
Dalam tidurnya pria itu bergerak dengan gelisah bayangan masa lalu yang sempat membuatnya terpuruk bertahun-tahun kembali masuk ke dalam mimpinya dan membuat tidur nyenyaknya terganggu. Di sampingnya sang istri yang merasa terganggu menoleh dan sedikit terkejut ketika melihat suaminya yang nampak gelisah dengan keringat dingin yang bercucuran di dahinya.
Tangan Fahisa terangkat dia mengguncang pelan tubuh suaminya berusaha membangunkan pria itu dari mimpi buruknya.
Namun, Daffa bukan terbangun dalam mimpinya bayangan wajah Renata yang baru saja melahirkan mulai berputar.
Saat dimana istrinya itu berhasil melahirkan Sahara dan tersenyum dengan begitu tulus sebelum akhirnya mata indah itu perlahan menutup.
Mimpi itu menyiksanya dan Daffa benar-benar ingin segera terbangun, tapi bayangan-bayangan itu malah semakin masuk kedalam mimpinya, menyiksanya dengan lebih dalam lagi.
Bayangan dimana dirinya berusaha membangunkan Renata yang telah menutup mata dengan sempurna semakin membuat keringat mengalir di dahinya.
"Mas Daffa"
Suara itu perlahan memasuki telinganya.
Suara Fahisa yang seolah membantunya untuk segera sadar dari mimpi buruk itu.
"Mas"
Sekali lagi suara itu terdengar, tapi Daffa masih belum bisa terbangun dan bayangan ketika dokter menyatakan kematian istrinya malah memenuhi mimpinya.
Tidak, Daffa semakin takut.
Bagaimana jika hal yang sama terjadi dengan Fahisa?
"Mas Daffa"
Panggilan itu berkali-kali terdengar dan entah dipanggilan keberapa mata Daffa baru terbuka, mata yang dipenuhi kecemasan.
"Mas, kamu kenapa?"
Suara lembut istrinya membuat Daffa secara refleks memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Fahisa.
Rasa takut itu semakin nyata Daffa rasakan.
"Kamu mimpi buruk ya?" Tanya Fahisa sambil mengusap lembut rambut hitam suaminya
Tidak menjawab Daffa malah semakin mengeratkan pelukannya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya.
Tidak tau kenapa rasa takut yang dia rasakan malah semakin besar dan membuatnya gelisah sejak tadi pagi.
"Kamu mimpi apa hmm?" Tanya Fahisa lagi
Masih enggan untuk menjawab akhirnya Fahisa hanya diam dan membiarkan suaminya itu merasa tenang.
Cukup lama keheningan melanda keduanya sampai akhirnya Daffa melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Fahisa dan mencium seluruh bagian dari wajah cantik istrinya. Setelah meras puas Daffa menatap mata itu dengan begitu dalam, matanya masih sama menyiratkan ketakutan yang amat besar.
"Fahisa"
"Hmm?"
"Kenapa aku masih terus merasa takut? Kenapa rasa takut ini malah semakin besar?" Tanya Daffa dengan wajah yang terlihat begitu frustasi
Kali ini Fahisa yang hanya diam dan masih menunggu perkataan selanjutnya yang akan keluar dari bibir suaminya.
"Aku sangat takut Fahisa bahkan meskipun aku juga merasa bahagia karena anak kita sebentar lagi akan lahir, tapi aku masih tetap merasa takut Fahisa,"
Menatap wajah istrinya cukup lama Daffa benar-benar berharap jika ketakutan itu tidak akan benar-benar terjadi.
"Aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana hidup aku jika harus kehilangan kamu." Kata Daffa dengan lirih
Sedikit tersentak Fahisa menangkup wajah suaminya lalu mengusap lembut pipi Daffa dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
Dia faham ketakutan yang suaminya rasakan dan sekarang yang Fahisa perlu lakukan adalah menghilangkan ketakutan itu.
"Aku tidak akan pergi kemanapun Mas. Apapun yang terjadi nanti aku akan terus berusaha untuk bertahan supaya kita akan bersama untuk waktu yang begitu lama." Kata Fahisa sambil mendekatkan wajahnya dan mencium kening suaminya dengan lembut
Memejamkan matanya Daffa sudah merasa sedikit tenang meskipun gemuruh ketakutan itu masih menguasai dirinya.
"Jangan takut dan jangan seperti ini lagi aku khawatir karena aku tidak biasa melihat Mas Daffa yang seperti ini." Kata Fahisa
Melingkarkan tangannya di leher sang suami Fahisa memeluk tubuh Daffa dengan erat dan mencoba menyalurkan ketenangan. Di tengah malam ini sedikit demi sedikit ketakutan yang Daffa rasakan mulai memudar.
"Kita akan sama-sama sampai anak-anak kita menikah nantinya, jangan takut hmm?" Kata Fahisa sambil mengusap lembut rambut suaminya
"Aku benar-benar mencintai kamu Fahisa." Kata Daffa sambil mengeratkan pelukannya
Tersenyum lebar Fahisa menganggukkan kepalanya pelan lalu berbisik tepat di telinga suaminya.
"Aku tau Mas dan aku juga sangat mencintai kamu"
Semoga mimpi yang buruk itu tidak akan pernah terjadi pada Fahisa.
¤¤¤¤
Bulan kesembilan kehamilan Fahisa sudah datang dan sekarang keduanya baru saja kembali dari dokter untuk check up. Semua baik-baik saja kandungan Fahisa sangat baik dan tentu saja hal itu membuat keduanya bahagia terutama Fahisa yang sepanjang jalan tidak pernah sedikitpun menguraikan senyum manisnya.
Sepulang dari sini Fahisa meminta kepada suaminya untuk pergi ke kedai ice cream langganan mereka karena sudah lama Daffa melarang istrinya untuk makan ice cream dan sekarang Fahisa memaksa. Tidak ada pilihan lain selain menurut karena kalau tidak dituruti Fahisa pasti akan nekad membei sendiri lagipula Daffa sudah cukup bersyukur karena istrinya itu mau menurut dua minggu belakangan.
"Aku mau makan dua dan Mas Daffa gak boleh protes!" Kata Fahisa sambil menatap suaminya dengan tajam
"Tidak akan sayang hari ini aku tidak akan melarang." Kata Daffa membuat senyum Fahisa semakin mengembang
"Sahara? Dia lagi bersama Mami, apa perlu kita susul terlebih dahulu?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya
"Hmm mau sama Ara makan ice creamnya." Kata Fahisa
Kembali menuruti keinginan istrinya Daffa melajukan mobilnya ke rumah keluarga Wijaya untuk menyusul Sahara dan ketika sampai disana anak itu langsung berseru senang sambil memasang wajah yang berseri.
"Mami mau ikut juga tidak?" Tanya Fahisa yang langsung dijawab dengan gelengan oleh mertuanya
"Tidak sayang Mami sudah tua gigi Mami akan sakit semua nanti." Canda Tania
"Baiklah kalau begitu kami pergi dulu ya Mi dan besok kami akan datang untuk menginap." Kata Daffa
Menyunggingkan senyumannya Tania merasa begitu bahagia ketika mendengarnya karena setelah sekian lama salah satu anaknya akan kembali ke rumah ini.
"Kami akan menginap lama seperti apa yang Mami minta." Kata Fahisa sambil tersenyum
Tertawa kecil Tania mengusap perut buncit menantunya itu dengan sayang.
"Mami tidak sabar menanti kelahiran kalian." Kata Tania sambil tersenyum haru
Setelah mencium punggung tangan Tania mereka kembali pergi untuk menuruti keinginan si ibu hamil dan sekarang Fahisa duduk di belakang bersama dengan Sahara.
"Mommy apa kata ibu dokternya tadi?" Tanya Sahara sambil menatap Fahisa dengan wajah polosnya
Ya, tadi Fahisa memang mengatakan jika dia akan pergi ke dokter untuk memeriksakan kandungan.
"Ibu dokter bilang kalau adik Ara sangat sehat dan akan segera keluar untuk menemui Ara." Kata Fahisa membuat anaknya itu tersenyum senang dengan wajah penuh antusias
"Benarkah? Benarkah ibu dokternya bilang begitu? Sebentar lagi adik bayinya akan keluar?" Tanya Sahara dengan penuh semangat
Melihat hal itu Daffa dan Fahisa tertawa kecil karena Sahara terlihat begitu menggemaskan dengan mata yang membulat lebar.
"Hmm sebentar lagi adiknya Ara akan keluar dari sini." Kata Fahisa sambil mengusap perut buncitnya dengan sayang
Tersenyum lebar Sahara mencium perut buncit Fahisa berkali-kali lalu mengatakan hal yang membuat kedua orang tuanya tersenyum senang.
"Cepat keluar ya adiknya Ara nanti kita bisa main sama-sama di rumah"
Sahara begitu menanti kehadiran adik kecilnya.
¤¤¤¤
Saat berada di kedai ice cream langganan mereka Daffa dibuat geleng-geleng kepala dengan pesanan istri dan anaknya. Bagaimana tidak? Kedua wanita itu memesan empat ice cream dengan ukuran besar dan tentu saja Daffa hanya bisa menurut, dia tidak mungkin menolaknya.
Selama menemani kedua wanita itu Daffa benar-benar di buat bahagia melihatnya, tapi saat sedang asik memandangi wajah istrinya tiba-tiba saja mata Fahisa membulat dengan sempurna ketika melihat ke arah pintu masuk kedai. Mengikuti arah pandang istrinya disitulah Daffa mendapati teman baiknya yang memasuki kedai bersama seorang wanita yang merupakan teman dari istrinya.
Dan tidak lama setelahnya seruan Fahisa terdengar bersamaan dengan menolehnya kedua insan itu dan alihan pandangan dari para pengunjung.
"Hanaaa!"
Saat keduanya menatap ke arah sumber suara Fahisa melambaikan tangannya dan menyuruh kedua orang itu untuk datang menghampirinya.
Berjalan beriringan keduanya menghampiri Fahisa yang tampak antusias ketika melihatnya.
Dan ketika keduanya sudah berada di hadapan Fahisa.
"Apa kalian sedang berkencan?" Tanya Fahisa dengan antusias
Keduanya tampak salah tingkah, tapi Keenan yang tidak mau terlihat gugup itu menjawab hal yang membuat Fahisa semakin bahagia dan Hana yang semakin merona.
"Tentu saja Fahisa kami sedang kencan dan kamu malah mengganggu." Kata Keenan
"Kalian disini saja! Hana ayo sini kita sudah lama tidak ketemu." Kata Fahisa
Tidak bisa menolak akhirnya kedua orang itu bergabung dan ketika melihat Sahara yang sudah semakin besar Keenan tersenyum lebar.
"Apa ini Sahara? Dia sudah besar sekarang dan ya ampun dia lucu sekali." Kata Keenan sambil mencubit pipi tembam Sahara
"Jangan cubit-cubit Ara! Daddy paman ini siapa?" Tanya Sahara takut
Melihat ekspresi itu malah membuat Keenan semakin merasa gemas, dia memang suka dengan anak-anak, tapi belum punya anak.
"Kamu lupa dengan paman?" Tanya Keenan dengan memasang wajah sedihnya
Mengangguk ragu Sahara kemudian mengulurkan tangannya.
"Ayo kita kenalan pasti Paman temannya Daddy kan?" Kata Sahara
Tertawa kecil Keenan menyambut uluran tangan itu lalu menyebutkan namanya.
"Nama paman Keenan"
Tersenyum lebar Sahara ikut menyebutkan namanya.
"Nama aku Ara"
Setelah itu keadaan menjadi hening sampai akhirnya pertanyaan dari Sahara membuat dua orang diantara mereka bersemu merah.
"Apa paman Keenan sama ibu guru Hana pacaran? Dari tadi lihat-lihatan seperti di yang ada di tv"
Dan Hana ingin menghilang saja sekarang.