
Ada satu hal yang harus kita ingat. Kita tidak lahir ke dunia untuk menderita atau menyerah.
Kita lahir untuk bahagia.
***
Dante menatap langit yang tampak merah. Mata hitam lekatnya berkilau nakal dan puas. Melahap jiwa pendosa memang sangat lah nikmat.
Suara samar dan tak jelas kemudian terdengar di telinganya. Seperti harmoni tak manusiawi menyeramkan, bersamaan dengan munculnya sebuah sosok gelap yang berdiri diam di antara semak-semak dandelion setinggi lutut.
Dengan tenang Dante menegur sosok yang mematung memperhatikannya itu. "Siapa di sana?"
Dalam keheningan yang hanya dipecahkan dengan suara gerimis hujan, sosok itu lalu menyahut. "Oh hay diriku. Kita bertemu lagi."
Ia kemudian menampakan dirinya lebih jelas. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya. Namun Dante tak menjawab, ia hanya terpaku di tempat dalam kebingungan karena melihat dirinya sendiri sedang bicara dan menatapnya.
"Pasti hidupmu sangat menyenangkan... dan kejam," lanjutnya seraya menyeringai karismatik.
Ia lalu melangkah lebih dekat ke arah Dante. Nampak jelas pakaian kasual yang ia kenakan telah kotor berlumur darah.
"Sejak dulu, aku bertanya-tanya... kenapa aku harus ada?" tanyanya tiba-tiba. "Apa dirimu tau jawabannya? Apa memang aku dan dirimu menginginkannya?"
"Hah?" Dante sama sekali tak memahami.
"Mataku sudah lelah menangis. Hatiku sudah penuh dengan kebencian. Dan otakku... sudah menyerah untuk berpikir bagaimana mengakhirinya," ungkapnya, menampakkan ekspresi hampa dengan senyuman misterius.
"Lo siapa?" akhirnya pertanyaan itu terlontar dari mulut Dante. "Lebih tepatnya... lo apa? Kenapa lo mirip dengan gue?"
Sosok itu tersenyum lagi. Tapi senyuman itu tak merambat naik ke kedua matanya. "Bagi sebagian orang kita adalah eksistensi yang menyebalkan dan mereka berharap kita hilang."
"Mean?" Dante masih tak memahami. "Kita?"
"Jika kamu mau meluangkan waktu, aku bersedia menceritakan semuanya," ujar sosok yang mirip dengan Dante itu. "Cerita ini akan sangat panjang, layaknya mimpi dengan mata terbuka."
"Baiklah," ucap Dante setuju.
"Versi apa?" tanya Dante dan dibalas helaan napas lelah oleh sosok itu.
***
Saat bibir mereka bersentuhan, seluruh warna di sekeliling Virgo melebur menjadi satu. Batas antara ruang dan bentuk menjadi samar. Ia sudah tak bisa lagi merasakan keberadaan dirinya dan raganya.
Bunyi halilintar memekakkan telinga tiba-tiba terdengar, membuat Virgo tersentak dengan rasa sakit di dada. Rasa sakit yang tiba-tiba itu begitu menyesakkan, layaknya bernapas tanpa paru-paru.
"Lo gak menduga ini kan? Lo gak menduga gue akan membagi racunnya dengan cara itu?" ucap Valen dengan nada suara sangat santai.
"Oh ya?" sahut Virgo yang masih berusaha mengembalikan napas.
Setelah itu ia mencoba berdiri tegak. Dan saat menyadari ia sudah tak berada di dalam rumahnya, Virgo langsung memandang berkeliling dengan cemas.
Ia merasa Valen sedang mengerjainya, atau mungkin ini hanya reaksi zat beracun yang baru saja terpaksa ia telan.
Virgo lalu menoleh menatap pelaku yang membuatnya harus mengalami ini.
Namun, belum sempat ia melontarkan aksi protes pada gadis itu, otaknya telah terhipnotis.
Matanya seakan tak mampu berkedip menatap Valen yang tampak seolah-olah mengeluarkan cahaya terang berkilau ke-ungu'an.
Wajah gadis itu yang biasanya pucat pun nampak berseri-seri sekarang. Membuatnya begitu terlihat cantik dan mengagumkan.
Helai-helai rambut panjangnya berayun anggun di belakang punggungnya, tak terpengaruh dengan hujan. Tubuh dan pakaiannya pun tak basah. Titik-titik air seolah melompat menghindarinya.
"Belum terlambat untuk memperbaiki," ucap Valen lantang. Suaranya sama sekali tak terganggu dengan hujan.
Valen kemudian menawarkan tangannya pada Virgo. "Apa lo mau bergabung dengan gue, atau tetap diam di sini dan membiarkan tubuh lo di dunia nyata tetap terbaring di atas ranjang kematian?"
Bersambung...