
"Helikopter Helikopter~
Para kofer Para kofer~" Juni bernyanyi untuk mengusir sepi di sepanjang jalan.
"Berisik Jun," keluh William yang sedang membonceng Juni dengan motor modifikasi miliknya.
"Napa sih lu. Gue lagi sedih juga," gerutu Juni.
"Sedih gimana? Ada orang sedih nyanyi helikopter helikopter?" tanya William tak habis pikir.
"Jadi ceritanya gini," ujar Juni ber'aba-aba sebelum curhat.
"Gak nanya Jun, gak usah cerita," cegah William
"Kan tadi pas shalat dzuhur di mushola sekolah, pikiran gue kemana-mana. Karena mikirin omongan neng Valen yang seakan-akan membenci diriku mas. Jadi pas gue shalat, gue kurang khushuk tuh. Eh jadinya pas tahiyat awal, yang laen pada duduk, gue berdiri sendiri dong kampret! Huhu... malu beud... sedih gue, menghiks," ujar Juni sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Ia kemudian melanjutkan.
"Makanya itu, gue ngusir sedih dengan nyanyi mas. Soalnya waktu gue kecil, nenek gue sebelum dia kehilangan kewarasan, pernah berkata padaku, Juni... gak peduli seberapa buruk hari yang kamu alami, kamu bisa mengobatinya dengan menyanyikan lagu. Sejak itu kalo gue dapet masalah, gue bakal dangdutan mas," ungkap Juni.
"Curhatan lo menarik. Tapi oe sih owh aja," sahut William.
"Helikopter Helikopter~" Juni bersenandung kembali.
"Lo minta diturunin di tengah jalan kah?" tanya William kesal.
"Napa sih! Lo gak ngehargain banget gue udah ngamen gratis buat lo!" keluh Juni.
"Lo yang gak ngehargain kuping oe! Bikin polusi suara aja lo!" sergah William.
"Suara gue bagus gini! Polusi suara gimana?!" protes Juni.
"Iya bagus. Bagus buat ditampol!" pekik William.
"Iri bilang boss!" sahut Juni.
"Ngapain iri sama suara yang kaya kucing sekarat, boss!" cerca William.
"Dih, bagus gini dibilang kaya kucing sekarat. Ke THT sana lo!" seru Juni.
"Coba lo rekam suara lo terus dengerin sendiri Jun," saran William.
"Ya udah kalo lo gak suka gue nyanyi, gue ngerep aja," usul Juni.
"Lo bisa ngerep?" tanya William tak yakin.
"Iyalah. Tuan muda Juni serbaguna, multimedia, bisa apa aja." Juni dengan percaya diri memuji dirinya sendiri.
"Gak yakin oe, lo bisa ngerep. Yang ada lo ngerepotin yang denger Jun," ejek William.
"Ah lu gak tau aja, pas SMP gue punya grup musik," ungkap Juni.
"Grup musik apa? Terkenal gak?" tanya William meremehkan.
"Terkenal dong. Nama grupnya BAB, Bukan Anak Biasa," terang Juni.
"Keren banget Jun. Jadi gak sabar oe ghibahin lo ke temen tongkrongan," ujar William sembari terkikik.
"Asem," umpat Juni.
***
William menurunkan Juni di depan rumah sakit seperti permintaan Juni sendiri, karena Juni ingin menjenguk Cassi, adik tirinya yang terluka karena habis mengikuti aktivitas tawuran.
"Gak mau ikut masuk lu?" tanya Juni sembari menyerahkan helm yang ia pinjam pada William.
"Gak. Oe ada urusan," ucap William yang terlihat ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
"Lo bisa punya urusan?" tanya Juni mengernyitkan dahi.
"Bisalah. Oe mau marathon nonton Love Live," jawab William.
"Ck... wibu wibu," decak Juni.
"Oe cabut dulu, sebelum disuruh bayar parkir," ujar William berpamitan.
"Iyak. Hati-hati kena tilang," peringati Juni, karena ia sangat tau kalau motor modifikasi yang dipakai William tidak layak untuk dipakai berkendara di jalan.
"Slow," balas William santai.
***
30 menit sudah Juni habiskan untuk berkeliling rumah sakit.
Dan pada akhirnya ia berhasil menemukan kamar dimana Cassi dirawat setelah bertanya bolak-balik pada perawat.
"Tok... Tok... Tok... paket," ucap Juni tanpa mengetuk pintu dengan tangan.
"Masuk aja dodol," sahut Cassi sedikit geram.
"Sopi cod, Sopi cod, bayar barang di tempat~" Juni bernyanyi sembari membawa sebuah box di kedua tangan.
"Berisik! Gak usah nyanyi bang! Suara lo bikin gue emosi!" keluh Cassi.
"Napsih, napsih? Suara gue gak jelek-jelek amat," gerutu Juni sembari cemberut dengan memanyunkan bibir.
"Iya emang gak jelek. Lebih ke mengganggu," ungkap Cassi.
"Mengganggu gimana?" tanya Juni tak sadar diri.
"Lo inget gak pas di rumah? Lo nyanyi lagu 1 bait terus ubin jadi retak.
Lo nyanyi 2 bait tembok juga langsung retak.
Lo nyanyi full lagu, hubungan tetangga kita yang suami-istri lo bikin retak!
Gara-gara lo anak tetangga kita jadi broken home, bang!" terang Cassi.
"Ah, masa? Gak mungkin suara seindah gue bisa bikin musibah kek gitu," sangkal Juni.
"Yang bunyinya cuma 2x. Pas pagi sama pas ngeliat setan," sambungnya.
"Apaan... suara gue mirip Amitabachan juga!" seru Juni tak terima.
"Hah? Batu bacan?" tanya Cassi. Ia tak mengenal orang yang disebutkan Juni.
"Use lo udik sekali, masa gak tau Amitabachan? Dia orang India, yang main film Kabi Husni Kabi Gem," terang Juni, ia sedikit lupa dengan judul film dari aktor tersebut.
"Tua banget tontonan lo. Gue kira lo cuma nonton Gopi," ejek Cassi.
"Udah lah gue pulang aja," ucap Juni merajuk.
"Dih sok cantik banget lo pake ngambek," ledek Cassi lagi.
"Ya lo ke abang muji dikit kek!" omel Juni.
"Ya udah pulang aja sana. Tapi yang lo bawa, tinggalin sini," usir Cassi.
"Yodah nih." Juni menyerahkan box yang ia bawa dan juga ia menyerahkan tas Spiderman yang tadinya ada di gendongan pada Cassi.
Setelah itu ia berniat melangkah pergi.
"Eh bang, becanda bang, gue becanda," ujar Cassi mencegah Juni pergi.
"Lo duduk dulu sini. Jadi abang kok baperan," ejeknya lagi.
"Lagian lo kejam amat ke abang. Udah dijengukin juga," gerutu Juni. Ia kemudian mendudukkan diri di kursi di sebelah ranjang Cassi.
"Habisnya seru sih usilin lo," ungkap Cassi sembari terkekeh.
"Kampret.
Btw, lo udah biasa tawuran kok bisa kali ini masuk rumah sakit?" tanya Juni mengernyitkan dahi.
"Pertanyaan bagus!
Gue bisa kalah tawuran karena si Heru," jawab Cassi, menyimpan dendam.
"Napa si Heru?" tanya Juni bingung.
"Dia nih otaknya di donorin ke orang atau gimana gue gak paham. Masa yang lain tawuran bawa gir, celurit, pedang, gesper, tombak sama bambu runcing. Eh si Heru malah bawa data diri. Oon banget, heran gue," terang Cassi, semakin geram saat mengingatnya.
"Ckck... dia mau tawuran, apa lamar kerja dah?" Juni berdecak prihatin.
"Gagal paham gue juga sama dia.
Oh ya, lo bawain gue apaan?" tanya Cassi, matanya tertuju pada box makanan yang dibawakan Juni.
"Ayam presto. Beli di emank-emank depan RS tadi," jawab Juni seraya membukakan tutupnya agar Cassi dapat segera menyantapnya.
"Ayam kampung bukan?" tanya Cassi.
"Ayam kampungnya abis tadi. Adanya ayam negeri," jawab Juni.
"Gue pengennya yang ayam kampung," pinta Cassi, pilih-pilih.
"Udah makan aja. Yang ini tadi gue liat sebelum dimasak mukanya udah kampung banget," bujuk Juni.
"Sial gue ngakak. Untung ayamnya udah di presto, jadi gak bisa tersinggung sama omongan lo bang," ujar Cassi tak bisa menahan tawa.
"Lagian kalo masih hidup mana bisa tersinggung," sahut Juni.
Kemudian mereka berdua menyantap ayam dalam box itu bersama.
Bersambung...
***
-Bonus