
Terhitung sepuluh hari telah berlalu sejak keluarga kecil Daffa memutuskan untuk menginap di rumah Tania sesuai dengan permintaan dari wanita paruh baya itu yang katanya ingin ikut menjaga sang menantu di hari-hari mendekati kelahiran. Selama di rumah mertuanya Fahisa benar-benar diberikan perhatian yang begitu besar dan hal itu benar-benar membuat Fahisa merasa begitu bahagia dan beruntung.
Selain anak dan suaminya yang ternyata ada juga mertuanya yang sama perhatian dan sayang dengan dia. Padahal dulu Fahisa sempat takut, dia takut jika mertuanya akan galak.
Tapi, ternyata Tania tidak seperti itu bahkan dia sudah seperti anaknya sendiri sekarang.
"Mommyy"
Suara rengekan sang anak membuat Fahisa yang sedang menonton tv itu mengalihkan pandangannya dan melihat Sahara yang berlari ke arahnya dengan wajah penuh air mata.
"Ara kenapa?" Tanya Fahisa khawatir
Dengan bibir mengerucut dan isakan kecilnya Sahara menunjukkan sikunya yang berdarah.
"Mommy sakit tadi Ara jatuh dari sepeda." Adunya dengan air mata yang berjatuhan
"Ya ampun Ara sini biar Mommy obati." Kata Fahisa sambil bangkit dari duduknya
"Mommy sakit perih." Keluh Sahara
Mengambil kotak P3k yang disimpan di salah satu laci Fahosa langsung membawa Sahara untuk duduk dan mulai mengobati luka di tangan anaknya.
"Aww Mommy sakit." Tangis Sahara
"Sst hanya sebentar Ara tahan ya?" Kata Fahisa sambil meniup-niup luka di tangan anak itu
Entah bagaimana anaknya itu terjatuh, tapi yang jelas luka itu mengeluarkan darah cukup banyak yang untungnya masih bisa diobati biasa. Menurut Fahisa anaknya itu mungkin terkena batu ketika terjatuh atau kalau tidak tangannya pasti mengenai aspal.
"Sudah tidak mau Mommy sakitt." Kata Sahara sambil menjauhkan tangan Fahisa yang sedang mengobatinya
"Hey hanya sedikit lagi sayang tahan ya? Kalau tidak diobati nanti malah tambah sakit." Kata Fahisa dengan lembut
Saat ingin memplaster luka di tangan Sahara pintu terbuka dan Daffa yang baru saja selesai membersihkan diri membulatkan matanya karena melihat anaknya yang menangis.
"Ara kenapa sayang?" Tanya Daffa sambil bergegas menghampiri anaknya yang tengah diobati
"Dia jatuh dari sepeda Mas aku juga tidak tau bagaimana dia bisa terjatuh karena tiba-tiba saja Ara datang sambil menangis." Jelas Fahisa
Saat melihat Sahara anak itu langsung mengerucutkan bibirnya dengan wajah yang begitu sedih.
"Ara jatuh tadi main sepeda di taman belakang terus nabrak tanaman punya Oma jadi jatuh terus tangannya kena batu." Kata Sahara dengan sisa air mata yang belum mengering
"Tanaman Oma?" Tanya Daffa
Mengangguk pelan sekarang Sahara jadi takut dimarahi Tania.
"Iya Daddy yang ada banyak bunganya jadi sekarang bunganya rusak." Kata Sahara dengan isakan kecil
"Memang Ara mainnya hanya sendirian?" Tanya Fahisa
"Emm sendirian soalnya Oma pergi ke pasar." Kata Sahara
Setelah selesai diobati Sahara beralih ke Daffa dan memeluk pria itu dari samping, dia takut.
"Daddy nanti Ara dimarahi Oma tidak?" Tanyanya takut
"Kenapa dimarahi hmm?" Tanya Daffa
"Soalnya tanamannya rusak karena Ara tabrak pake sepeda." Kata Sahara
Mendengar hal itu Daffa dan Fahisa hanya bisa menahan tawanya, mungkin anak ini tidak tau jika mereka tidak akan pernah bisa marah dengannya.
"Tidak sayang Oma tidak akan marah, sudah jangan takut hmm?" Kata Daffa
"Tapi, nanti kalau Oma lihat tanamannya rusak dia marah." Kata Sahara masih dengan ketakutan yang sama
Bukan tanpa alasan sebenarnya, tapi Sahara pernah melihat wanita paruh baya itu memarahi salah satu pekerja saat salah satu tanamannya mengering dan mati.
"Tidak Ara tenang saja Oma tidak akan marah." Kata Fahisa
"Tenang saja ya? Ada Daddy sama Mommy." Kata Daffa
Mendongakkan kepalanya Sahara menatap keduanya bergantian lalu mengangguk singkat dan kembali memeluk Daffa.
"Tangannya masih sakit tidak?" Tanya Daffa sambil mengusap lembut rambut hitam anaknya
"Sudah tidak, tapi pas diobati sama Mommy tadi sakit sekali." Kata Sahara
"Lain kali jangan main sendirian ya sayang minta temani sama Mommy atau sama Bibi saja hmm?" Kata Daffa
Mengangguk singkat Sahara mengeratkan pelukannya dan dalam hati dia masih merasa sedikit takut.
Tania memang begitu menyukai bunga sejak dulu dia suka bercocok tanam makanya di rumah terdapat taman yang cukup besar di belakang dan taman kecil di halaman depan rumah.
Saat ada tanamannya yang rusak atau mati dia akan mengomel, tapi hanya omelan singkat.
Hanya saja bagi Sahara yang tidak pernah dimarahi itu adalah hal yang menakutkan.
¤¤¤¤
Suara Tania di halaman belakang sesaat setelah wanita itu kembali dari pasar membuat Sahara yang sedang menikmati camilannya sambil menonton tv segera berlari ke kamar orang tuanya. Saat membuka pintu dengan cukup kuat Sahara mengejutkan kedua orang tuanya yang sedang mengobrol.
"Mommy benar kan Oma akan marah." Kata Sahara takut
"Tidak Ara..."
Belum sempat menyelesaikan perkataannya Sahara sudah kembali bicara dan memotong perkataan Daffa.
"Oma di taman belakang terus dia marah, Daddy bagaimana kalau Ara dimarahi?" Tanya Sahara dengan takut
"Tidak akan Ara sudah kamu disini saja biar Daddy yang menghampiri Oma." Kata Daffa
Baru saja membuka pintu kamarnya suara Tania yang sedang mengomel terdengar membuat Sahara langsung memeluk Fahisa dengan wajah takut dan mata berkaca.
"Mommy Ara pasti akan dimarahi." Katanya takut
"Ya ampun kalian ini bagaimana bisa jadi begitu? Astaga tanamannya sudah seperti habis ditabrak saja, kalian ini menjaganya dengan baik atau tidak?" Omel Tania
Menghela nafasnya pelan Daffa langsung menutup pintu kamar dan menghampiri Tania yang sekarang sedang duduk masih sambil mengomel dengan dua orang yang biasa ditugaskan untuk mengurus taman.
"Mami"
"Daffa! Kamu tau?! Tanaman Mami rusak sudah seperti ditabrak sesuatu astaga bahkan merawatnya sangat sulit." Kata Tania dengan penuh kekesalan
"Mami sudah nanti beli lagi...."
"Beli lagi apa? Tanaman itu sudah besar Daffa dan merawatnya itu sangat susah perlu waktu lama untuk membuatnya seperti itu." Gerutu Tania
"Mami dengar dulu." Kata Daffa membuat Tania berhenti dan menatapnya dengan alis bertaut
"Tadi Ara main sepeda dan dia menabrak tanaman Mami makanya bisa sampai rusak begitu, sekarang dia jadi takut kalau dimarahi sama Mami." Jelas Daffa
"Ara? Apa dia baik-baik saja sekarang? Bagaimana bisa dia jatuh? Apa tidak ada yang menjaganya disana? Apa ada yang terluka?" Tanya Tania bertubi-tubi
Lihat kan!
Jika sudah menyangkut Sahara pasti Tania akan merasa begitu khawatir dia bahkan sudah melupakan tanaman yang hampir hancur itu.
"Hanya siku nya saja Mi dan sekarang dia ada di kamar Daffa karena takut dimarahi sama Mami." Kata Daffa
Berdecak kesal Tania langsung berdiri dan hendak menghampiri cucunya.
"Dasar anak itu mana mungkin Mami bisa marah sama dia." Kata Tania membuat Daffa ikut tersenyum mendengarnya
Saat membuka pintu kamar Tania dapat melihat cucunya yang sedang memeluk Fahisa dari samping dan ketika dia memanggil Sahara anak itu langsung mengeratkan pelukannya.
"Ara cucu Oma"
"Mommy lihat kan Oma akan marah sama Ara." Kata Sahara
Mengusap lembut rambut hitam anaknya Fahisa menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap sang mertua yang berjalan mendekati mereka.
"Ara tadi jatuh? Mana Oma lihat tangannya." Kata Tania sambil menyentuh tangan Sahara
"Tidak mau! Oma mau marahin Ara kan? Oma jangan marah tadi Ara tidak sengaja." Kata Sahara tanpa mau melihat wajah Tania
"Siapa yang mau marah? Oma? Tidak sayang mana mungkin Oma marah sama cucu kesayangan Oma." Kata Tania dengan lembut
Melepaskan pelukannya Sahara menatap Tania yang kini sedang tersenyum manis kearahnya.
"Mana tangannya? Sini Oma lihat, sudah diobati belum?" Tanya Tania lagi
Menunjukkan sikunya yang sudah diplaster Sahara mengangguk singkat.
"Sudah diobati sama Mommy." Kata Sahara
"Bagaimana bisa jatuh hmm?" Tanya Tania sambil mengusap puncak kepalanya dengan sayang
"Karena main sepedanya kebut terus nabrak tanaman Oma dan jatuh kena batu jadinya berdarah." Kata Sahara
"Lain kali jangan main sendirian hmm?" Kata Tania yang dijawab dengan anggukan oleh Sahara
"Tapi, Oma tidak marah kan sama Ara?" Tanya Sahara lagi
Tertawa kecil Tania menggelengkan kepalanya membuat cucunya itu tersenyum lebar lalu bergerak untuk memeluknya.
"Sayang Omaa"
Memang tidak ada yang bisa marah dengan Sahara kecil yang terlihat begitu polos dan menggemaskan.
¤¤¤¤
Semakin dekat hari kelahiran si kembar dan dokter memperkirakan sekitar satu minggu lagi, mendengar kabar itu tentu saja telah membuat seluruh keluarga besar Wijaya bahagia dan selama itu juga Fahisa hanya terus berdiam diri di dalam rumah. Saat ini Fahisa sudah dilarang melakukan apapun bahkan pekerjaan sekecil apapun itu dia tetap tidak boleh dan kebanyakan harinya dia habiskan di dalam kamar atau ruang keluarga.
Selain itu Daffa juga sudah tidak pernah pergi ke kantor lagi dia memilih untuk menjaga sang istri di rumah dan tentu saja keputusan itu membuat Fahisa begitu bahagia.
Selama menanti hari kelahiran yang begitu didambakan baik Fahisa ataupun Daffa sama-sama merasa berdebar, ada rasa bahagia yang bercampur dengan rasa takut juga khawatir.
Daffa takut jika sesuatu terjadi dengan istrinya.
Fahisa takut karena ini yang pertama kali baginya.
Tapi, tetap saja Fahisa sangat bahagia dan tidak sabar.
"Sayang kamu mau makan apa siang ini?" Tanya Daffa yang membuat Fahisa sedikit tersentak dari lamunannya
"Apa saja yang sudah dimasak Mami." Kata Fahisa sambil tersenyum manis
Mendudukkan dirinya disebelah sang istri Daffa mengusap perut buncit itu dengan lembut lalu menciumnya berkali-kali.
"Selamat siang sayangnya Daddy." Bisik Daffa di depan perut istrinya
Tersenyum senang Fahisa ikut mengusap perut buncitnya dengan sayang.
"Apa mereka masih suka menendang?" Tanya Daffa
"Tidak, biasanya hanya ketika malam saja." Kata Fahisa sambil tersenyum kecil
"Mereka pasti sangat tidak sabar untuk bertemu Daddy nya yang tampan ini." Kata Daffa membuat Fahisa tertawa kecil ketika mendengarnya
"Tampan apanya." Kata Fahisa dengan tawanya
Mendongakkan kepalanya Daffa mengapit hidung Fahisa dengan gemas membuat istrinya itu mengerucutkan bibirnya kesal.
"Aku ini tampan sayang makanya kamu cinta mati sama aku kan?" Kata Daffa yang kembali mengundang tawa Fahisa
"Percaya diri sekali suamiku ini." Kata Fahisa sambil menangkup wajah tampan Daffa
Tersenyum lebar perlahan Fahisa mendekatkan wajahnya lalu mengecup singkat bibir suaminya.
"Kenapa hanya sebentar?" Tanya Daffa
Berdecak kesal Fahisa mencubit gemas pipi pria itu lalu mencoba untuk bangkit karena ia sudah merasa lapar.
"Karena aku sudah lapar"
Tersenyum senang Daffa segera membantu istrinya itu dan menuntunnya ke ruang makan.
Dia sangat senang melihat Fahisa sekarang.
"Hati-hati sayang"
Perhatian kecil Daffa yang selalu berhasil membuat Fahisa melayang.
¤¤¤¤