Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Duapuluh enam



Kehamilan pertama Fahisa adalah hal yang sangat membahagiakan bagi keluarga Daffa apalagi Tania yang ketika dikabari langsung menyuruh mereka untuk segera datang ke rumahnya. Kondisi Fahisa juga sekarang sudah membaik setelah dia makan dan meminum obat juga vitamin hanya saja badannya masih sedikit lemas.


Sejak pagi Sahara juga tidak mau beranjak dari sisi Fahisa anak itu terus berada di sampingnya dan mengajak Fahisa berbicara membuat senyum Fahisa kembali mengembang dengan sempurna.


"Mommy apa nanti perut Mommy akan besar seperti di film film?" Tanya Sahara dengan wajah polosnya


Tertawa kecil Fahisa menjawabnya dengan sebuah anggukan membuat senyum Sahara kembali mengembang.


"Mommy adik Ara laki-laki atau perempuan?" Tanya Sahara lagi


"Tidak tau sayang kita belum bisa melihatnya sekarang." Kata Fahisa membuat Sahara mengerucutkan bibirnya


"Memang Ara maunya adik perempuan atau laki-laki?" Tanya Fahisa sambil mengusap rambut hitam anaknya dengan penuh kasih sayang


"Mau perempuan biar bisa Ara ajak main boneka bareng." Kata Sahara dengan penuh semangat


"Kalau begitu Ara harus berdo'a supaya adiknya perempuan." Kata Fahisa


Sahara mengangguk faham lalu kembali berbicara tentang banyak hal anak itu telah berhasil membuat Fahisa merasa lebih baik.


Bahkan layaknya orang dewasa sesekali Sahara bertanya apa Fahisa butuh sesuatu?


"Mommy apa adiknya akan lama berada disini?" Tanya Sahara sambil menunjuk ke arah perut Fahisa yang masih rata


"Adik Ara akan berada di dalam sini selama sembilan bulan." Kata Fahisa


"Apa sembilan bulan itu lama?" Tanya Sahara membuat Fahisa merasa gemas dibuatnya


"Cukup lama sayang, jadi Ara harus sabar ya menunggu kedatangan adik kecilnya." Kata Fahisa


"Siap Mommy"


Saat tengah asik mengobrol Daffa menghampiri keduanya dan mengajak mereka untuk pergi ke rumah Tania karena wanita paruh baya itu terus meminta mereka untuk datang. Sebenarnya bisa saja Tania yang datang kesini, tapi saat di telfon tadi Fahisa mengatakan bahwa mereka yang akan datang.


"Perlu aku bantu?" Tanya Daffa


Fahisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak perlu Mas aku baik-baik saja kok"


¤¤¤¤


Saat sampai Fahisa langsung disambut dengan pelukan hangat oleh Tania, dia juga mencium pipi Fahisa dengan penuh kebahagiaan. Sudah lama dia menanti untuk bisa kembali menimang cucu dan sebentar lagi harapannya akan tercapai.


Mengajak menantunya ke dalam Tania merangkul Fahisa dengan sayang dan membawanya untuk duduk di ruang keluarga bersama dengan Daffa juga Sahara.


"Sayang Mami bahagia sekali mendengarnya." Kata Tania sambil kembali memeluk Fahisa


Tersenyum, Fahisa membalas pelukan Tania dan mengusap punggung itu dengan lembut.


"Hisa juga bahagia Mi." Kata Fahisa membuat Daffa yang mendengarnya ikut tersenyum dengan lebar


"Kamu jangan capek-capek ya! Daffa kamu harus cari orang lagi untuk mengurus rumah jangan biarkan menantu Mami turun tangan sendiri." Kata Tania


"Iya Mi akan Daffa carikan." Kata Daffa menurut


Dia juga memang berniat begitu sebelumnya karena ini adalah kehamilan pertama Fahisa dia harus menjaga istrinya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.


Sebenarnya Fahisa ingin menolak, tapi dia takut mengatakannya karena setiap kali membantah perkataan Tania dia akan di pelototi lalu diomeli dan Fahisa tidak mau.


"Apa kamu ingin sesuatu? Kalau kamu ingin sesuatu jangan di tahan ya Fahisa katakan saja pada Daffa." Kata Tania mengingatkan


Mengetahui jika menantunya itu sangat pemalu Tania jadi khawatir jika Fahisa nanti tidak mau bicara tentang keinginannya dan malah menahannya, jadi dia harus mencegahnya.


"Kamu juga Daffa sering tanya sama istri kamu apa dia butuh sesuatu atau ingin sesuatu? Jangan tunggu sampai dia bilang kamu kan tau memantu Oma yang satu ini sangat pemalu." Kata Tania sambil tertawa kecil


"Mamii Hisa gak gitu." Elak Fahisa dengan bibir mengerucut dan pipi memerah


Terdiam sesaat Fahisa tampak ragu untuk mengatakan kemauannya, tapi tatapan mata Tania yang terus melihat ke arahnya membuat Fahisa akhirnya bicara dengan ragu.


"Mau brownis Mi, boleh?" Tanya Fahisa


"Tentu saja boleh sayang Mami akan buatkan untuk menantu kesayangan Mami, kamu tunggu disini aja." Kata Tania


Sebelum pergi Tania mengusap kepala menantunya dengan sayang lalu meninggalkan keluarga kecil ini, tapi Sahara tiba-tiba berlari dan menghampiri Tania. Tersenyum lebar anak itu mengatakan bahwa dia juga ingin membantu membuat kue.


"Oma Ara mau ikut juga"


¤¤¤¤


Di tinggalkan berdua dengan Daffa membuat Fahisa jadi merasa sedikit canggung dia takut untuk menatap mata suaminya karena jujur saja semua pesan itu masih terus terngiang di ingatannya. Semua pesan itu menyakitinya, tapi berita kehamilan yang dia dapatkan membuatnya merasa lebih baik.


Fahisa tidak tau apa ini adalah efek dari kehamilannya atau bukan, tapi mendadak dia jadi ingin bermanja-manja dengan suaminya. Sedikit ragu Fahisa mulai mendekat lalu melingkarkan tangannya di pinggang Daffa memeluk suaminya dari samping.


Merasa bahagia Daffa membalas pelukan istrinya dan mengulurkan sebelah tangannya untuk mengusap rambut hitam Fahisa dengan lembut. Dia sangat suka jika Fahisa sudah mulai manja seperti ini rasanya benar-benar membahagiakan.


"Apa kamu merasa pusing atau mual?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Fahisa


Beberapa menit berjalan mereka hanya diam dengan posisi yang masih berpelukan, tapi sesaat setelahnya Daffa ingin bertanya tentang kejadian semalam.


Dia harus tau kan?


Kalau memang Fahisa menangis karena kesalahannya dia akan minta maaf karena telah membuat wanita itu menangis.


"Fahisa"


Merasa terpanggil Fahisa mendongakkan kepalanya dan menatap Daffa dengan senyuman.


"Kenapa Mas?" Tanya Fahisa


"Mau bercerita?" Tawar Daffa membuat Fahisa mengerutkan dahinya bingung


"Cerita apa?" Tanya Fahisa bingung


"Tentang semalam," Kata Daffa


Fahisa terdiam dia tidak ingin menjawab dan malah memeluk suaminya itu semakin erat membuat Daffa menghela nafasnya pelan.


Sebenarnya apa yang terjadi?


Dengan penuh kelembutan Daffa melepaskan pelukannya lalu menangkup wajah Fahisa membuat wanita itu menatap ke arahnya. Tatapan mata Daffa sangat lembut dan menghanyutkan membuat Fahisa jadi ingin menangis.


Dia jadi cengeng sekali sekarang.


"Fahisa, ceritakan semuanya kamu jangan buat aku bingung kalau aku buat salah aku minta maaf,"


Sebelah tangan Daffa terulur untuk mengusap perut Fahisa yang masih rata membuat istrinya itu sedikit tersentak karena merasa kaget.


"Di dalam sini ada anak kita Fahisa kamu tidak boleh banyak fikiran, ingat? Jadi ceritakan semuanya." Kata Daffa


"Nanti Mas Daffa marah sama aku." Cicit Fahisa


Tapi, dia tetap mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan benda itu kepada Daffa menunjukkan rentetan pesan yang masuk kemarin.


"Maaf, aku cuman kepikiran itu menurut aku semua pesan itu memang benar dan hal itu bikin aku jadi sakit hati." Kata Fahisa sambil memeluk Daffa dengan erat


Sedangkan itu ketika membaca pesan yang entah dikirim oleh siapa Daffa merasa sesak seketika, pantas saja Fahisa menangis. Semua memang salahnya karena terlalu terikat dengan bayang-bayang Renata, tapi sekarang perasaannya sudah berubah dia hanya ingin melihat Fahisa saja.


Membalas pelukan Fahisa cukup erat Daffa tersenyum kecil dia harus menceritakan banyak hal kepada istrinya.


"Sepertinya kita perlu banyak waktu untuk bercerita"