
Masih belum membuka matanya Fahisa nampak begitu tenang meskipun wajahnya terlihat begitu pucat dan perut yang sebelumnya membuncit itu kini sudah kembali seperti semula. Beberapa jam yang lalu Daffa baru saja memakami bayi mereka bersama dengan keluarganya, kecuali Sahara.
Ada hal yang begitu membuat Daffa merasa sakit, yaitu ketika Sahara datang dan melihat Fahisa anak itu menatapnya dengan bingung lalu bertanya dengan wajah polosnya.
"Daddy apa adik bayinya sudah keluar? Kenapa perut Mommy tidak besar lagi?"
Rasanya Daffa ingin menangis, tapi yang bisa dia lakukan hanyalah menunduk lalu menangkup kedua pipi anaknya dan mencium keningnya cukup lama.
"Ara, mau janji sama Daddy?" Tanya Daffa pelan
Sahara mendongak dan menatap Daffa yang terlihat begitu sedih lalu perlahan dia menganggukkan kepalanya.
"Jangan tanyakan tentang adik bayi di depan Mommy ya? Daddy minta maaf karena adik bayinya harus pergi belum waktunya untuk dia ketemu Ara." Kata Daffa membuat Sahara menatapnya dengan sedih
"Kenapa? Kata Mommy adik bayinya sebentar lagi lahir." Kata Sahara dengan sedih
Demi Tuhan dia benar-benar marah pada orang yang sudah melakukan ini semua kepada Fahisa.
Berusaha tersenyum Daffa mengusap rambut hitam anaknya dengan penuh kasih sayang. Akan sangat sulit untuk membuat anaknya mengerti, tapi Daffa akan berusaha untuk menyampaikan semuanya paling tidak membuat Sahara tidak lagi membicarakannya di depan Fahisa.
"Mommy akan sakit terus kalau adik bayinya masih di dalam perut Mommy, Ara tidak mau kan kalau Mommy sakit?" Kata Daffa yang langsung diangguki oleh anaknya
"Ara tidak mau Mommy sakit." Kata Sahara sambil memeluk Daffa dengan erat
"Maafin Daddy ya Ara nanti pasti kamu akan punya adik, tapi tidak sekarang ya?" Kata Daffa sambil mengusap rambutnya lembut
Sahara tiba-tiba menangis membuat Daffa jadi merasa begitu jahat, nafasnya terasa begitu sulit mendengar isakan anaknya.
Apa dia Daddy yang jahat?
"Ara tidak mau adik.... Daddy... Ara mau Mommy sembuh... Ara mau... Mommy." Isak Sahara
Melepaskan pelukannya Daffa mencium kening anaknya lama lalu menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Sahara.
"Kenapa menangis hmm? Tuan puteri Daddy tidak boleh menangis." Kata Daffa
"Mau Mommy... kenapa Mommy belum bangun?" Kata Sahara masih dengan isakannya
"Mommy lagi istirahat Ara, jangan takut hmm? Mommy akan sembuh." Kata Daffa sambil tersenyum meyakinkan
"Ara takut... Ara mau Mommy... mau peluk Mommy... mau cium Mommy." Kata Sahara
"Sstt jangan menangis Ara nanti Mommy sedih." Kata Daffa pelan
Perlahan isakan Sahara berhenti lalu Daffa langsung membawa anak itu kedalam pelukannya mencium puncak kepalanya berkali-kali.
Semua kebahagiaan itu telah hancur dalam waktu yang begitu singkat.
¤¤¤¤
Pagi hari tiba Fahisa masih setia dengan mata tertutupnya membuat Daffa menghela nafasnya pelan, dia sangat rindu dengan suara Fahisa senyumannya dan juga rona merah di pipinya. Sejak malam Daffa terus menggenggam tangan Fahisa dan memikirkan penjelasan yang harus dia katakan semisal istrinya itu nanti bertanya.
Kepala Daffa begitu dipenuhi dengan banyak hal kondisi Fahisa lalu masalah Tanti yang sampai sekarang masih belum ditemukan keberadaannya. Terakhir kali terlihat katanya wanita itu berada di sebuah apartemen, tapi ketika anak buahnya datang kesana apartemen itu sudah kosong.
Sial! Kemana wanita itu pergi?!
Saat ini Daffa merasa begitu bodoh, semua karena kesalahannya yang tidak becus menjaga Fahisa sampai hal seperti itu bisa terjadi di rumahnya. Kemarin Daffa juga sudah meminta bantuan kedua teman baiknya untuk mencari tau dalang di balik semua ini dan mereka juga sudah mulai mencari tau.
"Fahisa tidakkah kamu ingin bangun? Aku minta maaf karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik." Kata Daffa lirih
Suara pintu yang dibuka membuat Daffa menoleh dan mendapati Kakaknya yang sedang tersenyum tipis lalu berjalan menghampirinya.
"Daffa pulanglah Kakak akan menjaga disini sebentar lagi Mami sama Ara akan datang." Kata Dara sambil menepuk pelan pundaknya
"Tolong kabari aku kalau Fahisa sudah sadar." Kata Daffa pelan
Mencium kening Fahisa cukup lama Daffa segera meninggalkan area rumah sakit dan pulang untuk membersihkan dirinya lalu kembali ke rumah sakit.
Selama perjalanan Daffa yang duduk di kursi penumpang hanya diam sambil menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata berusaha meredakan sakit kepalanya. Semua yang terjadi benar-benar menguras tenaga juga emosinya dia tidak lagi mengerti harus dengan cara apa mengatasi semuanya.
Fahisa
Fahisa
Bagaimana kalau Fahisa tidak mau menerima semua yang telah terjadi?
Bagaimana kalau Fahisa membencinya karena tidak bisa melindungi anak mereka?
Dan
Bagaimana kalau Fahisa mengetahui sebuah fakta menyakitkan lainnya?
'Akibat racun yang masuk ke dalam tubuhnya ada kerusakan di rahim istri anda, tidak bukan berarti istri anda tidak bisa hamil lagi dia tetap bisa mengandung hanya saja kandungannya mungkin akan sangat lemah, tapi kalian masih bisa terus berusaha'
Apa lagi ini?
Sial! Wanita sialan! Siapa dia sebenarnya?
Kenapa wanita itu menghancurkan segalanya?
Kebahagiaan keluarganya yang sudah begitu nampak dihancurkan dengan waktu yang begitu singkat.
Apa ini mimpi?
¤¤¤¤
Matanya terasa begitu berat untuk dibuka, tapi dia terus berusaha hingga akhirnya kilau cahaya mulai memasuki indera penglihatannya. Menelusuri sekitar dia dapat melihat mertua, kakak ipar, dan anaknya yang sekarang sedang tersenyum ketika melihatnya sadar.
"Mommy"
Suara itu membuat hati Fahisa menghangat dan dengan lemah dia tersenyum ketika melihat Sahara yang menggenggam tangannya. Sebuah usapan di kepalanya membuat Fahisa memejamkan matanya, menikmati usapan penuh kasih sayang yang di berikan oleh mertuanya.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Tania
Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa benar-benar merasa lemas untuk sekedar berbicara sepatah katapun, dia belum menyadari apapun.
"Mommy sudah sembuh?" Tanya Sahara sambil menatap Fahisa dengan wajah sedihnya
Fahisa tersenyum lalu mengangguk singkat membuat anak itu ikut tersenyum senang.
Mata Fahisa menjelajah ke segala arah mencari keberadaan Daffa.
"Mas Daffa..."
"Dia dalam perjalanan Fahisa suami kamu tadi pulang untuk membersihkan diri." Kata Dara seakan sadar apa yang ingin dia tanyakan
"Istirahatlah Fahisa kamu perlu banyak istirahat." Kata Tania dengan lembut
Fahisa mengangguk singkat dan saat itu tangannya terulur untuk menyentuh perut buncitnya, tapi ketika menyadari jika perutnya telah kembali rata Fahisa mendongak dan menatap mereka.
Tatapan mata Fahisa penuh pertanyaan, tapi mereka hanya diam dengan wajah sedihnya membuat jantung Fahisa langsung berdetak tidak karuan.
Apa mungkin?
Jantung Fahisa berdetak dengan begitu cepat dia merasa sesak dan diselimuti ketakutan yang teramat dalam. Suaranya seakan tertelan dengan ketakutannya apalagi ketika Tania menghampirinya dan menggenggam erat tangannya membuat Fahisa semakin yakin.
"Mami tidak kan? Dia masih ada kan Mi?" Tanya Fahisa pelan
Sangat pelan
Bahkan dia seakan berbicara tanpa ada suara.
"Fahisa belum saatnya...."
Belum sempat Tania menyelesaikan perkataannya Fahisa sudah mengeluarkan air matanya dan perlahan mulai terisak dengan suara yang begitu pelan dan menyakitkan.
Enam bulan yang bahagia itu sudah berakhir.