
Sepanjang perjalanan mengantar Hansel, Dante menunjukkan raut wajah marah.
Hansel tak menegur, ia membiarkan Dante seperti itu terus dan hanya fokus menyetir mobil barunya. Mobil sport berwarna merah itu ia dapatkan ketika menghadiri sebuah lelang dan ia memenangkannya dengan curang.
"Berhenti," titah Dante tiba-tiba.
Tanpa bertanya, Hans menghentikan laju mobilnya perlahan dan memberhentikannya ke pinggir.
Dante pun bergegas keluar dari mobil dengan terburu-buru. Hans pikir mungkin Dante hanya ingin buang air kecil dan sudah tak bisa menahannya.
Namun dugaan Hans salah. Karena pemuda dengan ciri khas berwajah lurus itu kembali dengan seekor kucing.
Sebelumnya Hans menyaksikannya dari dalam mobil, kucing lucu dengan corak oranye dan putih itu baru saja Dante tolong saat tersangkut di atas pohon.
Ya, dia merelakan dirinya memanjat pohon hanya untuk menyelamatkan kucing liar itu.
"Wow, orang berhati dingin seperti lo menyelamatkan kucing. Sangat di luar dugaan," ucap Hans, ia hampir tak bisa menahan tepuk tangan.
"Terserah lo ingin menilai gue bagaimana, gue gak peduli sama sekali," ucap Dante sembari bermain dengan kucing menggemaskan itu.
"Oh oke, sepertinya kucing itu mau lo bawa untuk adik lo. Gue maklumi kalau begitu.
Yah... mana mungkin lo akan bertindak heroik hanya untuk seekor hewan jika bukan demi adik bungsu lo itu," ujar Hans dan melajukan mobilnya kembali.
"Bukan," sangkal Dante. "Gue sebenarnya menyukai kucing dan pernah memelihara satu," ungkapnya.
"Mia?" tebak Hans.
Dante menoleh dengan sinis. "Gue bilang kucing."
Hans tertawa kecil. "Bukannya lo menganggap Mia seperti kucing? Bahkan lo memakaikan dia kalung kucing. Karena itu Rin tidak cemburu dengan Mia."
"Itu hanya pelampiasan karena kucing gue yang mati," ucap Dante meratap.
"Oh. Lalu mau apakan itu?" lirik Hans pada seekor kucing yang nampak telah nyaman dalam pangkuan Dante. "Apa lo mau membunuhnya juga dengan cara memeliharanya?" lanjutnya seraya terkekeh.
"Akan gue bawa pulang," sahut Dante. "Lalu gue akan ajarkan dia menyerang lo dengan gigi dan cakarnya. Apa sebelumnya lo pernah mencoba berjalan tanpa kaki? Jika belum, gue sarankan lo memulainya dari sekarang."
Hans berdecih. "Dasar baperan."
***
Jimmy sedang menghitung peralatan makan. Ia selalu seperti itu sehabis mencucinya.
Setelah selesai menghitung, ia lalu memegangi dagu, merasa sendoknya kurang 1, karena jumlahnya tak sama dengan piring yang ada.
Ia pun mulai mencarinya ke segala tempat. Mulai dari kolong meja makan, wastafel dapur, kamar mandi, kamar teman-temannya, lalu kembali ke dapur. Namun tak kunjung ketemu. Ia belum sadar bahwa sendok yang ia cari sejak tadi terselip di kuping kirinya.
Belum putus asa ia pun menggeser lemari piring tua yang ada di dapur, yang tak pernah di buka karena kuncinya hilang. Ia mencari ke sela belakang lemari itu dan merogohnya dengan tangan.
Namun, bukan sendok yang ia temukan, namun sebuah anak kunci yang terbalut debu tebal.
Setelah menyingkirkan debu-debunya, bola mata hijau milik Jimmy menyelidiki kunci itu.
Rasa penasarannya bertanya-tanya kunci apakah itu?
Tok... Tok... Tok...
Tok... Tok... Tok... "BUKAAAA!"
Suara ketukan itu kembali diperdengarkan pada Jimmy, namun kali ini diiringi suara seorang pria yang seakan membentaknya, menegaskan kalau memang ada seseorang di dalam sana.
Jimmy belum curiga, bahkan tak menampakkan rasa takut. Akal sakitnya menganggap Ultraman dengan kumis kotaklah yang sedang petak umpet di dalam sana yang mengeluarkan suara aneh tersebut.
Braaak... Braaak... Braaak... "BUKAAA!"
Suara ketukan telah berubah menjadi suara gebrakan.
Jimmy masih diam di tempatnya, menatap lemari itu dengan cekikan.
Entah sekarang apa yang sedang ada dipikiran randomnya.
"BUKAAAA!" teriak sesuatu yang terkunci dalam lemari itu lagi.
Jimmy mulai kasihan karena suara itu sekarang terdengar kering dan serak seperti kehausan.
Ia lalu melangkah pergi mengambil gelas berisi air, kemudian kembali menghampiri lemari piring itu.
Dan dengan polosnya ia menancapkan anak kunci yang baru ditemukannya ke lubang kunci lemari di depannya.
Klik...
Entah beruntung atau apa, kuncinya cocok dan berhasil membuka lemari piring yang telah bertahun-tahun terkunci itu.
Krieeettt...
Pintu lemari itu perlahan terbuka, menampakkan isinya.
Sebuah bayangan gelap berbentuk manusia dengan mata menyala merah ada di dalam sana. Makhluk itu menggeram dan menyorot marah pada Jimmy.
Jimmy yang mengira bahwa yang akan keluar darisana adalah Ultraman berkumis kotak pun memundurkan langkahnya. Dan tak jadi menawari segelas air ditangannya untuk menghilangkan dahaga.
Namun sebelum Jimmy dapat kabur, sosok menyeramkan itu telah lebih dulu menangkap pergelangan kaki Jimmy, membuat pemuda penyuka sesama jen--- penyuka warna hijau itu terkejut dengan menjatuhkan gelas yang tadinya ia genggam ke lantai.
Jimmy lalu diseret masuk oleh makhluk itu ke dalam lemari.
Kejadian itu begitu cepat, bahkan ia tak sempat berteriak atau berpegangan pada benda lain disekitarnya.
Kemudian hening...
Hening, seperti tak pernah terjadi apa-apa di sana.
Tak ada yang menyadari kejadian itu dan tak ada saksi sama sekali.
Tak ada yang tau Jimmy telah ditelan oleh lemari piring.
Bersambung...