
Berselang dengan malam yang semakin larut, Juni pun pergi ke tempat tidur.
Ia membaringkan tubuhnya dengan perut yang sudah kenyang.
Namun sebelum ia berhasil terlelap dalam mimpi bas*hnya, ia mendengar suara ketukan pada jendela.
Awalnya ia berpikir bawah itu hanyalah ranting yang tertiup angin. Tapi, ketukan itu semakin kencang, hingga membuat ia memendam kepalanya sendiri di bawah bantal.
Tapi hal itu sama sekali tak berhasil. Suara itu masih mengganggu tidurnya. Juni pun mulai geram dan beranjak bangkit untuk menuju jendela.
Dan, sebelum ia menyibak tirai untuk memeriksa suara apa itu, ia melihat sebuah siluet di sana. Siluet dari seorang pria yang sedang mondar-mandir di depan jendelanya.
Aliran darah Juni serasa berhenti detik itu juga. Ia berniat untuk kembali ke ranjangnya dan menyembunyikan diri dalam sarung. Namun tak jadi, karena suara yang ia kenali memanggilnya dari balik jendela itu.
"Jun! Bukain!" pekik suara itu.
Juni bergegas menyibak tirai dan mendapati sosok temannya, William, sedang berdiri di sana. Masih memakai piyama sembari memeluk Dakimakura (bantal panjang dengan desain print anime).
"Ngapain lo wibu? Ngapain di sana? Nyari jangkrik?" tanya Juni sembari membukakan jendela.
"Oe numpang nginep ya," ujar William dan buru-buru masuk melalui jendela.
"Napa kaga lewat pintu dah?" tanya Juni mengernyitkan dahi.
"Malu lah, oe bawa ginian," jawab William, menunjuk pada Dakimakura bergambar Sagiri yang di peluknya.
"Lo nginep napa bawa bantal sendiri lagian?Gue juga ada bantal. Bersih kaga ada jigongnya," ucap Juni, tak disangka bahwa ia pecinta kebersihan.
"Bantal lo kembang-kembang kaya emak-emak," cibir William.
"Lagian yang oe bawa bukan bantal tapi istri oe," lanjutnya sembari membaringkan diri dan masih memeluk Dakimakura-nya.
"Mau heran tapi wibu" ejek Juni.
"Berisik lo. Wibu-wibu gini, oe gak punya pacar," ucap William nampak bangga.
"Itu konsepnya sama-sama kaga bisa dibanggain dah," balas Juni. Ia lalu mengambil selimut di lemari dan memberinya pada William.
"Lampunya jangan dimatiin Jun," pinta William.
"Napa?" tanya Juni yang baru saja akan menekan tombol lampu.
"Jangan aja."
"Lo takut?" tanya Juni.
"Gak gitu. Ini semua gara-gara Dante. Oe jadi parno," ucap William, wajahnya nampak pucat.
"Emang si Dante kenapa?" tanya Juni penasaran.
William lalu menceritakan tentang file yang dilihatnya bersama Dante. Beberapa diantaranya merekam adegan yang menakutkan. Menakutkan bagi setiap orang yang pemberani.
Juni lalu meminta untuk menceritakannya dari awal.
William pun melakukannya.
Ia menceritakan tentang flashdisk aneh yang diberikan Dante, membukanya dalam Lepi, lalu menemukan 11 file video di dalamnya.
Mereka membuka yang pertama dan video itu memperlihatkan Lita yang sedang menangis dengan eye liner yang luntur, di sebuah ruang putih kosong dan nampak obat-obatan berceceran di depannya.
Awalnya Lita menangis dengan sangat pelan, kemudian ia mengeluarkan seluruh bebannya dengan lenguhan yang sangat panjang.
Lita bilang bahwa itu tak akan kembali. Ia terus mengulangi bahwa itu tak akan kembali. Hanya seperti itu sepanjang durasi.
William dan Dante lalu memutar video ke-2.
Di sana terekam sebuah video p*rn* dengan pemerannya adalah Lita dan pria asing dengan tubuh yang nampak tidak normal berwarna kuning.
Mereka berdua memutuskan melewati video itu karena dibandingkan bern*fsu, mereka justru merasa itu mengerikan.
Karena pria itu memperlakukan Lita bukan seperti sedang berc*nta, melainkan seperti sedang menyiksa.
Lalu video ketiga menunjukkan rekaman Mia. Ia tak sadarkan diri dengan tubuh polos tanpa pakaian.
William mengalihkan pandangannya saat itu, karena merasa tak enak pada Dante.
Dante akhirnya melihatnya sendiri.
Dante lalu memberitahu pada William bahwa di sana terdapat 5 perempuan lain dengan kondisi yang sama, dis3tubuhi oleh pria aneh dengan rambut tipis yang nampak seperti sedang sakit.
Dan sesuai dugaannya, ada perempuan lain di sana. 5 perempuan lain itu diantaranya adalah Erika.
Pikiran Dante nampak campur aduk kala itu. William sempat mendengar Dante bergumam, apakah penyakit hepatitis yang di derita adik angkatnya itu karena tertular dari pria kuning dalam video.
Dante kemudian buru-buru mengecek file ke-4, ke-5, ke-6 dan seterusnya hingga file terakhir.
File-file itu semuanya hampir sama.
Merekam gadis-gadis remaja yang diperk**a dalam kondisi dibius.
Kecuali file terakhir yang menunjukkan tangan kameramen yang berlumuran darah.
Ada suara Lita di sana sedang bicara. Ia mengatakan melakukan pembantaian ini semata-mata untuk membalaskan dendam. Balas dendam pada orang yang menjebaknya, hingga ia kehilangan sesuatu yang paling berharga untuknya.
Ia tau bahwa orang itu satu angkatan dengannya, tapi dia tak tau siapa. Jadi dia hanya menyingkirkan semuanya dan menyisakan teman satu circle-nya.
Lita lalu menyorot ke arah kepala-kepala yang terpenggal yang sudah ia jajarkan.
"Aku paling mencurigai mereka," ucapnya.
Dan sebelum video berakhir, kamera menunjukkan asap yang keluar dari jendela-jendela gedung lantai 1.
William nampak shock setelah melihat itu semua. Wajah-wajah berlumuran darah yang terpenggal dengan ekspresi ketakutan terasa menggentayanginya.
Namun belum selesai sampai di sana, karena Dante menemukan 1 file lain yang tersembunyi dengan sandi.
Lita sudah memberitahu passwordnya dan Dante dengan mudah membukanya.
File itu berisi foto. Foto-foto yang menunjukkan jasad yang melepuh merah kehitaman dengan beberapa bagian terlihat tulang putih diantara daging yang gosong.
William pun muntah seketika kala itu.
Dan setelah ia selesai muntah, ia diminta untuk melacak keberadaan pria-pria yang terekam dalam video itu.
***
Juni tak bisa tidur. Ia masih terbayang cerita yang diberitahu William. Ia menyesal karena betapa naifnya ia minta diceritakan detail kisah itu.
Dan ia pun menyesal karena telah makan terlalu banyak sebelum tidur.
Perutnya terasa melilit sekarang, membuat ia sangat ingin pergi ke kamar kecil. Namun, ia tak punya nyali. Ia takut saat ia membuang limbah di perutnya, sebuah kepala akan muncul di dalam lub*ng kloset untuk mengagetkannya.
"Will, Will, Will." Juni yang tak tahan lagi pun mencoba membangunkan kawannya dengan mengguncang bahunya.
"Apaan?" tanya William dengan suara kantuk.
"Anterin ke wc," pinta Juni.
"Lo umur berapa, ke wc aja minta anter?" ucap William, malas.
"Ih bacot, anterin aja napa sih, plis lah, gak kuat," mohon Juni, putus asa.
"Kalo takut, tahan aja. Bentar lagi pagi," ujar William, tega.
"Ini kalo gak dikeluarin sekarang bisa berserakan di lantai. Kalo ada yang injek terus meledak gimana?" ucap Juni, benar-benar tidak tahan.
"Sejak kapan lo b*ker keluar ranjau, hah?" tanya William, heran.
"Plis Will, lo tega gue b*ker di sini?" ancam Juni.
"Ya udah apa boleh buat." Dengan berat hati, William pun mau mengantar, sembari membawa Dakimakura tercintanya.
Duuuuuuttttttt...
Suara nyaring terdengar, berasal dari Juni.
"Lo bisa gak sih, gak kentut dulu sebelum nyampe tempat tujuan?" keluh William.
"Ya mana bisa. Ini usus gue budeg gak bisa dibilangin," sahut Juni.
Duuuuuuttttttt...
Suara nyaring itu kembali diperdengarkan pada William.
"Nggak, oe heran, gini amat numpang nginep," keluh William lagi.
Bersambung...