Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Tigapuluh delapan



"Bagaimana bisa dia kabur?! Kalian ini bekerja dengan benar atau tidak?!"


Teriakan itu menggema di rumah besar keluarga Wijaya sesaat setelah Daffa pulang untuk mengganti pakaiannya dia dikejutkan dengan sebuah laporan bahwa seorang pegawai wanita telah kabur dari rumah dan fakta itu membuat emosi Daffa kembali tersulut. Sekarang semua sudah jelas dan sudah dipastikan jika Tanti wanita yang kabur itu pasti yang telah mencampuri sesuatu di makanan Fahisa.


Mengacak rambutnya frustasi Daffa menatap mereka semua dengan begitu tajam, tidakkah mereka mengerti jika kepalanya sudah sangat penuh sekarang?


"Aku benar-benar akan membunuh kalian semua kalau sampai wanita itu tidak ditemukan! Cari dia di semua tempat dan bawa dia kehadapanku secepat mungkin!" Perintah Daffa


Kacau!


Fikiran Daffa sudah sangat kacau dan sekarang yang dia butuhkan adalah kamarnya, dia butuh kesendirian. Memasuki kamar itu Daffa mendudukkan dirinya di lantai dan bersandar pada sisi ranjang.


Semua ingatannya melayang kepada Fahisa.


Masih sangat jelas setiap momen yang mereka jalani bersama dan salah satu momen yang paling membekas di ingatannya adalah ketika untuk pertama kali mereka mendengar detak jantung kandungan Fahisa, bahkan suaranya masih bisa Daffa ingat.


Dia juga masih sangat ingat beberapa pakaian dengan warna netral yang telah Fahisa beli ketika mereka pergi ke mall atau kebahagiaan Fahisa yang beberapa minggu kemarin terus mengatakan hal yang sama dengan senyum yang mengembang.


'Aku tidak sabar ingin melihatnya, mendengar tangisnya, dan menggenggam tangan mungil itu dengan tanganku'


Tanpa sadar air mata Daffa turun begitu saja dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa reaksi Fahisa nantinya?


Bagaimana cara dia menyampaikan semuanya?


Kepada Fahisa, Tania, dan Sahara yang masih terlalu kecil untuk mengerti semuanya.


Menghela nafasnya panjang Daffa menghapus jejak air matanya dan segera bangkit lalu bergegas kembali ke rumah sakit. Semua harus dia hadapi tidak perduli apapun itu dia akan berusaha menjelaskan semuanya.


¤¤¤¤


Wajah penuh ketakutannya sama sekali tidak di pedulikan oleh wanita di hadapannya padahal ini semua terjadi karena wanita itu, perintahnya membuat dia berada dalam bahaya. Rasa takut benar-benar menguasai wajah Tanti karena dia yakin jika tidak segera pergi dia akan tertangkap, tapi wanita sialan ini sama sekali tidak ingin membantunya.


"Kamu yang bodoh! Kenapa harus kabur?! Dengan kabur seperti ini kamu malah membuat semuanya berantakan!" Bentaknya


"Lalu saya harus bagaimana?! Anda bilang akan melindungi saya." Kata Tanti


Menghela nafasnya kasar wanita itu memberikan kunci apartemennya kepada Tanti dan menyuruhnya untuk tinggal disini sementara waktu.


"Tinggallah disini dan jangan pernah keluar bahkan sedetikpun aku akan mencari jalan keluarnya." Kata wanita itu sambil berlalu pergi


Terduduk dengan lemas Tanti benar-benar merasa menyesal atas apa yang sudah dia lakukan, semua salah seharusnya dia tidak pernah melakukannya.


Tapi, dia sudah berusaha menolak hanya saja wanita itu terus memaksanya dan mengatakan akan membayarnya dengan mahal serta melindunginya jika terjadi sesuatu.


Sebelumnya wanita itu juga mengatakan jika tidak akan terjadi hal buruk, tapi ternyata semua itu bohong.


Fahisa, wanita baik dan tidak berdosa itu telah menanggung semuanya dia merasa kesakitan serta hampir kehilangan anaknya.


Kenapa dia bisa begitu bodoh?


Fahisa sangat baik mereka pernah berbincang beberapa kali, tapi dengan jahatnya dia menuruti perintah seseorang yang ternyata berniat mencelakai Fahisa.


Terisak Tanti benar-benar merasa menyesal semua ini dia lakukan demi uang padahal jika dia mau majikannya pasti akan memberinya lebih, tapi dengan bodohnya dia malah melakukan sebuah kejahatan.


Kejahatan yang tidak termaafkan.


¤¤¤¤


Kesakitan yang dialami Fahisa kembali datang dan kali ini lebih hebat lagi hingga menyebabkan ada darah yang mengalir. Kejadian itu sontak saja membuat Tania juga Sahara merasa sangat khawatir melihat Fahisa yang merasa begitu kesakitan dan ketika dia di bawa oleh Dokter dan beberapa perawat Sahara langsung menangis sambil memanggil-manggil nama Fahisa.


"Ara sudah ya? Jangan menangis Mommy akan baik-baik saja." Kata Daffa sambil menghapus air mata anaknya


"Daddy... takutt." Isak Sahara


"Ara sama Tante Dara ya? Daddy akan pergi menemui Mommy." Kata Daffa dengan senyuman tipisnya


Rasa sedih menguasai diri Dara ketika melihat adiknya yang nampak begitu sedih dan dengan segera dia mendekat lalu membawa Sahara kedalam dekapannya, menenangkan anak kecil itu dengan usapannya lalu membawa Sahara menjauh dari sana. Setelah anaknya pergi bersama Dara dia menghampiri Tania lalu memeluk wanita paruh baya itu dengan erat, semuanya sudah diputuskan.


"Mami maaf karena Daffa egois." Kata Daffa


"Ada apa Daffa?" Tanya Tania pelan


"Aku menyelematkan Fahisa, tapi tidak dengan bayi kami." Kata Daffa membuat Tania terdiam dengan jantung yang berdetak dengan cepat


"Dokter bilang mempertahankan bayinya hanya akan membahayakan mereka berdua, Mami Daffa tidak mau kehilangan Fahisa." Kata Daffa


Merasa sesak dengan semua perkataan anaknya Tania langsung memeluk Daffa dengan begitu erat memberinya kekuatan untuk menghadapi semuanya.


"Mami akan dukung semua keputusan Daffa, sudah semua akan baik-baik saja." Kata Tania berusaha menenangkan Daffa


"Mami apa yang akan Daffa katakan kepada Fahisa dan Sahara nanti?" Tanyanya pelan


Melepaskan pelukannya Tania menangkup kedua pipi Daffa dan menatapnya sambil tersenyum tipis. Sama sekali tidak ada air mata disana, tapi Tania sangat tau jika anaknya itu merasa sangat sedih dan kacau.


"Kamu harus kuat Daffa"


¤¤¤¤


Ketakutan yang teramat besar telah menguasai diri Daffa dia tidak tau apa yang dilakukannya adalah benar atau tidak, tapi yang Daffa tau dia tidak mau kehilangan Fahisa karena Daffa tidak akan sanggup. Dia sangat tau dan sadar jika akan sulit untuk menjelaskan serta membuat Fahisa mengerti semuanya, tapi dia akan memikirkan hal itu nanti karena yang terpenting istrinya akan baik-baik saja.


Bukan tanpa alasan Daffa memilih untuk menyelamatkan Fahisa, tapi karena dokter juga mengatakan bahkan jika mereka mencoba untuk mempertahankan bayinya kecil kemungkinan bayi itu bisa selamat sebaliknya nyawa keduanya yang akan semakin terancam.


Apa keputusannya salah?


Daffa tidak lagi perduli apapun dia hanya tidak bisa untuk kehilangan lagi, kekuatannya sudah hilang dia sudah tidak sekuat dulu.


Saat tengah melamun Daffa secara refleks berdiri ketika dokter keluar dari ruang operasi dan tanpa basa-basi Daffa langsung menanyakan keadaan istrinya.


"Apa semua baik-baik saja? Bagaimana dengan istri saya?" Tanya Daffa


"Bayi yang ada di dalam kandungannya sudah tidak lagi bernyawa ketika pendarahan hebat yang di alami nona Fahisa, tapi kami berhasil menyelamatkan istri anda dan untuk lebih lanjut lagi kita akan bicara di ruangan saya." Kata Dokter itu sambil berlalu pergi


Sekarang semuanya sudah selesai.


Memundurkan tubuhnya Daffa menyandar pada dinding kokoh rumah sakit lalu memejamkan matanya berusaha menerima semua yang sudah terjadi. Rasanya Daffa ingin menangis, tapi dia tidak bisa dan yang bisa Daffa lakukan hanyalah menahan rasa sakit juga sesak yang dirasakannya.


Remasan di pundaknya membuat Daffa mendongak dan mendapati Tania yang langsung memeluknya dengan erat. Berada di dalam pelukan Maminya Daffa berkali-kali menghela nafasnya pelan.


Dia bersumpah tidak akan pernah memaafkan dan akan menghukum orang yang sudah melakukan ini semua.


"Daffa dia harus dikuburkan"


Sekali lagi...


Sekali lagi Daffa harus menguburkan orang yang sangat disayanginya.


'Fahisa maaf karena harus membuat hal ini terjadi'