
Malam ini akan ada makan malam bersama keluarga Renata dan hal itu sudah Daffa sampaikan kepada Mami juga istrinya, Tania setuju dia bahkan sangat bahagia karena sudah lama tidak bertemu dengan teman lamanya. Namun, Fahisa malah merasa takut jantungnya jadi berdetak dengan tidak karuan, dia tidak tau apa yang ada di fikirannya padahal ini hanya makan malam biasa.
Sejak tadi dia sudah bersiap dengan dress biru muda selutut dan rambut yang dibiarkan tergerai, wajahnya hanya dia beri sapuan tipis bedak juga lipstik berwarna merah muda. Saat ini Fahisa sedang berada di kamar Sahara dan membantu anak itu untuk bersiap-siap meninggalkan suaminya yang sekarang tengah bersiap di kamarnya.
"Mommy apa kita akan jalan-jalan?" Tanya Sahara
"Bukan jalan-jalan sayang kita akan makan malam dengan Oma." Kata Fahisa sambil menyisiri rambut Sahara
Mengangguk mengerti Sahara tersenyum saat melihat pantulan dirinya dan juga Fahisa di cermin.
Saat masih menyisiri rambut anaknya tiba-tiba pintu kamar Sahara terbuka dan menampakkan Daffa yang sekarang sudah siap, dia melangkahkan kakinya mendekat lalu mencium pipi Sahara.
"Sudah siap? Kita akan pergi ke rumah Oma sekarang." Kata Daffa
"Sudah Daddy." Kata Sahara sambil tersenyum
Daffa mengangguk lalu mengajak keluarga kecilnya itu untuk segera berangkat ke rumah Tania, tapi tiba-tiba Sahara menghentikan langkah kakinya dia merentangkan kedua tangannya sambil menatap Daffa dengan senyuman polosnya.
"Daddy mau gendong." Kata Sahara
Tertawa kecil Daffa membawa anak itu ke dalam gendongannya dan menggunakan tangan yang lainnya untuk menggenggam tangan Fahisa.
Mereka tampak seperti keluarga yang sangat sempurna dan bahagia.
¤¤¤¤
Memasuki kediaman keluarga Wijaya ternyata Rana juga Jira sudah sampai terlebih dahulu dan kedua orang itu tengah berbincang dengan Tania bahkan sesekali terdengar suara tawa. Sambil menggenggam tangan Fahisa dia mengajak istrinya itu untuk menghampiri Tania yang sekarang berada di ruang tamu.
Saat melihat anak juga menantunya datang Tania langsung beranjak dari tempat duduknya dan mencium mereka berdua tidak lupa dengan Sahara yang sekarang sedang berdiri di hadapannya dengan senyuman lebar. Memeluk Oma nya dengan sangat erat Sahara mengerutkan dahinya bingung saat melihat dua orang yang tidak dia kenal itu sekarang berdiri di dekatnya.
"Oma itu siapa?" Tanya Sahara sambil menunjuk keduanya
Berniat memeluk cucunya Rana di buat terkejut dengan Sahara yang menghindar dan malah mendekat kepada Fahisa. Tersenyum canggung Fahisa bingung harus berbuat apa dia rasa biar suaminya saja yang bicara pada Sahara.
"Mommy itu siapa? Ara takut." Kata Sahara dengan suara yang pelan, tapi tetap terdengar
Menatap Rana dengan tidak enak Daffa mendekati Sahara dan berusaha menjelaskan siapa kedua orang yang ada di dekatnya sekarang.
"Ara jangan takut sayang, dia Oma sama Tante nya Ara." Kata Daffa sambil tersenyum
Membawa anak itu kedalam gendongannya Daffa mendekat ke arah Rana dan juga Jira membiarkan kedua orang itu melihat Sahara lebih dekat. Tersenyum dengan penuh haru Rana tidak menyangka jika cucunya dudah sebesar ini dia sangat mirip dengan almarhum anaknya, mengobati kerinduannya dengan sosok Renata.
"Daddy Ara takut." Kata Sahara sambil memeluk leher Daffa dengan erat
"Maaf Mah dia agak takut kalau sama orang yang asing di ingatannya." Kata Daffa tidak enak
Rana dan Jira mengangguk mengerti bukan salah Sahara dia hanya anak kecil dan tidak mengerti apa-apa, tapi perlahan anak itu akan mengerti siapa dua orang di hadapannya sekarang.
"Bukan masalah Daffa dia pasti lupa terakhir kami kesini saat dia masih sangat kecil." Kata Rana sambil tersenyum
"Ara jangan takut, ayo dong salam dulu sama Oma dan Tante." Kata Fahisa yang berjalan mendekat ke arah Sahara
Anak itu menatap Fahisa dengan ragu dan Fahisa menganggukkan kepalanya membuat Sahara akhirnya luluh. Menurunkan diri dari gendongan Daffa anak itu berjalan menghampiri Rana dan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu begitu juga dengan Jira.
Merasa bahagia Rana membawa Sahara kedalam pelukannya hingga tanpa dia sadari air matanya turun. Sedangkan Sahara yang tadinya merasa takut sekarang mulai merasa tenang dan membalas pelukan yang dia dapatkan.
"Cucu Oma sudah besar." Kata Rana sambil mencium pipi Sahara cukup lama
Sahara tersenyum dan dengan ragu tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata di pipi Rana membuat wanita paruh itu tersenyum senang.
"Oma jangan nangis"
¤¤¤¤
Melihat hal itu Daffa panik dan langsung mengikuti Fahisa ke kamar mandi membantu istrinya itu dengan memijat tengkuknya pelan berharap dapat membuatnya lebih baik.
"Apa kamu baik-baik saja? Mungkin kamu harus ke kamar untuk istirahat." Kata Daffa yang tidak tega melihat Fahisa
Setela merasa lebih baik Fahisa membasuh mukanya dan berbalik untuk menatap suaminya, dia tersenyum. Senyuman yang mengatakan bahwa dia sekarang sudah baik-baik saja.
"Aku gak papa Mas cuman agak mual aja." Kata Fahisa
"Yakin? Kamu istirahat saja di kamar Fahisa." Kata Daffa dengan nada khawatirnya
Fahisa menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak perlu Mas, aku udah baik-baik saja"
Akhirnya meskipun ragu keduanya kembali ke ruang makan dan ketika mata Fahisa bertemu dengan mata milik Rana dia tersenyum canggung, entahlah Fahisa hanya merasa sedikit aneh. Merasa tidak berselera Fahisa tidak menghabiskan makanannya dan memilih untuk menyuapi Sahara yang duduk di sampingnya.
"Kamu tidak makan?" Tanya Rana kepada Fahisa
Tersenyum canggung Fahisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak Tante aku udah kenyang." Kata Fahisa
"Serius? Kamu bahkan baru makan beberapa sendok sayang." Kata Tania yang baru sadar jika makanan di piring menantunya itu masih sangat banyak
"Emm aku udah kenyang Mi." Kata Fahisa lagi
"Mungkin karena lagi hamil jadi dia tidak enak makan Mi." Kata Jira secara tiba-tiba
"Biasanya Fahisa lapar saat tengah malam Mi." Kata Daffa membuat Fahisa menatapnya dengan penuh kekesalan
Tania hanya tertawa kecil mendengarnya, mungkin ini masih awal dari kehamilan Fahisa dan tidak menutup kemungkinan jika semakin lama menantunya itu akan memiliki keinginan yang semakin aneh.
"Selamat ya untuk kehamilan kamu"
Fahisa tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas perkataan Jira, tapi dia merasa ada yang aneh.
Tatapan mata wanita itu berbeda.
¤¤¤¤
Setelah selesai makan malam mereka berkumpul di ruang tamu dan kembali berbincang, tapi kali ini tanpa Sahara karena anak itu sudah tidur di kamar lama Daffa. Selama obrolan itu terjadi Fahisa hanya diam dan menanggapi dengan seadanya karena dia tidak tau harus mengatakan apa.
"Kenapa kamu gak ngabarin aku sih Na? Mana gak bilang-bilang kalau mau pindah." Kata Tania dengan penuh kekesalan
"Aku pindah karena gak mau terlalu terfikiran tentang Renata, kamu tau sekali Nia gimana sayangnya aku sama Nata." Kata Rana dengan wajah sendunya
Ikut merasakan kesedihan Tania menepuk pelan pundak teman baiknya itu dan tersenyum menenangkan. Dia juga merasakan hal yang sama karena Renata memang sangat dekat dengan keluarga Daffa.
"Dulu aku juga sempat berfikir tentang Daffa aku takut kalau dia akan terlarut dalam kesedihannya seperti aku, tapi sekarang aku merasa senang karena Daffa sudah kembali mendapat kebahagiaannya." Kata Rana
Daffa tersenyum lalu meraih tangan Fahisa untuk digenggamnya dengan erat, dia juga bahagia memiliki Fahisa disisinya.
"Kita semua memang sangat terpukul dengen kepergian Renata, tapi seiring berjalannya waktu kita juga akan belajar untuk mengikhlaskan kepergiannya." Kata Tania
"Apa kalian akan pergi lagi setelah ini?" Tanya Daffa
"Tidak Kak kami sudah memutuskan untuk tinggal di sini lagi supaya lebih memudahkan untuk mengunjungi makam Kak Nata dan juga Papah." Kata Jira menjelaskan
Entah kenapa mendengar hal itu membuat Fahisa jadi merasa tidak tenang, dia tau tidak seharusnya dia merasa seperti ini hanya saja hatinya terus merasa tidak tenang.
Salah tidak jika dia tidak percaya dengan mereka?