
Waktu berjalan dengan begitu cepat hingga tidak terasa jika kehamilan Fahisa telah memasuki bulan keempat dan saat ini Fahisa terlihat begitu berisi dengan pipi yang semakin tembam. Seiring berjalannya waktu Fahisa menjadi sosok yang sangat manja dan begitu mudah merajuk semua keinginannya harus dipenuhi membuat Daffa terkadang bingung sendiri.
Pernah sekali ketika Daffa ingin pergi bekerja dan Fahisa tidak mengizinkan, tapi pria itu tetap nekat untuk pergi lalu pada akhirnya dia harus menerima kenyataan ketika pulang Fahisa mendiamkannya.
Tidak tanggung-tanggung Fahisa mendiami Daffa hingga tiga hari dan wanita itu sering keluar tanpa izinnya untuk membeli sesuatu.
Dan sekarang Daffa harus kembali menghadapi sikap manja istrinya.
"Mas Daffa mau ikutt." Rengek Fahisa sambil terus menarik lengan jas suaminya
"Fahisa di rumah saja hmm? Hanya sebentar aku akan langsung pulang setelah selesai." Kata Daffa
Sebenarnya bukan tidak mau, tapi istrinya itu ingin ikut rapat. Tidak masalah sebenarnya hanya saja lokasinya cukup jauh dan dia tidak mau Fahisa kelelahan.
"Pokoknya ikut! Aku gak mau di rumah sendirian!" Rengek Fahisa
Keduanya memang baru saja kembali dari mengantar Sahara ke sekolah dan sekarang Daffa sedang bersiap untuk pergi menghadiri rapat di salah satu kantor rekan kerjanya, tapi Fahisa menahannya dan terus merengek meminta ikut.
"Aku antar ke rumah Mami atau Kak Dara saja ya?" Tawar Daffa yang melah semakin membuat istrinya itu merajuk
"Tidak mauu! Mau ikut Mas Daffa saja." Kata Fahisa
"Tempatnya jauh Fahisa aku juga akan lama." Kata Daffa berusaha membuat istrinya itu mengerti
"Pokoknya ikut! Mau ikut." Kata Fahisa dengan penuh paksaan
"Fahisa di rumah saja aku janji akan menuruti semua keinginan kamu setelah pulang nanti." Kata Daffa sambil tersenyum manis
Menggelengkan kepalanya Fahisa kembali menolak.
Pokoknya dia mau ikut.
"Tidak! Aku mau ikut, Kenapa tidak boleh ikut? Mas Daffa mau selingkuh ya?" Tuduh Fahisa
Menatap istrinya dengan tidak percaya Daffa benar-benar tidak habis fikir jika Fahisa akan berfikir sampai kesana.
Astaga bahkan dia tidak akan pergi kalau saja ini bukan sesuatu yang sangat penting.
"Bukan begitu Fahisa aku cuman tidak mau kamu lelah...."
"Pokoknya ikut! Kalau tidak boleh berarti Mas Daffa juga tidak boleh pergi!" Tegas Fahisa dengan wajah garangnya
Menghela nafasnya panjang kalau sudah begini Daffa harus mengalah karena jika dia sampai menolak istrinya itu pasti akan menangis lalu mendiamkannya sampai berhari-hari, dia tidak mau.
"Baiklah ibu hamil kalau begitu kita berangkat sekarang." Kata Daffa membuat Fahisa bersorak senang lalu secara refleks memeluk suaminya
Tersenyum senang Daffa merangkul Fahisa dengan sayang dan keduanya segera pergi ke salah satu kantor milik rekan kerjanya yang mungkin akan memakan waktu hingga satu setengah jam lamanya.
Ternyata Daffa tidak bisa menolak permintaan dari istrinya.
Dia selalu saja luluh dan mengalah.
Fahisa memang benar-benar luar biasa.
¤¤¤¤
Saat sampai di area perkantoran Daffa melingkarkan tangannya di pinggang Fahisa dan mengajak istrinya itu untuk naik ke lantai atas tempat di mana rapat akan dilaksanakan. Mengedarkan pandangannya Fahisa dibuat kagum dengan besarnya perusahaan dan juga para pegawai yang terlihat begitu ramah, cantik serta tampan.
"Aku sudah minta Keenan untuk menemani kamu karena dia tidak akan ikut menghadiri rapat." Kata Daffa
"Keenan? Ahh teman Mas Daffa yang tampan itu ya?" Tanya Fahisa dengan antusias
Mendengus kesal Daffa merasa tidak suka melihat betapa bersemangatnya Fahisa ketika mendengar nama temannya.
"Siapa yang tampan hmm? Kamu berani memuji pria lain di depan suami kamu?" Kata Daffa membuat Fahisa tertawa kecil
"Tidak tidak aku bercanda Mas Daffa yang paling tampan." Kata Fahisa sambil tersenyum
Tanpa ada yang sadar keduanya menjadi perhatian cukup banyak orang, terutama wanita. Sebenarnya Daffa memang cukup dikenal dan mungkin ada begitu banyak pegawai yang mengagumi wajah tampannya.
Saat sampai di lantai empat Daffa mengajak Fahisa ke ruangan milik Keenan, dia percaya dengan pria itu karena mereka cukup dekat.
Ketika pintu terbuka Keenan yang terlihat sibuk dengan berkas-berkasnya langsung berdiri untuk menyambut kehadiran sahabat baiknya.
"Fahisa kamu tunggu disini jangan kemana-mana dan jangan makan apa yang sudah aku larang! Aku akan kembali kurang lebih dua jam dari sekarang." Kata Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya
"Hmm aku akan diam disini." Kata Fahisa
Merasa gemas Daffa mencubit pipi tembam Fahisa sambil tersenyum membuat Keenan yang melihatnya hanya bisa bersabar, meratapi kejombloannya yang begitu menyedihkan.
"Mohon maaf Bapak dan Ibu jangan pacaran di ruangan saya." Kata Keenan membuat Fahisa tertawa kecil
"Nan jagaiin istri gue ya? Jangan dikasih makan sembarangan terus jangan dibawa kemana-mana dan jangan macam-macam juga!" Ancam Daffa
"Iya bakal gue jagaiin dengan sangat baik Bapak." Kata Keenan
Melirik jam ditangannya sekarang adalah waktunya bagi Daffa untuk pergi dan sebelum itu dia mencium kening istrinya membuat Keenan melotot dengan wajah penuh kekesalan.
'Ya ampun jiwa jomblo aku kasihan'
Dan Keenan lebih dibuat kesal serta kaget ketika sebuah kalimat meluncur dengan begitu lancar dari bibir Daffa.
"Aku pergi dulu sayang"
Tidakkah Daffa tau Keenan menangis dalam hati ketika melihatnya.
"Iya pergi Daf pergi jangan mesra-mesraan di depan gue." Kata Keenan membuat pria itu terkekeh ketika mendengarnya
Sesaat setelah Daffa keluar dari ruangan Keenan langsung mempersilahkan Fahisa untuk duduk dan menunggu suaminya dengan santai.
"Duduk saja Fahisa dan kalau butuh sesuatu katakan saja." Kata Keenan
Mengangguk singkat Fahisa mendudukkan dirinya di salah satu sofa lalu matanya menjelajahi ruangan yang besarnya hampir sama dengan ruang kerja milik Daffa. Merasa jika dia tidak bisa membiarkan istri sahabatnya merasa bosan Keenan akhirnya ikut mendudukkan dirinya disebelah Fahisa lalu mulai mengajak bicara.
"Kenapa ikut? Memang gak bosan nungguin Daffa biasanya lama kalau rapat kayak gini." Kata Keenan
"Bosan dirumah sendirian Ara sekolah soalnya." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut
"Hmm iya sih mending disini bisa ngobrol sama gue." Kata Keenan
"Kakak sekarang sudah punya pacar belum?" Tanya Fahisa membuat Keenan jadi kehilangan semangatnya
"Jangan nanya gitu dong." Kata Keenan yang langsung dihadiahi tawa kecil Fahisa
"Maaf maaf kalau begitu Kakak mau aku kenalin sama cewek gak? Dia teman aku." Kata Fahisa
Mata Keenan langsung berbinar dan dengan antusias dia langsung bertanya.
"Mana? Coba lihat fotonya." Kata Keenan
Mengambil ponselnya di dalam tas Fahisa langsung membuka galeri dan mencari foto dirinya dengan Hana. Di sampingnya Keenan terlihat tidak sabaran, siapa tau cocok kan dia bisa minta bantuan Fahisa nanti.
"Ini lihat deh Kak cantik kan? Dia juga mengajar di tempat yang sama kayak aku." Kata Fahisa
Membawa ponsel itu ke dalam genggamannya Keenan sedikit terpaku melihat senyum gadis itu rasanya aneh, dia suka senyumnya.
"Cantik kan? Ayo aku akan kenalkan pada Kakak." Kata Fahisa
Setelah merebut kembali ponselnya Fahisa membuka whats app miliknya dan hendak memencet tombol video yang sontak saja membuat Keenan terkejut dan langsung membatalkannya.
"Ngapain Sa?" Tanya Keenan kaget
"Kan mau kenalan." Kata Fahisa dengan begitu polosnya
"Gak gitu caranya dong." Kata Keenan dengan wajah frustasi
Yang benar saja kenalan lewat video call mana yang telpon Fahisa, kelihatan gak gentle banget dong nanti Keenan.
"Gue juga kan perlu tau tentang temen lo itu lebih banyak dan sekarang mendingan lo ceritaiin tentang dia baru abis itu lo kenalin." Kata Keenan
Terdiam sesaat Fahisa akhirnya mengangguk faham lalu mulai bercerita tentang Hana.
Dia ingin membuat pria tampan di hadapannya mendapatkan pasangan.
¤¤¤¤
Setelah dua jam lebih berada di dalam ruangan dan membahas begitu banyak hal akhirnya Daffa terbebas. Tanpa menunggu banyak waktu lagi dia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan milik Keenan dan setelah itu dia akan mengajak Fahisa utnuk makan siang.
Namun, ketika membuka pintu Daffa dibuat panik karena tidak melihat ruangan yang kosong dan dengan segera dia mencoba untuk menelpon Fahisa.
Berkali-kali panggilannya tersambung, tapi tidak diangkat dan ketika akan duduk Daffa mendapati ponsel istrinya yang ada di sofa. Menggeram kesal Daffa beralih untuk menghubungi nomor ponsel Keenan dan hal yang sama terjadi panggilannya tidak di angkat.
Daffa benar-benar akan memukul pria itu karena tidak mau memberikan kabar.
Sekitar dua puluh menit Daffa berdiam diri dengan wajah penuh kecemasan sampai akhirnya pintu dibuka dan kedua orang yang membuatnya kesal itu berdiri di depan pintu.
Sungguh tadinya Daffa ingin marah, tapi melihat Fahisa dengan senyuman yang begitu lebar membuat dia mengurungkan niatnya.
"Kalian dari mana?! Kenapa tidak memberikan kabar?! Aku cemas Fahisa." Kata Daffa
Melihat suaminya yang mendekat dengan wajah penuh kekesalan membuat Fahisa takut dan sedikit mundur.
"Lo juga kenapa gak bilang dulu?!" Tanya Daffa
"Aku lapar terus aku minta ditemani cari makan." Kata Fahisa pelan
"Kenapa tidak bilang?" Tanya Daffa lagi
"Kan lo lagi rapat Daf jadi kata Fahisa gak usah bilang." Kata Keenan
"Kenapa lo nurut banget sih? Gue cemas tau gak?! Dateng-dateng kosong gak ada orang." Kata Daffa dengan wajah yang begitu kesal
"Lagian dia bilangnya gini terus 'Gak boleh nolak keinginan orang yang lagi hamil nanti Kakak susah dapet jodoh' gitu ya gue nurut aja." Kata Keenan
Menatap Fahisa dengan tidak percaya istrinya itu hanya tersenyum dengan wajah yang begitu polos.
"Yasudah kita pulang saja sekarang." Kata Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya
Dan sebelum Fahisa pergi Keenan membisikkan sesuatu yang langsung membuat Fahisa tersenyum sambil mengacungkan jempolnya.
'Nanti kenalin ya?'
Tapi, Daffa memandang keduanya dengan curiga.
"Ada apa? Kalian membicarakan apa?"