Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh enam



Berbaring di ranjang sambil berpelukan kedua pasangan itu masih belum pergi ke alam mimpi meskipun malam sudah semakin larut. Memeluk suaminya dengan erat Fahisa menenggelamkan wajahnya dilekukan leher Daffa menghirup dalam-dalam aroma suaminya yang membuatnya merasa begitu nyaman.


Percakapan dengan Ratu tadi membuat Fahisa jadi ingin menjadi istri yang manja dan posesif, dia tidak akan membiarkan seseorang merusak kebahagiaan keluarganya. Merasakan lehernya dicium oleh istrinya membuat Daffa tersentak dan ketika Fahisa menjauhkan wajahnya lalu menatapnya sambil tersenyum Daffa merasa jantungnya berdetak dengan begitu cepat.


"Mas Daffa"


"Hmm? Ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan pelan olehnya


"Nanti kalau Ara sudah libur sekolah kita pergi liburan yuk?" Ajaknya yang membuat Daffa mengerutkan dahinya heran


Tidak biasanya Fahisa mengajak untuk pergi berlibur bahkan biasanya Daffa yang harus memaksa agar istrinya itu menyetujui ajakannya, tapi tentu saja dia senang karena Fahisa mengajak berlibur.


"Bertiga? Bagaimana kalau berdua saja?" Goda Daffa


Bukan malu, tapi Fahisa malah tersenyum dan menanggapinya dengan serius.


"Boleh, tapi nanti setelah kita liburan bertiga sama Sahara." Kata Fahisa membuat Daffa tersenyum senang ketika mendengarnya


Mulai sekarang Fahisa akan terus menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya, dia tidak akan memberikan sedikitpun celah bagi Ratu atau siapapun yang ingin merusak keluarganya. Tidak akan pernah Fahisa biarkan, sudah cukup dengan dia yang keguguran sekarang Fahisa tidak akan lagi diam ketika ada yang ingin menyakiti atau merusak kebahagiaannya.


Sedangkan Daffa yang merasa bahagia mendapatkan perhatian dari istrinya itu hanya bisa tersenyum lebar dan semakin mengeratkan pelukannya sambil sesekali mencium puncak kepala Fahisa berkali-kali.


"Kamu mau liburan kemana memangnya?" Tanya Daffa


"Emm terserah yang penting aku mau liburan bareng Mas Daffa dan Sahara." Kata Fahisa


"Baiklah kali ini aku yang akan menentukan dan kamu dilarang untuk protes." Kata Daffa membuat Fahisa tertawa kecil


"Tidak akan protes." Kata Fahisa dengan penuh keyakinan


Memang sebelumnya ketika ingin pergi berlibur Fahisa terlalu banyak protes entah karena tempatnya yang terlalu jauh dan menghabiskan banyak uang atau karena waktunya yang sangat lama. Namun, kali ini Fahisa akan membiarkan semua yang suaminya rencanakan dan inginkan untuk kedepannya.


Menjauhkan wajahnya Fahisa mengecup singkat bibir Daffa membuat suaminya itu terkejut bukan main.


"Selamat malam Mas"


Malam yang sangat indah bagi Daffa.


¤¤¤¤


Dua bulan berlalu hari ini adalah hari dimana Sahara akan mendaftar di sekolah dasar anak itu sangat bersemangat sejak tadi, dia bahkan menyantap sarapannya dengan terburu-buru. Melihat antusias anaknya Daffa tersenyum lebar, dia benar-benar tidak menyangka jika Sahara sudah sebesar ini rasanya baru kemarin anak itu bisa memanggilnya dengan sebutan Daddy.


Mereka memang memutuskan untuk segera mendaftarkan Sahara ke sekolah dasar dan memilih salah satu sekolah yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Tania.


"Nanti kalau Ara sekolah di sd berarti Ara sudah besar kan?" Tanya Sahara dengan senyum polosnya


"Tidak Ara masih tetap putri kecilnya Daddy." Kata Daffa membuat anaknya itu mengerucutkan bibirnya kesal


"Kalau gitu Ara kapan besarnya? Masa Ara kecil terus! Kata Oma kalau Ara udah sd berarti Ara sudah besar." Kata Sahara membuat Daffa tertawa melihat tingkah lucu anak perempuanya itu


Sedangkan Fahisa yang ingin menghentikan rengekan Sahara yang mungkin sebentar lagi akan berubah menjadi tangisan langsung mengusap rambut hitamnya dengan lembut dan mengatakan hal yang membuat anak itu tersenyum.


"Tidak sayang jangan dengarkan Daddy ya? Anak Mommy sudah besar sekarang karena mau masuk sd nanti Ara akan Mommy kasih hadiah." Kata Fahisa membuat anak itu bersorak senang


"Apa hadiahnya?" Tanya Sahara dengan penuh antusias


Mengerutkan dahinya Fahisa nampak seperti sedang berfikir lalu mengatakan hal yang membuat bibir Sahara kembali mengerucut kesal.


"Rahasia dong sayang." Kata Fahisa sambil tersenyum


Melihat interaksi manis itu membuat senyuman Daffa mengembang, dia tidak bisa membayangkan jika Sahara semakin besar dan tidak bisa lagi diganggu seperti sekarang. Mungkin keduanya akan merindukan momen itu kelak, kebersamaan keluarga.


Selesai menyantap sarapan mereka langsung berangkat untuk mendaftarkan Sahara ke sekolah. Selama perjalanan seperti biasanya Sahara yang duduk dipangkuan Fahisa terus berbicara mengenai sekolahnya dan juga teman-temannya dengan penuh semangat.


"Mommy nanti kalau Ara sudah sekolah kita akan beli tas baru kan? Sepatu baru juga kan?" Tanya Sahara


"Hmm tentu saja sayang nanti kita ajak Daddy untuk beli sama-sama." Kata Fahisa sambil tersenyum manis


"Sama Mommy saja jangan ajak Daddy." Kata Sahara membuat Fahisa mengerutkan dahinya bingung


"Kenapa tidak mau ajak Daddy?" Tanya Fahisa


Mendekatkan wajahnya Sahara membisikkan sesuatu yang membuat Fahisa tertawa dan Daffa yang secara refleks menoleh.


"Daddy itu gak sabaran Mommy Ara malas udah itu suka banyak Tante-tante yang genit sama Daddy kalau di mall"


¤¤¤¤


Setelah berhasil melakukan pendaftaran mereka pergi ke rumah Tania dan ketika sampai disana Sahara dengan penuh semangat mengatakan bahwa dia sudah besar sekarang. Melihat hal itu tentu saja membuat Tania merasa bahagia, sama seperti Daffa dia juga tidak menyangka jika cucunya tumbuh besar secepat ini rasanya baru kemarin dia bisa berjalan.


Selain itu Daffa juga menyampaikan keinginan Fahisa bahwa mereka akan pergi berlibur tiga hari lagi dan tempatnya sudah Daffa putuskan bahkan dia sudah memesan tiket pesawat. Mendengar hal itu Tania turut senang karena menurutnya keluarga kecil itu memang butuh liburan mengingat apa yang menimpa mereka beberapa bulan yang lalu, mereka butuh hiburan.


"Wahh kalau begitu Ara harus kasih Oma oleh-oleh nanti yaa." Kata Tania sambil memeluk cucunya yang sekarang duduk dipangkuannya


"Nanti Ara bakal beli oleh-oleh yang banyak buat Oma." Kata Sahara dengan senyuman lebarnya


Anak itu benar-benar terlihat menggemaskan.


Mereka menghabiskan waktu hingga malam hari disana bercerita tentang banyak hal mulai dan bercanda bersama-sama. Saat sudah malam Sahara tertidur di sofa dengan kepala yang disandarkan pada paha Fahisa, dia terlihat sangat nyenyak.


"Ara benar-benar menggemaskan." Kata Tania sambil memperhatikan Sahara yang sudah tertidur dengan begitu nyenyak


"Dia sudah besar sekarang Mi." Kata Daffa sambil tersenyum haru


Sahara sudah mulai beranjak besar dan Daffa bersyukur karena sekarang dia punya Fahisa, jika tidak sampai dewasa nanti anaknya itu pasti akan tumbuh besar tanpa pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Semua juga berkat Sahara yang membawanya kepada wanita sebaik Fahisa meskipun dia masih cukup muda, tapi Fahisa memiliki jiwa ke-ibuan yang sangat besar.


"Aku pindahin Ara ke kamar ya? Kasihan dia nanti badannya sakit semua." Kata Fahisa


Dia begitu menyayangi Sahara seperti yang dapat dilihat sekarang ketika dengan penuh kesabaran Fahisa membawa Sahara kedalam gendongannya dan memindahkan ke kamar Daffa karena mereka akan menginap disini. Merasa hari sudah semakin larut akhirnya Daffa juga mengikuti Fahisa untuk menidurkan Sahara di kamarmya dan sama hal nya dengan Tania yang kembali ke kamarnya untuk pergi tidur.


Setelah menidurkan Sahara di ranjang Fahisa ingin pergi ke kamar mandi, tapi dia dikejutkan dengan suaminya yang berada tepat di belakangnya dan secara tiba-tiba memeluknya dari belakang. Menumpukan dagunya di pundak Fahisa dia memiringkan wajahnya dan mengecupi leher jenjang Fahisa berkali-kali.


"Mas ngapain sih?" Tanya Fahisa sambil memejamkan matanya merasa geli dengan kecupan yang diberikan


"Lagi main." Kekeh Daffa sambil mengecup leher itu lama dan meninggalkan jejak disana membuat Fahisa menahan nafasnya


"Isss udah ahh ngantuk tau mau tidur." Kata Fahisa sambil mengerucut kesal


Membalikkan tubuhnya saat ini Fahisa berhadapan dengan Daffa yang menatapnya begitu dalam dan kemudian tanpa permisi mengecup bibirnya berkali-kali.


"Terima kasih ya Fahisa"


"Untuk apa?" Tanya Fahisa bingung


"Untuk semuanya." Kata Daffa sambil tersenyum manis


Hatinya menghangat mendengar kalimat itu dan dengan penuh keberanian Fahisa mengalungkan tangannya di leher Daffa lalu menyatukan bibir mereka. Bagi Fahisa tidak perlu berterima kasih karena mereka sama-sama bahagia, sama-sama terluka, dan sama-sama mengobati.


Memejamkan matanya Daffa menarik tengkuk Fahisa dan membalas ciuman istrinya itu dengan menggebu-gebu, tidak perduli ada Sahara yang bisa saja terbangun secara tiba-tiba.


Mereka yakin bahwa di depan sana ada kebahagiaan yang begitu besar sedang menanti untuk dihampiri.