
Sepanjang perjalanan Daffa sama sekali tidak bisa merasakan ketenangan, dia terus merasa gelisah dengan jantung yang berdetak dengan begitu cepat. Rasa takut terus menguasai diri Daffa dan dia merasa jika waktu berjalan dengan begitu lambat, fikirannya kacau mulai dari masalah Fahisa juga masalah Jira.
Daffa sama sekali tidak mengerti kenapa wanita itu bisa sampai begitu nekat?
Daffa sama sekali tidak berniat menghancurkan hubungan mereka yang sudah seperti keluarga hanya karena masalah perasaan yang dimiliki oleh Jira, tapi wanita itu benar-benar keterlaluan sekarang.
Bagaimana bisa dia memeluk dan menciumnya ketika fikiran Daffa sudah tidak menentu karena kondisi Fahisa yang sekarang berada jauh darinya?
Saat ini Daffa sedang dalam perjalanan ke rumahnya karena Tania meminta dia untuk pulang terlebih dahulu dan membicarakan sesuatu. Sedangkan di rumah sakit sudah ada Kakaknya juga Sahara yang menemani Fahisa.
Meskipun awalnya menolak, tapi karena paksaan Tania akhirnya Daffa setuju dan memutuskan untuk pulang ke rumahnya terlebih dahulu.
Ceklek..
Membuka pintu utama Daffa segera melangkahkan kakinya kedalam rumah dan disana dia sudah mendapati Tania yang sedang berada di ruang tamu bersama dengan para pegawai rumahnya.
"Mami"
Menolehkan kepalanya Tania langsung menghampiri anaknya dan berjalan mendekat.
"Daffa kita harus bicara." Kata Tania sambil membawa anaknya menuju ruang keluarga
Saat keduanya sampai di ruang keluarga Tania memijat dahinya pelan lalu menatap anaknya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan. Dia bingung harus bicara dari mana, tapi kediaman Tania malah membuat Daffa merasa cemas.
"Kenapa Mi? Apa Dokter mengatakan sesuatu yang buruk? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Daffa dengan cepat
Menghela nafasnya pelan Tania akhirnya mulai berbicara.
"Daffa sepertinya ada yang berniat untuk mencelaki Fahisa dan anaknya." Kata Tania membuat Daffa merasa terkejut
"Apa maksud Mami?!" Tanya Daffa cepat
Menghela nafasnya pelan Tania mulai berbicara dan menceritakan semua yang telah dikatakan oleh dokter pagi tadi. Mulai dari racun atau obat yang biasa dikonsumsi untuk menggugurkan kandungan juga kondisi Fahisa dan kandungannya yang sempat melemah.
"Mami tidak mengerti Daffa kenapa semua ini bisa terjadi? Siapa yang berusaha mencelakai menantu Mami dan kenapa?" Kata Tania
Daffa terdiam dengan tangan yang mengepal semua perkataan Maminya benar-benar membuat emosi Daffa naik. Siapa orang yang berani melakukan itu semua?
"Mami sudah tanya semua pegawai? Apa Fahisa memakan sesuatu dari luar yang dia beli misalnya?" Tanya Daffa berusaha tenang
"Sudah, Fahisa hanya memakan makanan yang ada di rumah." Kata Tania semakin bingung dengan semuanya
Mengusap wajahnya frustasi Daffa semakin merasa bingung, bagaimana bisa? Semua pegawai disini sudah bekerja sejak lama bahkan hampir belasan tahun.
Apa perlu Daffa mencurigai mereka juga?
Apa mungkin ada seseorang yang memerintahkannya?
"Daffa perlu bicara dengan mereka." Kata Daffa setelah cukup lama terdiam
Bergegas turun Daffa segera menghampiri para pegawainya yang masih berkumpul di ruang tamu sesuai perintah dari Tania. Mereka menunduk takut karena tatapan tajam Daffa yang seakan bisa membunuh mereka saat itu juga.
"Apa kalian bekerja dengan benar?!" Tanya Daffa dengan suara keras
"Bagaimana bisa semua ini terjadi? Katakan siapa yang datang berkunjung hari ini? Apa ada sesuatu yang mencurigakan?" Tanya Daffa masih dengan suara kerasnya
Mereka menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap mata Daffa yang begitu tajam juga dipenuhi oleh kemarahan. Cukup lama hening sampai akhirnya seorang pria paruh baya yang biasa ditugaskan untuk menjaga kebun itu mulai bicara.
"Tuan, pagi ini tidak ada satupun orang yang datang berkunjung saya bisa memastikannya." Kata Hari jujur
"Lalu bagaimana ini bisa terjadi?! Apa kalian yang berusaha mencelakai Fahisa?!" Tanya Daffa marah
Mereka hanya diam tanpa suara sampai akhirnya dari atas Tania berlari turun dengan wajah paniknya sambil memanggil nama Daffa.
"Ada apa Mi?" Tanya Daffa cemas
"Daffa kita harus ke rumah sakit sekarang sesuatu terjadi dengan Fahisa." Kata Tania panik
"Kalau sesuatu sampai terjadi dengan istriku aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua!"
Berlari menyusul Tania dia meninggalkan para pegawainya yang sekarang berwajah pucat karena takut, tapi tanpa ada satupun yang menyadarinya salah satu dari mereka merasakan cemas yang berlebihan. Wanita itu tangannya bergetar dan keringat dingin mulai mengaliri tubuhnya, dia takut.
Semua ini bukan salahnya kan?
Tapi, dia hanya menjalankan perintah yang diberikan.
¤¤¤¤
Berlari di koridor rumah sakit Daffa mendapati anaknya yang sedang menangis dipelukan kakaknya saat ia sampai didepan ruang rawat Fahisa. Jantungnya kembali berdetak dengan cepat apalagi saat melihat tangisan Sahara, dia merasa sesak.
Semua akan baik-baik saja akan Daffa pastikan dia akan menangkap orang yang sudah berencana untuk mencelakai istrinya. Menyadari kehadiran adiknya Dara berbisik kepada Sahara membuat anak itu mendongak lalu menoleh ke arah Daffa.
Dengan bibir yang tertekuk Sahara berlari menghampiri Daffa lalu memeluknya dan kembali menangis dengan keras. Merasa sakit melihat anaknya menangis Daffa langsung membawa Sahara kedalam gendongannya dan mengusap rambutnya dengan lembut.
"Kenapa anak Daddy menangis hmm?" Tanya Daffa
"Daddy Ara takut, Mommy sakit nanti Mommy ninggalin Ara." Isaknya sambil memeluk erat Daffa
"Tidak akan Ara Mommy akan baik-baik saja, Daddy janji tidak akan terjadi apa-apa sama Mommy." Kata Daffa masih terus mengusap lembut kepalanya
"Tapi, Mommy berdarah Daddy Ara takut." Kata Sahara semakin terisak
Sialnya perkataan Sahara membuat Daffa jadi semakin panik, dia menatap kakaknya meminta untuk diberikan penjelasan.
"Darah? Ada apa Kak? Tolong jelaskan pada Daffa." Pinta Daffa
"Temui Fahisa dulu Daffa nanti akan Kakak jelaskan dia butuh kamu sekarang." Kata Dara
Menurunkan Sahara dari gendongannya Daffa berusaha menenangkan anak itu dan memintanya untuk menunggu di luar bersama Dara.
Memasuki ruangan jantung Daffa berdetak dengan begitu cepat saat melihat Fahisa yang terlihat begitu pucat. Matanya menatap lurus kedepan, tapi saat mendengar suara langkah kaki Fahisa menolehkan kepalanya.
Mata mereka bertemu dan Daffa benar-benar merasa sesak ketika melihat genangan air mata di manik mata indah istrinya. Mendudukkan dirinya Daffa menggenggam erat tangan Fahisa lalu menciumnya berkali-kali dan tidak lama setelahnya suara isakan terdengar, Fahisanya menangis.
"Sst jangan menangis Hisa aku disini." Kata Daffa sambil menghapus air mata Fahisa yang terus mengalir
"Mas aku takut." Lirih Fahisa membuat Daffa merasa begitu sesak
Demi Tuhan dia akan segera menangkap orang yang sudah membuat Fahisa merasakan sakit seperti ini.
"Takut apa hmm? Aku disini tidak akan terjadi apa-apa semuanya akan baik-baik saja." Kata Daffa meyakinkan
"Ada darah aku takut... sakit... perutku sakit sekali Mas." Isak Fahisa
"Jangan menangis Fahisa semua akan baik-baik saja." Kata Daffa sambil terus menghapus air mata Fahisa
Sudah enam bulan Fahisa mengandung anaknya dan dia begitu takut jika harus kehilangannya. Dia sering mendengar orang yang keguguran dan Fahisa merasa sangat takut, dia takut sekali.
"Mas Daffa jangan pergi lagi Hisa takut." Kata Fahisa semakin terisak
Sedetikpun Daffa tidak akan pergi dia akan berada disisi Fahisa, menjaganya dan memastikan semua akan baik-baik saja.
Serta memastikan orang itu akan segera ditangkapnya.
"Aku disini Fahisa"
Daffa tidak akan pergi lagi.
¤¤¤¤
Jadi kemarin aku udah ngetik kan, tapi ngetiknya di notes gitu ehh lupa kesimpen :)
Ulang lagi dehh :)