
Satya berdecih.
"Lakukan saja. Toh, lo gak akan menemukan adik lo lagi. Karena dia juga sudah mati," ucapnya dengan nafas tak beraturan.
Hans menoleh ke arah Dante untuk melihat reaksinya. Namun Dante nampak masih tenang.
"Gue tau lo berbohong. Gua tau gerak-gerik seseorang ketika sedang berbohong," ucap Dante. Ia lalu memerintahkan pengikutnya yang lain untuk menyiksa Satya dengan isyarat tangan.
Pria bertubuh kekar seperti Ade Ray pun yang bergantian menghampiri Satya kali ini, dan mulai meninju pemuda malang itu. Seluruh tubuhnya tak luput dari pukulan dan tendangan.
"Jangan berhenti sebelum dia mau mengatakannya," titah Dante, tak berniat mengasihani.
"Bunuh saja gue langsung!" pekik Satya, dengan suara kering.
"Seperti lo bunuh kakak gue yang gak bersalah!" lanjutnya, menahan rasa sakit.
Mendengar itu, Dante meminta pengikutnya untuk berhenti memukuli Satya sejenak.
Ia lalu memberi senyum menghina sebelum bicara. "Gak bersalah? Kakak lo? Sintia? Jangan b*doh."
Hansel tertawa kecil, lalu menghela napas dan kembali diam menyimak.
"And... i'll make it clear... (Dan gue akan membuatnya jelas....) gue sama sekali gak membunuh gadis j*l*ng itu," lanjut Dante mengeraskan rahang.
"So rude, bro. Just relax. Act cool, act cool," ucap Hans, menenangkan.
"Collins," panggil Dante pada satu-satunya wanita di tempat itu.
Ia lalu memberikan sebuah flashdisk dari sakunya pada wanita tersebut.
Collins mengerti apa yang harus ia lakukan tanpa diberitahu.
Collins lalu mengambil laptopnya, menghubungkan dengan proyektor dan menunjukkan seluruh konten dalam flashdisk itu pada layar putih di belakang Dante dan Hansel.
Reaksi pertama Satya adalah terperangah, lalu ia mual, kemudian marah.
"Buat apa lo tunjukkin itu semua!" serunya.
"Gue pun seharusnya gak menonton ini," ujar Hans, menyesal.
Meski... video yang baru ia lihat diputar dengan kecepatan tinggi karena durasi yang panjang, ia tetap merasa ngeri. Apalagi video terakhir memperlihatkan mayat-mayat teman satu angkatannya yang mati saat rekreasi bersamanya.
Dante lalu mengambil sebuah CD dari dalam ranselnya dan menyerahkan pada Collins untuk ikut diputar.
CD yang memuat Behind The Scene dari video-video p*rn*grafi dalam file flashdisk yang sebelumnya Satya dan Hans saksikan.
Saat CD itu diputar, Satya bisa dengan jelas melihat wajah kakaknya yang 'ia kira' tak bersalah, justru menjadi dalang dari itu semua.
Di situ pula menunjukkan wajah bahagia Sintia saat merekam adegan demi adegan me$um dari gadis-gadis cantik yang ia bius.
Beberapa gadis pun terlihat setengah sadar dan menangis saat menyadari dirinya tengah dip3rk*sa oleh pria aneh yang nampak seperti sedang sakit-sakitan.
Dan dalam rekaman itu Sintia sempat berkata alasan ia melakukan itu semua.
Karena ia benci gadis cantik, karena ia tidak bisa menjadi cantik.
Ia pun berkata bahwa beberapa gadis populer lainnya akan segera bernasib seperti itu. Ia pun menyebutkan daftarnya. Diantaranya adalah: Dara, Rin, Delisa, Monika, Lea, Kiara, Feby dan Zoey.
Setelah itu Dante menyerahkan sebuah memori card yang ia keluarkan dari ponselnya pada Collins.
Collins pun kembali memutar isinya dan memperlihatkan sebuah rekaman yang berasal dari CCTV di depan rumah Zoey.
Di sana terlihat Sintia dengan jas hujan merah sedang menguntit Zoey pulang ke rumah, kemudian ia menyusup melalui jendela pada bagian belakang.
Bersambung...