Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Tigapuluh tiga



Semalaman Fahisa tidak bisa tidur dia terus memikirkan hal yang tidak-tidak dan hal itu membuatnya tidak tenang serta merasa gelisah. Saat ini Fahisa tidur bersama dengan Sahara dan anaknya itu sudah tidur sangat nyenyak dan sedari tadi yang Fahisa lakukan adalah memperhatikan Sahara sambil sesekali mengusap lembut rambut hitamnya.


Fahisa merasa bingung dengan dirinya sendiri, sebelumnya rasa curiganya terhadap Jira memang sudah terhapus sepenuhnya, tapi tadi tiba-tiba saja rasa curiga itu kembali mancul dan bahkan semakin besar. Memang Fahisa tau jika kantor milik keluarga Jira bekerjasama dengan kantor milik keluarga Wijaya dan wanita itu juga sering kali ikut ke pertemuan penting.


Tapi, kenapa Fahisa kembali curiga?


Dia tidak mengerti apa ini karena faktor kehamilannya atau murni perasaan takut dan cemburu seorang istri kepada suaminya.


Sebelum tidur tadi Daffa menghubungi dan mengatakan jika dia sudah sampai di hotel, suaminya itu juga mengucapkan selamat malam serta memintanya agar tidak tidur terlalu larut.


Mangusap perut buncitnya Fahisa menghela nafasnya panjang berusaha menghilangkan segala fikiran buruknya agar dia bisa tidur nyenyak.


"Sayang, Daddy tidak akan macam-macam jangan khawatir ayo sekarang kita tidur saja." Kata Fahisa pelan


Di sisi lain Daffa juga merasakan hal yang sama, dia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak dan berkali-kali terbangun. Entahlah, rasanya beda tidak ada sosok istrinya yang biasanya menemani dia dalam tidur dan memberikannya pelukan hangat yang menanangkan.


Selain itu Daffa juga mulai merasa aneh dan sedikit gelisah, perkataan Fahisa sebelum dia berangkat tadi mengusiknya.


Ada apa sebenarnya?


Kali ini berbeda Fahisa mengatakan dengan sorot wajah penuh ketakukan dan suara yang lirih, meskipun biasa merengek Fahisa tidak pernah sampai begitu.


Tapi, Daffa berusaha menghilangkan segala macam fikiran negatif di otaknya dan meyakinkan bahwa itu semua hanya karena kehamilan Fahisa yang menyebabkan istrinya itu jadi lebih sensitif.


Menghela nafasnya pelan Daffa membuka ponselnya dan mengamati foto mereka bertiga saat di pantai, senyumnya merekah dengan begitu lebar. Kebahagiaan satu persatu datang dan sebentar lagi kebahagiaan yang lebih besar akan datang ketika anggota baru keluarganya lahir ke dunia.


Bahkan Daffa sudah menyiapkan nama untuk calon bayinya, dia menyiapkan dua nama perempuan dan nama laki-laki.


"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini secepatnya supaya bisa pulang"


¤¤¤¤


Sekali lagi Daffa merasa seperti ada yang hilang karena tidak mendapati wajah cantik istrinya ketika dia bangun dari tidur, rasanya benar-benar aneh. Biasanya setiap pagi Daffa selalu melihat wajah cantik Fahisa dan mendapatkan sebuah ciuman, tapi kali ini rasanya hampa ketika Daffa kembali merasakan seperti lima tahun lalu.


Terbangun sendirian dan dia tidak suka.


Hari ini Daffa bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin sehingga besok sore atau malam dia bisa pulang ke rumah dan menemui Fahisa, memeluk serta mencium istrinya. Sebelum beranjak untuk membersihkan diri Daffa lebih dulu mengambil ponselnya dan menghubungi Fahisa, tapi sepertinya dia masih tidur karena istrinya itu tidak mengangkat.


Menghela nafasnya pelan Daffa kembali meletakkan ponselnya di nakas lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menghadiri rapat.


"Padahal aku ingin melihat Fahisa sebelum pergi bekerja." Gumam Daffa sebelum benar-benar memasuki kamar mandi


Sekitar dua puluh menit bersiap sekarang Daffa sedang menyantap sarapannya sendirian dan sekali lagi dia merasa kehilangan karena tidak ada Sahara juga Fahisa yang biasanya selalu membuat suara ketika mereka sarapan bersama. Tiba-tiba saja Daffa merasa takut saat mengingat Fahisa dia takut hal yang sama akan terulang, kehilangan istrinya saat melahirkan.


Bagaimana jika Fahisa mengalami hal yang sama dengan Renata?


Menggelengkan kepalanya pelan Daffa meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada istrinya, tidak lagi. Merasa tidak berselera untuk makan Daffa memutuskan untuk menyudahi sarapannya lalu pergi ke kamar untuk memakai jas dan mencoba menelfon Fahisa, lagi.


Bukan Daffa, tapi Fahisa yang sudah lebih dulu menelfonnya membuat pria itu langsung tersenyum senang dan segera mengangkat panggilan vidio dari istrinya.


"Pagi Hisa"


Di sebrang sana Fahisa tersenyum lebar hingga menampakkan lesung pipitnya lalu melambaikan tangannya ke kamera.


"Pagi Mas, kamu udah sarapan belum? Jangan lupa sarapan! Kalau belum sarapan jangan berangkat kerja dulu!"


Memasang wajah galaknya Fahisa malah terlihat lucu membuat Daffa jadi ingin mencubit pipinya yang semakin tembam, tapi sayangnya dia jauh.


"Sudah sayang, kamu sudah sarapan? Gimana tidurnya tadi malam?" Tanya Daffa


"Sudah, tidak bisa tidur sampai malam aku kefikiran Mas Daffa terus"


Mengatakan hal itu dengan bibir mengerucut Daffa jadi ingin mencium istrinya sekarang, tapi sekali lagi dia tidak bisa.


"Aku gak ngapa-ngapain Hisa, apa perlu aku tunjukkan sama kamu isi hotel ini sekarang?" Tanya Daffa sambil tertawa kecil


"Tidak, maaf aku gak tau kenapa, tapi aku ngerasa gak tenang dari kemarin"


"Sudah Hisa, aku baik-baik saja percaya ya? Aku tidak akan macam-macam disini, jadi tenanglah ibu hamill." Kata Daffa berusaha menenangkan istrinya yang nampak sangat sedih


Tersenyum tulus Fahisa langsung memanggil Sahara dan tidak lama setelahnya Daffa dihadiahi oleh suara berisik anaknya dari sebrang sana.


"Daddy, apa Daddy sudah makan? Daddy lagi ngapain? Kapan Daddy akan pulang? Mommy sangat rindu sama Daddy, Ara juga sama"


Bahagianya, Daffa merasa sangat senang sekarang setelah melihat anak dan juga istrinya meski hanya lewat telfon.


"Daddy sudah makan sayang dan Daddy sudah siap untuk berangkat kerja, apa Ara menjaga Mommy dan adik dengan benar?" Tanya Daffa


Sahara mengangguk dengan semangat membuat wajah anak itu terlihat begitu lucu dengan senyuman yang menggemaskan.


"Emm Ara sudah jaga Mommy dan adik dengan baik, tadi malam Ara tidur sama Mommy"


Setelah Sahara menjawab hal itu Daffa merasa sedikit lega lalu dia mengatakan kepada mereka berdua bahwa sekarang sudah saatnya dia pergi untuk menghadiri rapat.


"Hisa aku pergi dulu, jangan khawatir aku akan pulang secepat mungkin dan jangan pergi kemana-mana tanpa Mommy atau Pak Hadi." Kata Daffa mengingatkan


Sebelum menutup telfonnya Fahisa tersenyum lalu mengatakan pada suaminya untuk berhati-hati.


"Hati-hati ya Mas dan cepat pulang"


¤¤¤¤


Bersamaan dengan Daffa yang keluar dari dalam hotel tepat di sebelah kamarnya Jira juga baru saja keluar dan keduanya saling melempar senyum juga menyapa satu sama lain. Berjalan beriringan Daffa sedikit memberi jarak, entahlah dia hanya mengingat perkataan Fahisa yang memintanya untuk menjaga jarak dari wanita lain.


Hanya sedikit, tapi Jira menyadari jika mantan kakak iparnya itu agak menjauhkan diri dan hal itu membuatnya hanya bisa tersenyum tipis. Mencoba untuk mencairkan suasana Jira memulai percakapan dengan Daffa.


"Kak aku agak gugup deh mau dateng ke rapat ini soalnya aku gak pernah menghadiri rapat besar seperti ini." Kata Jira jujur


Menoleh sebentar Daffa tersenyum singkat lalu meminta wanita itu agar tidak khawatir.


"Jangan takut Jira ada aku disana sebagai seorang Kakak aku akan mendampingi adiknya." Kata Daffa membuat Jira terdiam


Kakak


Ya, memang apa yang kau harapkan nona Jira?


"Sepertinya aku harus mencari suami supaya dia saja yang mengurus urusan kantor seperti ini, aku sangat tidak cocok." Kata Jira sambil tertawa kecil


"Bukan ide yang buruk kamu sudah cukup dewasa untuk menikah, tapi cari pria yang benar-benar mencintai kamu dan bukan perusahaan keluargamu." Kata Daffa serius


Jira hanya mengangguk pelan, dia mengharapkan apa sih?


Jangan bodoh Jira, semuanya sudah cukup berhentilah jadi orang bodoh dan carilah pria lain.


"Hmm aku akan mulai cari pendamping mulai sekarang." Kata Jira dengan agak ragu


Mereka diam bahkan saat menaiki taxi keduanya juga tidak berbicara banyak. Iya, mereka akan menghadiri rapat di perusahaan besar yang letaknya cukup jauh dari hotel.


Di dalam taxi Jira sesekali melirik ke arah Daffa yang hanya diam dengan pandangan lurus kedepan lalu matanya beralih ke arah jari manis Daffa yang melingkar sebuah cincin, cincin pernikahannya dengan Fahisa.


Kamu terlambat Jira.


"Kak bagaimana kabar Kak Hisa dan kandungannya?" Tanya Jira yang kembali memulai percakapan


Dia dapat melihat ketika pertanyaan itu di ajukan wajah Daffa yang sebelumnya tak berekspresi sekarang mulai tersenyum dengan begitu lebar, dia bahagia.


"Baik, kami rutin periksa ke dokter dan dokter bilang kandungannya sangat sehat, aku sangat tidak sabar menanti kehadirannya." Kata Daffa


"Wahh aku jadi tidak sabar ingin melihat keponakanku lahir." Kata Jira bepura-pura tersenyum bahagia


Entahlah sampai saat ini Jira masih tidak rela.


"Aku harap semua akan baik-baik saja, Fahisa dan bayinya aku harap mereka akan selalu sehat"