Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Extra part (2)



Waktu berlalu dengan begitu hingga tanpa terasa si kembar sudah menginjak usia ke empat tahun dan tumbuh dengan memiliki kepribadian yang berbeda. Saat diperhatikan dari dekat keduanya memang sangat mirip, tapi sifat keduanya sangat bertolak belakang.


Devina tumbuh menjadi anak yang ceria, cerewet, dan juga manja sama persis seperti Sahara ketika kecil dulu. Sedangkan Devano tumbuh menjadi anak yang lebih pendiam dan jarang berekspresi, tapi dibalik itu semua dia juga sangat manja dan cukup jahil dengan saudaranya.


Seperti yang terjadi sekarang dimana Devano merobek kertas yang berisi gambaran Devina tanpa rasa berdosa dan membuat saudara kembarnya itu menangis lalu memukuli lengannya dengan wajah yang begitu sedih.


"Nakall nakalll! Aku bilangin Mommy! Vano nakall!" Kata Devina sambil terus memukuli lengan Devano


Bukannya merasa bersalah Devano malah menahan tangan Devina yang sedang memukulnya.


"Jangan Vina." Katanya


"Nakall! Ishh Vano nakall! Mommyy Daddyy!" Kata Devina dengan suara yang begitu keras


Mendengar suara itu Fahisa yang sedang berada di dapur bergegas menghampiri kedua anaknya dan ketika melihat itu Devina berlari kepelukan Fahisa masih dengan tangisnya.


"Mommyy.... dia nakal.... nakal... gambaran Vina dirobek." Kata Devina dengan berurai air mata


Menghela nafasnya pelan Fahisa sudah terbiasa menghadapi hal seperti ini karena hampir setiap hari terjadi. Meskipun jarang bicara dan berekspresi, tapi Devano sangat jahil dengan saudara kembarnya.


Membawa anak itu kedalam gendongannya Fahisa mendudukkan dirinya di sebelah Devano lalu mengambil kertas yang sudah berubah menjadi dua.


"Lihat kan Mommy dia nakal." Kata Devina sambil berusaha memukul Devano lagi


Berusaha menghindar Devano hanya menatapnya tanpa rasa berdosa membuat Devina semakin merasa kesal dan masih berusaha memukulnya.


"Vina sudah sudah." Kata Fahisa sambil menarik lengan anak perempuannya dan membawanya kedalam pelukan


"Rusak Mommy.... gambaran Vina jadi rusak.... Vano nakal." Isaknya


Menatap anak laki-lakinya Fahisa bertanya dengan nada yang begitu lembut, tapi sebuah kata yang menjadi jawabannya membuat Fahisa benar-benar tidak bisa berkata apa-apa.


"Vano kenapa kamu robek hmm? Kasihan Vina sudah gambar dengan bagus begini malah jadi robek." Kata Fahisa


"Lucu"


"Lucu? Lucu apanya sayang?" Tanya Fahisa


"Vina lucu kalau menangis." Kata Devano


Astaga anak itu benar-benar seperti Daffa.


Melepaskan pelukannya Devina yang merasa kesal kembali memukul saudara kembarnya membuat Devano berlari untuk menghindar dan meninggalkan Fahisa yang merasa pusing melihatnya.


"Jangan lari sayang nanti jatuh." Kata Fahisa yang sama sekali tidak di dengar


Dan benar saja tidak lama setelah mengatakan hal itu Devina terjatuh karena terselandung dan kembali menangis dengan keras.


"Mommyy"


Melihat hal itu Devano yang sebelumnya masih berlari kini berhenti dan berbalik menghampiri saudara kembarnya lalu mengulurkan tangannya, tapi Devina yang merasa kesal malah memukul tangan itu dengan disartai isakan.


"Maaf Vina"


Uluran tangannya tak kunjung disambut Devano ikut mendudukkan dirinya dibawah dan menghapus air mata Devina dengan lembut.


"Maafin"


Mengerucutkan bibirnya Devina kembali memukul Devano yang sama sekali tidak melawan.


Menyaksikan itu semua Fahisa hanya bisa tersenyum penuh arti, anaknya memang sama persis seperti Daffa meskipun sering membuat menangis, tapi ketika melihatnya terluka pasti akan tetap datang dan menghiburnya.


"Sayang mana sini Mommy lihat, ada yang luka tidak?" Tanya Fahisa sambil ikut mendudukkan dirinya disana


Masih dengan bibir mengerucut Devina menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak luka, tapi sakit." Kata Devina


Tersenyum kecil sepertinya akan lebih baik kalau dia mengajak anak-anaknya ini untuk keluar dari pada mereka kembali bertengkar.


"Kita keluar saja yuk? Mau ke rumah Oma tidak?" Tanya Fahisa


Menghapus air matanya Devina menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Mau Mommy ayo kita ke rumah Oma." Kata Devina


"Vano?"


Ikut menganggukkan kepalanya Fahisa mengajak anak-anaknya itu untuk berdiri lalu membantu keduanya untuk bersiap-siap.


Hari ini dia hanya di rumah dengan kedua anaknya karena Sahara belum pulang sekolah dan Daffa tentu saja pergi bekerja.


Makanya Fahisa mengajak kedua anaknya untuk pergi ke rumah mertuanya karena mereka bisa sekalian menjemput Sahara dan mengantar makan siang untuk suaminya.


"Yasudah kalau begitu anak-anak Mommy harus ganti baju dulu." Kata Fahisa sambil menggandeng keduanya menuju kamar mereka


Selesai bersiap Fahisa pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang suaminya karena tadi dia sudah telpon dan setelah semuanya selesai barulah mereka pergi dengan diantar Pak Hadi. Selama perjalanan Fahisa mendudukkan dirinya ditengah-tengah kedua anaknya agar mereka tidak lagi bertengkar.


"Mommy kita akan ke tempat Daddy dulu ya?" Tanya Devina yang dijawab dengan anggukan oleh Fahisa


"Lalu habis itu ke tempat Oma?" Tanya Devina lagi


Kali ini Fahisa menggelengkan kepalanya karena setelah dari kantor Daffa mereka akan pergi menjemput Sahara terlebih dahulu melihat jika sebentar lagi anaknya pulang sekolah.


"Tidak sayang kita akan menjemput Kakak Ara dulu baru ke rumah Oma." Kata Fahisa yang ditanggapi dengan anggukan oleh anaknya


"Mommy Vina kapan sekolahnya? Vina juga mau sekolah seperti Kakak Ara." Kata Devina


Tersenyum kecil Fahisa mengusap lembut rambut hitam anaknya, dia akan memasukkan kedua anaknya di taman kanak-kanak yang sama seperti Sahara dulu.


"Tahun yang akan datang kalian akan sekolah sayang." Kata Fahisa


Sebenarnya agak sedih karena Fahisa akan kembali sendirian di rumah hingga tengah hari, padahal biasanya dia selalu ditemani oleh anak kembarnya yang selalu meramaikan rumah dengan perdebatannya.


Tapi, tetap saja dia juga begitu bahagia melihat anaknya yang sudah semakin besar.


Saat sampai di kantor suaminya Fahisa menggandeng kedua tangan anaknya dan mengajak mereka untuk masuk ini adalah kali kedua anak-anaknya memasuki kantor Daffa. Selama melangkahkan kakinya ke dalam para pegawai yang memang mengenal Fahisa menundukkan kepalanya dan memberikan salam yang ditanggapinya dengan senyuman manis.


Setelah menaiki lift dan sedikit berjalan akhirnya Fahisa sampai juga di depan ruangan sang suami dan tanpa mengetuk langsung dibukanya pintu itu membuat Daffa yang sedang fokus dengan berkas-berkasnya mendongakkan kepalanya.


"Kami bawakan makan siang." Kata Fahisa sambil mengangkat paperbag yang dibawanya


Tersenyum senang Daffa menghampiri mereka dan pertama kali yang dilakulannya adalah memeluk Fahisa lalu mencium pipinya.


"Terima kasih sayang." Kata Daffa


Setelahnya Daffa memeluk kedua anaknya dan mencium pipinya bergantian.


"Anak Daddy sudah makan belum?" Tanya Daffa


Menganggukkan kepalanya kompak Daffa merasa gemas dengan keduanya.


"Fahisa kamu akan langsung pulang? Mau menemani aku dulu?" Tanya Daffa


"Mau jemput Ara Mas sebentar lagi sudah waktunya pulang dan setelah itu kami ingin pergi ke rumah Mami." Kata Fahisa yang ditanggapi dengan anggukan singkat oleh suaminya


"Baiklah tidak papa nanti aku akan menyusul pekerjaanku hanya tinggal sedikit." Kata Daffa


"Hmm baiklah kalau begitu aku langsung pergi ya? Nanti Ara bisa merajuk kalau sampai telat." Kata Fahisa membuat suaminya tertawa kecil


Sebelum mereka pergi Daffa lebih dulu memeluk anaknya bergantian dan menciumi pipi mereka berkali-kali.


"Daddy kami mau menjemput Kakak Ara dulu ya? Daddy cepat pulang." Kata Devina sambil mencium pipi Daddy nya


Tersenyum lebar Daffa menganggukkan kepalanya lalu beralih kepada anak laki-lakinya yang sejak tadi hanya diam.


Mengusap lembut rambut anaknya Daffa tersenyum kecil ketika anak itu menatapnya.


"Hey jagoan Daddy jangan gangguin Devina terus yaa." Kata Daffa yang sudah sangat tau kebiasaan anaknya


"Tidak janji Daddy." Kata Devano membuat Daffa tertawa kecil ketika mendengarnya


Anaknya itu benar-benar mirip dengannya ya?


¤¤¤¤


Seusai menjemput Sahara disekolah sekarang Fahisa dan anak-anaknya sudah berada di rumah besar keluarga Wijaya. Kedatangan mereka tentu saja disambut dengan penuh kebahagiaan oleh Tania dia bahkan langsung menyiapkan banyak hal, memasak berbagai jenis makanan untuk cucu-cucunya.


"Mami harusnya tidak perlu serepot ini." Kata Fahisa yang sekarang ikut membantu mertuanya di dapur


"Repot apanya? Mami malah senang cucu Mami tiga-tiganya datang, tentu saja Mami harus siapkan makanan untuk mereka." Katanya dengan penuh semangat


Menggelengkan kepalanya pelan Fahisa benar-benar tidak habis fikir, ternyata sebahagia ini kedatangan cucunya di rumah.


Kalau tau begini Fahisa akan lebih sering mengajak anak-anaknya berkunjung.


"Daffa akan pulang malam atau tidak Fahisa?" Tanya Tania


"Sore sudah pulang Mi katanya pekerjaannya hanya tinggal sedikit." Kata Fahisa


"Bagus! Berarti kita akan makan malam bersama nanti, ya ampun Mami senang sekali." Kata Tania dengan binar mata penuh kebahagiaan


"Apa kita perlu menelpon Dara juga? Ahh tidak tidak Mami lupa kalau dia sedang di luar kota bersama suami dan anak-anaknya." Kata Tania


Melihat begitu antusiasnya sang mertua membuat Fahisa merasa tersentuh dan mulai membayangkan jika nanti dia mungkin juga akan begitu.


Saat anak-anaknya sudah besar dan menikah dia dan Daffa hanya bisa menunggu kedatangan mereka bersama keluarganya masing-masing.


Ahh mungkin itu terlalu jauh untuk dibayangkan karena ketika anak-anaknya sudah pergi sekolah saja Fahisa begitu kesepian dan menanti saat-saat dimana mereka pulang ke rumah.


"Cucu Oma sini dulu sayang Oma sudah buatkan makanan." Kata Tania membuat Fahisa tersadar dari lamunannya dan mengikuti langkah kaki mertuanya


Tidak disauti Tania akhirnya meminta agar makanan dibawa ke taman belakang saja karena cucu-cucunya sedang bermain disana.


Saat melihat kedatangan Tania dan Fahisa serta makanan yang telah di susun membuat ketiganya tersenyum senang, apalagi Sahara.


"Omaa Ara rindu sekali kue buatan Oma." Kata Sahara sambil mengambil kue yang biasa ia makan


"Vina kamu harus coba ini ayo aaaa." Kata Sahara membuat adiknya itu langsung membuka mulutnya dan menerima suapan dari Sahara


Dengan penuh kegembiraan mereka melalui sore hari ini di taman belakang.


Diiringi dengan tawa riang yang semakin membawa kebahagiaan.


Hari ini Tania benar-benar merasa bahagia dengan kehadiran cucu-cucunya di rumah besar yang selalu sepi setiap harinya.


¤¤¤¤


Siapa yang mauu baca sequel nya Araaaa?????