
Setelah mendapatkan pesan chat dari juniornya, Benni, tentang kabar bahwa Cassi membuat masalah dan berakhir di ruang BK, Juni dengan cepat mengendarai sepeda motornya sembari membonceng Daniel di kursi penumpang.
Satu jam atau lebih, ia pun sampai di depan sekolah.
Ia lalu menitipkan Daniel pada pedagang gorengan langganannya. Kemudian dengan risoles yang berada di mulutnya, ia bergegas memanjat dinding untuk masuk ke dalam lingkungan sekolah dan berhati-hati agar tidak ketahuan oleh Satpam yang berjaga.
Tapi, saat ia mendaratkan kakinya, ia seperti mendengar nafas kasar di sebelah kirinya. Perlahan ia pun menggerakkan leher untuk menoleh.
Seketika ia pun beristigfar sembari mengunyah habis risoles yang tadinya masih berjengger di mulutnya, ketika menyadari sebuah sosok yang tengah melotot padanya. "Astagfirullah, terkejut my heart."
"Jam berapa sekarang? Habis jajan bukannya langsung masuk kelas. Gak denger bel bunyi?" sentak seorang pria paruh baya dengan kumis menakutkan yang tak lain adalah Pak Sumanto.
"Anu Pak, itu, itu, tadi si emank-nya gak ada kembalian. Jadi nungguinnya lama," ujar Juni beralasan.
"Ya sudah, masuk kelas!" titah Pak Sumanto dengan ekspresi yang mengerikan.
"I-i-iya Pak," sahut Juni dan berlari pergi. Namun ia tak menuju ke kelasnya, melainkan menuju ke ruang BK dimana adik tirinya berada.
Sesampainya di sana, ia melihat Cassi baru saja keluar dari pintu dengan seragam acak-acakan dan lebam di beberapa titik tubuhnya.
Sebelum Juni menghampiri, Virgo sudah lebih dulu muncul di depan Cassi.
Wajahnya menawan seperti biasa. Namun, dia bukanlah tipe orang yang disukai semua siswa walaupun ia Presiden sekolah. Karena sesuatu yang akhirnya membuat Juni ingin memukulnya bahkan dari kejauhan.
Dengan ekspresi dingin Virgo mencibir Cassi. "Untuk apa kamu sekolah? Sekolah bukan tempat untuk orang sepertimu. Yang kamu tau hanya menyiakan uang orang tuamu untuk menyekolahkan anak tidak berpendidikan sepertimu."
"Bacot," balas Cassi.
"Jika kamu tidak bisa menyesuaikan diri dengan standar yang ada, maka pergi," lanjut Virgo dan setelah itu ia meninggalkan Cassi sendiri.
"Liat aja, ketemu di jalan gue tabrak mati lo!" pekik Cassi, namun Virgo mengabaikan.
"Heh," tegur Juni seraya menghampiri.
Cassi tak membalas, dia hanya diam dengan ekspresi masam.
Juni lalu melepas jas miliknya dan menaruhnya pada bahu Cassi, karena beberapa bagian kulit gadis preman itu terekspos, sebab seragamnya sobek dan hanya 3 kancing bajunya saja yang masih sanggup bertahan.
"Ckck... muka lo udah kaya abis di siksa di neraka," decak Juni sembari menggelengkan kepala.
"Huh~ nangis aja," ujar Juni sembari menghela napas. Ia lalu berjongkok membelakangi Cassi, menawarkan diri untuk menggendong.
Cassi pun menaiki punggung Juni, memendam wajahnya di sana dan menangis dengan keras.
***
Di lorong depan kelas, Valen tak sengaja berpapasan dengan Virgo. Dengan sikap angkuh, ia melipat tangannya di dada seraya berujar, "kekerasan adalah bagian penting dari hidup manusia, kenapa ada aturan yang melarang itu?"
Kalimat Valen berhasil membuat Virgo menghentikan langkah dan menoleh menatap gadis pencari gara-gara itu.
"Penting?" ucap Virgo heran.
"Kakak gak bisa mengatakan kalau kakak belum pernah menonton film laga dan menikmatinya. Dan fakta bahwa kita sudah perang sejak sejarah pra-rekaman film-film seperti itu. Akui saja, kita adalah makhluk yang memuja kekerasan," lanjut Valen.
"Seharusnya---"
"Ya, kakak mungkin mengatakan kita seharusnya lebih berkembang sekarang," sela Valen, membaca pikiran Virgo.
"Tapi itu sama sekali tidak benar. Kita justru menikmati perilaku kebinatangan yang ada pada diri kita, bukan?" sambungnya.
Virgo tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.
"Ya, wajar saja kamu mengatakan itu. Aku hampir lupa siapa pacarmu," cibirnya.
"Memangnya kenapa dengan dia?" tanya Valen, pura-pura tak tahu.
"Semua orang tau bagaimana pacarmu dan bagaimana kejamnya dia," cetus Virgo.
"Ya, dia memang kejam. Jika gue gak mencegah dia berulang kali pagi ini, mungkin tubuh kakak gak utuh sekarang.
Tapi seenggaknya dia gak bersembunyi di balik topeng. Dia jujur pada dirinya sendiri," singgung Valen.
Virgo memicingkan mata, ia berhasil tersindir.
"Aku tidak punya waktu untuk ini," ucapnya dan berniat pergi.
"Presiden Sekolah...
Julukan itu penjara yang gak terlihat bagi lo kan, kak? Lo dituntut sempurna sampai lo terpaksa menghilangkan rekam jejak masa lalu lo," oceh Valen, sengaja mengatakan itu.
"Kamu menyelidikiku?" tanya Virgo, emosi tertulis jelas di wajahnya.
Valen menggeleng.
"Itu merayap ke dalam kepala gue sendiri. Setiap adegan kehidupan yang kakak jalani."
"Kamu ingin aku percaya?" tanya Virgo, seraya mendekat hingga membuat mereka beradu pandang.
Dan ketika itu Valen merasa seakan-akan bisa melihat tembus ke balik tatapan mata kelabu Virgo yang dingin. Tak ada kehangatan di sana. Kesan beku pun terpampang jelas dari ekspresinya.
"Gue gak maksa lo percaya, kak. Tapi... gue sedikit bersimpati bagaimana lo harus mengurus diri sendiri. Sejak kecil berangkat ke sekolah sendiri, berbelanja dan memasak sendiri. Bahkan lo pernah mengemis. Betapa mengenaskannya," ucap Valen mengasihani.
Namun dalam pendengaran Virgo itu terdengar seperti hinaan.
Ia lalu mendorong Valen hingga gadis itu terpojok ke dinding, kemudian mengurung Valen di sana dengan tangan dan mendekatkan wajah hingga Valen dapat merasakan hembusan nafasnya.
"Bicara satu kata lagi, aku mungkin akan melakukan sesuatu pada mulut kecilmu," ancam Virgo, nampak dingin dan bengis.
Valen diam, mengunci mulutnya. Namun kedua tangannya bergerak-gerak, membuat mata Virgo fokus mengikutinya.
"Sepertinya lo gak mendapatkan orang tua sebaik teman satu yayasan lo, kak," ucap Valen, dengan bahasa isyarat. Matanya lalu melirik ke arah Juni yang sedang berjalan menggendong Cassi sembari bernyanyi ding ding pa ding ding oy ding ding pa ding ding.
Virgo tertawa sinis, ia menyerah untuk menjawab.
Batinnya berkata, "gadis ini pandai mencela orang."
Bersambung...