Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Enampuluh satu



Pecahnya tangisan Fahisa membuat Daffa jadi merasa bersalah apalagi istrinya itu sangat sulit untuk ditenangkan dan terus menangis dengan disertai isakan. Sejak tadi dia berusaha menenangkan dan meminta maaf, tapi Fahisa malah semakin terisak. Sungguh Daffa tidak tau kalau istrinya akan sampai menangis begini.


Tapi, serius dia memang memakan udang tadi meskipun hanya sedikit dan karena itu dia fikir tidak akan berefek apapun pada alerginya.


Ternyata Daffa salah alerginya malah kambuh dan istrinya malah menangis.


"Fahisa sudah jangan menangis, aku minta maaf hmm?" Kata Daffa


"Jahat... Mas Daffa jahat..." Isak Fahisa membuat Daffa jadi kebingungan sendiri karena tangisannya malah semakin jadi


"Iya aku jahat makanya aku minta maaf hmm? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Kata Daffa masih berusaha menenangkan istrinya


"Aku marah!" Kata Fahisa dengan suara yang cukup kencang


"Maaf aku...."


"Mas Daffa selalu larang aku ini dan itu, tapi lihat! Mas Daffa sendiri malah makan sembarangan! Mas Daffa gak ngertiin perasaan Hisa." Potong Fahisa sambil sesekali terisak


"Bukan begitu Fahisa...."


Sekali lagi Fahisa memotong ucapan suaminya.


"Sudah Mas Daffa diam saja! Hisa marah dan Hisa gak mau bicara sama Mas Daffa!"


Setelah mengatakan hal itu dengan bahu bergetar karena isak tangisnya Fahisa meninggalkan Daffa sendirian membuat pria itu jadi kebingungan sendiri.


Dia ingin menyusul, tapi ketika berdiri pandangannya mendadak kabur dan akhirnya Daffa memilih untuk kembali duduk di ranjangnya.


Sedangkan Fahisa yang sedang menghapus air matanya bertemu dengan Tania dan melihat menantunya dengan mata memerah membuat Tania jadi khawatir.


"Ada apa sayang? Kenapa menantu Mami menangis hmm?" Tanya Tania sambil ikut membantu menghapus air mata menantunya


"Mas Daffa jahat Mi." Kata Fahisa membuat Tania tersenyum melihat kekhawatiran menantunya


"Dia baik-baik saja Fahisa." Kata Tania


"Tetap saja Mi Mas Daffa selalu bilang kalau dia gak mau lihat aku sakit, tapi sekarang malah dia yang sakit dan dia sengaja Mas Daffa pasti sengaja." Keluh Fahisa


"Daffa memang keras kepala Fahisa, tapi dia tidak mungkin ingin sakit jadi sudah ya?" Kata Tania yang perlahan membuat tangisannya reda


"Dia memang begitu Fahisa selalu mementingkan orang lain dan sejak dulu Daffa memang cukup ceroboh dia akan melakukan meskipun dilarang." Kata Tania sambil mengusap lembut rambut hitamnya


"Sekarang Daffa harus makan, mau kamu atau Mami?" Tanya Tania sambil tersenyum lembut


"Hisa aja, tapi Sahara dimana Mi?" Tanya Fahisa


"Dia sedang makan di bawah." Kata Tania yang langsung dijawab untuk anggukan oleh Fahisa


Setelah itu Fahisa pergi ke dapur untuk membawa makan dan juga obat untuk suaminya, dia masih akan tetap mendiamkan suaminya.


Dia masih marah!


¤¤¤¤


Di dalam kamarnya Daffa merasa tubuhnya semakin gatal dan kepalanya juga terasa berat, padahal Daffa tidak memakan banyak hanya saja efeknya sangat terasa sekarang. Sesekali Daffa berusaha menahan diri untuk tidak menggaruk tangan serta bagian lehernya yang gatal.


Selain itu Daffa juga merasa gelisah karena istrinya tadi menangis dan pergi, tapi Daffa tidak bisa menyusul karena setiap kali berdiri pandangannya menjadi kabur.


Ceklek...


Suara pintu membuat Daffa menoleh dan dia sedikit lega saat melihat istrinya yang masuk kedalam meskipun wajahnya tidak disertai sebuah senyuman.


"Fahisa aku...."


"Diam!" Kata Fahisa dengan wajah galaknya yang langsung membuat suaminya menutup mulut


Sambil menghela nafasnya pelan Fahisa mulai menyuapi suaminya dan hal itu membuat Daffa tersenyum sambil menatap istrinya dengan begitu dalam.


"Kamu cantik kalau lagi ngambek." Kata Daffa membuat Fahisa menatapnya dengan tajam


Terkekeh pelan Daffa kembali membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan yang diberikan istrinya.


"Mas Daffa tidak boleh sakit! Kalau sakit nanti aku bagaimana? Siapa yang mau membelikan aku makan sama ice cream? Katanya aku tidak boleh keluar dan kalau ingin sesuatu suruh minta sama Mas Daffa." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut


Perlahan-lahan kemarahan Fahisa mereda dan dia jadi ingin bermanja-manja.


"Maaf karena sudah membuat kamu menangis." Kata Daffa dengan penuh penyesalan


"Aku sayang sama Mas Daffa, jangan sakit lagi nanti aku sedih." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut membuat Daffa tertawa kecil melihatnya


Mengusap pipi istrinya dengan lembut Daffa tersenyum dengan tulus.


"Hmn jangan ulangi lagi! Bukan hanya Mas Daffa yang tidak ingin kalau aku sakit, tapi aku juga sama"


Mengangguk patuh Daffa kembali memakan makan siangnya hingga habis lalu meminum obat yang sudah disiapkan.


"Sekarang Mas Daffa harus tidur"


Mengusap lembut pipi suaminya Fahisa tersenyum manis lalu pergi keluar untuk menaruh bekas makanan.


Dan di tempatnya Daffa tersenyum senang sambil terus memandangi Fahisa yang semakin menghilanh dari balik pintu.


Dia merasa sangat bahagia karena setelah sekian lama dia bisa merasakannya kembali, dimarahi seorang istri.


Biasanya ketika sakit Daffa hanya bersama Tania atau Sahara, tapi sekarang ada istrinya yang ternyata begitu mencemaskan Daffa.


Fahisanya yang ternyata juga sangat menyayanginya.


¤¤¤¤


Saat malam hari tiba-tiba suhu tubuh Daffa meningkat dan hal itu membuat panik hampir seluruh rumah, tapi untungnya setelah meminum obat pria itu menjadi lebih baik meskipun badannya masih hangat. Sejak tadi Fahisa tidak bisa tidur dia terus menatap suaminya dalam diam padahal malam sudah semakin larut.


Fahisa takut kalau tiba-tiba suaminya itu sakit lagi jadi dia tidak mau tidur dan memilih untuk berbaring sambil menatap Daffa yang juga masih belum tidur.


"Fahisa sudah kamu tidur saja, tidak baik sayang kalau tidur terlalu malam." Kata Daffa yang suaranya sedikit serak


Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa enggan untuk menuruti perkataan Daffa dan memilih untuk tetap terjaga.


"Aku sudah baik-baik saja sayang. Kamu harus tidur hmm? Aku janji akan bangunkan kalau ingin sesuatu." Kata Daffa yang masih tidak ditanggapi oleh Fahisa


"Fahisa tidur...."


"Mas Daffa diam saja! Dari pada aku yang tidur lebih baik Mas Daffa karena yang lagi sakit kamu! Kenapa belum tidur di jam segini?" Omel Fahisa


"Aku tidak..."


"Jangan menjawab! Hisa bilang tidur ayo pejamkan matanya." Kata Fahisa dengan wajah garangnya


Bukan menurut, tapi Daffa malah mengarahkan tangannya untuk mengusap perut buncit Fahisa penuh kasih sayang dan membuat istrinya itu terkejut.


"Anak-anak Daddy maaf ya karena sudah buat Mommy khawatir"


Mengerucutkan bibirnya Fahisa menjauhkan tangan milik Daffa dan kembali menyuruh pria itu untuk tidur.


"Tidur Mas Daffa! Hisa akan marah kalau kamu tidak mau tidur!" Ancam Fahisa


"Maaf"


Fahisa hanya diam dan tidak menanggapi.


"Fahisa aku senang...."


Bughh


Belum selesai berbicara Fahisa sudah memberikan pukulan ringan di bahu suaminya.


Apa maksudnya?


Senang?


Dia malah senang?


Apa suaminya sudah tidak waras?!


"Dengar dulu aku belum selesai." Kata Daffa saat melihat Fahisa yang sudah ingin mengomel


"Yasudah selesaikan." Ketus Fahisa membuat suaminya tersenyum senang


"Aku senang karena setelah sekian lama ada lagi seorang istri yang mengkhawatirkan keaadanku dan memarahi kecerobohanku bahkan sampai menangis karena melihat aku yang sedang sakit." Kata Daffa sambil tersenyum tulus


Perkataan itu membuat Fahisa menatap mata suaminya yang juga sedang menatapnya dengan begitu dalam.


"Aku rindu itu semua dan setelah kamu datang aku kembali mendapatkan itu semua, terima kasih banyak." Kata Daffa dengan senyuman tulusnya


Membalas senyuman suaminya tangan Fahisa terulur untuk mengusap lembut pipi Daffa yang terasa hangat.


"Aku sayang Mas Daffa"


Dan keduanya saling bertukar senyuman.