Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Side Story



Mendapat permintaan untuk bertemu dan setelah berpuluh-puluh kali menolaknya akhirnya Daffa menyetujui permintaan Jira yang memintanya untuk bertemu sebelum dia benar-benar pindah ke luar kota. Sebenarnya Daffa enggan karena di dalam hatinya masih ada rasa marah serta kecewa yang begitu besar, tapi ketika wanita mengatakan bahwa masih ada orang lain yang ingin mencelakai istrinya barulah Daffa setuju.


Jujur saja dia sangat penasaran, apa mungkin bukan Jira dalang dibalik itu semua?


Apa mungkin Jira hanya dijadikan sebagai salah satu boneka agar sang pelaku sesungguhnya tidak disalahkan?


Ada begitu banyak kemungkinan yang Daffa tebak sendiri, tapi dia masih belum mendapatkan jawabannya karena jawaban itu hanya akan diberikan oleh Jira.


Hari ini Jira dan Rana akan berangkat ke luar kota tepatnya sekitar pukul empat sore makanya dia sangat ingin memberitau Daffa tentang semua yang dia tau. Setidaknya itu bisa mengurangi sedikit rasa bersalah yang Jira rasakan dan setidaknya dia bisa kembali mencegah hal yang buruk terjadi.


"Kak"


Mendongakkan kepalanya Daffa yang sedang terdiam dapat melihat kedatangan Jira yang sekarang duduk dihadapannya.


"Katakan jangan berbasa-basi lagi Jira." Kata Daffa dengan wajah datarnya


Tersenyum sendu Jira menghela nafasnya panjang sebelum akhirnya mulai berbicara tentang semuanya, semua niat buruk Ratu.


"Aku... maaf.... Kak untuk semuanya... maaf...."


Merasa gugup Jira menggigit bibir bawahnya cukup kuat, dia takut dengan tatapan Daffa yang begitu tajam.


"Sudah Jira berhenti minta maaf karena itu tidak akan merubah apapun, sekarang katakan saja alasan yang membuat aku mau datang kemari. Siapa yang kamu maksud?" Tanya Daffa


"Ratu"


Satu nama itu membuat Daffa tersentak dan langsung menatapnya dengan tidak percaya. Mana mungkin seorang Ratu mau melakukan hal kotor seperti itu lagian hubungan mereka sudah selesai dengan cukup baik.


"Jangan bercanda Jira." Kata Daffa membuat Jira menatapnya dengan sendu


Dia sudah menduga akan sulit untuk membuatnya percaya.


"Aku serius Kak keguguran Kak Fahisa memang murni kesalahan aku, tapi Ratu punya niat yang lebih buruk dari aku bahkan dia yang menghasut aku untuk melakukan hal jahat itu sama Kak Fahisa." Kata Jira


"Bagaimana cara kamu membuktikan semua ucapan kamu? Karena Jira sulit untuk percaya lagi sama kamu." Kata Daffa jujur


Mengangguk faham Jira sangat mengerti apa yang dirasakan Daffa dan dia juga tau bahwa tidak akan mudah untuk membuat pria itu percaya setelah semua yang dilakukannya. Namun, tetap saja Jira tidak akan menyerah dia akan terus meyakinkan Daffa tentang semua ucapannya karena dia ingin menebus semua kesalahannya.


"Aku punya, tapi sebelum itu bisakah Kakak mendengar semua penjelasanku tanpa memotongnya? Aku tau sulit untuk percaya setelah semua yang aku lakukan, tapi aku mohon Kak kali ini saja dengarkan aku." Pinta Jira dengan wajah penuh permohonan yang membuat Daffa pada akhirnya luluh


Bagaimanapun juga mereka pernah dekat layaknya sebuah keluarga dan Daffa tidak pernah melupakannya.


"Aku dengarkan"


Tersenyum senang Jira memberikan sedikit jeda sebelum akhirnya dia menghela nafas panjang dan mulai berbicara.


"Aku memang cinta sama Kakak, tapi aku sama sekali tidak pernah berniat untuk merusak kebahagiaan kalian. Aku hidup seperti biasa disini selama berbulan-bulan sampai akhirnya aku ketemu Ratu dan karena kita saling kenal ya kita berbincang tentang banyak hal, termasuk tentang pernikahan Kakak." Kata Jira


Mendongakkan kepalanya Daffa menatap wanita itu dengan penuh rasa ingin tau.


"Awalnya dia yang banyak mengeluh katanya Kakak mencampakkan dia begitu saja karena kehadiran Kak Fahisa dan mulai dari situ Ratu mulai menghasut aku dengan banyak hal, kata-katanya benar-benar halus dan membuat aku percaya." Kata Jira dengan raut wajah penuh penyesalan


Wanita itu memang sudah menghancurkan hidupnya sekarang, tapi tanpa rasa berdosa dia masih hidup bahagia dengan kehidupannya.


"Dia mengatakan banyak hal dan entah perkataan apa yang mampu membuat aku sampai senekat itu, aku melakukan hal yang membuat kalian kehilangan anak kalian yang masih dalam kandungan,"


Kembali terdiam Jira menahan sesak di dadanya sungguh rasanya dia tidak lagi sanggup untuk berbicara, tapi dia harus memberi tau segalanya.


"Saat di penjara aku selalu menyumpahi diriku sendiri, menyesali perbuatan yang begitu buruk dan tidak lama setelah aku di penjara Ratu datang berkunjung." Kata Jira yang membuat Daffa terkejut ketika mendengarnya


Untuk apa Ratu menemui Jira?


"Dia bilang bahwa dia ingin menghancurkan kebahagiaan Kakak karena Kakak sudah meninggalkan dia demi Kak Fahisa." Kata Jira


Memijat dahinya pelan Daffa berusaha mencerna setiap perkataan Jira dan rasanya benar-benar membuat kepalanya pusing.


"Satu lagi yang perlu Kakak tau pesan-pesan yang masuk ke hp Kak Fahisa itu dia yang mengirim, pesan yang membuat Kak Fahisa kefikiran sepanjang malam,"


Kali ini Daffa mendongak untuk menatap Jira yang balas menatapnya dengan penuh keyakinan akan semua perkataannya.


"Pesan yang membicarakan tentang Kak Nata." Kata Jira


Setelah selesai mengatakan semuanya mereka terdiam dan Daffa nampak begitu bingung dengan semuanya. Belum cukup sampai disitu Jira menyerahkan ponselnya dan menunjukkan obrolan dia dengan Ratu.


"Katanya dia ingin melihat Kakak menderita seperti apa yang sudah pernah Kakak lakukan sama Ratu, meninggalkan dia dan memilih menikah dengan Kak Fahisa." Kata Jira


Tangan Daffa mengepal kuat, dia merasa begitu marah sekarang setelah mengetahui fakta itu dari Jira. Padahal alasan mereka selesai bukan karena Fahisa, tapi karena Ratu sendiri dan kebetulan tidak lama setelahnya dia bertemu Fahisa lalu mulai dekat hingga akhirnya menikah.


"Saat tau Kak Fahisa hamil dia kembali marah Kak dan dia berniat untuk mencelakai Kak Fahisa lagi." Kata Jira yang semakin membuat Daffa merasa marah


"Wanita itu benar-benar sudah gila." Geram Daffa


"Sebenarnya aku ingin memberitau ini sejak lama, tapi aku tau bahwa Kakak tidak akan mungkin percaya." Kata Jira sambil menundukkan kepalanya


Tangan Daffa semakin mengepal erat, jadi selama ini Ratu memiliki niat yang begitu buruk kepada keluarganya.


Daffa benar-benar tidak bisa memaafkannya.


"Aku ingin menyampaikan semua ini karena Ratu memang ingin melakukan hal yang sama lagi, dia ingin mencelakai Kak Fahisa. Makanya aku memaksa Kakak untuk ketemu karena aku fikir dengan melakukan ini bisa mengurangi sedikit rasa bersalah aku." Kata Jira membuat Daffa kini menatapnya


Wanita itu sudah berubah, dia telah benar-benar menyesali perbuatannya bahkan dia membantu Daffa untuk mencegah hal yang dapat terulang kembali.


Jira membantu Daffa untuk lebih waspada.


"Terima kasih Jira"


Mendengar kalimat itu membuat Jira tersentuh karena Daffa mengucapkannya dengan begitu tulus dan tanpa sadar senyumnya terbentuk.


Kali ini Jira akan benar-benar melupakan perasaannya.


"Jira untuk saat ini aku mungkin belum bisa memaafkan atau melupakan semua yang kamu lakukan, tapi Jira kamu bisa kembali kalau kamu sudah benar-benar melupakan perasaan sialan itu dari hati kamu,"


"Aku tau Kak sekali lagi aku minta maaf." Kata Jira


Mengangguk singkat Daffa mengatakan sebuah kalimat yang membuat Jira benar-benar tersentak.


"Aku harap kamu akan menemukan seseorang yang lebih baik dari aku dan bisa memberikan hatinya kepada kamu"


Setelah mengatakan hal itu tanpa menunggu jawaban Jira dia sudah segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi.


Meninggalkan Jira yang perlahan kembali meneteskan air mata.


¤¤¤¤


Setelah dua hari dari pertemuan itu Daffa memperketat penjagaan rumah dan emosinya juga semakin tersulut kala mengetahui jika wanita gila itu mengawasi rumahnya. Sampai pada titik kesabarannya Daffa mengirimkan ajakan untuk bertemu yang langsung wanita itu setujui, dia akan menghentikan semuanya.


Selama dua hari itu Daffa juga mengumpulkan beberapa hal yang bisa dia jadikan ancaman jika Ratu masih nekat mengusik hidupnya. Kesabarannya sudah habis bahkan dia juga baru tau kalau Ratu pernah menemui Fahisa sebanyak dua kali, dia benar-benar tidak menyangka jika Ratu tega melakukan itu semua.


Saat ini Daffa berjalan memasuki butik terkenal milik Ratu tepatnya menuju ruangan wanita itu dan ketika dia membuka pintu Ratu tersenyum dengan begitu manis kepadanya. Rasanya dia ingin memakinya saat itu juga, tapi Daffa berusaja menahannya.


"Ada apa lo minta ketemu sama gue Daf? Tumben banget." Kata Ratu sambil mempersilahkan pria itu untuk duduk


Setelah mendudukkan dirinya di hadapan Ratu dia tidak langsung membahas tujuan utamanya.


"Mau ngobrol aja." Kata Daffa membuat senyum wanita itu semakin mengembang


"Ngobrol sama gue? Tentang apa?" Tanya Ratu penasaran


"Tentang kita"


Merasa terkejut Ratu yang sama sekali tidak tau makna dibalik kalimat itu malah tersenyum senang.


"Kita? Ada apa dengan kita Daf?" Tanya Ratu


Dan barulah Daffa mengatakan tujuan utamanya datang kesini.


"Kita udah selesai sejak lama, tapi kenapa lo masih ngusik hidup gue?" Kata Daffa dengan senyum sinisnya


Perlahan senyuman manis itu pudar dan digantikan dengan senyum meremehkan serta wajah yang begitu menyebalkan.


"Jira udah keluar dari penjara dan dia pasti udah bilang semuanya sama lo." Kata dia dengan begitu santai


"Kita putus baik-baik Tu...."


"Baik-baik menurut lo! Bagi gue enggak Daf! Lo ninggalin gue gitu aja dan tiba-tiba nikah sama wanita sialan itu!" Bentak Ratu


Mengepalkan tangannya dengan begitu erat Daffa benar-benar ingin memberikan pukulan ke wajah milik Ratu.


"Fahisa gak ada hubungannya dengan putusnya hubungan kita Ratu! Kalau lo benci sama gue harusnya lo balas dendam ke gue!" Kata Daffa dengan mata yang menatap begitu tajam


"Dia ngerebut lo dari gue Daf! Kita bahkan sudah merencakan pertunangan dan pernikahan, tapi tiba-tiba lo batalin semua itu karena Fahisa! Wanita itu memang pantes untuk menderita." Kata Ratu


"Bukan dia yang jadi alasan gue mutusin lo Ratu! Lo fikir gue gak tau apa aja yang udah lo lakuin dibelakang gue hah?!" Bentak Daffa membuat wanita itu terdiam


"Lo fikir gue gak tau? Lo pernah marahin Sahara karena dia banyak mau! Lo pernah mukul dia karena gak sengaja numpahin air ke baju lo! Dan lo fikir gue bisa jadiin wanita kayak gitu ibu dari anak gue?!" Bentak Daffa


Ratu membisu dia sama sekali tidak tau kalau Daffa mengetahui itu semua dan sekarang dia semakin membenci Sahara.


"Berhenti ngusik hidup gue atau lo akan hancur Ratu." Kata Daffa dengan penuh peringatan


Tersenyum meremehkan Ratu sama sekali tidak tau apa yang ada di tangan Daffa sekarang.


"Lo gak akan bisa menghentikan gue Daf." Kata Ratu dengan penuh percaya diri


Mengangkat bahunya acuh Daffa melemparkan berkas yang tadi ia bawa ke meja lalu tersenyum sini kepada wanita dihadapannya.


"Berhenti atau lo mau semua kerja keras lo selama bertahun-tahun hancur dalam sekejap mata?" Kata Daffa


Memgambil kasar berkas itu Ratu menatap tidak percaya dengan apa yang ada di tangannya. Bagaimana bisa Daffa memiliki itu semua?


"Jadi Ratu mau berhenti atau mau hancur? Bukan hal yang mudah gue punya banyak temen yang kerja di media dan berita itu bisa dengan mudah tersebar." Kata Daffa


Mengepalkan tangannya Ratu merasa harga dirinya telah hancur sekarang.


Foto dirinya dan beberapa pria yang pernah menghabiskan malam bersamanya, kenapa Daffa bisa memilikinya?


"Lo keterlaluan Daf!" Geram Ratu


"Lo duluan yang mulai Ratu, jadi mana yang lo pilih?" Tanya Daffa


Memejamkan matanya Ratu mengatakan hal yang membuat Daffa merasa puas.


"Fine! Gue berhenti! Puas?" Bentak Ratu


"Sangat puas"


Setelah mengatakan hal itun Daffa pergi meninggalkan Ratu yang masih tetap diam dengan tangan terkepal dan ketika Daffa sudah benar-benar pergi dia melemparkan semua foto-foto itu dengan perasaan marah.


Harga dirinya telah hancur.


¤¤¤¤


Sudah tau ya kenapa si Ratu ini gak pernah muncul lagi😂



Siapa yang tidak sabarr menunggu kisah cinta Saharaa??


Semoga besok sudah bisa dibaca ya ceritanya😙