
Flashback On
Ditatapnya batu nisan dimana orang yang ia cintai bersemayam dia membiarkan angin menerpa tubuhnya tidak perduli jika cuaca sedang tidak baik karena dia hanya ingin disini memandangi nisan yang baru beberapa hari lalu menetap. Matanya mulai menggelap karena genangan air mata dia ingin menangis, tapi terus menahannya tidak membiarkan setetes air matanya jatuh.
Harusnya mereka sedang berbahagia karena kehadiran anak pertama mereka, tapi ternyata yang dia rasakan adalah rasa sakit karena harus melihat istrinya yang meregang nyawa setelah berhasil melahirkan anak mereka. Sudah tiga hari sejak Renata dimakamkan dan Daffa masih setia mengunjunginya pria itu akan membawa bunga dan berdiam diri disana untuk waktu yang lama.
"Nata kamu ninggalin aku"
Kalimat itu adalah kalimat yang sama yang dia ucapkan setiap kali datang kesini, Renata meninggalkannya. Dia tidak tau apa yang bisa menggambarkan kesedihannya sekarang karena rasanya benar-benar menyakitkan.
Seandainya tidak ada anaknya mungkin dia akan memilih untuk tiada.
Lebay mungkin, tapi dia dan Renata sudah mengenal sejak kecil mereka tumbuh bersama, sekolah di tempat yang sama, dan menikah serta hidup bersama selama bertahun-tahun. Rasanya sangat sulit untuk terbiasa tanpa Renata, sulit dia bahkan tidak tau apakah akan mampu, tapi harus Daffa harus mampu bertahan demi anak mereka.
"Kamu bilang kita akan sama-sama sampai kita tua lalu menyaksikan anak kita yang akan tumbuh dewasa, tapi kamu ninggalin aku bahkan kamu belum sempat melihat wajahnya,"
Rasanya sangat menyakitkan dia berbicara sendiri berharap jika Renata akan mendengarnya, mendengar semua kesedihannya.
"Nata, aku harus bilang apa jika dia sudah mulai besar? Apa yang akan aku jelaskan kepadanya?"
Bahkan Daffa tidak bisa membayangkannya dia terus berfikir hal-hal seperti itu dia juga memikirkan jawaban yang harus diberikan nantinya.
"Renata, apa aku sanggup melewati ini semua?"
Tidak ada jawaban bahkan Daffa sendiri tidak bisa menemukan jawabannya.
Apa dia akan bisa bertahan atau tidak?
Menghela nafasnya pelan Daffa mengusap nisan itu dengan lembut lalu beranjak dari sana untuk segera pulang dan menemui penyemangatnya. Menemui satu-satunya alasan yang membuatnya terus bertahan sampai sekarang.
Saat sampai di rumah Daffa dapat melihat Tania yang sedang menjaga anaknya, dia tengah tertidur dengan sangat pulas. Langkahnya gontai saat Daffa menghampiri mereka dan ketika Tania menyadari kehadiran Daffa dia memeluk anaknya dengan erat, Tania sangat tau betapa sedihnya Daffa.
"Dia sudah tidur?" Tanya Daffa
"Sudah sejak tadi sekarang kamu yang harus istirahat." Kata Tania
Anaknya semakin memeluk dengan erat seolah menyalurkan kesedihannya dia tidak menangis, tapi Tania sangat tau jika hati anaknya sangat hancur. Daffa terlihat seperti orang yang telah kehilangan arahnya dia bersyukur dengan kehadiran Sahara.
"Istirahat Daffa Mami gak mau kamu sakit." Kata Tania sambil melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi anaknya
Hatinya teriris melihat besarnya lingkar hitam di mata anaknya bahkan sekarang wajahnya agak pucat dan senyumannya menghilang, anaknya yang ceria sudah menghilang. Dia tidak tau sampai kapan mereka akan menghadapi ini semua dan sampai kapan Daffa bisa menyembuhkan lukanya.
"Bahkan Daffa sudah tidak bisa merasakan sakit Mi rasanya Daffa sudah hancur." Lirihnya
"Demi Sahara Mami mohon kuatlah untuk Sahara dia butuh kamu Daffa." Kata Tania
Daffa memang hancur, tapi dia tidak boleh membiarkan Sahara merasa lebih hancur karena kehilangan kedua orang tuanya.
Saharanya harus bahagia.
Flashback Off
¤¤¤¤
Memijat dahinya yang terasa pusing saat ini Daffa berada di kamarnya yang dulu dan meninggalkan Fahisa yang sekarang sedang bersama Mami juga Sahara. Perasaannya mendadak jadi tidak karuan dia ingin menjelaskan kepada Fahisa, tapi dia bingung harus memulainya dari mana.
Secara bergantian ingatan akan Renata menghampirinya Daffa merasa bingung, dia sudah mengikhlaskan Renata hanya saja ada perasaan ragu di hatinya tentang Fahisa.
Daffa menyayangi Fahisa dan dia sangat yakin untuk hal itu perasaannya nyata Daffa bisa merasakannya.
Daffa sudah terbiasa dengan kehadiran Fahisa dan merasa nyaman berada di dekatnya.
Dia hanya butuh waktu untuk memastikan cintanya kan?
"Daf kamu serius kan? Dia masih cukup muda Mami harap kamu tidak menikahi dia hanya karena Sahara, tapi juga karena kamu mencintai dia"
Perkataan Tania saat dia mengatakan akan melamar Fahisa masih sangat jelas di ingatannya. Awalnya dia berniat menikah memang hanya untuk Sahara, tapi ternyata seiring berjalannya waktu Daffa malah semakin jatuh kedalam perasaan yang selama ini dihindarinya.
Fahisa telah membuatnya jatuh untuk yang kedua kalinya.
Sifat malu-malu dan wajah memerahnya adalah candu bagi Daffa. Saat ini harapan yang Daffa miliki hanya satu.
Dia dan Fahisa akan selalu bahagia.
Suara pintu kamarnya yang di buka membuat Daffa tersadar dari lamunannya lalu menoleh dan mendapati Tania yang sedang berjalan menghampirinya. Memeluk Tania dengan cukup erat Daffa berkali-kali menghela nafasnya pelan membuat Tania merasa ada yang salah dengan anaknya.
"Apa terjadi sesuatu? Mami rasa harusnya kamu merasa senang sekarang karena istri kamu sedang hamil." Kata Tania
Daffa melepaskan pelukannya dia menatap wajah Tania dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Mi aku masih menyimpan semua hal tentang Renata bahkan aku menyimpan foto juga cincin pernikahan kami di dalam lemari kamarku." Kata Daffa membuat Tania menatapnya dengan cukup terkejut
"Fahisa tau?" Tanya Tania
"Sepertinya dia tau." Kata Daffa
Kali ini Tania menatapnya dengan tajam, apa yang anaknya ini fikirkan?
Sudah berkali-kali Tania mengatakan bahwa dia tidak melarang Daffa untuk menyimpan segala hal yang berkaitan dengan Renata, tapi bukan berarti menyimpannya di dalam kamar kan?
"Mi aku rasa aku harus menjelaskan banyak hal kepada Fahisa, aku sayang dia Mi,"
Tania dapat merasakan jika Daffa mengatakannya dengan tulus apalagi anaknya bicara sambil tersenyum.
"Daffa rasa Daffa sudah jatuh cinta lagi saat ini yang Daffa inginkan hanya berada di dekat Fahisa." Kata Daffa sambil tersenyum penuh arti
Mendengar kata itu keluar dari bibir anaknya membuat Tania merasa bahagia. Sudah lima tahun dia tidak lagi pernah melihat senyuman itu terukir di bibir Daffa dan hari ini dia melihatnya berkat Fahisa.
Semua bukan hal yang mudah Daffa mengalami banyak kesendirian selama lima tahun belakangan anak itu bahkan sering menyibukkan diri dengan urusan pekerjaan sampai membawa kerjaan itu pulang ke rumah. Memang Sahara masih di perhatikan anak itu mendapat kasih sayang, tapi tetap saja Tania juga menginginkan hal yang sama untuk anaknya.
Dia bahagia melihat Fahisa yang berhasil mendapatkan kembali hati Daffa membuat anaknya kembali bahagia tanpa luka di hatinya.
"Saat ini harapan Daffa adalah bisa terus hidup bersama Fahisa dan juga anak-anak kami." Kata Daffa lagi
"Daffa Mami senang mendengarnya dan Mami juga akan berdo'a semoga semua harapan juga keinginan anak Mami akan terpenuhi." Kata Tania sambil mengusap pipi anaknya dengan penuh kasih sayang
"Setiap orang berubah kan Mi? Dulu Daffa pernah janji bahwa Daffa tidak akan pernah jatuh cinta lagi kepada wanita selain Renata,"
Iya, Daffa memang pernah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa seumur hidupnya hanya akan ada Renata di hatinya.
"Tapi sekali lagi setiap orang berubah dan aku mengingkari semua perkataan yang pernah aku katakan,"
"Daffa kembali jatuh cinta kepada wanita selain Renata, tapi Daffa tidak menyesal"
"Sebaliknya Daffa malah bersyukur untuk rasa cinta yang kembali hadir di hidup Daffa."