
"Keep love in your heart. A life without it is like a sunless garden when the flowers are dead."
(Simpan cinta di hatimu. Kehidupan tanpanya seperti taman tanpa matahari ketika bunga-bunga mati.)
***
William hanyut dalam ingatannya.
Ia berputar seperti itu sampai akhir, tanpa memperhatikan guru yang sedang marah-marah di depan kelas.
William terus menundukkan kepala, merasakan pedihnya luka, walau ia tak mampu untuk menangis. Karena ia tak ingat apapun. Ia tak ingat ada gadis yang pernah bersemayam dihatinya, ia tak ingat bahwa ia memiliki seseorang seperti itu. Ia benar-benar tak ingat.
Meski begitu, entah bagaimana ia merasa memang pernah ada seorang gadis yang menggenggam tangannya dan masih menggenggam tangannya hingga kini dengan erat, tersenyum padanya dengan wajah yang tak bisa ia ingat.
10 menit lalu, saat guru keluar untuk pergantian pelajaran, William menghampiri meja Valen, karena Dante sempat mengatakan padanya di sebuah grup chat bahwa Valen meminta sepulang sekolah nanti agar diantar olehnya ke suatu tempat.
Namun, sebelum William mengatakan bahwa ia ingin menolak, Valen sudah lebih dulu bicara.
Ia bertanya, "apa Nara masih mengunjungi lo?"
William diam, menatap Valen heran.
"Darimana lo tau nama itu?" tanyanya.
"Gue pun gak tau bagaimana menjelaskannya. Banyak hal yang sepertinya udah terjadi 1 tahun lalu pada kalian semua," ucap Valen dengan ekspresi misterius.
Ia kemudian melanjutkan.
"Yang gue yakin kalo dia spesial buat lo. Mungkin lo gak ingat. Sebab sebelum dia meninggal, dia sempat bilang kepada lo, jika dia gak bisa menemui lo lagi di tempat yang sama, dia ingin lo lupakan dia, karena dia gak ingin lo menderita. Dan lo setuju."
"Hold up, gue gak ngerti lo ngomong apa," sahut William.
"Lo akan mengerti ketika ikut gue sepulang sekolah nanti," ujar Valen, nada bicaranya seperti sedang memaksa.
William lalu melirik pada Dante yang hanya menyimak sembari memutar pena di tangan.
"Dan, lo ngerti cewek lo ngomong apa?"
"Mungkin yang dia maksud salah satu istri semu lo," duga Dante.
"Will, gue beritahu, walau gadis kecil itu udah memakai kesempatannya untuk reinkarnasi, dia masih ingin melihat lo. Karena itu... dia mengambil wujud yang pernah lo kenali untuk menemui lo," ujar Valen, ekspresinya semakin serius.
Valen kembali melanjutkan.
Tapi di dalam mimpi... setidaknya hanya di dalam mimpi, kalian bisa kembali bersama. Meskipun... lo akan melupakannya lagi ketika lo terbangun."
Ucapan Valen membuat William diam. Ia tak mengatakan apa-apa. Ia tak menyahut sama sekali. Perlahan ia pun kembali ke kursinya.
Perlahan, ia merasakan sakit.
Sakit seperti tercabik.
Sakit yang membuatnya ingin melarikan diri atau pergi mati.
Namun tak jadi.
Karena ia sedikit menguping saat Dante bicara pada Valen yang membuatnya ingin tertawa.
Dante bertanya pada gadis yang duduk di sebelahnya itu.
"Lo sungguh cenayang?"
"Kenapa? Lo mau bukti?" sahut Valen.
"No need. Gue hanya ingin tau satu hal," ucap Dante, terdengar serius.
"Apa?" sahut Valen lagi.
Dante pun tak segan bertanya.
"Apa lo bisa beritahu bagaimana suara Pocong?"
Valen terdiam sesaat, nampak sedang berpikir untuk menjawab apa. Kemudian ia berbalik bertanya.
"Bae... lo pernah di sleding pocong?"
Dante menggeleng. "Belum."
"Ingin coba?" tawar Valen.
"Hmm... no," tolak Dante.
"Jadi gue ingatkan, lebih baik lo diam," ucap Valen, wajah cantiknya menyunggingkan senyum masam.
Bersambung...