
Suasana hati Ratu sekarang sangat buruk setelah kabar kehamilan Fahisa sampai ditelinganya, dia merasa marah dan tidak terima. Selama sesi pemotretan Ratu melakukan banyak kesalahan membuat sang fotografer menegurnya berkali-kali, tapi fokusnya yang sudah hilang membuat Ratu akhirnya meninggalkan tempat pemotretan begitu saja.
Sekarang dia berada di apartemen miliknya bersama dengan seorang pria yang merupakan teman baiknya. Pandangannya benar-benar kosong fikirannya juga sudah melayang entah kemana.
Ratu kacau dia marah karena mendengar kabar tersebut.
Seharusnya keluarga itu menderita bukan malah bahagia seperti sekarang.
Seharusnya dia sudah berhasil menghancurkan kebahagiaan itu sampai akarnya.
"Tu jangan bikin rencana buruk lagi!" Ingat pria itu kepada Ratu
"Wanita itu hamil dan kali ini anak mereka kembar, what the hell?! Gue gak bisa terima itu semua! Setelah Daffa ninggalin gue gitu aja sekarang dia bisa semudah itu bahagia?!" Kata Ratu dengan mata yang dipenuhi kemarahan
"Ratu lo harus bisa lupaiin itu semua, dia udah bahagia dan lo juga harusnya bahagia Tu jangan terus jadi wanita pendendam kayak gini." Kata dia yang sudah cukup lelah dengan semua sikap Ratu
"Gue bakal bahagia kalau dia menderita!" Kata Ratu dengan penuh penekanan
Menghela nafasnya panjang pria itu merasa lelah menghadapi sikap pendendam Ratu, dia fikir setelah kegagalan itu temannya akan berhenti ternyata dugaannya salah.
Dendam Ratu malah semakin besar.
"Ratu meskipun dendam lo terpenuhi nanti lo belum tentu akan merasa puas, lupaiin semuanya Tu dan mulai kehidupan lo seperti dulu lagi jangan kayak gini terus." Katanya sambil menatap Ratu dengan penuh permohonan
"Gak bisa Adnan! Lo gak tau rasanya?! Dia udah ajak gue tunangan bahkan berniat melamar gue, tapi apa?! Wanita sialan itu datang dan hancurin semuanya!" Bentak Ratu
"Lo gak akan bahagia ataupun lega dengan balas dendam Ratu! Dengerin gue kali ini aja hmm?" Kata Adnan
Tapi, Ratu tetaplah Ratu dia enggan mendengarkan omongan siapapun termasuk Adnan.
Tanpa memberikan tanggapan apapun Ratu melangkahkan kakinya menjauh dari Adnan, keputasannya sudah bulat dia hanya akan bahagia jika Daffa menderita.
Saat memasuki kamarnya ingatan Ratu mulai berkelana tentang Daffa dan yang terakhir ingatannya berhenti pada pertemuannya dengan Fahisa di kantor Daffa.
Flashback on
Pertemuannya dengan Fahisa di ruang kerja Daffa membuat Ratu kesal apalagi keduanya terlihat begitu romantis, benar-benar membuatnya kesal. Sampai akhirnya Ratu mengikuti Fahisa ketika wanita itu ke kamar mandi dan dia mulai berbicara dengan nada bicara menyindir serta tatapan mata yang begitu tajam.
"Jadi lo beneran nantangin gue? Lo fikir gue gak bisa hancurin kebahagiaan kalian?" Sinis Ratu kepada Fahisa yang menatapnya dengan kaget
Terdiam cukup lama akhirnya Fahisa berani untuk mendongak dan berbicara dengan nada yang sama seperti Ratu, tapi bedanya mata hitam itu memancarkan sedikit ketakutan.
"Iya, aku nantangin kamu! Aku gak akan biarin kamu hancurin kebahagiaan aku dan Mas Daffa! Kamu berlagak sok baik waktu itu, tapi ternyata kamu bahkan punya niat yang begitu buruk untuk keluarga kami dan kamu fikir aku akan diam saja?" Kata Fahisa membuat Ratu menatapnya dengan tangan yang terkepal
"Gue bakal pastiin keluarga kalian akan menderita dan gue jamin hal itu bakal terjadi!" Tegas Ratu
Menatap wanita itu dengan tajam Fahisa merasa ada sesuatu yang ingin ia keluarkan, dia ingin marah atau menampar wanita itu rasanya benar-benar mengesalkan.
Bagaimana bisa ada wanita seperti dia di dunia ini?
"Aku pastiin itu semua gak bakal terjadi Ratu! Berhenti atau kamu akan menyesal Ratu! Kenapa kamu terus mengganggu Mas Daffa dan kami?" Tanya Fahisa dengan wajah kesalnya
Tertawa kecil Ratu berjalan mendekati Fahisa membuat dia memundurkan tubuhnya karena merasa sedikit takut. Menatap Fahisa dengan remeh Ratu benar-benar tidak percaya wanita kecil itu bisa seberani ini sekarang.
"Kenapa? Lo masih tanya kenapa?! Semua karena lo Fahisa! Kehadiran lo yang bikin Daffa mutusin gue bahkan kita udah tunangan, tapi lo bikin semuanya gagal!" Bentak Ratu membuat Fahisa memejamkan matanya dengan jantung yang berdetak begitu cepat
Dia takut!
Fahisa tidak seberani itu untuk menghadapi kemarahan Ratu.
"Aku tidak pernah meminta Mas Daffa untuk meninggalkan kamu." Kata Fahisa dengan suara yang semakin pelan
"Tapi seharusnya lo gak pernah hadir Fahisa! Gue bener-bener benci sama lo dan Daffa apalagi Sahara, gue akan buat kalian menderita!" Tegas Ratu
Mendongakkan kepalanya Fahisa kini menatap Ratu dengan tidak suka, kenapa wanita itu bahkan membawa nama Sahara?
Dia memang sudah gila!
Entah mendapat keberanian dari mana Fahisa menegakkan tubuhnya dan menatap Ratu dengan tajam lalu perlahan dia mulai berbicara dengan jarinya yang menunjuk wajah Ratu.
"Kamu gila Ratu! Benar-benar gila, kenapa kamu bahkan membawa Sahara? Bahkan meskipun aku ada kalau Mas Daffa memang cinta sama kamu dia tidak akan ninggalin kamu gitu aja untuk orang yang baru dia temui,"
Perkataan Fahisa membuat Ratu diam, tapi tangannya mengepal dengan begitu erat.
"Bukan karena aku, tapi kamu sendiri yang bikin Mas Daffa ninggalin kamu! Lalu sekarang kamu tidak terima dan memaki aku mengancam akan menghancurkan kebahagiaan kami? Aku gak tau lagi kata apa yang bisa gambarin kamu selain gila!" Kata Fahisa dengan penuh amarah
"Aku gak nyangka wanita yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya itu bisa bertindak segila ini! Kamu gila Ratu dan kamu perlu pergi ke rumah sakit jiwa!"
Flashback off
Mengepalkan tangannya erat Ratu merasa emosinya semakin menjadi ketika mengingat itu semua. Ternyata Fahisa memang benar-benar menantangnya.
Dia benar-benar ingin menghancurkan kebahagiaan itu sekali lagi.
Tapi, entah kenapa ada sedikit rasa ragu di hati Ratu.
Dia ragu akan berhasil.
¤¤¤¤
Malam ini Fahisa mengalami kesulitan untuk tidur sejak tadi dia terus bergerak gelisah membuat Daffa ikut bingung ketika melihatnya. Bukan karena sesuatu yang buruk, tapi Fahisa tidak bisa tidur karena merasa lapar dia ingin makan hanya saja dia malu untuk bilang.
Saat ini Fahisa ingin makan sate ayam yang di jual dekat gang masuk perumahan, jaraknya cukup jauh makanya dia tidak berani bilang. Sebenarnya dia tau jika Daffa pasti akan membelikannya hanya saja ini sudah terlalu larut, kasihan suaminya.
"Ada apa Fahisa? Kamu tidak bisa tidur?" Tanya Daffa sambil mengusap rambut hitam Fahisa dengan sayang
"Emm Mas Daffa kalau sudah mengantuk tidur saja duluan." Kata Fahisa
"Tidak aku juga belum mengantuk, apa kamu lapar atau ingin sesuatu?" Tanya Daffa membuat Fahisa mendongak dan menatap suaminya dengan wajah lugu
Daffa yakin jika istrinya itu pasti menginginkan sesuatu dan dia harus menuruti keinginan itu sebelum Fahisa pergi sendiri tanpa sepengetahuannya.
"Mau apa hmm? Katakan saja sayang." Kata Daffa
"Tapi, sudah malam tempatnya jauh." Cicit Fahisa sambil menatap Daffa dengan wajah yang terlihat begitu menggemaskan dimatanya
"Bukan masalah Fahisa, katakan saja kamu mau apa?" Tanya Daffa sambil tersenyum lebar
"Mau sate ayam yang di depan gang itu Mas." Kata Fahisa setelah cukup lama terdiam
Tersenyum hangat Daffa mengusap pipi istrinya itu dengan begitu lembut lalu melepaskan pelukannya dan beranjak dari tempat tidur.
"Baiklah akan aku belikan." Kata Daffa
"Mau ikut!" Seru Fahisa
"Dingin sayang." Kata Daffa membuat Fahisa mengerucutkan bibirnya kesal
"Mau ikutt!" Kekeh Fahisa
Tersenyum senang Fahisa mengikuti Daffa yang berjalan menuju lemari untuk mengambil jaket, dia juga hanya diam saat suaminya itu memakaikan jaket di tubuhnya.
"Makannya di rumah saja ya?" Kata Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Fahisa
Mereka pergi kesana dengan mobil karena jaraknya yang memang cukup jauh dan sekitar sepuluh menit perjalanan akhirnya sampailah mereka di tempat yang Fahisa maksud. Ada cukup banyak pembeli meskipun hari sudah larut dan dengan menggenggam erat tangan istrinya Daffa melangkah masuk untuk segera memesan.
"Mas Daffa mau dua porsi ya." Kata Fahisa
Sedikit terkejut ketika mendengarnya, tapi Daffa hanya mengangguk dan segera memesan. Sambil menunggu pesanan keduanya duduk di kursi yang masih kosong sambil mengobrol.
"Mas Daffa besok kerja tidak?" Tanya Fahisa
"Kerja, kamu besok sama Mami ya?" Kata Daffa
Menggelengkan kepalanya dengan cepat Fahisa tidak mau, dia ingin sesuatu yang lain.
"Aku mau ikut Mas Daffa ke kentor!" Kata Fahisa dengan semangat
"Tidak mau sama Mami saja?" Tanya Daffa sedikit terkejut dengan permintaan istrinya
"Tidak, mau sama Mas Daffa saja." Kata Fahisa
"Baiklah, tapi setelah Ara pulang sekolah kalian berdua ke rumah Mami ya?" Kata Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan olehnya
Menunggu sekitar dua puluh menit akhirnya pesanan Daffa sudah siap dan setelah membayar keduanya langsung pulang ke rumah.
"Aku tidak sabar ingin makan." Kata Fahisa membuat Daffa tertawa kecil melihatnya
"Seharusnya kalau kamu memang ingin sesuatu katakan saja Fahisa, aku tidak masalah meskipun jaraknya jauh atau sudah larut malam." Kata Daffa
"Aku malu mau bilangnya." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut
"Kenapa malu hmm?" Tanya Daffa
"Nanti aku dibilang rakus terus kalau makan terus nanti aku gendut." Cicit Fahisa
Mendengar hal itu Daffa tertawa, dia tidak menyangka jika istrinya akan punya fikiran begitu padahal dia malah suka jika Fahisa lebih berisi apalagi jika pipinya tembam.
"Hey kenapa berfikir sampai situ? Aku malah suka kamu makan lahap seperti ini apalagi kalau kamu tambah berisi dengan pipi yang tembam." Kata Daffa sambil menoleh sekilas
Fahisa hanya menanggapinya dengan senyuman senang dan kemudian keduanya hanya diam selama sisa perjalanan.
Saat sampai keduanya langsung menuju dapur dan Daffa membantu istrinya untuk menyiapkan piring serta minum. Setelah semua siap Fahisa langsung duduk dan menyantap makanannya dengan penuh semangat.
"Mas Daffa mau tidak? Ini sangat enak." Kata Fahisa
"Suapi"
Tersenyum malu Fahisa menyuapi suaminya itu sate ayam yang sedang ia makan.
Setelahnya Daffa hanya diam dan memperhatikan istrinya lalu ketika sudah selesai Daffa mengusap sudut bibir Fahisa dengan ibu jarinya.
"Terima kasih Mas Daffa"
Keduanya saling melemparkan senyuman manis yang menghangatkan.
¤¤¤¤
Kehamilan Fahisa kali ini benar-benar membuat Daffa harus sedikit ekstra dalam menjaganya karena sering kali istrinya merasakan sakit diperutnya atau mual dalam waktu yang cukup lama. Seperti yang terjadi pagi ini Fahisa yang merasa mual sejak bangun tidur benar-benar terlihat tidak bersemangat dengan wajah yang cukup pucat.
Parahnya lagi dia enggan untuk sarapan dan memilih berbaring di tempat tidurnya. Bahkan Sahara yang melihatnya sempat enggan untuk pergi ke sekolah, tapi atas bujukan Fahisa akhirnya dia pergi bersama Daffa dan setelahnya Daffa langsung kembali ke rumah.
"Sudah lebih baik? Apa masih mual? Apa kamu merasa pusing atau sakit?" Tanya Daffa ketika mendudukkan dirinya ditepian ranjang
Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa memeluk suaminya dari samping.
"Kamu belum sarapan sayang, sarapan dulu ya?" Bujuk Daffa yang kembali dijawab dengan gelengan kepala oleh istrinya
"Belum lapar." Kata Fahisa
"Fahisa, kamu harus sarapan." Kata Daffa memperingati
Mengerucutkan bibirnya Fahisa kembali menolak dia enggan untuk makan karena perutnya masih terasa kenyang.
"Masih kenyang." Rengek Fahisa dengan suara yang terdengar begitu manja
"Fahisa, sedikit saja hmm? Kamu punya maag sayang." Kata Daffa
Menghela nafasnya panjang Fahisa akhirnya mengalah, baiklah hanya sedikit saja.
"Aku mau roti pakai selai coklat, sudah itu aja." Kata Fahisa dengan bibir mengerucut
Tersenyum senang Daffa mengusap rambut hitam istrinya dengan sayang.
"Tunggu disini ya sayang." Kata Daffa
Dalam waktu yang cukup singkat Daffa sudah datang membawa sarapan untuknya dan jujur saja hal itu membuat Fahisa tersentuh juga bahagia.
Ternyata suaminya begitu perhatian.
"Habis ini Mas Daffa mau berangkat kerja tidak?" Tanya Fahisa sambil memakan rotinya
"iya, ada beberapa masalah yang harus aku selesaikan, tapi tenang saja Mami bilang dia akan kesini untuk menengok menantunya dan membawa beberapa camilan yang dia buat sendiri." Kata Daffa
"Kan kemarin aku bilang mau ikut ke kantor sama Mas Daffa." Kata Fahisa dengan wajah sedihnya
"Kamu sakit Fahisa. Lihat, wajah kamu sangat pucat aku tidak akan biarkan kamu pergi kemana-mana." Kata Daffa sambil menangkup wajah istrinya dan mencium keningnya lembut
"Yasudah, tapi besok aku ikut ya ke kantor Mas Daffa!" Kata Fahisa
"Iya sayang"
Tersenyum senang Fahisa kembali memeluk suaminya dari samping.
"Aku juga sayang sama Mas Daffa"
Tertawa kecil Daffa sedikit mengendurkan pelukannya lalu mengecup singkat bibir mungil istrinya.
"Aku lebih sayang kamu Fahisa"
Meletakkan sedikit rotinya di piring Fahisa melingkarkan tangannya di leher Daffa dan menariknya untuk lebih dekat lalu menciumnya dengan begitu lembut.
Mereka sangat bahagia.
¤¤¤¤
Sebentar lagi ceritanya mau aku selesain😆