Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Limapuluh tiga



Kebahagiaan yang Fahisa berikan benar-benar begitu besar hingga membuat Daffa tidak sedetikpun menguraikan senyuman lebarnya. Setelah dari rumah sakit keduanya kembali ke rumah dan baru akan pergi menyusul Sahara saat sore hari tiba karena sekarang anaknya itu sedang pergi jalan-jalan bersama Tania dan anak dari Dara.


Saat sampai di rumah keduanya menghabiskan waktu di ruang keluarga dengan saling berpelukan. Menghirup dalam-dalam aroma suaminya Fahisa benar-benar merasa tenang dan bahagia. Ada perasaan yang tidak bisa Fahisa jelaskan.


"Kamu ingin sesuatu?" Tanya Daffa


Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa menenggelamkan wajahnya di dada bidang Daffa.


"Mas Daffa aku mau cerita boleh?" Tanya Fahisa


"Hmm cerita saja akan aku dengarkan." Kata Daffa sambil mencium puncak kepala istrinya dengam penuh kasih sayang


"Tapi ceritanya banyak." Kata Fahisa lagi


"Akan aku dengarkan Fahisa bahkan kalau kamu cerita sampai malam aku akan dengarkan semuanya." Kata Daffa membuat Fahisa tersenyum mendengarnya


Cukup lama terdiam akhirnya Fahisa mulai berbicara setelah menghela nafasnya panjang.


Ada hal yang ingin Fahisa sampaikan, tentang masa lalunya.


Tentang segala hal yang pernah dia lalui dulu.


"Aku juga anak kembar Mas"


Satu kalimat pertama yang Fahisa keluarkan membuat Daffa terkejut bukan main, dia sama sekali tidak tau tentang fakta tersebut.


"Aku dan saudara kembar aku punya kepribadian yang berbanding terbalik meskipun wajah kami sangat mirip, Fahisa yang pendiam juga pemalu dan Fanessa yang cerewet juga ceria,"


Saat mengatakan hal itu senyum Fahisa mengembang karena dia kembali mengingat semua kenangan tentang saudara kembarnya.


"Dulu Ayah sama Ibu selalu sibuk kalau Ibu pulangnya sore maka Ayah pulangnya malam kadang sampai tengah malam, aku sering nangis dulu dan Fanessa yang selalu hibur aku kalau aku sedih atau nangis,"


Mengeratkan pelukannya Daffa mengusap rambut hitam istrinya dengan penuh kasih sayang dan sesekali dia juga mengecup puncak kepala Fahisa.


Fahisa yang mendapat perlakuan manis itu tersenyum senang dan setelah menghela nafasnya panjang dia kembali bercerita.


"Kami sama-sama terus, tapi saat kelas dua belas di semester kedua ketika kami pulang naik bus terjadi kecelakaan yang melibatkan aku dan Fanessa,"


Sedikit menggigit bibir bawahnya Fahisa merasa dadanya begitu sesak, tapi dia sangat ingin bercerita dengan suaminya. Mengatakan semua masa lalu yang pernah dia lewati.


"Fanessa yang duduk dekat kaca punya luka yang lebih serius dan kaki kami waktu itu terhimpit rasanya sakit sekali Mas lalu kami menahannya untuk waktu yang cukup lama karena menunggu bantuan yang datang,"


"Kecelakaan itu membuat Fanessa koma dan aku lumpuh sementara." Kata Fahisa


Dia berhenti bicara karena merasa air matanya sudah terjatuh ketika mengingat semuanya dan Daffa yang melihat hal itu ikut merasakan sedih.


Menangkup wajah cantik istrinya Daffa menghapus air mata itu dengan begitu lembut lalu mencium keningnya cukup lama dan setelahnya kembali membawa Fahisa kedalam pelukannya.


"Sudah, jangan diteruskan kalau itu bikin kamu sedih." Kata Daffa


Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa menghela nafasnya cukup panjang dan kembali bercerita.


"Seminggu setelah dinyatakan koma Fanessa dinyatakan meninggal dunia dan saat itu kami semua benar-benar merasakan sakit juga sedih yang berlarut,"


"Setelah kematian Fanessa semua jadi berantakan Ayah jadi semakin jarang pulang dan Ibu juga jadi sering nginep di rumah temannya mereka ninggalin aku di rumah sendirian bersama kenangan dari Fanessa. Bahkan selama itu aku yang masih dalam keadaan lumpuh sama sekali tidak difikirkan." Kata Fahisa pelan


Mendengar hal itu Daffa merasa marah dan sangat sakit dihatinya, dia membayangkan rasa sakit yang istrinya rasakan itu dulu dan semua benar-benar menyakiti hatinya.


"Fahisa sudah tidak perlu dilanjutkan." Kata Daffa yang tidak tahan mendengar masa lalu yang mungkin akan lebih menyakitkan lagi


Tapi, Fahisa tidak mau diam dia terus berbicara.


"Satu bulan aku baru bisa jalan tadinya aku sangat senang Mas, tapi sehari setelahnya Ayah pulang ke rumah dengan surat perceraian dia menyalahkan Ibu karena kematian Fanessa, anak kesayangan ayah." Kata Fahisa


Saat itu Fahisa benar-benar merasa telah hancur dan tidak lagi ingin untuk hidup, tapi dia tetap bertahan dengan semua kesanggupannya hingga akhirnya berakhir dengan memiliki keluarga kecil ini.


"Setelah semua itu aku pergi dari Malang dan mulai kehidupan baru disini, tadinya aku berharap Ibu sama Ayah bakal sering nanya kabar aku, tapi ternyata mereka gak ngelakuin itu kami benar-benar hidup sendiri setelahnya." Kata Fahisa sambil menghela nafasnya panjang


"Kalau aku tidak menyukai Ayah dan Ibu bagaimana? Aku tidak suka mereka karena sudah membuat kamu menderita." Kata Daffa


Fahisa mendongak dan menatap suaminya sambil tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya dengan memasang wajah yang begitu lucu.


"Jangan! Aku tidak pernah benci Ayah sama Ibu mereka tidak jahat Mas, mereka tidak membuat aku menderita." Kata Fahisa sambil tersenyum manis


"Tapi, mereka membiarkan kamu merasakan sakit sendirian, mereka hanya memikirkan perasaan mereka sendiri dan tidak memperdulikan kamu." Kata Daffa


"Mereka perduli Mas! Selama kuliah mereka yang kasih aku biaya meskipun untuk uang makan aku cari sendiri, tapi tetap saja tanpa mereka aku mungkin tidak bisa kuliah." Kata Fahisa membuat Daffa yang mendengarnya merasa tersentuh


Saat ini Daffa benar-benar merasa beruntung memiliki Fahisa dihidupnya. Istrinya sangat berfikiran terbuka dan tidak memikirkan sesuatu yang negatif dia selalu berusaha berfikir positif tentang apapun. Mungkin kalau Daffa yang berada di posisi Fahisa dia tidak akan sanggup bisa jadi dia akan memilih untuk memberontak, kabur, atau yang lebih parah mengakhiri hidupnya sendiri.


Tapi, Fahisa berbeda karena dia meyakinkan satu hal dalam hati kecilnya.


Ya, mungkin Fahisa memang benar.


¤¤¤¤


Sore hari tiba Tania melihat kedatangan anak dan juga menantunya untuk menjemput Sahara, tapi dia melihat sesuatu yang beda dari keduanya. Ada sesuatu yang tidak bisa Tania tafsirkan, dia dapat melihat pancaran kebahagiaan yang begitu besar dari mata keduanya.


Kedatangan kedua orang itu tentu saja disambut dengan penuh semangat oleh Sahara, bahkan anak itu langsung melompat kedalam gendongan Fahisa dan mencium pipinya berkali-kali.


"Mommy! Ara kangen Mommy!" Kata Sahara sambil terus menciumi pipi Fahisa


Tertawa kecil Fahisa mengusap rambut hitam Sahara dengan penuh kasih sayang.


"Bagaimana jalan-jalannya sayang?" Tanya Fahisa


"Hmm sangat seru Mommy soalnya kami tadi ke kolam berenang terus kami naik mainan banyak." Kata Sahara dengan semangat


Hanya diam sambil memperhatikan keduanya Daffa tersenyum senang dan mendadak dia membayangkan jika nanti akan ada dua anak yang semakin meramaikan keluarganya. Membayangkan hal itu tanpa sadar Daffa tertawa kecil membuat Tania menatapnya dengan curiga, pasti ada sesuatu.


"Sayang kita duduk dulu dan Ara sini sama Daddy kasihan Mommy nanti lelah." Kata Daffa membuat Tania semakin memicingkan matanya


Mengambil alih Sahara dari gendongan Fahisa mereka beralih dan duduk di ruang tamu. Mendudukkan Sahara dipangkuannya Daffa memeluk anaknya dengan cukup erat dan mencium puncak kepalanya berkali-kali.


"Daddy nanti kita jadi ke pasar malam kan? Kemarin kata Mommy kita akan pergi ke pasar malam." Kata Sahara dengan senyumannya


Tadinya Daffa ingin menjawab tidak, tapi Fahisa lebih dulu mengatakan iya membuat Daffa menatap istrinya dengan penuh protes. Namun, Fahisa tidak perduli dia tidak mau Sahara merasa sedih selain itu dia juga mau jalan-jalan.


"Tentu saja Ara kita akan jalan-jalan nanti malam." Kata Fahisa membuat Sahara bersorak senang


"Bagaimana kejutannya Daffa? Berjalan dengan lancar?" Tanya Tania


Daffa tersenyum dengan penuh kebahagiaan, kejutan dari istrinya adalah yang paling mengejutkan.


"Kejutan dari Fahisa lebih bermakna Mi." Kata Daffa membuat Fahisa tersenyum malu


"Memang menantu Oma memberikan hadiah apa?" Tanya Tania membuat Fahisa langsung menatap suaminya dengan tatapan yang meminta agar Daffa yang mengatakan semuanya


Mengeluarkan kotak dari saku jasnya Daffa memberikan kado yang sudah Fahisa berikan kepadanya tadi malam.


"Dia memberikan ini Mi dan aku bersumpah ini adalah kado yang sangat indah." Kata Daffa membuat Tania jadi semakin penasaran


Sahara yang juga sangat ingin tau langsung turun dari pangkuan Daffa dan mendekati Tania lalu mengintip isi kotak yang sedang dibukanya.


Satu detik


Dua detik


Tiga detik


Tania hanya diam, tapi setelahnya mata hitamnya langsung berkaca-kaca dan dia segera menghampiri Fahisa lalu memeluk menantunya dengan sangat erat.


"Fahisa selamat sayang! Mami sangat senang." Kata Tania sambil mencium kening menantunya itu cukup lama


"Kenapa? Ini apa Daddy?" Tanya Sahara sambil menunjukkan testpack digenggamannya


Tersenyum senang Daffa memeluk Sahara dengan cukup erat dan mencium puncak kepalanya berkali-kali.


"Selamat ya Ara sebentar lagi Ara akan punya adik." Kata Daffa


Tapi, perubahan raut wajah Sahara yang menjadi sedih membuat Daffa dan yang lainnya merasa aneh.


"Apa Ara tidak senang?" Tanya Daffa yang langsung dijawab gelengan kepala oleh anaknya bahkan bibirnya menekuk


"Kenapa? Bukankah cucu Oma sangat ingin punya adik?" Tanya Tania


Dan jawaban yang Sahara berikan setelahnya membuat mereka merasa terharu serta sedih.


"Ara takut kalau nanti Mommy sakit lagi! Ara gak mau Mommy sakit karena adik bayi." Kata Sahara


Tersenyum haru Fahisa langsung menghampiri Sahara dan membawa anak itu kedalam pelukannya.


"Ara tidak boleh sedih. Mommy tidak akan sakit lagi sayang adik bayinya menjaga Mommy dengan baik." Kata Fahisa dengan suara lembutnya


"Takut Mommy, nanti Mommy berdarah lagi terus tidurnya lama Ara tidak suka! Ara takut." Kata Sahara sambil memeluknya dengan erat


"Heyy sayang Mommy tidak akan kenapa-kenapa kita akan jaga Mommy dan adik bayi sama-sama hmm?" Kata Daffa sambil mengusap rambut Sahara dengan lembut


"Sayang Mommy Ara tidak mau Mommy sakit lagi"