
Hari ini tanpa menerima penolakan Daffa akan membawa istrinya pergi ke kantor mereka akan mengantarkan Sahara terlebih dahulu ke rumah Tania meskipun Daffa harus menebalkan telinganya untuk mendengar semua rengekan anaknya yang tidak terima karena tidak diajak ikut serta. Sejak tadi Sahara menempel kepada Fahisa seolah melarang wanita itu untuk meninggalkannya dan membiarkan Daffa pergi ke kantornya sendirian.
"Mommy jangan mau ikut Daddy." Kata Sahara yang sejak tadi memeluki Fahisa yang sedang mencuci piring setelah sarapan
"Ara kenapa mengganggu mommy? Sini sama daddy." Kata Daffa berusaha membawa anaknya kedalam gendongannya
"Gak mau Daddy mau ngambil mommy nya Ara!" Kata Sahara sambil memelototkan matanya
Tapi, melihatnya malah membuat Daffa tertawa karena anaknya itu terlihat sangat menggemaskan dengan mata melototnya.
"Tuh kan Daddy jahat! Malah ketawaiin Ara." Katanya kesal
Sahara berusaha untuk turun dari gendongan Daffa, tapi pria itu menahannya dan malah menciumi pipi Sahara terus menerus.
Sahara merasa kesal hingga akhirnya mencubit pipi Daffa cukup keras membuat pria itu meringis karena meskikpun masih kecil tenaga Sahara cukup besar. Merasa terganggu Fahisa mencuci tangannya lalu menoleh ke arah keributan itu terjadi dimana dia dapat melihat ayah dan anak yang saling menjahili satu sama lain.
Tidak bisa di pungkiri jika Fahisa merasa bahagia melihatnya, keributan ini akan menjadi kerinduan kelak ketika Sahara beranjak dewasa.
"Ara jangan gitu sayang." Kata Fahisa ketika melihat anak itu mencubiti pipi Daffa dengan gemas matanya menatap Daffa dengan penuh kekesalan bibirnya menekuk karena kesal
"Daddy jahat jahat! Pokoknya Ara mau ikut! Ara mau ikut! Ara mau sama mommy!" Rengek Sahara yang matanya sudah mulai berkaca
Bukannya merasa kasihan Daffa malah semakin merasa gemas dengan tingkah rewel anaknya ini, tapi dia tidak mau mengajak Sahara bisa gagal acara kencan yang sudah di rencanakannya nanti.
"Apa ini tuan putri daddy menangis? Lebay sekali hmm." Kata Daffa membuat Sahara yang sebelumnya tidak menangis malah benar-benar menangis sekarang
"Mas jahil banget kan nangis jadinya." Kata Fahisa yang sedang berjalan mendekat ke arahnya
"Iya iya daddy minta maaf ya? Gimana kalau nanti malam kita ke pasar malam?" Tawar Daffa membuat Sahara menghentikan tangisnya
"Boleh?" Tanya Sahara dengan mata berbinar
"Tentu saja, tapi sekarang Ara ke tempat Oma oke?" Kata Daffa
Sahara langsung tersenyum dia menghapus air matanya dan mengangguk.
"Oke, tapi janji dulu!" Kata Sahara sambil menjulurkan jari kelingkingnya kedepan wajah Daffa
"Janji tuan putri." Kata Daffa sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari mungil Sahara
"Sekarang cium dulu." Kata Sahara sambil menciumi kedua pipi Daffa bergantian
Lihat kan? Padahal Daffa bisa dengan mudah membujuk Sahara tanpa harus membuatnya menangis seperti itu, tapi suaminya itu malah menjahili anaknya.
¤¤¤¤
Ada satu keraguan yang pernah Fahisa rasakan ketika Daffa melamarnya dulu dan hal itu adalah perbedaan usia mereka yang terpaut cukup jauh. Perbedaan usia itu membuat Fahisa ragu dia takut akan banyaknya perbedaan fikiran yang mungkin terjadi dan dia juga takut jika sampai ada kekerasan nantinya.
Hanya saja seiring berjalannya waktu melihat bagaimana cara Daffa menjaga dan memberikan kasih sayangnya kepada Sahara di tengah kesibukannya sebagai pemimpin perusahaan membuat hatinya melunak. Di tambah lagi Daffa yang selalu bersikap lembut, keluarganya yang hangat juga tidak menyombong, dan kesabaran pria itu untuk menunggu kesiapannya menghadapi pernikahan.
Iya, setelah menerima lamaran Daffa waktu itu Fahisa meminta waktu sampai dia benar-benar siap. Awalnya dia hanya minta waktu kurang lebih dua minggu, tapi ternyata Daffa harus menunggu sampai hampir dua bulan.
Hal itu telah membuat keraguan di hati Fahisa perlahan memudar.
"Kenapa melamun hmm?" Tanya Daffa membuat Fahisa kembali ke alam sadarnya
"Tidak papa." Jawab Fahisa sambil tersenyum yang langsung ditanggapi dengan anggukan oleh suaminya
Saat ini mereka baru saja mengantar Sahara ke rumah orang tua Daffa dan sekarang keduanya sedang dalam perjalanan menuju kantor milik keluarga Daffa. Dari rumah Tania butuh sekitar dua puluh menit untuk sampai dan ketika sudah sampai Daffa menggenggam tangan Fahisa membawanya memasuki kantor milik keluarga besarnya.
Sebagai pemimpin perusahaan kedatangannya di sambut manis oleh para pekerja, mereka berbaris di pintu masuk utama menyambut kedatangan pemimpin mereka dan istrinya. Selama melangkahkan kakinya setiap orang yang melihat mereka tersenyum sopan, berbeda dengan wajah Daffa yang nampak biasa senyuman Fahisa tidak luntur dari bibirnya memberikan senyuman kepada mereka yang melihat ke arahnya.
Mereka menaiki lift hingga di lantai teratas dan Daffa membawanya ke ruangan miliknya, ruang CEO saat melewati tempat sekretarisnya Daffa berhenti sebentar.
"Dina tolong cancel seluruh kegiatan saya hari ini kecuali pertemuan dengan para pemimpin perusahaan cabang siang nanti." Perintah Daffa
"Siap Pak." Kata Dina patuh
Setelah itu Daffa kembali membawa Fahisa ke ruangannya dan ketika memasuki ruangan yang sangat besar itu Fahisa membulatkan matanya dia menatap sekeliling dengan takjub. Luar bisa ruangan sebesar ini untuk satu orang saja, apakah tidak terlalu besar? Bagaimana bisa ada sofa sebesar ini?
"Ada apa Fahisa?" Tanya Daffa saat melihat istrinya yang sedang sibuk meneliti isi kantornya
"Besar sekali, apa ruangan ini tidak terlalu besar?" Tanya Fahisa penasaran
Fahisa mengangguk mengerti lalu mulai menyusul Daffa yang sudah mendudukkan dirinya di sofa.
"Jadi apa tujuan aku di bawa kesini?" Tanya Fahisa
"Menemani aku bekerja dan memberikan aku semangat saat aku lelah." Kata Daffa
"Itu bahkan bisa dilakukan di rumah." Cetus Fahisa
Dia sedikit kesal sebenarnya, tapi bukan hal yang buruk juga sih karena setidaknya Fahisa tidak akan terlalu bosan di rumah.
"Tidak bisa dilakukan di rumah." Kata Daffa membuat Fahisa mengerutkan dahinya bingung
"Kenapa tidak bisa?" Tanya Fahisa
Bukan menjawab Daffa malah mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Fahisa singkat membuat istrinya itu memelototkan matanya karena terkejut.
"Karena cara memberikan aku semangat seperti itu bahkan lebih kira-kira lima menit." Kata Daffa membuat Fahisa menatapnya tidak percaya
"Mas jangan aneh-aneh." Gerutu Fahisa yang mengalihkan wajahnya ke arah lain, wajahnya memerah lagi
Daffa tertawa kecil, "Iya enggak, kamu di sini aja aku ada laptop nganggur bisa kamu pakai disini juga ada wifi nanti kita makan siang bareng"
"Jahil banget sih main cium-cium aja." Gerutu Fahisa sambil mengerucutkan bibirnya kesal
"Memang kenapa? Sama istri sendiri ini udah halal." Canda Daffa membuat Fahisa jadi salah tingkah sendiri
"Ya iya tapi kan tau tempat dong." Kata Fahisa
Niatnya perkataan itu untuk membuat Daffa berhenti menggodanya, tapi sayangnya perkataan itu malah membuat otak suaminya berfikiran kemana-mana dan semakin menggodanya hingga membuat pipi Fahisa memerah sempurna.
"Memang tempatnya dimana? Di kamar? Di sofa? Di dapur?" Tanya Daffa menyebutkan satu persatu tempat dimana mereka pernah berciuman
"Mas Daffa!"
¤¤¤¤
Sejak tadi Tania kewalahan sendiri ketika menjaga Sahara, tidak anak itu bukan tidak bisa diam melainkan tidak mau berhenti bicara dia terus saja mengomel tentang Daffa. Namun, tidak dapat dipungkiri jika Tania juga sedikit terhibur dengan kehadiran Sahara karena rumahnya tidak sepi dan sunyi.
"Oma Daddy itu sekarang menyebalkan! Padahal Oma dulu Daddy tidak seperti itu, tapi sekarang Daddy terus saja membawa Mommy pergi dan tidak mengizinkan Ara untuk ikut." Lapornya pada Tania
Saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga sambil menonton tv atau lebih tepatnya tv yang sedang menonton segala kekesalan Sahara.
"Ara jangan ngomong gitu dong, kamu tau gak kenapa Daddy sering ajakin Mommy keluar?" Tanya Tania
Sahara menngangguk dengan cepat, "Kenapa Oma?"
Tania meminta cucunya itu mendekat dan Sahara dengan mata yang menatap penuh tanda tanya langsung merapatkan diri lalu Tania mulai menunduk dan membisikkan sesuatu.
"Mereka mau berkencan supaya Ara bisa cepat dapat adik"
Memundurkan wajahnya Sahara menatap Tania dengan mata membulat membuat wanita paruh baya itu menahan tawanya dan memilih untuk memasang wajah seriusnya lalu mengangguk meyakinkan.
"Jadi Ara gak boleh ganggu Daddy sama Mommy kalau mau keluar oke? Nanti Ara minta di janjikan aja untuk di ajak jalan-jalan." Kata Tania
Sahara mengangguk setuju, "Siap Oma cantik Ara gak sabar pengen punya adik"
Tania tersenyum lebar lalu wanita itu beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil album foto yang sudah lama disimpannya bahkan ia juga sudah lama tidak membukanya. Bersama Sahara mereka berdua melihat satu persatu foto yang ada disana sambil sesekali tertawa ketika melihat ekspresi lucu yang ada di gambar.
"Apa ini Daddy? Kenapa Daddy jelek? Masa rambutnya panjang seperti perempuan." Komentar Sahara membuat Tania tertawa mendengarnya
Foto itu adalah ketika Daffa SMA ya di masa itu anaknya memang tidak bisa diomongi dia sering melanggar tata tertib sekolah salah satunya memanjangkan rambut tidak perduli meski dia di marahi habis-habisan di sekolah dan di rumah anak itu tidak perduli sama sekali.
"Iya kan? Dulu Oma sudah memarahi Daddy menyuruh dia untuk potong rambut, tapi Ara tau? Daddy bilang bahwa dia terlihat tampan dengan rambut panjangnya." Cerita Tania
"Hiii Daddy aneh sekali ya Oma?" Kata Sahara yang diangguki oleh Tania
Lembar demi lembar sudah mereka lihat sampai akhirnya ketika Sahara membalik ke lembaran berikutnya dia melihat foto yang membuatnya mengerutkan dahinya lalu mendongak dan menatap Tania yang juga sedang menatap ke arahnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Oma ini siapa? Kenapa dia peluk-peluk Daddy-nya Ara?"
Dan itu adalah foto Daffa dan Renata, ibu kandung Sahara.