
Di dalam mobil, Valen tengah memandangi wajah Juni yang tertidur di pangkuannya, menulusuri setiap gurat wajah pemuda itu seakan sedang membaca takdirnya.
William yang duduk di belakang mereka memperlihatkan wajah iri. Ia pun menggerutu. "Jun, mati suri apa ya?"
"Mungkin saja. Gue sempat lihat kecoa menggigitnya, saat dia tidur di depan kamar," sahut Dante yang duduk di samping William sembari tersenyum-senyum menatap ponsel. Sebenarnya dia sendiri yang meninggalkan kawannya itu di depan kamar mereka bertiga setelah berhasil menyeretnya ke sana.
"Ngapain dia digigit kecoa? Sengaja biar jadi Superhero kaya yang dia harap-harapin?" gelak William.
"Yah, mungkin sebentar lagi dia akan menjadi cockroach-man atau kecoa-man," ujar Dante, suasana hatinya sedang bagus.
"Dan," tegur William yang tiba-tiba berubah heran.
"Apa?" balas Dante tanpa menoleh.
"Lo tadi senyum?" tanya William baru sadar dan langsung terpukau.
Dante menoleh ke arah William dan memberi tatapan dingin, gelap, menakutkan.
"Apa gue terlihat sedang tersenyum?"
Kalimat yang berupa pertanyaan itu membuat William mengernyit. Ia pun langsung membantahnya.
"Gak Dan, gak. Oe tadi salah liat. Gak mungkin lo senyum, mustahil, hoax, mitos," cetusnya sembari menggelengkan kepala.
Dante pun menatap ponselnya kembali dan juga tersenyum kembali. Ia tak bisa menahan itu ketika berbincang dengan Zoey dalam pesan obrolan.
"Akak, akak, akak," panggil bayi berpipi bulat dan merah seperti apel di samping pengemudi, berdiri di pangkuan Feby sembari menatap ke belakang mengarah ke kakaknya.
"Apa?" sahut Dante.
"Hum, Hum, Hum," ujar Agie menunjuk-nunjuk ke luar jendela.
Karena saking asik bermain ponsel, Dante melewatkan rumah mereka.
"Oh God.
Ma'am, kami turun di sini saja," ujar Dante sedikit panik.
"Di sini?" tanya Bu Agatha memastikan.
"Iya," jawab Dante.
Bu Agatha pun perlahan menghentikan laju mobilnya, kemudian memundurkan mobilnya agar muridnya itu tidak berjalan terlalu jauh untuk sampai ke rumah.
***
Dante mengetuk pintu ganda di depannya.
Adik laki-lakinya, Daniel langsung membukakan dengan wajah gugup, mengisyaratkan sesuatu, kemudian mengambil Agie dari Dante dan buru-buru pergi membawa adik kecilnya itu ke kamarnya sendiri.
Dante pun melangkah masuk dan menutup pintu. Kemudian membeku. Saat menyadari kehadiran sosok menakutkan di sana, di atas sofa hitam. Sosok si ibu yang sudah menunggunya dengan wajah marah sembari melipat tangan dan menyilangkan kaki.
"Kenapa ekspresimu begitu? Like seeing the devil. (Seperti melihat setan)" ujar si Ibu bangkit berdiri menjulang angkuh.
"Mom," ucap Dante menghampiri. Ia memberi pelukan, mencium pipi kiri ibunya, lalu memberi pelukan lagi. Berpikir bahwa hal itu akan menghilangkan amarah sang ibu.
Si ibu menepuk pelan puncak kepala anak sulungnya itu dan menyuruhnya duduk.
Dante pun menurut.
"Kamu tidak membunuh orang kan?" sela si ibu menatap nyalang.
Dante terlihat tegang sembari menundukkan kepala.
"No," jawabnya.
"Menyakiti orang?" tanya si ibu lagi.
"Untuk hal itu... aku tidak bisa mengingkari," jawab Dante sedikit menyesal.
Si ibu memicingkan mata dan mulai mengomel.
Omelan yang panjang disertai ancaman.
Namun, disela omelan itu Dante mencuri-curi kesempatan untuk menatap ponselnya dan membalas pesan Zoey sembari menunduk, berpura-pura sedang merenungkan perbuatannya.
"Mych! Mychal! Mychal Dante!" seru si ibu merasa diabaikan.
Dante mendongak menatap ibunya. Ia bangkit dari duduk dan menunjukkan wajah cerah.
"Mom, aku ada urusan. Sepulangnya nanti akan aku berikan gulali," ujarnya dan bergegas pergi, meninggalkan si ibu yang sudah sakit kepala karena terus mengomelinya tadi.
"Yang menyukai gulali itu hanya Agie. Belikan mommy kebab saja!" seru si ibu sebelum putra tertuanya itu menutup pintu.
Bersambung...
***
-Bonus