
"Dorongan terbesar manusia adalah kebencian."
***
Dua mata kering memandangi langit hampa.
Diam, tak mampu berkata.
Dalam hatinya ia bertekad untuk tidak menangis.
Belum waktunya untuk itu.
Setelah semua usai, ia baru akan melakukannya.
Pemuda berambut kecoklatan itu lalu menatap pada sesuatu yang berada di sampingnya. Sesuatu yang tertidur di atas gumpalan kain.
"Kakak... gak bunuh diri. Aku yakin," gumamya.
Setelah saudarinya hilang tanpa kabar, informannya memberitahu padanya dalam panggilan telepon, bahwa saudarinya itu telah tewas.
Akan tetapi, ia tak mempercayai. Ia masih merasa saudarinya itu masih hidup.
Jika pun memang sang kakak sudah tiada, ia ingin melihat mayatnya, atau setidaknya potongan tubuhnya.
Karena... bagaimana bisa dia diberitahu bahwa tubuh kakaknya tak bersisa sama sekali?
Kenapa sang kakak harus memilih mengakhiri hidup dengan cara se-tragis itu?
Meski putus asa, mengapa ia melakukannya?
Ada banyak cara yang lebih baik untuk melakukan bunuh diri.
Seperti, memotong pergelangan tangan, menggantung leher di kipas, menjadi pelakor.
Tapi dia justru memilih untuk dicerna oleh hewan hijau berkaki empat yang berjalan merayap?
Omong kosong.
Siapapun orangnya, pemuda tangguh itu akan membuat si pelaku berharap untuk mati.
***
Valen melihatnya.
Senyum yang ditunjukkan Dante saat kembali ke kelas.
Pemuda keji yang sebenarnya bucin itu terlihat seakan bersinar dengan cahaya jahatnya.
"Senyum itu gak akan bertahan lama di wajah lo dan akhirnya lo akan meminta maaf selamanya," ujar Valen, memberi kesan misterius.
Dante tak menanggapi, ia hanya duduk dan membaca bukunya.
"Entah neraka mana yang udah n4f$u liat kelakuan lo," ujar Valen lagi. Namun Dante masih tidak peduli.
"Jika lo jadi pemeran sinetron azab, kira-kira judul apa yang cocok ya?" Valen masih terus bicara. Ia sengaja melakukannya untuk mengusik teman sebangkunya itu.
"Oh gue dapat satu.
Judul filmnya, Pria tampan yang mengaku Psikopat padahal dirinya hanyalah pemuda tersesat yang b*ngs*t," ucapnya dengan nada ejekkan.
Dante mengatupkan gigi dan menutup bukunya dengan kasar, lalu bertanya, "lo terus menerus menyindir, sebenarnya apa maksud lo?"
"Lo gak bisa setenang itu setelah apa yang lo lakukan," ujar Valen, menahan intonasi.
"Memangnya apa yang gue lakukan?" tanya Dante. Caranya menatap terlihat menakutkan.
"Lo tau dengan jelas apa yang udah lo lakukan sendiri. Hal yang gak boleh dilakukan oleh seorang manusia," jawab Valen.
"Lebih tepatnya apa?" tanya Dante memancing.
"Gue khawatir jika gue katakan lagi, tangan gue akan menampar lo, Dan," ancam Valen, serius.
"Okey, karena lo Cenayang, gue gak bisa menyembunyikan apapun.
Ia kemudian menekankan.
"Dia yang memutuskan sendiri. Apa itu tetap salah gue?"
Valen diam, Dante kembali melanjutkan.
"Jika memang lo lebih manusia dibandingkan gue, lo harusnya menghargai pilihan orang itu."
"Meski itu pilihan yang b*doh tentunya," sambungnya diiringi tawa.
Valen berdecih.
"Apa yang gue harapkan?
Lo bahkan gak merasa bersalah."
"Well, kenapa gue harus merasa begitu?" tanya Dante sembari menyandarkan punggungnya ke kursi. Terlihat begitu santai.
"Lo tau yang lo lakukan salah, kan?
Jangan berani lo anggap tindakan lo benar!" seru Valen, terlihat geram.
Dante hanya menjawab dengan tawa.
Terlihat menyebalkan, tapi ia tetap tampan.
"Gue gak habis pikir.
Belum puas lo siksa tubuhnya yang udah mati gak berdaya dengan diumpankan ke buaya, lo masih tega ketawain dia?" cetus Valen heran.
"Mereka yang lakukan itu. Bukan gue," elak Dante.
"Lo mau salahkan gue juga atas kematian ulahnya sendiri?" tanyanya.
"Iya. Karena kematiannya masih berhubungan langsung dengan lo," jawab Valen tanpa ragu.
Dante terkekeh.
Valen kembali geram, "H1tl3r sepertinya lebih mulia daripada lo," cibirnya.
Dante mengeraskan rahang. Ia lalu menatap Valen dengan tatapan mengintimidasi seraya mengangkat wajah gadis itu dengan tangan pada dagunya.
"Lo secara sadar menghina pacar lo ini?" tanyanya, nampak tersinggung.
Valen menepis tangan Dante jatuh.
"Lo mengira ini udah selesai.
Lo kira dendam lo udah berakhir. Tapi nggak, Dan.
Balas dendam cuma mendatangkan dendam baru. Ini bakalan berulang. Terus-menerus, tanpa akhir.
Kelak, kalo lo menyesal nanti, jangan bilang gue sebagai pacar gak memperingati," ujarnya seraya mendorong bahu Dante dengan pulpen.
Dante berdecih. Lagi-lagi ia tak peduli.
Ia lalu mengalihkan pandangan pada ponselnya yang bergetar.
Ada sebuah pesan chat di sana, dari akun yang tidak dikenal. Yang mengatakan, "kembalikan saudariku dan aku akan kembalikan saudarimu."
Dan pesan itu diikuti sebuah gambar tangan seorang bayi yang bertabur gula pasir.
Ekspresi Dante kini berubah. Wajahnya nampak mendidih dengan sorot mata tajam penuh kemarahan.
"Apa gue bilang. Senyum itu gak akan bertahan lama," sindir Valen sembari memangku dagu.
Tanpa membuang waktu, Dante bangkit dari kursi dan membawa ranselnya. Ia kemudian berjalan keluar kelas, tanpa mempedulikan guru yang baru saja masuk dan sempat berpapasan dengannya.
Bersambung...