Devil's Squad (School Version)

Devil's Squad (School Version)
The Witch



Cara bicara Hans yang menyenangkan membuat seorang gadis belia terpikat dan membuat gadis itu mengikuti kemana pun Hans membawanya.


Mereka pun berakhir di sebuah kelas kosong yang sepi dan sudah tak terpakai.


"Tak apa jika kakak taruh tangan kakak di sini?" tanya Hans seraya melingkarkan tangannya di pinggang gadis bernama Lea itu.


Lea yang sudah bersemu malu hanya diam. Ia tidak menjawab ataupun mengangguk.


Hansel lalu menggeser kursi, mendudukkan diri di situ, lalu menarik Lea ke pangkuannya.


"K-kak..." Lea terlihat tak nyaman dan berusaha turun, namun tangan Hans tak membiarkan dan justru mengeratkan pelukan pada pinggang ramping gadis yang sudah ketakutan itu.


Hans kemudian membelai rambut Lea dengan tangan satunya, seraya berkata, "kakak sedang duduk, tapi ada sesuatu dari diri kakak yang berdiri. Kakak harap kamu mengerti," ujarnya sembari menghembuskan nafas panas pada wajah Lea yang terlihat gugup.


Tangan Hans lalu mengusap pipi remaja yang masih berumur 15 tahun itu, turun ke lehernya dan berhenti di dada.


"Kakak ingin mengetuk hatimu. Apa kamu akan membukanya?" rayunya.


Lea tak mampu menjawab. Ia diam seakan membeku, meskipun wajahnya justru sudah terasa panas dan sudah sangat memerah.


Hans kemudian membuka dua kancing atas seragam Lea dan perlahan memasukkan tangannya ke dalam celah yang terbedah.


Tiba-tiba Lea bereaksi, ia menahan tangan Hans agar tidak mer*ba lebih jauh.


"Jangan kak," larangnya.


"Tidak apa-apa. Percayalah pada kakak," rayu Hans lagi.


Meski Hans bilang begitu, Lea nampak masih ragu, namun hati kecilnya menginginkan Hans.


Hans tersenyum tipis dan perlahan mendekatkan wajahnya pada Lea untuk mengecup bibir kecil berwarna merah mudanya itu.


Dugh... Braaaak... Bruuuuk... Braaaak... Bruuuk...


Belum sempat bibir mereka menyatu, suara keras yang menggema tiba-tiba saja terdengar dan mengagetkan mereka.


Mereka berdua pun serentak menoleh ke sumber suara itu.


"Gue... gue cuma nganter," ucap Raka yang tengah meringis menahan sakit di tubuhnya.


"Haish... lo..." Hans nampak tak bisa berkata-kata saat melihat Dante yang tengah berdiri dengan wajah datar di antara bingkai pintu. Dante lah yang membuat suara gaduh tadi, dengan menendang Raka hingga pemuda dengan tindikan di telinganya itu tersungkur membentur tumpukan kursi.


"Apa?" tanya Dante dengan wajah tanpa dosa.


Ulah Dante membuat Hans kehilangan minat pada Lea.


Hans lalu menyingkirkan Lea dalam pangkuannya dan menyuruh Raka untuk membawa gadis malang itu pergi.


Lea yang bingung hanya bisa menurut.


Dante sempat melihat Lea menangis saat melewatinya, sembari mengaitkan kancing seragamnya kembali yang tadinya sempat terbuka.


"Kejam sekali. Lo hanya ingin memanfaatkan tubuhnya tanpa berniat membalas cintanya," ucap Dante tak habis pikir.


"Lo perlu apa?" tanya Hans dengan ekspresi tidak senang.


"Gue perlu keluar sekolah," jawab Dante yang sudah membawa ranselnya.


"Lo cuma perlu minta ijin pada guru piket. Kenapa justru mencari gue?" tanya Hans, mengernyit.


"Jika gue diijinkan, menurut lo, gue akan mencari lo?" balas Dante, ia kesal sekaligus putus asa.


Hans berdecih. "Lo sudah merusak suasana hati gue, dan lo masih berharap gue mau membantu?"


Dante mengeluarkan ponsel dari sakunya, mengklik sebuah folder dan menunjukkan sebuah video lucu pada Hans. Video dimana wajah Virgo di edit sedang berjoget T1kT0k.


"Lo biad*b," ujar Hans tergelitik.


"Akan gue berikan video ini kalau lo mau membantu gue pulang sekolah lebih awal," tawar Dante.


"Oke. Tapi, kapan lo edit itu?" tanya Hans, mencoba menahan tawanya.


"Ada seseorang yang melakukannya untuk gue," jawab Dante.


"Jadi, kapan lo akan membantu? Gue sedang terburu-buru," lanjutnya, nampak begitu tergesa.


"Memangnya lo mau pergi kemana?" tanya Hans kepo.


"Karena lo tanya itu, gue pun ingin menanyakan sesuatu," ucap Dante.


"Tanya apa?" sahut Hans, terkesan acuh.


"Tentang Sintia. Apa dia punya saudara?" Ekspresi pada wajah Dante terlihat datar, namun nada suaranya terdengar panik.


"Saudara?"


Pertanyaan Dante membuat Hans kembali mengernyit.


"Yang gue tau dia punya peternakan kambing."


"Itu di luar konteks pertanyaan," ucap Dante geram, meski ekspresi wajahnya masih saja datar.


"Memangnya kenapa Sintia? Kenapa lo tiba-tiba bahas dia?" tanya Hans, bangkit dari kursi sembari memasukkan tangannya ke dalam saku celana.


Dante kemudian menceritakan semuanya pada Hans sembari berjalan.


Ia menceritakan tentang isi flashdisk yang diberikan Lita, hari dimana Sintia meneror Zoey dan penculikan adik bayinya oleh seseorang yang mengaku sebagai saudara kandung Sintia.


Setelah mendengar cerita itu Hans pun tertarik ikut bersama Dante.


Ada hal yang memang ingin ia perhitungan juga pada sosok yang mengaku kerabat Sintia.


Namun Dante menolak, karena ini adalah urusannya sendiri.


"Jika lo tidak ijinkan gue ikut, gue juga tidak akan jadi membantu lo agar diijinkan keluar," ancam Hans.


Dante menghela napas pasrah. "Baik, tapi beri gue alasan kenapa lo harus ikut."


Hans tersenyum miring.


"Lo mungkin akan berpikir gue cuma membual atau beralasan bahwa perilaku gue yang suka membully sebagai sesuatu yang layak dilalukan."


"Lanjutkan," ucap Dante, mendengarkan.


"Yang seharusnya lo sudah tau, gue tidak pernah membully siswa yang kutu buku.


Gue pun tidak pernah membully siswa hanya karena kekurangan fisiknya.


Lo bisa lihat sendiri, ada puluhan murid yang seperti itu di sini, tapi mereka memiliki kehidupan yang damai tanpa gue usik.


Dante terlihat tak menanggapi, karena ia sudah terbiasa dengan sikap narsis Hans. Ia dengan sabar pun masih mendengarkan.


Hans kemudian melanjutkan.


"Sintia... dan anak kelas 1 bernama Bayu itu, gue bully bukan karena alasan mainstream seperti itu, walau memang kelihatan seperti itu," terangnya.


"Lalu alasan apa?" tanya Dante basa-basi. Meski sebenarnya ia tidak peduli.


"Mereka penyihir," cetus Hans, sedikit berbisik.


"Hah?"


Dante sempat berpikir Hans hanya memberikan alasan asal-asalan agar diijinkan ikut.


"Lo tau? Teman lo Gagas dan pacar lo yang menyebalkan itu, mhm... Valencia, hampir gue bully.


Tapi sepertinya mereka tidak bisa menggunakan black magic, jadi gue biarkan.


Mereka berdua hanya... hanya memiliki sesuatu yang orang-orang sebut anugrah," jelas Hans.


"Wait... darimana lo tau siapa saja yang penyihir diantara anak-anak? Dan siapa yang hanya punya anugrah tanpa bisa menggunakan sihir?" tanya Dante, menatap horor pada Hans.


Hans pun kembali menjelaskan.


"Istri pertama ayah gue, maksud gue ibu gue, seseorang yang mempelajari sihir.


Dia lakukan itu untuk mendapatkan seorang anak.


Dia berhasil dan mendapatkan seorang putri.


Tapi, putri yang dia dapatkan sedikit... tidak normal.


Dia lahir dengan kutukan.


Bahkan setelah kelahirannya, membuat 3 ibu gue meninggal.


Menyisakan 1 ibu gue yang usianya lebih cocok untuk menjadi pacar gue," ungkapnya.


"Lo mau bilang, kakak atau mungkin adik lo yang menyuruh lo merisak siswa yang diduga penyihir?" tebak Dante.


"Nah, i act on my own initiative.


(Tidak, Itu atas inisiatif gue sendiri)," sangkal Hans.


"Dia cuma memberitahu apa yang dia tahu," sambungnya.


"Oh," ucap Dante singkat.


"By the way, lo jangan salah paham. Anak yang gue ceritakan itu bukan kakak ataupun adik gue.


Kita tidak berhubungan darah.


Kami menganggap Sahala hanya... sebagai sesuatu yang perlu disantuni," terang Hans, angkuh.


"Sahala?


Gue pikir namanya akan menjadi Gretel," celetuk Dante, mengingat kembali sebuah dongeng yang pernah ia bacakan untuk membuat adik bayinya tertidur.


"Hanya karena nama gue Hansel dan gue sedang membahas penyihir, lo menyamakan kehidupan gue dengan dongeng fiksi?!" ucap Hans tak terima dan terpancing emosi.


"Lupakan itu.


Sekarang, biar gue ringkas.


Karena lo menganggap Sintia penyihir, lo mengira kerabatnya pun penyihir.


Jadi, lo ingin ikut gue agar bisa merisak kerabat Sintia yang lo pikir adalah penyihir juga.


Sebab, lo udah gak dibolehkan merudung penyihir di sini, begitu?" terka Dante, asal bicara.


"Kenapa kesimpulan lo malah---


Gue bahkan belum selesai bercerita. Gue bahkan belum mengatakan tujuan gue apa," ucap Hans, serasa ingin menangis.


"Kenapa lo gak bicara intinya saja? Lo pikir gue punya banyak waktu?" ucap Dante, kesal. Ia merasa harus segera pergi. Dia takut adik bayinya sedang dikerubungi semut saat ini.


"Gue hanya ingin mengungkap sesuatu yang gue pikir orang yang mengaku saudara kandung Sintia tau!" seru Hans, terlihat sudah lelah bicara.


"Sesuatu apa?"


"Lo ingat gue dan teman-teman gue pernah dijuluki F6 kan?" cetus Hans.


"Ya, gue ingat kalian pernah menyandang nama norak itu," ejek Dante.


"Bisa lo hitung berapa jumlah kami?


Gue, Rey, Syabil, Raka dan Ryan.


Hanya ada 5 orang.


Ada satu orang lagi yang seharusnya ada bersama kami.


Tapi gue tidak ingat.


Teman-teman gue dan semua orang juga tidak ingat siapa 1 orang itu.


Gue pikir ini adalah sihir Sintia.


Dia menghilangkan 1 teman gue itu," ujar Hans. Wajahnya tak pernah seserius saat ini.


"1 orang itu mungkin Rin.


Dan lebih baik kalian gunakan julukan R4, S1 & H1. Itu lebih tepat," celetuk Dante.


"Apa Rin lo anggap sama seperti laki-laki?" tanya Hans, memicingkan mata.


"Lo pernah periksa masa lalunya? Mungkin dia pernah menjalani---"


"Jangan katakan, atau gue mungkin akan mengajak lo berkelahi di sini," ancam Hans.


"Oke, apapun itu, gue benar-benar harus pergi.


Lo boleh ikut, tapi jika lo membebani, gue akan membunuh lo lebih dulu," ucap Dante memperingati. Hans pun mengangguk setuju.


Bersambung...