Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
Hujan



Valen menutupi telinganya sendirian di kamar. Mencegah kata-kata kasar terdengar dari perdebatan ayah dan kakak perempuannya.


Keluarganya sangat tidak harmonis dan ia merasakan itu sejak ibunya tiada.


"Aku hanya ingin mati," itu yang selalu ia ulangi dalam hati ketika ayah dan kakaknya mulai bertengkar.


Namun sebenarnya yang ia inginkan hanyalah cinta dari keluarganya, karena ia merasa kesepian dan ketakutan manakala kamarnya hanya dipenuhi oleh para hantu.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamarnya terketuk setelah keheningan datang dari luar, kemudian menampakan bibinya yang membawa sebuah hidangan di atas nampan.


"Kamu mau makan bubur?" tawar si bibi.


Valen menggeleng. Ia masih meringkuk di dalam selimut.


"Makan dulu sebelum minum obat," ujar si bibi sembari mengelus rambut Valen pelan. Namun Valen tak suka dan menepisnya.


Valen sudah memiliki banyak kebencian dalam dirinya, karena ia sudah tau bahwa kebaikan si bibi sama sekali tidak tulus. Bibinya hanya mengincar harta peninggalan ibunya. Harta warisan yang mungkin akan segera habis karena akan dipakai ayahnya untuk berjudi dan bermain dengan wanita.


Si bibi lalu memeriksa suhu tubuh Valen dengan menempelkan punggung tangan pada kening Valen. Namun Valen kembali menepis.


"Badanmu sedikit panas," ujar si bibi.


"Besok sekolah akan di mulai lagi. Ingat, kamu harus hati-hati. Kamu tidak boleh berdarah," lanjutnya, memberi senyum. Kemudian pergi setelah meninggalkan nampan yang ia bawa di samping Valen.


***


Juni bersantai di depan TV sembari rebahan setelah selesai mencuci piring.


Bintang yang habis menjemur pakaian pun menghampiri.


"Minggir bang. Bintang juga mau rebahan."


Namun Juni tak menggubris karena terlalu fokus pada acara tukang bubur naik tukang bubur yang sedang ditontonnya.


"Kalo abang gak mau gerak, Bintang bakal baring di sini," ujar Bintang seraya menyandarkan kepala ke lengan Juni.


Juni terlihat tak keberatan karena masih serius menyaksikan sinetron azab kesukaannya.


Cassi lalu melewati mereka berdua dengan ransel besar dan sebuah bundelan kain yang ia panggul.


"Mau kemana mpok?" tanya Bintang.


"Mau ikut?" ajak Cassi.


"Kalo mau nyabe, Bintang ikut," sahut Bintang.


"Gue mau kabur dari rumah," ujar Cassi.


"Haaaaah!" Juni spontan bangkit dari duduk dan menjatuhkan kepala Bintang yang tadinya bersandar pada lengannya.


Dugh...


"Aw, atid," rintih Bintang memegangi kepalanya yang terbentur, karena hanya sebuah tikar tipis yang menjadi alasnya.


"Lo ngapain mau kabur dari rumah? Lagian mau kabur kemana?" tanya Juni, nada suaranya terdengar seperti membentak.


"Oh, ya udah, hati-hati. Ntar maghrib pulang yak, ngaji," ujar Juni kembali tenang dan kembali rebahan, Bintang pun menyandarkan kepalanya lagi ke lengan Juni.


"Yoi," jawab Cassi dan bersusah payah menyeret barang bawaannya meninggalkan rumah.


Tilulit... Tilulit... Tilulit... I Love You, I Love You, Guk... Guk...


Suara ponsel Juni berdering, ia pun segera mengangkatnya.


"Halo," jawab Juni, kemudian ia diam mendengarkan keperluan si penelepon.


Terlihat Juni mengangguk-ngangguk beberapa kali.


Lalu tiba-tiba ia mendorong kepala Bintang untuk menyingkir darinya dan buru-buru pergi ke kamar untuk bersiap-siap ke suatu tempat, meninggalkan adik bungsunya yang tengah mengamuk dan mengomelinya sembari mengusap kepala itu.


***


Juni memakai baju yang paling ia sukai, menunggu di depan taman dengan sebuah payung berwarna kuning.


Hari sedang mendung, namun Juni membuat suasana terlihat begitu cerah dengan penampilan dan wajah jenaka miliknya.


Tak lama, Valen pun datang. Ia baru saja turun dari Taxi. Ia kemudian berjalan ke arah Juni. Namun kondisinya terlihat tidak baik.


Wajahnya begitu pucat, ia pun menggigil dalam hujan karena tak membawa payung.


Juni pun dengan cepat datang berlari ke arah Valen untuk memayungi.


"Harusnya lo minta gue jemput aja tadi," ujarnya cemas. Ia lalu melepas jaketnya dan memakaikannya ke pundak Valen.


Valen tak menyahuti Juni. Dia hanya diam, mendongak menatap pemuda penjual tawa di hadapannya itu, di bawah payung.


Valen nampak iri.


Karena semua hal tentang Juni begitu berbeda darinya. Juni tak pernah lelah sehari pun untuk tersenyum.


Masa lalu kelam yang membuatnya mencuri-curi menangis di tengah malam pun seakan tak pernah ia alami, karena tak berbekas dalam jiwanya.


Melihat sosok Juni sebenarnya membuat batin Valen tenang. Namun pertemuannya dengan Andy membuat hatinya gundah.


Ia menemui Juni untuk memastikan satu hal.


Bahwa Juni bukanlah takdirnya, karena dia ingin membuat takdirnya sendiri.


"Eh, mau neduh gak? Ke sana kuy, gorengannya enak," tunjuk Juni ke sebuah warung kopi sederhana yang tak jauh dari taman.


Valen kembali tak menyahut. Ia justru menunjukkan darah yang menetes pada jarinya.


"Lo abis ngapain? Kok bisa luka?" tanya Juni, ia lalu menggeledah saku untuk mencari tisu.


Sementara itu, sensasi rasa sakit mulai menjalar di seluruh tubuh Valen.


Dan sebelum pandangannya menggelap, Valen sempat melihat sesuatu yang berkilau, datang untuk membisikkan sesuatu.


Valen seketika itu pun ambruk, membuat Juni spontan menjatuhkan payung yang digenggamnya untuk menyambut Valen dalam pelukan.


Bersambung...