
Jam masih menunjukkan pukul setengah 4 pagi, tapi Daniel sudah dibangunkan oleh adik kecilnya yang baru saja pulang dari luar negeri.
Bayi berpipi bulat itu merangkak masuk ke dalam kaus Daniel dan muncul dari lubang kepala.
"Apa?" tanya Daniel. Ia berusaha sekuat tenaga membuka matanya.
"Beyi wawung," celoteh Agie. Ia kemudian mengeluarkan tangan kecilnya yang sedang menggenggam uang lima ribu.
"Mau ke warung?" tanya Daniel memastikan.
"Hu-um," balas Agie.
"Beli apa?" tanya Daniel lagi.
"Unyuk," jawab Agie.
"Kunyuk?" Daniel tak memahami.
"Utuk," ucap Agie mengulangi.
"Kutuk?" Daniel masih tak tau maksud Agie.
"Ucuk," ujar Agie, masih berusaha keras mengatakan apa yang ia inginkan.
"Oh, pucuk," ujar Daniel, baru paham.
"Hu-um."
Daniel kemudian mengajak adiknya itu pergi ke Supermarket yang buka selama 24 jam.
***
Sesampainya di sana, Daniel menunjukkan pada adiknya dimana minuman yang bayi itu inginkan di tempatkan.
Namun bukan teh pu#*** yang Agie ambil, melainkan sekotak minuman berkafein tinggi yang tak memiliki gula sama sekali.
"Jangan. Itu bukan teh, itu kopi," larang Daniel, mencoba untuk mengambil minuman kopi yang adiknya ambil dan menaruhnya kembali.
Tapi ia tak berhasil, karena Agie memeluk sekotak kopi itu erat dan menangis jika itu akan direbut.
"Tadi bilangnya mau teh pu#***. Kenapa malah ambil kopi? Lagian kamu bawa uang cuma 5ribu. Itu harganya 20ribu," ujar Daniel masih berusaha mengambil kopi itu dari adiknya.
Namun, Agie tak membiarkan minuman pilihannya diambil.
Daniel menghela napas. Ia lalu menawarkan minuman susu yang kemasannya mirip.
"Ini aja nih, rasa strawberry, warna pink. Kamu kan suka warna pink."
Agie terbujuk, ia pun mau menukar kopinya dengan susu.
Setelah itu Agie berjalan ke rak permen.
"Mau beli apa lagi?" tanya Daniel, berjalan mengikuti.
"Upi," tunjuk Agie pada permen kenyal bertabur gula.
"Mau Yup1? Mau beli berapa?" tanya Daniel sembari mengecek uang yang dibawanya.
"Cibu," jawab Agie dan mengibarkan uang yang digenggamnya.
"Mana bisa beli seribu. Udah, ambil sebungkus aja ya," ucap Daniel seraya menaruh permen itu dalam keranjang.
Agie kemudian berjalan lagi menuju rak lain.
"Mau beli apa lagi?" tanya Daniel. Beberapa kali ia menguap menahan kantuk.
"Upuk," ucap Agie sembari menoleh kesana-kemari, mencari rak yang memajang kerupuk.
"Upuk!" seru Agie, bersikeras mencari hingga menemukan cemilan favoritnya itu.
"Gak ada kerupuk di sini Agie. Doyan banget sama kerupuk kamu," keluh Daniel.
"Upuk!" seru Agie lagi sembari merengut.
"Pengen kumakan pipinya," gumam Daniel geram, meski begitu ia masih sabar mengikuti adiknya dari belakang.
Tak lama berselang mereka pun menemukan kerupuk, setelah diberitahu oleh mbak-mbak yang bekerja di sana. Walau kerupuk itu sebenarnya masih mentah dan harganya sedikit lebih mahal.
Daniel kemudian pergi ke depan kasir untuk membayar.
Tapi saat berada di sana ia merasakan suasana di Supermarket itu menjadi sangat aneh.
Ia seperti mencium bau busuk dan aroma lembab bangunan tua.
Lampu pun tiba-tiba berkedip berulang kali, hingga akhirnya mati.
Salah satu pekerja pria pun keluar untuk memeriksa sekring. Tak lama lampu pun menyala lagi.
Daniel kemudian menatap lantai. Karena saat mati lampu tadi ia merasa genangan air menyentuh sandalnya. Namun tak ada apapun di sana, lantainya tetap kering seperti saat ia menginjakan kaki di sana.
Kasir kemudian mengecek barang belanjaan miliknya menggunakan scanner satu per satu.
Tak seperti biasa, sang kasir tak menawarkan membeli pulsa atau menawarkan barang diskon padanya. Sang kasir hanya diam dengan tangan yang masih sibuk mengemas barang belanjaan dalam kantung plastik setelah ia scan.
Lampu kembali berkedip, sekilas Daniel melihat kepala kasir itu yang utuh hanya tinggal sisi kiri, darah mengalir keluar dari mata dan telinganya di sebelah kanan.
Daniel mengerjap. Ia merasa dirinya mungkin terlalu mengantuk hingga berhalusinasi.
Namun setelah ia memberikan uangnya, kasir itu memberi kembalian dengan tangan yang remuk.
Daniel seketika terkejut. Ia langsung berlari sembari menggendong adiknya dalam dekapan. Ia pun tak melupakan belanjaan dan uang kembaliannya.
Ia terus berlari di jalanan gelap dan sepi, hingga ia melihat seorang pria tua yang sedang merokok di sebuah bangku yang berada di pinggir jalan.
Daniel pun bernapas lega karena bertemu orang lain setelah tak menemukan siapapun sepanjang jalan. Ia lalu menceritakan apa yang baru saja dilihatnya.
Pria tua itu mengangguk beberapa kali saat mendengar pengakuan Daniel.
Ia kemudian memberitahu bahwa sebenarnya Supermarket itu sudah tak beroperasi 24 jam lagi karena sebuah insiden perampokan.
Saat itu pukul 4 pagi seperti sekarang. Perampok itu menerobos masuk dengan menabrakkan mobilnya ke dalam Supermarket itu hingga melindas penjaga kasir yang sedang melayani pembeli.
Perampok itu juga membunuh pekerja lain yang sedang mengepel dan pembeli yang masih memilih barang kebutuhan dengan pisau.
"Ngeri banget," ujar Daniel yang sudah berkeringat dingin.
Namun cerita pria tua itu belum selesai.
Pria tua itu kemudian mengangkat kausnya hingga dada dan menunjukkan benda mengguntai berwarna merah dari perutnya yang sobek.
"Tengok nak, dia tusuk saya di sini sampe usus saya keluar."
Dan setelah mengatakan itu, pria tua tersebut menghilang, lenyap diantara kabut.
"Sedang apa?" tanya Dante yang tiba-tiba sudah berada di belakang Daniel.
Daniel menoleh dengan wajah penuh ketakutan dalam diam. Ia lalu menyerahkan Agie yang digendongnya pada kakak tertuanya itu, beserta belanjaannya. Setelah itu ia rubuh dengan kondisi tak sadarkan diri.
Dante nampak bingung. Sedangkan Agie tak memberi reaksi apa-apa, ia hanya sibuk menggigiti ujung susu kotak yang belum dibuka.
Bersambung...