
"Dia dibunuh karena punya hutang sepuluh ribu rupiah," ucap Daniel pada Juni yang sedang bertamu di rumahnya. Sebenarnya Dante meminta Juni untuk datang di sore hari, namun pemuda tak sabaran itu datang lebih awal untuk menyantap 5 mangkuk mie yang ditawarkan kawan dekatnya itu.
"Lo tau darimana Nil?" tanya Juni, ia sedikit kurang percaya dengan apa yang diceritakan Daniel, tentang penyebab kematian pemilik warung nasi uduk yang meninggal terbunuh oleh iparnya sendiri.
"Aku tau pas ke warung beli permen, bang," jawab Daniel.
"Emen?" celoteh Agie yang sedang duduk dipangkuan Juni sembari memegang kerincingan bayi. "Nanin, emen maw emen," pintanya.
"Minta permen terus kamu. Tidur di toples aja sana," dengus Daniel.
Agie yang tak dapat permen pun merengut. Namun tiba-tiba ia teralih pada sesuatu yang berada di sudut ruangan. Sesuatu yang tak tersentuh tapi hadir untuk meninjau kegiatan mereka.
Jari telunjuk mungil milik Agie lalu menunjuk-nunjuk ke arah sosok itu berada, sembari berkata, "thothong."
"Mh? Sotong? Kamu mau jajan sotong?" tanya Juni.
Namun Agie memberi tatapan bingung. "Umh?"
"Yodah, yok beli." Juni lalu bangkit seraya menggendong Agie dan mengajaknya jajan, berhubung perutnya pun sudah cukup lapar.
"Ikut bang," pinta Daniel dan berjalan menyusul.
***
Setelah berjalan-jalan cukup lama dan tak menemukan pedagang yang lewat, akhirnya mereka menemukan satu pedagang dengan gerobaknya, sedang menjajakan dagangannya di pinggir jalan.
Mereka lalu menghampiri pedagang itu, yang sedang sibuk memisahkan adonan cireng miliknya dan sesekali membolak-balikan adonan yang sudah dimasukkan ke dalam penggorengan.
"Mang beli mang. 5ribu aja," ujar Juni.
"Katanya mau beli sotong, bang?" tanya Daniel.
"Tukang sotongnya kaga ada. Beli yang ada ajalah, laper gue," sahut Juni yang masih menggendong Agie.
Bayi yang sedang mengemut jari itu memperhatikan pedangan cireng itu dengan seksama.
Tampang laki-laki itu agak aneh. Wajahnya sangat kurus hingga kedua tulang pipinya terlihat jelas. Kemeja kotak-kotak yang dikenakannya juga sangat kusut, seperti sudah lama tinggal sendiri dan tak ada yang mengurus.
Saat pedagang cireng itu membalas tatapan bayi kecil yang menatapnya itu, bayi itu langsung menyembunyikan wajahnya pada dekapan Juni, sembari menarik-narik kemeja dalam Juni, memberi isyarat untuk segera pergi.
"Kenapa? Agie gak mau cireng?" tanya Juni.
Memang, bila disimak berlama-lama, wajah tukang cireng itu nampak bukan tukang cireng yang ramah.
"Sebentar dulu. Kakak udah pesen 5ribu," ucap Juni.
"Tuyun!" seru Agie, tiba-tiba meminta turun.
Juni pun menurut dan menurunkannya dan setelah itu Agie memutuskan untuk berjalan pulang sendiri. Cara jalannya sangat lucu, seperti kangguru.
Dan meski bayi kecil itu sebenarnya tak hapal jalan mana yang akan menuju kembali ke rumahnya, ia tetap bersikukuh untuk segera pulang, meski harus pulang sendiri.
"Aduh Agie," ucap Juni yang kebingungan harus mengikuti Agie pulang atau menunggu cirengnya matang. "Nil, susulin Nil. Cirengnya gue yang tungguin," titahnya.
"Iya bang. Beliin yang aku juga ya," ucap Daniel seraya buru-buru menyusul adik kecilnya yang untungnya belum berada cukup jauh.
"Ho-oh, kalem," sahut Juni, setengah berteriak.
Setelah kepergian Agie dan Daniel, langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah gelap, meski memang tak segelap malam.
"Kayanya mau hujan," gumam Juni.
"Hidup itu omong kosong ya, nak," ucap laki-laki itu sembari memasukkan beberapa potong cireng ke dalam plastik bening.
"Dulu walau kamu gak berbuat salah kamu dipukul. Saat makan dipukul, saat tidur dipukul, saat ibadah dipukul. Kamu hidup begitu," ucapnya lagi.
Juni nampak tak menanggapi. Ia berpikir, si tukang cireng itu mungkin hanya sedang bicara sendiri atau sedang mengajak mengobrol cireng-cirengnya.
"Jangan dekat-dekat dia," peringati laki-laki itu. "Dia penganut paham yang diciptakannya sendiri. Kamu tidak akan selamat," lanjutnya sembari menyerahkan kresek berisi cireng yang dipesan Juni.
Juni lalu menerimanya, lalu mengucap terima kasih setelah membayarnya, sembari memberi sebuah senyum. Senyum yang bercampur gelisah, karena dimatanya saat ini tukang cireng itu tiba-tiba terlihat berbahaya.
Bahkan setelah Juni beranjak pergi, untuk kembali ke rumah Daniel, ia mendengar tukang cireng itu bicara melantur, meski lebih terdengar seperti ia sedang berkomat-kamit.
"Mata sehitam malam dan nafas sedingin es. Ia lahir dari kegelapan, nyanyian-nyanyian kematian mengiringinya, oh makhluk yang ada di perbatasan cahaya dan kegelapan, kupersembahkan untukmu darah manis untuk menjamu dirimu dalam perjalananmu ke bumi. Selamat datang Pangeran Neraka. Sambutan yang hangat untukmu."
Juni yang was-was karena kalimat-kalimat mengerikan yang didengarnya itu pun menoleh ke belakang.
Namun, saat ia menoleh, tukang cireng itu sudah tak ada. Juni yang baru menyadari bahwa tukang cireng itu sebenarnya adalah hantu pun spontan membuang kresek berisi cireng yang dipegangnya dan lari sekencang-kencangnya, sekuat tenaganya.
Bersambung...