Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Enampuluh enam



Semakin bertambahnya usia kandungan Fahisa semakin besar pula rasa takut yang Daffa rasakan, dia takut kehilangan istrinya ketika melahirkan. Namun, tetap saja dibalik rasa takut itu ada kebahagiaan yang tak bisa Daffa ungkapkan lewat kata-kata.


Sebagai seorang ayah Daffa benar-benar tidak sabar menanti kelahiran anaknya, dia begitu ingin melihat wajah mungil itu untuk pertama kalinya. Ternyata tanpa Daffa sadari rasa takut itu telah dikalahkan oleh kebahagiaan yang ia rasakan.


Saat ini sudah memasuki bulan ketujuh kandungan Fahisa dan sekarang istrinya itu sudah terlihat begitu berisi dengan perut yang membuncit. Selain itu Fahisa juga sudah mulai enggan untuk pergi kemanapun dia lebih suka menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya.


Hampir setiap hari juga Fahisa melarang suaminya untuk pergi, dia meminta Daffa untuk tetap tinggal disisinya karena Fahisa akan bermanja-manja dengan suaminya selama hampir seharian. Di bulan ini Daffa memang sangat jarang sekali pergi ke kantor dia lebih sering di rumah entah karena permintaan istrinya ataupun keinginannya sendiri.


Seperti sekarang dimana mereka sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton tv dan tentu saja dengan berpelukan.


"Apa kaki kamu pegal sayang?" Tanya Daffa ketika melihat Fahisa yang sesekali memijat kedua kakinya


Mengerucutkan bibirnya Fahisa mengangguk pelan.


"Emm pegal sama sakit juga." Kata Fahisa


Merenggangkan pelukannya Daffa mengulurkan tangannya untuk memijat kaki istrinya dan hal itu membuat Fahisa sedikit tersentak lalu menahan tangan suaminya, dia merasa itu tidak pantas.


"Tidak usah biar aku saja." Kata Fahisa


Tersenyum menenangkan Daffa menyingkirkan tangan Fahisa dan mulai memijat kaki istrinya.


"Tidak papa sayang." Kata Daffa


Setelahnya Fahisa hanya diam dan terus memandangi suaminya yang terlihat begitu telaten, dia bahagia sekali melihat perhatian yang diberikan Daffa kepadanya.


"Mas Daffa"


"Hmm?"


Tidak mendongak Daffa hanya menjawabnya dengan gumaman dan masih setia memijat kaki istrinya.


"Sudah, aku mau peluk." Kata Fahisa sambil memasang wajah yang begitu menggemasan


Membawa Fahisa kedalam pelukannya Daffa mengusap rambut hitam istrinya dengan penuh kasih sayang, sekarang Fahisa memang sedikit lebih manja dari biasanya.


"Fahisa"


Menghela nafasnya pelan Daffa mulai menyuarakan ketakutannya.


"Aku takut"


Suara yang memang terdengar berbeda dari biasanya itu membuat Fahisa mendongak menatap mata Daffa yang sekarang dipenuhi binar ketakutan.


"Kenapa? Takut kenapa?" Tanya Fahisa


Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri Daffa mulai berbicara semua yang telah dipendamnya.


"Aku takut kehilangan kamu," lirih Daffa membuat Fahisa mendongakkan kepalanya


"Aku takut kembali kehilangan seorang istri, aku takut hal yang sama terulang lagi. Aku tidak mau kehilangan kamu Fahisa." Kata Daffa membuat Fahisa tertegun ketika mendengarnya


Dia tidak menyangka jika suaminya merasakan ketakutan yang sebesar itu.


"Aku takut Fahisa, kamu tidak akan meninggalkan aku kan?" Tanya Daffa dengan lirih


Mengecup singkat bibir suaminya Fahisa tersenyum lalu mengusap pipi Daffa dengan begitu lembut.


"Aku tidak akan kemana-mana Mas jangan takut, kita akan membesarkan anak kita bersama-sama. Aku janji." Kata Fahisa


Semakin mengeratkan pelukannya Daffa menghela nafasnya berkali-kali, dia harap perkataan Fahisa menjadi kenyataan.


"Kita akan sama-sama untuk waktu yang sangat lama, jangan takut." Kata Fahisa


"Jangan pernah tinggalkan aku Fahisa." Kata Daffa sambil mengeratkan pelukannya


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, kita akan sama-sama sampai rambut kita memutih dan kita juga akan menyaksikan anak-anak kita sampai mereka menikah nanti." Kata Fahisa yang telah berhasil membuat hati Daffa menghangat ketika mendengarnya


Melepaskan pelukannya Fahisa menangkup kedua pipi suaminya lalu terseyum dengan begitu lebar.


"Ayo senyum jangan pasang wajah begitu, aku tidak suka melihatnya." Kata Fahisa


Perlahan sudut bibir Daffa terangkat membentuk sebuah senyuman yang begitu tulus dan bersamaan dengan itu pula Daffa mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Fahisa lama.


Baru ingin memperdalam ciumannya suara pintu yang terbuka membuat Fahisa secara refleks mendorong dada bidang suaminya agar menjauh dan tidak lama setelahnya Sahara berlari menghampiri keduanya.


"Mommy aku sudah mandiii." Kata Sahara sambil mendudukkan dirinya di tengah-tengah kedua orang tuanya


"Anak mommy sangat wangi sekali." Kata Fahisa sambil terus menciumi rambut Sahara


Tertawa kecil Sahara meletakkan telinganya di perut buncit Fahisa membuat kedua orang tuanya tersenyum senang.


"Kami juga tidak sabar ingin bertemu Kakak." Kata Fahisa menjawab perkataan anaknya


Mendongakkan kepalanya Sahara memeluk Fahisa lalu menciumi pipinya berkali-kali.


"Mommy kapan Ara bisa lihat adik bayinya?" Tanya Sahara dengan wajah antusiasnya


"Sebentar lagi sayang." Jawab Daffa sambil mencubit pipi anaknya gemas


"Sabar ya Ara sayang sebentar lagi kamu akan bisa melihat adik bayinya." Kata Fahisa


Menganggukkan kepalanya cepat Sahara mengajak kedua orang tuanya untuk turun kebawah dan sarapan.


"Ayo kita sarapan Ara sudah lapar dan adik Ara juga pasti lapar." Kata Sahara membuat Fahisa langsung menyunggingkan senyum manisnya


"Bibi Santi masak apa sayang?" Tanya Fahisa


"Bibi masak sop ayam." Kata Sahara


"Mau makan sekarang?" Tanya Daffa yang langung dijawab dengan anggukan oleh istrinya


Menggenggam erat tangan istrinya Daffa membantu Fahisa untuk pergi ke ruang makan dan tentu saja Sahara juga melakukan hal yang sama.


¤¤¤¤


Saat siang hari datang Daffa mengajak keluarga kecilnya itu pergi ke rumah Dara dan menghabiskan waktu hingga malam hari disana. Tepat hari ini adalah ulang tahun Kakaknya dan Dara membuat sebuah pesta keluarga di ulang tahunnya kali ini. Oleh karen itu rumah Dara pasti akan ramai dengan keluarga besar Wijaya bahkan Tania sudah berada disana sejak kemarin.


Dalam perjalanan kali ini Daffa tidak membawa mobilnya sendiri, tapi dia membawa Pak Hadi untuk ikut serta. Saat sampai di rumah besar milik Dara mereka disambut dengan begitu antusias terutama Fahisa, keluarga Daffa langsung menghampirinya dan memeluk wanita hamil itu.


"Selamat datang Fahisa tadinya Kakak fikir kamu tidak akan datang." Kata Dara sambil mencium kedua pipinya


"Tentu saja aku akan datang Kak dan selamat ulang tahun ya Kak." Kata Fahisa dengan senyuman yang begitu lebar


"Bagaimana kandungan kamu? Apa keponakanku baik-baik saja? Aku benar-benar tidak sabar ingin melihat anak kembar kalian untuk pertama kalinya keluarga Wijaya akan memiliki keturunan yang kembar." Kata Dara dengan wajah yang terlihat begitu antusias


Tersenyum senang Fahisa merasa begitu bahagia dengan keluarga suaminya yang begitu perhatian dan menyayanginya.


"Mereka sangat baik Kak." Kata Fahisa


"Apa kamu sering merasa sakit atau kesulitan selama kehamilan ini?" Tanya Dara lagi


"Hmm tidak juga mungkin hanya mudah lelah dan sedikit nyeri di perut karena mereka sangat aktif di dalam sini." Kata Fahisa sambil mengusap perut buncitnya


Saat pesta akan dimulai Daffa menghampiri istrinya dan mengajaknya untuk duduk sebentar karena Fahisa memang sedikit kesulitan jika harus terus menerus berdiri.


"Mas ayo kita kesana saja tidak enak kalau aku duduk terus." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut


"Tidak papa sayang mereka akan mengerti." Kata Daffa sambil mengusap lembut rambut hitam Fahisa


Belum sempat menjawab Fahisa sedikit merasakan nyeri hingga membuatnya meringis sambil memegangi perutnya.


"Ada apa?" Tanya Daffa khawatir


"Sepertinya mereka menendang rasanya agak nyeri." Kata Fahisa


Tersenyum kecil Daffa mengulurkan tangannya untuk mengusap perut istrinya dan hal itu membuat Fahisa tenang juga bahagia.


Tidak lama setelahnya Tania datang menghampiri keduanya dengan sepotong kue yang dia bawa, tentu saja dia membawakannya untuk Fahisa menantu kesayangannya.


"Hisa Mami bawakan kue." Kata Tania membuat senyuman wanita itu langsung mengembang lebar


"Terima kasih Mami." Kata Fahisa sambil mulai menyantap kue itu dengan lahap


"Sayang kalau kamu sudah mengantuk atau lelah tidur saja karena mereka pasti akan sampai larut malam." Kata Tania yang langsung disetujui oleh Daffa


"Hmm aku belum mengantuk Mami." Kata Fahisa


"Kalau sudah mengantuk bilang ya? Kamu jangan sampai tidur larut malam." Kata Tania memperingatkan


Menganggukkan kepalanya singkat Fahisa terlihat begitu lucu di mata suaminya.


¤¤¤¤


Sebentar lagi baby twins akan lahir😙😙


*Maaf ya telatt pusing banget sama tugas tadinya aku fikir masih bisa luangin waktu, tapi ternyata... haaa sudahlah :(


Kurang lebih empat part lagi ending yaa terus aku bakal kasih extra part yeee😄


*Kalo misal aku bikin sequel kalian mau sequelnya Sahara atau anak kembarnya Fahisa**?