Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Sebelas



Pagi ini cuaca cukup cerah dengan penuh semangat Sahara sudah siap dengan seragamnya untuk berangkat sekolah, senyumnya terlihat begitu lebar dia tidak sabar untuk segera berangkat kesekolah bersama Fahisa. Sedangkan itu di dapur Fahisa baru saja selesai membuat sarapan dan juga segelas susu untuk Sahara dia juga sudah menata meja makan seperti biasanya.


Di sisi lain ada Daffa yang masih bersiap di kamarnya dia akan berangkat kerja lebih awal karena memang ada pertemuan penting hari ini. Senyum Daffa mengembang ketika melihat Sahara dan Fahisa yang sudah duduk di ruang makan bahkan anaknya sudah makan lebih dulu.


"Kenapa Ara tidak menunggu Daddy hmm?" Tanya Daffa membuat anak itu mendongak dan tersenyum polos


"Ara sudah lapar Daddy terlalu lama." Jawab Sahara


Saat Daffa sudah duduk Fahisa langsung menyiapkan sarapan untuk suaminya lalu bersama-sama mulai menyantap sarapan masing-masing. Setelah selesai Fahisa meletakkan piring kotornya di dapur yang nantinya akan dicuci oleh Bi Santi salah satu pekerja Daffa.


"Daddy kenapa kita tidak bareng saja berangkatnya?" Tanya Sahara dengan bibir mengerucut


"Daddy harus cepat sayang nanti Daddy bakal jemput Ara sama Mommy juga, gimana?" Tawar Daffa supaya anaknya itu tidak merajuk


Dia tidak bohong kantornya dan sekolah Sahara memang berlawanan arah akan memakan waktu cukup lama, tapi jika tidak ada pertemuan penting hari ini Daffa pasti akan mengantarkan anaknya terlebih dahulu.


Sahara mengangguk singkat, "Janji dulu sama Ara!"


Sambil menjulurkan jari kelingkingnya Sahara menatap Daffa dengan senyuman manisnya membuat pria itu ikut tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya dengan jari Sahara.


"Janji tuan putri." Kata Daffa


Sebelum suaminya itu berangkat Fahisa mencium punggung tangan Daffa.


"Hati-hati ya." Kata Fahisa sambil tersenyum manis hingga menampilkan lesung pipitnya


Daffa mengangguk singkat lalu langsung menaiki mobilnya dan berlalu dari sana. Sedangkan Fahisa masih menunggu Sahara yang sedang memakai sepatunya.


"Mommy sudah." Kata Sahara


Fahisa tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada Sahara yang langsung anak itu genggam dengan cukup erat. Kemudian bersama-sama mereka pergi ke sekolah Sahara dan juga ketempat dimana Fahisa pernah bekerja dulu.


Atau


Bolehkah jika Fahisa menyebutnya sebagai tempat dimana dia berhasil menemukan kebahagiaannya?


¤¤¤¤


Saat sampai di Taman Kanak-Kanak tempatnya mengajar dulu ada banyak temannya yang datang menghampiri lalu mengucapkan selamat atas pernikahan Fahisa yang hanya dibalas wanita itu dengan ucapan terima kasih dan senyuman manisnya. Sedangkan Sahara setelah mencium kedua pipi Fahisa anak itu langsung berlari kedalam untuk menghampiri teman-temannya yang sedang bermain.


"Mommy Ara berangkat dulu yaa." Kata Sahara sambil mencium kedua pipi Fahisa lalu berlari untuk menghampiri teman-temannya


Selepas Sahara pergi seorang wanita yang seumuran dengannya menghampiri Fahisa dengan senyuman lebarnya dan saat melihat siapa orang itu senyum Fahisa ikut mengembang.


"Aku kangen banget sama kamu Sa." Kata Hana sambil memeluk Fahisa erat


Mereka berdua memang cukup dekat mengingat umur mereka yang terpaut sama, sedangkan guru-guru lainnya rata-rata mereka sudah berkepala tiga. Ya, meskipun masih ada beberapa lainnya yang masih berusia dua puluhan, tapi tetap saja Hana lah yang paling dekat dengan Fahisa.


"Aku juga Han nanti kita hangout bareng ya?" Ajak Fahisa


"Ide bagus, ayok nemuin Bu Dian dia nanyaiin kamu terus sama aku." Kata Hana sambil merangkul temannya itu dan membawanya ke kantor guru


Memasuki kantor Fahisa kembali tersenyum ketika beberapa orang memberi ucapan selamat kepadanya. Saat menghampiri Dian wanita paruh baya itu tersenyum senang, dia bangkit dari tempat duduknya lalu memeluk Fahisa dengan erat.


"Ya ampun Hisa Ibu kangen banget sama kamu." Kata Dian membuat Fahisa terkekeh pelan


Dia sudah menganggap wanita itu seperti Ibunya sendiri karena saat pertama kali bekerja disini Dian lah yang mendampinginya dan mengajari banyak hal bahkan tidak jarang dia juga membantu Fahisa ketika sedang mengalami kesulitan.


"Hisa juga kangen banget sama Ibu." Kata Fahisa sambil membalas pelukannya


"Sa aku keluar ya," Bisik Hana yang langsung diangguki olehnya


"Bu saya keluar dulu ya." Kata Hana kepada Dian


Setelah Hana pergi Dian dengan segera memperisilahkan Fahisa untuk duduk dan keduanya mulai berbincang.


"Ibu senang Sa akhirnya kamu menemukan pasangan hidup kamu dan Ibu lebih senang lagi saat melihat kebahagiaan di wajah anak Ibu." Kata Dian sambil tersenyum tulus


Dian tau kehidupan Fahisa saat baru pertama kali bekerja disini, anak itu mengalami banyak kesulitan yang membuatnya bersimpati kepada Fahisa. Tapi, ternyata rasa simpati itu berubah menjadi rasa sayang kepada seorang anak. Iya, Dian menganggap Fahisa seperti anaknya sendiri.


"Gak masalah Nak, asalkan kamu sering-sering main kesini." Kata Dian


Mereka kemudian kembali membicarakan tentang beberapa hal sampai sepuluh menit kedepan sebelum akhirnya suara bel membuat Dian tersadar bahwa kelas akan segera dimulai.


"Kamu mau pulang?" Tanya Dian yang langsung diangguki oleh Fahisa


"Hmm nanti aku kesini lagi untuk jemput Sahara." Kata Fahisa


Dian mengangguk mengerti lalu tangannya mengusap pelan rambut Fahisa.


"Hati-hati ya Nak." Kata Dian sambil tersenyum.


Mereka berdua berjalan bersama keluar kantor, tapi bedanya Fahisa menuju gerbang depan sedangkan Dian pergi ke kelas untuk mengajar anak-anak.


Memasuki mobil Hadi supir yang sudah bekerja dengan Daffa selama lima tahun terakhir langsung melajukan mobilnya kembali ke rumah. Ada perasaan aneh ketika Fahisa harus di antar dengan supir seperti ini karena biasanya gadis itu selalu menggunakan bus atau ojek kalau mau pergi kemana-mana.


Tapi, dia harus terbiasa kan?


¤¤¤¤


Selesai menghadiri pertemuan penting Daffa kembali dibuat pusing dengan kehadiran kedua teman baiknya yang entah ada keperluan apa sampai tiba-tiba ketika dia memasuki ruangannya mereka berdua sudah duduk manis di sofa dengan dua cangkir kopi di meja. Kehadiran kedua orang itu sebenarnya sudah sering terjadi, tapi Daffa benar-benar merasa kesal kalau keduanya itu membuat keributan di ruangannya.


"Ngapain kesini?!" Kata Daffa kesal


Wajahnya terlihat sangat lelah dia baru saja melakukan pertemuan yang memakan waktu dua jam setengah dan ketika ingin sedikit bersantai diruangannya Daffa diganggu dengan kehadiran dua orang ini.


"Gangguin lo." Jawab Wira dengan santai


"Serius Wir! Gue panggilin satpam nanti lo berdua!" Ancam Daffa


Fahendra berdecak kesal, "Ck. Emosian banget dah lo Daf, kita ada perlu untuk sampein sesuatu"


"Apa?!" Tanya Daffa tidak sabaran


Terkekeh pelan Wira menghampiri Daffa yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan mata yang sibuk menatap ke laptop. Mereka, Wira dan Fahendra memang tidak sesibuk Daffa keduanya sama-sama memiliki usaha dibidang makanan dan kesibukan mereka tidak terjadi setiap hari.


"Ndra bawa sini Ndra." Kata Wira sambil menoleh ke arah Fahendra yang sedang meminum kopinya


Menghampiri Wira dia mengeluarkan flashdisk dari saku celananya dan memberikan benda itu kepada teman baiknya. Menduduki dirinya di meja kerja milik Daffa dia mengabaikan tatapan tajam temannya itu dan malah meletakkan flashdisk yang diberikan Fahendra tadi di dekat laptop Daffa.


"Ini Daf udah kita cariin." Kata Fahendra membuat Daffa mengerutkan dahinya bingung


"Cariin apa? Memang gue minta cariin apa sama lo berdua?" Tanya Daffa bingung


"Film, lo kan mau bulan madu kan? Nah sebelum pergi lo nonton itu dulu." Kata Wira dengan santainya


Sudah mulai mengerti kemana arah pembicaraan mereka Daffa rasanya benar-benar ingin menghabisi kedua orang itu sekarang juga.


"Ada banyak itu Daf kita udah pilih yang paling mantap dah pokoknya." Tambah Fahendra


"Lo orang bener-bener mau gue panggilin satpam ya?!" Ketus Daffa


"Apaan dah? Bukannya makasih malah marah-marah." Ujar Fahendra membuat Daffa semakin kesal dibuatnya


"Untuk apa sih? Gak butuh gue yang ginian gue udah berpengalaman." Kata Daffa membuat kedua temannya itu terkekeh pelan


Daffa menggelengkan kepalanya tidak mengerti lagi dengan kelakuan dua orang ini, kenapa mereka gak sadar-sadar sih? Masih aja coba ini film kayak gini ditonton mana nawarin segala.


Kan sayang.


"Ini bintangnya hot Daf lo harus liat." Kata Wira


"Lagian kan lo udah lama gak nonton begituan terakhir pas...."


Belum sempat Fahendra menyelasaikan perkataannya Daffa sudah lebih dulu melempar tumpukan kertas yang ada dimejanya ke muka pria itu tidak perdulu kertas-kertas itu penting atau tidak dia akan memikirkannya nanti. Bukannya takut mereka berdua malah tertawa, tapi beneran itu satu flashdisk isinya film semua terniat emang.


"Nyari mati ya lo berdua?!"