
Masa lalu adalah salah satu hal yang sulit untuk di lupakan ada banyak orang yang gagal melakukannya, Daffa mungkin pernah menjadi salah satunya. Iya, sejak kematian istrinya setelah melahirkan Sahara dia sempat berjanji pada dirinya sendiri juga pada mendiang istrinya bahwa dia tidak akan pernah jatuh cinta lagi.
Tapi, ternyata takdir berkata lain Tuhan telah mengirimkan seseorang kepada Daffa untuk menyembuhkan lukanya dan kembali menumbuhkan rasa cinta di dalam hatinya.
Perasaan ragu sering kali hadir dalam diri Daffa dia takut jika perasaannya hanya bersikap sementara dan dia takut tidak akan bisa terlepas sepenuhnya dari bayang-bayang Renata. Ada jutaan kenangan di ingatannya tentang Renata karena mereka bersama-sama sejak kecil dan semua itu bukan hal yang mudah untuk di lupakan.
Perlahan Daffa mulai menyadari bahwa yang dia lakukan semua ini adalah salah.
Masa lalu bukan untuk di lupakan sepenuhnya.
Dia tidak perlu melupakan Renata, tapi dia hanya perlu mengikhlaskan Renata dan kembali membuka hatinya untuk Fahisa.
Cinta tumbuh karena terbiasa dan itu benar Daffa sudah terbiasa dengan kehadiran Fahisa dia tidak lagi bisa berada jauh dari sisi istrinya, tidak lagi.
Daffa tidak mau merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Kejadian semalam membuat Daffa yakin bahwa dia telah benar-benar jatuh kepada Fahisa. Dia tidak mau kehilangan lagi dan sejak semalam Daffa tidak bisa tidur dengan nyenyak, terus berfikir apa yang membuat Fahisa menangis.
Daffa mengambil sebuah bangku dan mendudukkan dirinya di dekat ranjang sambil menggenggam erat tangan Fahisa dia hanya memperhatikan istrinya yang tertidur dengan nyenyak. Di sebelah Fahisa ada Sahara yang juga tertidur dengan begitu nyenyak, Daffa tidak pernah menyangka jika anaknya akan memiliki ikatan yang begitu kuat dengan Fahisa.
Bahkan tangisan Fahisa membuat anaknya merasa begitu sedih.
Perlahan mata Fahisa mulai terbuka, dia terbangun dari tidurnya membuat Daffa tersenyum. Di bantunya Fahisa untuk bangun dan bersandar pada sisi belakang ranjang.
Mata mereka bertemu ada tatapan yang tidak bisa Daffa artikan di dalam sana dan dia sedikit tersentak saat Fahisa menundukkan kepalanya, berusaha menghindari tatapan mata suaminya.
"Kamu kenapa Fahisa? Kamu menangis? Kenapa hmm? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Daffa dengan begitu lembut
Menggenggam erat tangan istrinya Daffa dapat melihat jika mata Fahisa mulai berkaca, tapi dia hanya diam dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Fahisa, kalau ada masalah katakan saja jangan buat aku takut." Kata Daffa lagi
"Aku gak papa Mas." Kata Fahisa sambil tersenyum tipis
"Katakan Fahisa." Kata Daffa lagi kali ini nada bicaranya lebih tegas
Tapi, Fahisa tetap tidak mau bicara dia melepaskan tangan Daffa dan segera berdiri untuk pergi membuat sarapan.
"Aku mau buat sarapan." Kata Fahisa dengan senyumannya
Saat baru beberapa langkah tiba-tiba Fahisa merasa sangat mual dia menutup mulutnya ketika merasa akan muntah dan segera berlari ke kamar mandi. Melihat hal itu dengan panik Daffa mengikuti Fahisa sampai ke kamar mandi dan disana istrinya itu sedang memuntahkan isi perutnya.
Hoekk
Dengan lembut Daffa memijat tengkuk Fahisa dan tangan yang lainnya digunakan untuk menahan tubuh istrinya yang sudah sangat lemas. Sedangkan itu Sahara yang terbangun karena suara bising langsung menghampiri keduanya di kamar mandi.
"Daddy kenapa?" Tanya Sahara
"Mas pusing"
Suara lirih Fahisa membuat Daffa merasa panik kemudian membawa tubuh itu kedalam gendongannya lalu kembali membaringkan Fahisa di tempat tidur. Meraih ponselnya di nakas Daffa langsung menghubungi dokter agar segera datang ke rumahnya.
¤¤¤¤
Saat ini Daffa dan juga Sahara sedang menunggu dokter yang tengah memeriksa Fahisa di dalam kamarnya. Di sana Fahisa terlihat sangat pucat membuat Daffa jadi semakin cemas dan berniat untuk membawanya ke rumah sakit saja, tapi istrinya itu menolak dia mengatakan bahwa dia cuman sakit kepala dan sedikit mual saja.
Cukup lama diperiksa akhirnya pria dengan stelan jas putih itu berjalan menghampiri Daffa, tapi aneh dia malah menyunggingkan senyumannya.
"Kenapa? Apa Fahisa baik-baik saja? Apa kita perlu membawanya ke rumah sakit." Tanya Daffa panik
Daniel, nama dokter yang masih cukup muda itu dia adalah dokter yang memang biasa merawat keluarganya ketika sakit dan dia juga adalah teman dari Dara, kakak perempuannya.
"Tenang Daffa dia baik-baik saja bahkan seharusnya kamu senang sekarang." Kata Daniel sambil menepuk pundaknya pelan
"Bagaimana aku bisa senang disaat istriku sedang sakit huh?" Tanya Daffa kesal
"Dia sedang mengandung Daffa dan istrimu hanya kelelahan aku akan memberikan resep obatnya juga memberikan beberapa vitamin." Kata Daniel membuat Daffa terpaku untuk beberapa saat
Setelahnya senyum Daffa melebar matanya terpancar kebahagiaan yang sangat besar, benarkah?
"Jangan biarkan dia kelelahan dan juga banyak fikiran karena itu bisa mempengaruhi janinnya." Kata Daniel lagi
"Astaga aku senang sekali." Kata Daffa dengan penuh kebahagiaan bahkan matanya sampai berkaca-kaca
Ikut tersenyum Daniel memperhatikan Daffa yang sekarang membawa Sahara kedalam gendongannya lalu memeluknya dan mencium pipinya berkali-kali membuat Sahara menatapnya dengan bingung. Dengan wajah polosnya Sahara menatap Daniel dengan bingung, apa yang salah dengan Daddy nya?
"Pak dokter apa Daddy juga sakit? Kenapa Daddy aneh sekali?" Tanya Sahara membuat kedua pria itu terkekeh mendengarnya
Mencium pipi anaknya cukup lama Daffa menyampaikan kabar gembira itu kepada Sahara. Rasanya benar-benar membahagiakan dia seperti akan terbang ke langit.
"Ara sebentar lagi kamu akan punya adik." Kata Daffa
Senyum Sahara langsung terbit dia menatap Daffa dengan antusias kemudian menciumi pipi Daffa dengan penuh semangat.
"Benarkah Daddy? Ara akan punya adik." Kata Sahara dengan penuh kebahagiaan
Menurunkan Sahara dari gendongannya Daffa membiarkan anak itu menghampiri Fahisa di kamarnya. Sedangkan Daffa masih harus bicara dengan Daniel senyumnya sama sekali tidak pudar, dia masih belum percaya rasanya sungguh membahagiakan.
"Selamat Daf, jangan lupa apa kataku tadi jangan biarkan dia kelelahan dan banyak fikiran." Kata Daniel lagi
"Apa Fahisa sudah tau?" Tanya Daffa
Daniel menganggukkan kepalanya, "Hmm dia sudah tau"
Sebelum pergi Daniel menyerahkan resep obat kepada Daffa dia juga menyarankan kepada pria itu untuk membeli susu hamil. Setelah Daniel pergi Daffa langsung bergegas ke kamarnya menghampiri Fahisa yang sekarang tampak bahagia dengan Sahara di sampingnya.
"Fahisa"
Fahisa tersenyum kecil saat melihat Daffa yang sekarang berjalan menghampirinya lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Tanpa disadari air mata Daffa turun dia merasa sangat bahagia dan setelah melepaskan pelukannya Daffa mencium kening istrinya itu cukup lama.
"Terima kasih Fahisa aku sangat bahagia mendengarnya"