
Mencintai pria yang sudah berkeluarga benar-benar membuat Jira menjadi kesal dan marah, baik pada dirinya sendiri atau kepada orang yang dia cintai. Kekesalannya muncul saat dia mengingat jika ketika Kakaknya meninggal dia lah yang selalu ada di sisi Daffa dan Sahara selama dua tahun lamanya.
Kenapa dia pergi?
Karena balasan yang diberikan Daffa ketika dia tanpa sengaja mengucapkan kalau dia menyukainya.
'Aku tidak bisa Jira rasanya hatiku sudah mati dan aku sudah memberikan semua hatiku kepada Renata, aku sudah janji akan selalu mencintai dia'
Tapi, sekarang apa?
Pria itu malah menikahi wanita lain yang dia kenal baru satu tahun lamanya. Sedangkan Jira yang sudah belasan tahun bahkan selalu ada disisinya ketika dia sedang terpuruk, malah ini yang dia dapatkan.
Saat menerima kabar pernikahan Daffa dia sangat terkejut dan sangat ingin menghampiri pria itu lalu memakinya, tapi kemudian dia sadar jika dia sama sekali tidak memiliki hak untuk melakukannya.
Daffa memang menyanginya, dia sangat perhatian dan perduli kepada Jira yang sayangnya semua itu disalah artikan oleh Jira sebagai rasa cinta.
Padahal Daffa melakukannya hanya karena menganggap Jira seperti adiknya sendiri.
Daffa menempatkan dirinya sebagai seorang Kakak yang harus melindungi adiknya, tapi Jira menempatkan diri Daffa sebagai seorang pria yang melindungi wanitanya.
Semua memang salahnya, tapi tetap saja dia masih belum rela.
Bugh
Tersadar jika dia berjalan sambil melamun Jira baru saja menubruk dada bidang seseorang dan perlahan dia membungkukkan sedikit badannya, meminta maaf kepada pria dengan setelan jas di hadapannya.
"Maaf saya tidak sengaja"
"Lain kali perhatikanlah jalanmu." Kata pria dengan wajah dinginnya itu sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menjauh
Menghela nafasnya kasar Jira sedikit menyesal karena pergi sendirian setelah rapat selesai dan menolak ajakan Daffa untuk mengikuti acara makan siang bersama yang lainnya. Saat itu Jira beralasan jika dia ingin mengunjungi rumah temannya yang berada di daerah sini, tapi nyatanya dia malah pergi ke sebuah taman yang berada tidak jauh dari kantor untuk berdiam diri.
"Kakak, aku adalah adiknya dan dia adalah kakakku." Gumam Jira pelan
Memejamkan matanya Jira berkali-kali menghela nafasnya pelan, semuanya sudah berakhir.
Jadi, dia harus menyerah ya?
Tidak bisakah dia berharap untuk suatu kemungkinan yang lain?
Kemungkinan yang mungkin akan menguntungkannya, tapi merugikan pihak lain.
Apa Jira bisa sejahat itu?
¤¤¤¤
Malam ini ada acara ulang tahun perusahaan yang harus Daffa hadiri dan tentu saja dapat dia pastikan jika acaranya akan sampai larut malam, tapi dia sudah berjanji pada Fahisa akan pulang ke hotel sebelum jam sepuluh malam. Bersama dengan Jira keduanya menaiki taxi menuju salah satu hotel bintang lima dimana pesta diselenggarakan dan selama perjalanan keduanya hanya diam.
Biasanya Jira yang terus mengajak Daffa berbincang untuk menghindari keheningan kini hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mendadak mood nya sangat rusak, fikirannya berkecamuk dia memikirkan banyak hal tentang perasaan yang dimilikinya. Perasaan cinta yang masih tetap ada meskipun tau jika dia sudah memiliki seorang istri, tapi perasaan Jira tidak bisa dibohongi.
Selama ini dia memang menahannya dan mulai sejak mereka kembali bertemu Jira memiliki niat untuk mengambil Daffa kembali, dia ingin Daffa menjadi miliknya.
Tapi, sekali lagi hati dan fikirannya berlawanan.
Apa yang harus dia ikuti?
Hatinya atau fikirannya?
"Jira, kamu tidak mau turun?" Tanya Daffa membuat Jira tersentak dari lamunannya
Tersenyum kecil bersama-sama keduanya turun dari taxi lalu mulai memasuki hotel yang sangat besar dan mewah itu beriringan. Sekali lagi Jira merasa jika Daffa kembali memberi jarak ketika berjalan bersamanya, pria itu benar-benar menjaga perasaan istrinya.
"Kak aku tidak mengenal banyak orang, jangan tinggalkan aku sendirian." Pinta Jira yang langsung diangguki oleh Daffa
Acara sudah dimulai dan para tamu yang diundang juga sudah mulai berdatangan, berkali-kali Daffa disapa oleh banyak rekan kerjanya dan sedikit mengobrol dengan mereka.
"Gak usah Kak aku tunggu disini saja." Kata Jira
Mengangguk pelan Daffa langsung pergi mengikuti salah satu rekan kerjanya dan meninggalkan Jira yang sekarang beralih untuk duduk lalu meminum minuman yang sudah disedikan.
Hingga tanpa sadar Jira sudah meminum cukup banyak alkohol.
¤¤¤¤
Sejak tadi Fahisa sama sekali tidak bisa tidur bahkan meskipun jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, suaminya yang masih belum mengabari membuat Fahisa tidak bisa menutup matanya dan terus merasa gelisah. Apalagi beberapa saat yang lalu sebuah pesan masuk, pesan yang membuatnya jadi semakin tidak tenang dan kembali berfikiran buruk kepada suaminya serta Jira.
Pesan itu tidak di kirim oleh nomor yang sebelumnya juga pernah mengiriminya pesan, kali ini nomornya berbeda.
Tapi, sama-sama membuat Fahisa merasa tidak tenang dan gelisah.
Kenapa kamu membiarkan Daffa pergi bersama Jira?
Tidakkah kamu takut? Ahh kamu pasti terlalu lugu sampai tidak tau jika wanita itu menyukai suami kamu
Jira mencintai Daffa bodoh! Bahkan mereka pernah sangat dekat tiga tahun yang lalu
Tiga pesan yang membuatnya gelisah dan jadi ingin menangis, suaminya tidak mungkin melakukan hal itu. Daffa mencintai Fahisa bahkan Daffa sendiri yang mengakuinya.
Tapi, tetap saja Fahisa merasa sangat gelisah dan terus memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
Saat ini Fahisa tidak berada di kamarnya, tapi setelah menidurkan Sahara dia pergi ke ruang keluarga dan berdiam diri disana sendirian sambil terus berusaha menelfon suaminya. Sejak tadi Fahisa terus berusaha menelfon dan suaminya sama sekali tidak mengangkat entah karena sibuk dengan rekan kerjanya atau dengan yang lainnya, Fahisa tidak mengerti.
Daffa, Jira, pesta, dan hotel.
Keempat hal itu membuat fikiran Fahisa berkelana kemana-mana membuatnya jadi merasa sangat kesal dan terus menggerutu karena panggilannya sama sekali tidak angkat.
"Mas Daffa kemana sih? Di telfonin gak diangkat katanya jam sepuluh bakal pulang ke hotel terus ngabarin, dasar bohong." Gerutu Fahisa kesal
Akhirnya karena merasa kesal Fahisa melempar ponselnya ke sudut sofa dan beranjak dari duduknya lalu pergi kembali ke kamarnya untuk berusaha tidur. Masa bodo dengan Daffa dia akan sangat marah dan tidak mengangkat telfonnya besok.
Tapi, suaminya sedang apa?
¤¤¤¤
Menghela nafasnya pelan Daffa menyandarkan kepalanya di sofa saat dia sudah sampai di kamar hotelnya dan terlepas dari kondisi Jira yang sedang mabuk. Sangat susah membawa Jira karena wanita itu terus meracau dan sangat menempel membuat Daffa jadi kesal sendiri, dia sangat tidak suka berurusan dengan orang yang mabuk.
Apalagi ketika dengan keadaan tidak sadar Jira memeluknya dan mengatakan sebuah kalimat yang membuat Daffa terkejut mendengarnya, dia fikir Jira sudah berubah.
"Kak aku cinta sekali sama Kakak"
Daffa berani bersumpah jika sejak dulu Jira sudah dianggapnya sebagai adik. Mereka tumbuh bersama-sama dan sampai saat ini perasaan Daffa masih sama Jira adalah adiknya.
Tadinya dia fikir perasaan Jira sudah berubah seiring berjalannya waktu, tapi ternyata wanita itu masih memendam rasa yang sama dan jujur saja itu mengganggu Daffa. Mengetahui jika Jira mencintainya membuat Daffa merasa terganggu dia jadi berfikir dua kali untuk membantu dan melindungi Jira karena adanya perasaan cinta yang dimiliki Jira.
Saat tengah memejamkan matanya tiba-tiba Daffa baru ingat jika dia masih belum menghubungi Fahisa dan jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Setengah berlari Daffa bergegas mengambil ponselnya yang memang tertinggal di kamarnya dan saat melihat notifikasi yang dipenuhi oleh Fahisa membuat matanya membulat.
97 Panggilan tak terjawab
59 Pesan belum dibaca
Daffa kamu dalam masalah besar.
¤¤¤¤
Maaf yaa lamaaa :(
Aku udah mulai kuliah soalnya :v