hmm... iya," sahut Dante mengiyakan saja.
***
15 menit menunggu, akhirnya Mobil jemputan yang mereka berdua nanti akhirnya tiba.
Dante memasukkan Agie terlebih dahulu dan menaruhnya di tengah-tengah Feby dan Valen.
Ia sendiri duduk di kursi depan, bersebelahan dengan Bu Agatha yang menyetir, setelah menaruh barang bawaannya di bagasi.
Sedangkan William dan Juni berada di kursi paling belakang, dekat dengan tumpukan makanan ringan yang sengaja Juni bawa sebagai bekal, agar tidak menghabiskan banyak uangnya di tempat tujuan.
***
Mobil melaju dengan kecepatan standar.
Bu Agatha terus menerus mengajak Dante mengobrol dan membuat Dante lengah mengawasi adiknya, yang saat ini pipinya ada dalam bahaya.
"Embem, embem, embem.
Embem, embem, embem," ujar Juni menekan-nekan pipi Agie dengan jari, sembari mencondongkan setengah tubuhnya ke celah atas kursi di depannya.
"Kasihan, Jun. Pipinya bukan squishy," tegur William.
"Tembem banget abisan Will. Pengen gue gigit," ungkap Juni seraya berekspresi sedang menggigit.
"Dasar pedo," ujar Feby. Ia menepis tangan Juni kemudian melindungi Agie agar pipinya tak kembali disentuh.
"Gak pedo ukhty. Akhy cuma gemes aja. Jadi inget pas ngasuh adek-adek Akhy waktu bayi. Dua-duanya pada tembem juga kaya Agie dulu. Bedanya Agie gak ngeselin," tutur Juni sembari tersenyum jenaka.
"Ah, ntar pas gue udah nikah mau bikin yang kaya gini," cetusnya dan membuat Valen tersedak ludahnya sendiri.
"Lo gapapa?" tanya Feby sedikit khawatir.
Valen hanya mengangguk lalu memalingkan wajah.
"Agie, coba bilang kak Jun ganteng," titah Juni.
"Ka-un anteng," ucap Agie berusaha memenuhi permintaan Juni.
"Kak Jun I love you," titah Juni lagi.
"Ka-un hasyu," ujar Agie dan membuat William tertawa terbahak sembari memegangi perut.
"I love you bukan hasyu," ujar Juni gemas.
"Umh?" Agie tak memahami.
"Maksa amat sih Juni," sindir Feby.
Namun Juni tak menyerah dan masih meminta Agie meniru apa yang ia ucapkan.
"Agie, coba bilang, kak William hasyu."
"Ka-Yam chu," ucap Agie sembari memasukkan jari kelingking ke dalam mulut.
"Hasyu, bukan chu. Kalo chu artinya malah cium," protes Juni.
"Coba ulang, kak William hasyu," titahnya mencoba lagi.
"Thapek ah," keluh Agie dan mengalihkan fokusnya kepada Valen.
"Hahaha, rasain Jun," ledek William merasa puas, membuat Juni berekspresi masam.
Setelah beberapa saat memperhatikan Valen, Agie dengan tangan kecilnya mencoba memegang lengan boneka yang selalu dibawa gadis tertutup itu kemana-mana.
"Enyet," ujar Agie sembari tersenyum polos.
"Uwang?
Auuummm..." raung Agie memeragakan suara hewan sembari menunjukkan gestur saat beruang menerkam.
"Suara beruang bukan seperti itu," koreksi Valen.
"Umh?" Agie tak memahami.
"Jun, peragakan suara beruang," titah Valen sedikit menoleh ke belakang ke arah Juni.
"Heh?" Juni yang mendadak diminta memeragakan itu pun sempat dibuat bingung, namun pada akhirnya ia memeragakannya juga.
"Gwaaaaarrrgggghhh," geram Juni.
"Gwaaaaaaalllgggghhh," Agie mencoba meniru dan membuat Valen tergelitik.
Agie kemudian berdiri dari kursinya dengan berpegangan pada bahu Valen.
"Akak, akak," panggil Agie pada Dante.
"Apa?" Dante menoleh.
"Mam! Mam! Mam!" pinta Agie yang mulai merasa lapar.
"Kamu mau makan?" tanya Dante memastikan.
"Hu-um," sahut Agie seraya mengangguk.
"Agie, Agie mau seres?" tawar Juni sembari menyodorkan seres dalam kemasan kecil. Agie pun menerimanya dan duduk kembali di kursinya.
"Pelit banget Jun. Lo punya banyak chiki malah cuma nawarin seres," tegur William tak habis pikir.
"Lo gak liat giginya dia baru ada 6? Kalo dikasih chiki kesian lah," elak Juni memberi alasan.
"Ukain," pinta Agie pada Feby.
"Bukain?" tanya Feby yang takut salah memahami maksud Agie.
"Hu-um." Agie mengangguk.
Feby kemudian membukakan bungkus seres itu untuk Agie.
Agie dengan bersemangat mengulurkan tangan sebagai isyarat agar seres itu dituangkan di telapak tangannya. Feby pun langsung mengerti.
"Athih," ucap Agie berterima kasih.
"Sama-sama," balas Feby dan setelah itu Feby seperti terhipnotis untuk menuangkan seres di telapak tangan bayi di sebelahnya itu setiap kali ia telah menghabiskannya.
***
Beberapa waktu telah berlalu, namun mereka belum juga tiba di tujuan.
Agie yang bosan pun merangkak ke pangkuan Valen untuk lebih jelas melihat pemandangan di luar jendela.
"Embim biwu," ujar Agie pada mobil yang baru saja melintas di samping kanan mereka.
"Itu warnanya merah bukan biru," koreksi Valen.
"Uh-oh," sahut Agie sembari mengemut jari kelingkingnya kembali.
"Unti mewah," ucap Agie saat kebetulan mobil mereka melewati lorong Casablanca, tanpa memasukinya.
"Unti mewah maksudnya apaan?" tanya Juni yang memperhatikan Agie dan Valen sejak tadi.
"Kunti merah, kuntilanak merah," terang Valen menerjemahkan.
"Hah?
Jadi, Unti yang dimaksud bukan Aunty?" tanya Dante menoleh ke arah Valen.
"Bukan," jawab Valen.
"Hmm..." Sesuatu tiba-tiba melintas dipikiran Dante.
"Lo melihatnya kan?" tanya Valen.
"Apa?" Dante berbalik bertanya.
"Kemarin.
Sesuatu yang berkeliaran di luar kamar lo," ujar Valen penuh misteri.
"Gue kurang memahami apa maksud lo," ungkap Dante dan kembali menghadapkan diri ke depan.
"Gadis yang memakai gaun putih. Yang sebenarnya lo butuhkan bukan untuk dicintai. Melainkan kebutuhan untuk... gue gak bisa mencari kata yang tepat. Intinya lo hanya butuh dia sebagai sesuatu yang bisa lo pelihara dan lo beri makan. Layaknya peliharaan manja yang orang-orang menyebutnya kucing," tutur Valen dan membuat semua orang terdiam dalam kebingungan.
Dante kembali menoleh ke arah Valen sembari mengepalkan tangan.
Matanya seakan mengatakan, "kenapa lo bisa tau itu?"
"Lo harus merelakannya. Dia butuh jalan pulang," lanjut Valen menatap Dante dengan raut tegas.
"Valencia, apa ibu pernah melarang kamu menceritakan sesuatu yang tak ada?" tanya Bu Agatha sembari melirik dari kaca spion depan.
Valen menjawab dengan gelengan kepala pelan.
"Kalau begitu ibu melarangmu sekarang," sambung Bu Agatha.
" 'Kay," sahut Valen singkat seraya menggigit bibir bawahnya.
"Akak! Akak! Akak!" panggil Agie pada kakaknya lagi.
"Hmm?" sahut Dante memberi senyum.
"Mam upuk mawu mawu!" ucap Agie sembari menjulurkan kedua tangan seakan ingin meraih sesuatu karena ia masih merasa lapar.
"Hmm...
Will sorry, tolong ambilkan kerupuk di ransel gue, di belakang lo," ujar Dante meminta tolong.
"Anak Bayi dikasih kerupuk Dan?" tanya William heran.
"Gigi cuma 6 gimana ngunyahnya?" timpal Juni ikut terheran.
"Kalian lihat nanti sendiri," ucap Dante tak tau bagaimana menjelaskan.
Tanpa bertanya lagi, William pun mengambilkan kerupuk di ransel teman akrabnya itu dan segera menyerahkannya pada bayi yang duduk di kursi di depannya.
Agie langsung meraih cemilannya itu dengan kedua tangan, lalu mengemut kerupuk yang berukuran lebih besar dari wajahnya itu dengan mulut mungilnya.
"Heeeeeh... kerupuk diemut?" celetuk Juni terpukau.
"Oe juga gak kepikiran itu bisa diemut." William menyahuti.
"Kalo dikasih nasi kuning, diemut juga gak yak?" tanya Juni, berniat memberikan bungkusan berisi nasi kuning yang dia bawa.
"Jangan," larang Dante mencegah. Juni pun mengurungkan niatnya dan memasukkan bungkusan berisi nasi kuningnya kembali ke dalam tasnya.
Bersambung...