Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Di usir



Dante membuka pintu UKS dan melihat Zoey berada di sana, mengurus murid-murid yang sedang sakit.


Awalnya Dante berpikir mungkin Zoey akan menyapanya untuk sekedar menanyakan kabar dengan senyum cantik seperti biasa.


Namun, tidak.


Zoey tidak melakukan itu. Ia justru berjalan pergi melewati Dante begitu saja dan menghindari bertatapan langsung dengannya.


Mendapat perlakuan seperti itu Dante tak marah. Ia justru merasa menyesal. Karena ia lah yang bersikap seperti itu lebih dulu saat berpapasan dengan Zoey di lapangan dan membuat wajah cantik Zoey kehilangan senyuman.


"Pada akhirnya lo yang mengacaukannya. Lo gak bisa melindungi bunga sepertinya," sindir Valen seraya membantu Bayu berbaring.


"Kenapa lo menganggap gue yang salah? Gue gak pernah gak mencintai dia. Dari dulu sampai sekarang. Tapi dia yang mendorong gue hingga ke ujung tebing!" ujar Dante mengeraskan suara, hingga membuat siswa-siswa yang sedang sakit di sana menatapnya. Suara kerasnya pun membangunkan Juni dan Gagas yang tadinya tertidur.


"Hoam... berisik amat," ucap Juni sembari menguap.


Dengan nyawa yang masih ia kumpulkan, ekor matanya pun mengitari sekitar.


Di sana ia melihat adik kelasnya yang babak belur dan terlihat sekarat, dan juga Valen yang sedang mencari kotak obat.


Juni kemudian teringat kejadian tadi malam.


Di mana ia harus bermalam di sebuah ruangan serba putih berukuran 4x4 dengan aroma obat yang menyengat, untuk menemani Valen yang mendadak tak sehat.


Juni saat itu tidur tertelungkup di samping ranjang Valen, dan karena ia merasa gadis itu hanya menatapnya, Juni pun membangunkan dirinya sendiri dan berusaha agar matanya terus terjaga sepanjang malam.


Ia kemudian mengalihkan Valen dengan cerita-cerita random yang ia pikir mungkin akan membuat Valen tertawa.


Namun itu tak berhasil, karena Valen hanya tetap diam sembari menatapnya tanpa memberi ekspresi apapun.


Tapi tak lama berselang, di tempat sunyi itu Valen membuka mulutnya dan bertanya, "Jun, pernah kah lo membenci orang tua yang membuang lo di panti asuhan?"


Saat mendengar pertanyaan itu, Juni terdiam, berpikir sejenak.


Kemudian menerbitkan senyum yang begitu cerah, lalu menjawab, "gue justru mau makasih karena mereka udah buang gue."


Mendengar hal itu Valen pun tak bertanya lagi, karena ekspresi bahagia Juni telah menunjukkan jawaban atas semua keingintahuannya.


Tiba-tiba Dante menggebrak meja, membuat Juni tersentak dan sadar dari lamunannya.


"Bagi kalian yang hanya pura-pura sakit untuk bisa tidur di sini, pergi, sebelum gue laporkan," usir Dante, menatap Juni dan Gagas. Ia seperti sedang melampiaskan amarahnya pada mereka berdua, padahal ia sendirilah yang menyuruh Juni dan Gagas untuk tidur di sana.


"Ini juga mau pergi.


Eh, sepatu gue mana?" ujar Juni mencari ke sekeliling.


"Lo taro mana, bro?" tanya Gagas, berniat membantu mencari.


"Tadi sih gue pake, gak gue lepas," jawab Juni.


"Loh itu masih lo pake, bro," sahut Gagas.


"Lah iyak, kok tadi bisa ilang yak?" tanya Juni masih terlihat bingung.


"Gue hitung sampai 3," ujar Dante terlihat habis kesabaran.


"1..."


"Bentar kampret," keluh Juni sembari merapihkan seragamnya dengan memasukkan kemejanya dalam celana.


"Cepet bro, cepet bro," ajak Gagas. Ia sangat tau betapa kejam kawannya itu jika perintahnya tidak dituruti.


"Eleh, napa sih buru-buru," gerutu Juni.


Dante kemudian mengambil hydrant pemadam dan berniat menggunakan itu untuk memukul kepala Juni.


"2..."


"Eh! Eh! Eh! Ampun Dan, ampun, sabar, sabar!"


Juni memepetkan diri ke tembok, berusaha menghindari Dante untuk berjalan menuju pintu.


"3!"


"Huwaaa... tolong! Aku mau dianiaya psikopat! Tolong!" teriak Juni. Beruntungnya ia sudah berhasil keluar dari pintu. Ia pun langsung berlari cepat menyusul Gagas yang sudah berlari lebih dulu meninggalkannya.


***


Gagas yang baru memasuki kelas pun sudah dibuat kelimpungan. Karena wali kelasnya, yaitu, Bapak Sumanto mendadak mengadakan ujian.


Gagas sama sekali belum belajar, apalagi pelajaran yang diuji adalah mata pelajaran tersulit, yaitu quantum physics.


Bahkan saking paniknya Gagas salah mengisi biodata.


...



...


"Vroh, Vroh, nomor 20 pilihan ganda apa?" tanya Andy berbisik sembari menepuk pundak Gagas.


"Bentar bro. Gue baru selesai isi biodata," sahut Gagas, seraya menoleh sedikit.


"Lama amat," keluh Andy.


"Lo sendiri cepet amat udah sampe nomor 20?" tanya Gagas.


"Soalnya gue gak baca soalnya," jawab Andy begitu terus terang.


"Terus lo jawabnya gimana?" tanya Gagas lagi.


"Ngintip punya orang. Isi biodata aja gue nyontek ke si Roni," jawab Andy, ia benar-benar menyalin biodata yang di tulis teman sebelahnya. Gagas pun menggeleng heran.


"Lo coba baca dulu nomor 20 terus kalo tau jawabannya kasih tau gue," titah Andy memaksa.


"Bentar," ujar Gagas, kemudian membalik halaman soal untuk mencari nomor 20.


"Gimana vroh?" tanya Andy tak sabar.


"Yang itu ditambah itu sama dengan itu bro," jelas Gagas, namun nampak tak jelas.


"Itu apa?" Sama halnya dengan author, Andy pun tak memahami maksud teman yang duduk di depannya itu.


"Jawabannya itu bro," ucap Gagas, menegaskan.


"Sebut aja A, B, C atau D, kamvret," ujar Andy geram.


"Bentar." Gagas mencoba menelaah soalnya lagi.


"Gimana vroh?" tanya Andy, sembari menghentak-hentakkan kakinya di bawah meja, karena tak sabar.


"Ng... gue merasakan ada aura negatif dari jawaban C, bro," ungkap Gagas, setelah memindai soal dengan kemampuannya.


"Jadi jawabannya C?" tanya Andy memastikan.


"Gak bro. Jawabannya kalo gak A ya B, kalo nggak ya D. Intinya jangan pilih yang C," terang Gagas.


"Oke." Andy memberi jempol seakan puas.


Dan setelah mengisi nomor 20 pada lembar jawabannya dengan pilihan B, Andy pun menepuk pundak Gagas lagi untuk menanyakan jawaban selanjutnya.


"Vroh, nomor 21 apa?"


"Bentar bro, gue mau pake bantuan kalkulator dulu karena yang ini pertanyaan tersulit," ucap Gagas menatap jam tangannya yang kebetulan bisa digunakan untuk kalkulator.


"Ya udah cepet."


"Oh kalkulator, tolong bantu gue jawab pertanyaan nomor 21," ujar Gagas seraya membaca mantra.


Andy tercengang karena Gagas dengan begitu percaya diri menanyakan soal pada sebuah jam kalkulator.


Terkadang ia memang merasa Gagas sedikit kurang waras, tapi hari ini ia merasa yakin bahwa Gagas memang sudah tidak waras.


Andy pun kembali menepuk pundak Gagas untuk menegur.


"Vroh, vroh, lo butuh ditampol gak?" tawarnya.


"Yang ribut di belakang! Keluar!" bentak Pak Sumanto tegas dengan raut wajah seakan ingin memakan anak muridnya yang ribut itu.


Dalam sehari, Gagas pun telah diusir 2x.


Bersambung...