
Kehidupan tertawa saat kamu bersedih. Kehidupan tersenyum saat kamu senang. Dan kehidupan akan salut padamu jika kamu membuat orang lain tertawa. (Charlie Chaplin).
***
Kenangan menyedihkan Juni terpatri dengan jelas dibenak Valen. Memutar kisah lama menyakitkan layaknya film dokumenter.
Di saat-saat yang begitu sulit, ketidakberadaan orangtuanya menyakiti Juni.
"Ayah." Juni memanggil salah satu orang tuanya begitu karena tak tau harus memanggilnya apa.
Meski sebenarnya ia tidak pantas disebut ayah.
Dia memukuli Juni walau Juni tak melakukan kesalahan. Menendangnya ke luar rumah di dinginnya malam dengan baju yang tipis. Meludahi dan mengatainya dengan makian terburuk. Hingga mengirim Juni dan adiknya ke panti asuhan.
Itulah yang Juni ingat, tentang pria bernama ayahnya.
Namun sosok ayah yang mengasuh Juni kecil di panti asuhan, membuat Juni berhasil menjauh dari sisi gelap.
Berkat sosok ayah asuhnya itulah kehidupan Juni tak terasa suram.
Sosok itu benar-benar menyayangi Juni seperti putranya sendiri, walau ayah biologis Juni tak pernah menganggap Juni seperti itu.
Sosok itu juga berjasa membentuk Juni menjadi anak yang begitu riang dan membuat Juni tak pernah melepas senyum dari wajahnya.
Juni dikenal selalu memberi kegembiraan, keceriaan dan membuat orang sekitarnya tergelak dalam tawa karena tingkah konyolnya.
Meski jika rasa sakit yang Juni terima mungkin bisa jadi alasan orang lain tertawa, tapi yang terpenting baginya, tawa miliknya tak menjadi alasan orang lain untuk merasa tersakiti.
Di sela-sela momen ketika Valen mengintip ingatan Juni, ia terlihat sedikit terkejut, ketika menyadari sosok ayah asuh Juni ternyata adalah ayah kandung dari Rey seniornya, pemuda yang mencuri ciuman pertamanya.
Sosok Rey turut juga membantu Juni bangkit dari trauma. Begitu bersahabat dan selalu menceritakan kisah-kisah menakjubkan, hingga Juni menyadari bahwa dunia yang saat ini ia tinggali ternyata bisa begitu cerah. Tak mendung, kelam dan sunyi seperti yang ia duga selama ini.
Dan dunia yang bersinar cerah itu sudah Juni rasakan sekarang. Setelah pasangan suami-istri yang baik hati mengambil dan mengadopsinya.
Mainan, pakaian dan tempat tinggal yang layak sudah Juni dapatkan dan yang terpenting ia telah memiliki keluarga.
***
"Jun, bangun Jun. Lo minta di lempar ke kali Ciliwung apa dilempar ke tengah tol, kalo tidur terus?" ujar William mengguncang tubuh kawannya, lalu menarik paksa ke luar dari mobil seperti menyimpan dendam.
Juni pun terbangun dan mengerjapkan mata berkali-kali. Ia bisa berdiri meski terhuyung-huyung dan hampir jatuh.
Sepupunya Sony yang kebetulan berada di sana pun menangkap Juni, kemudian memeganginya dan memapahnya di bahu.
"Kita pamit ya bang," ujar William pada Sony dan bergegas masuk kembali ke dalam mobil.
"Gak mampir dulu?" tawar Sony.
"Gak bang. Ibu saya udah khawatir, nungguin di rumah," jawab William.
"Ya udah hati-hati," sahut Sony dan sempat tersenyum sopan pada wali kelas Juni yang duduk di kursi pengemudi.
Setelah mobil melaju pergi, Sony pun membawa Juni masuk ke dalam rumah.
"Gue mau ngajak futsal, lo malah layu kaya gini," gumam Sony.
"Gue pake sampo Sunsl1k Hijab," jawab Sony bangga sembari mengibaskan rambut cepaknya.
"Boleh gue pinjem?" pinta Juni.
"Boleh, tar gue ambilin," ucap Sony murah hati.
"50ribu aja buat beli cup4ng," ucap Juni dan disambut oleh kemplangan dari Sony.
"Beli cup4ng mulu! Gue kira mau pinjem sampo!" seru Sony mendengus kesal.
"Kdrt lo!" seru Juni seraya membalas mengkemplang Sony.
Sony yang kesal pun menjatuhkan Juni dan tak mau memapahnya lagi.
Twing...
"Kampret! Pagi-pagi udah ngajak gelut lo!" keluh Juni seraya mengelus bokongnya yang membentur ubin di teras.
"Jalan sendiri. Capek gue," ujar Sony masih kesal.
"Gue gak bisa berdiri nih kampret. Kaki gue lemes. Bantuin," mohon Juni meminta tolong.
"Emang lo abis ngapain sampe kaya gini, Bambang?" tanya Sony berkacak pinggang.
Juni terdiam lama sebelum menjawab.
"Yo ndak tau kok tanya saya," ujarnya seakan lupa ingatan.
"Nyesel gue nungguin," gerutu Sony menyipitkan mata.
"Seinget gue sih gue lagi uwu-uwu'an sama cewek cakep ulalala," cetus Juni bersemu-semu.
"Gak usah ngaku-ngaku dipikiran lo kaya gitu bang," ujar Cassi yang baru saja ke luar dari rumah, dengan memakai jersey berwarna putih sembari mengapit bola.
"Mau kemana lo?" tanya Juni.
"Main pingpong," jawab Cassi.
"Main pingpong ngapain bawa bola kek gitu sama pake baju arsenal?" tanya Juni lagi, mengernyitkan dahi.
"Ya lo udah tau nanya. Gue mau main futsal lah," balas Cassi.
"Eleh, kek bisa aja lo main futsal. Udah mending lo ke tempat sabung ayam kaya biasa daripada jadi beban buat tim lo. Atau nobar sama gue liat kajian mamah dedeh yang gue rekam pas subuh minggu kemarin," ujar Juni meremehkan.
"Nih, ngomong sama kaos kaki," balas Cassi sembari melempar kaos kaki yang baru ia lepas.
"Gak ada akhlak lo!" murka Juni dan melempar kembali kaos kaki yang sempat mendarat di kepalanya itu pada Cassi.
"Mau ikut gak? Gue tinggal ya? Gue juga mau main futsal," ujar Sony.
"Yodah, ikut, ikut," sahut Juni dan bangkit berdiri, melupakan rasa letihnya akibat shock karena dianiaya semalam.
Bersambung...