
Satu rumah dibuat panik sesaat setelah sarapan dan Sahara berangkat sekolah Fahisa terus muntah-muntah dan mengeluh sakit kepala membuat Tania jadi cemas bukan main, apalagi ketika menantunya itu menangis sambil memegangi perutnya. Akhirnya dengan terburu-buru Tania membawa menantunya itu pergi ke rumah sakit dan selama perjalanan Fahisa masih terus mengeluh sakit juga menangis dengan tangan yang menggenggam tangan Tania begitu erat.
Tangan Fahisa terasa begitu dingin dan juga berkeringat dan dengan cemas satu tangannya yang lain Tania angkat untuk menyentuh dahi Fahisa yang ternyata sangat panas. Tentu saja hal itu menambah kepanikannya dan meminta Hadi untuk lebih cepat, tapi sayangnya entah kebetulan atau apa hari yang masih cukup pagi membuat jalanan sangat padat.
"Mami sakit sekali Mii." Lirih Fahisa
"Sabar ya sayang kita akan segera sampai ke rumah sakit, tenanglah tidak akan terjadi apa-apa." Kata Tania dengan lembut berusaha menenangkan Fahisa
Saat sampai di rumah sakit Fahisa langsung dibawa untuk diperiksa dan Tania menunggu dengan cemas di depan sambil berusaha menghubungi Daffa yang masih belum mengangkat telponnya. Mungkin anaknya itu sedang ada rapat dan ponselnya dimatikan atau tidak diberi nada, tapi tetap saja Tania merasa kesal karena begitu sulit untuk menghubungi anaknya.
Akhirnya karena tidak bisa menghubungi Daffa dia mengirimkan sebuah pesan lalu Tania mencoba mengingat tentang apa yang telah di makan oleh Fahisa pagi ini atau kemarin, tapi Tania tidak menemukan sesuatu yang aneh. Semua makanan juga minuman yang Fahisa minum semua berdasarkan sepengetahuan Tania dan semua adalah masakan rumah.
Saat ponselnya berdering tanpa fikir panjang Tania langsung menjawabnya dan dia langsung disambut oleh suara penuh kecemasan anaknya disebrang sana.
'Mami Fahisa kenapa? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit? Apa dia memakan sesuatu yang salah? Apa Fahisa jatuh atau bagaimana?'
"Mami tidak tau Daffa setelah sarapan Fahisa terus muntah-muntah dan merasa pusing lalu dia menangis karena sakit badannya juga sangat panas." Kata Tania sama cemasnya
'Mami aku akan pulang sekarang....'
Tania tidak lagi mendengar apa yang Daffa katakan karena dia baru saja melihat dokter yang memeriksa Fahisa keluar dan Tania langsung bergegas menghampirinya.
"Dokter bagaimana dengan anak saya dan kandungannya? Apa mereka baik-baik saja?" Tanya Tania
Dokter itu terdiam dan menatap Tania dengan pandangan yang sulit diartikan membuat wanita paruh baya itu jadi semakin cemas, merasa takut jika sesuatu yang buruk sudah terjadi.
"Anak anda harus dirawat dan untuk lebih jelasnya mari kita bicarakan di ruangan saya." Kata wanita dengan setelan jas putihnya
Dengan penuh kecemasan Tania mengikuti dokter itu ke ruangannya dan dalam hati Tania berharap jika menantunya akan baik-baik saja.
Memasuki ruangan Tania semakin merasa takut untuk mendengar apa yang akan disampaikan. Setelah duduk dokter itu menatap lurus ke arah Tania lalu mulai berbicara tentang keadaan Fahisa.
Pembicaraan yang setiap katanya membuat Tania merasa marah dan juga menyesal.
Siapa?
Siapa orang yang berusaha melakukan itu semua kepada menantunya?
¤¤¤¤
Setelah mendapat telpon dengan terburu-buru Daffa langsung pergi meninggalkan kantor dan meninggalkan rapat yang akan diadakan satu jam dari sekarang dia sudah memesan tiket pesawat, tapi sialnya dia mendapat tiket untuk penerbangan siang hari hanya saja Daffa tetap kembali ke hotel untuk mengemasi semua barang-barangnya. Melihat Daffa yang sangat cemas membuat Jira jadi penasaran dan mengikuti langkah pria itu lalu menahan langkahnya.
Sedikit tersentak Jira memundurkan tubuhnya saat tangannya ditepis oleh Daffa dan ketika pria itu menoleh Jira mulai bicara.
"Kakak mau kemana? Rapatnya satu jam lagi." Kata Jira
"Aku akan ke hotel untuk mengemasi semua barangku dan siang ini aku akan pulang." Kata Daffa membuat Jira menatapnya dengan kaget
"Tapi, kenapa?" Tanya Jira
"Fahisa masuk rumah sakit Jira dan aku harus segera pulang! Aku bisa gila jika harus menghadiri rapat sedangkan istriku saat ini berada di rumah sakit." Jawab Daffa membuat Jira terdiam di tempatnya
Menghela nafasnya pelan Daffa menatap Jira sekilas lalu mengatakan sesuatu sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dengan terburu-buru.
"Pulanglah ketika semua sudah selesai kalau kamu takut hubungi saja temanmu dan menginap disana, masalah rapat jangan khawatir aku akan mengabari yang lainnya nanti." Kata Daffa
Mengangguk pelan Jira terus memandangi punggung Daffa yang semakin menjauh lalu menghilang ketika memasuki lift. Mendadak dia merasa begitu sesak melihat bagaimana Daffa begitu mengkhawatirkan Fahisa.
Daffa pasti sangat mencintai Fahisa.
Menghela nafasnya pelan Jira langsung berbalik dan berjalan dengan tatapan lurus kedepan. Semua sudah berakhir rasa cintanya harus dia kubur dalam-dalam dan secepatnya Jira harus melupakan Daffa.
Sebelum niat jahatnya muncul, lagi.
Di sisi lain Daffa yang sekarang sedang berada di dalam taxi mencoba menghubungi Tania, tapi telponnya tidak di angkat. Dia tidak bisa seperti ini jantung Daffa berdetak dengan begitu cepat, dia merasa sangat takut dan terus memikirkan banyak hal buruk.
Berkali-kali mencoba akhirnya di panggilan ke-enam telponnya diangkat dan hal itu membuat Daffa menghela nafasnya lega.
"Mami bagaimana? Apa dokternya sudah bicara? Bagaimana keadaan Fahisa Mi?" Tanya Daffa dengan cepat
Terdiamnya Tania disebrang sana malah membuat Daffa semakin cemas dan terus mendesak agar Tania mengatakan yang sejujurnya.
Terdengar helaan nafas yang cukup panjang sebelum akhirnya Tania hanya berbicara kalimat yang begitu singkat, tapi berhasil membuatnya semakin kalut.
'Daffa Mami tidak bisa mengatakannya ditelpon, cepat datang kesini'
Dan Tania mengatakannya dengan suara bergetar.
Ada apa?
¤¤¤¤
Saat ini Fahisa sudah berada di dalam ruangan dengan selang infus di tangannya dan dia masih tertidur karena obat. Menggenggam tangan menantunya itu dengan lembut Tania terus berfikir tentang siapa yang mau mencelakai Fahisa.
Apa salah Fahisa?
Mengingat perkataan dokter tadi membuat Tania jadi merasa sangat marah pada orang yang sudah berusaha mencelakai menantu juga cucunya.
"Mami"
Suara lirih itu membuat Tania mendongak dan menatap Fahisa yang ternyata sudah sadar, senyumnya langsung terbentuk saat menantunya itu menatap matanya.
"Apa ada yang sakit?" Tanya Tania masih cukup cemas
Fahisa menggelengkan kepalanya pelan lalu tangannya perlahan menuju perut buncitnya dan mengusap dengan perlahan, dia takut sekali terjadi sesuatu pada bayinya.
"Apa dia baik-baik saja Mi?" Tanya Fahisa takut
"Emm cucu oma sangat baik kata dokter dia sangat kuat." Kata Tania sambil tersenyum menenangkan
"Mami Hisa kenapa? Kenapa perut Hisa sakit sekali? Apa terjadi sesuatu yang buruk?" Tanya Fahisa masih dengan wajah takutnya
Sekali lagi Tania benar-benar sangat marah pada orang yang berusaha mencelaki menantunya yang begitu baik hati dan polos. Tersenyum lebar Tania mengusap rambut hitam Fahisa dengan penuh kasih sayang.
"Tidak ada sayang, sudah jangan difikirkan ya? Tidak baik untuk kesehatan bayi kamu." Kata Tania yang diangguki pelan oleh Fahisa
Meskipun sebenarnya Fahisa tidak percaya, tapi dia akan berhenti bicara karena Tania memang benar dia harus berhenti berfikir karena hal itu tidak baik untuk kesehatan bayinya.
"Daffa akan segera pulang, Mami sudah telpon dia"
Sekali lagi Fahisa hanya menganggukkan kepalanya dan tidak memberikan tanggapan apapun.
¤¤¤¤
Saat selesai mengemasi barang-barangnya Daffa dikejutkan dengan kedatangan Jira yang tiba-tiba memasuki kamarnya tanpa permisi lalu saat Daffa berniat menghampirinya Jira sudah lebih dulu memeluknya, dengan cukup erat. Secara refleks Daffa langsung mendorongnya untuk menjauh dan menatap Jira dengan marah, tapi dia dibuat terkejut dengan wajah Jira yang menatapnya dengan penuh kesedihan.
Seperti yang pernah Daffa katakan karena Jira sudah seperti adiknya sendiri dia merasa khawatir dan langsung bertanya kepada Jira.
"Ada apa Jira?" Tanya Daffa
"Kak aku tidak bisa Kak." Kata Jira tiba-tiba membuat Daffa mengerutkan dahinya bingung
Belum sempat bertanya Jira sudah kembali memeluknya dengan begitu erat dan mengatakan kalimat yang sekali lagi Daffa tidak suka mendengarnya.
"Kak aku mencitai Kakak aku tidak bisa melupakan Kakak sampai sekarang, maafin Jira." Kata Jira sambil terus memeluknya
"Jira sudah aku katakan bahwa aku tidak bisa mencintai kamu." Kata Daffa sambi berusaha melepaskan pelukannya
"Tapi kakak mencintai Fahisa! Dia bahkan baru satu tahun mengenal Kakak, tapi Kakak mencintai dia! Kenapa? Kenapa aku tidak?" Tanya Jira
"Karena kamu adik aku Jira bahkan meskipun kamu berusaha sampai kapanpun itu bagi aku kamu akan tetap menjadi adik aku, Jira adiknya Daffa dan selamanya akan tetap begitu." Kata Daffa dengan tegas
Mengambil kopernya Daffa yang ingin keluar dibuat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Jira yang menahannya lalu menciumnya dan hal itu membuat Daffa refleks mendorongnya dengan cukup kuat.
"Apa yang kamu lakukan Jira?!"
"Kak aku mencintai Kakak sungguh." Kata Jira sambil menatapnya dengan sedih
"Tapi, aku mencintai Fahisa! Berhentilah Jira aku tidak mau membenci kamu." Kata Daffa membuat Jira terdiam
Semua sudah benar-benar berakhir.