Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh dua



Jira


Kenapa dia bisa setega itu kepada Fahisa?


Berkali-kali menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri Daffa sama sekali tidak bisa menemukan jawabannya, dia sama sekali tidak tau jika wanita itu bisa senekat ini hanya karena cinta atau mungkin Daffa ingin menyebutnya sebagai obsesi. Sejak dulu Daffa mengenal Jira sebagai wanita yang baik juga pendiam berbanding terbalik dengan Renata yang ceria juga manja.


Seandainya pun Jira membencinya karena dia tidak bisa menerima perasaan yang wanita itu miliki, tidak seharusnya Jira berusaha mencelakai Fahisa. Perasaan marah benar-benar menguasai diri Daffa saat ini dia tak lagi perduli apapun karena perbuatan Jira sudah benar-benar keterlaluan.


Mengendarai mobilnya dengan penuh kemarahan Daffa benar-benar ingin segera sampai ke rumah Jira dan meluapkan semua emosinya kepada wanita yang sudah dia anggap seperti adiknya. Di belakangnya ada beberapa mobil polisi yang juga akan ikut ke kediaman rumah milik keluarga Jira, selanjutnya kasus ini akan segera di selesaikan dan Daffa jamin mereka tidak akan bisa keluar dengan mudah.


Saat sanpai Daffa langsung menerobos masuk kedalam rumah dan membuat Rania merasa kaget dengan kehadiran tiba-tibanya apalagi ketika melihat kilatan mata penuh amarah miliknya. Semakin terkejut Rania membulatkan matanya ketika melihat beberapa polisi yang ikut masuk kedalam rumahnya.


Dengan wajah penuh tanda tanya wanita paruh baya itu menatap mata Daffa.


"Mah dimana Jira?" Tanya Daffa tanpa basa-basi


"Daffa ada apa? Kenapa ada polisi?" Tanya Rania tanpa menjawab pertanyaannya


Belum sempat menjawab pertanyaan seseorang baru saja keluar dari salah satu kamar dan ternyata dia adalah Jira yang ketika melihat siapa yang ada di rumahnya langsung melebarkan matanya terkejut. Melihat hal itu Daffa langsung menghampirinya dan mencengkram rahang wanita itu membuat Rania menjerit ketika melihatnya.


"Daffa!"


"Jira aku tidak menyangka kalau kamu bisa setega itu, kenapa kamu melakukannya kepada Fahisa?! Kalau kamu mau membenciku maka kamu bisa melukai aku dan bukannya Fahisa juga anak kami yang bahkan masih di kandungan!" Bentak Daffa


Memejamkan matanya pelan Jira merasakan jantungnya berdetak dengan begitu cepat, bukan bentakan yang membuatnya terkejut dan takut melainkan tatapan mata penuh kemarahan juga kebencian yang di layangkan untuknya. Tersenyum miris Jira menyadarinya sekarang jika Daffa memang benar-benar mencintai Fahisa, tapi melihat senyuman itu malah semakin membuat Daffa emosi.


"Kamu tersenyum? Setelah semua ini kamu masih bisa tersenyum? Apa kamu manusia Jira? Kamu tidak tau bagaimana menderitanya kami karena ulah gila kamu!" Bentak Daffa lagi


Melihat hal itu Rania benar-benar terkejut dia memundurkan langkahnya lalu memegang ujung kursi dengan cukup kuat.


Apa yang Daffa katakan tadi?


Anaknya telah berusaha melukai orang lain, bagaimana itu semua mungkin?


"Istriku keguguran dan rahimnya juga sekarang bermasalah itu semua karena kamu! Kenapa kamu bisa setega itu hah?!" Kata Daffa lagi


"Kenapa? Memang aku melakukan apa?" Tanya Jira tanpa rasa bersalah sama sekali


Semakin mencengkram rahang Jira dengan kuat Daffa benar-benar merasa amarahnya semakin memuncak dan tanpa dia minta Daffa melepaskan cengkaramannya dengan cukup kuat hingga membuat Jira membentur tembok di belakangnya.


"Aku akan membuatmu membusuk di penjara Jira! Selama ini aku menghormati kamu sebagai adik dari Renata, tapi sekarang persetan dengan itu semua kamu sudah keterlaluan Jira!" Kata Daffa dengan penuh amarah


Mendekat dengan cepat beberapa polisi menangkap Jira dan memakaikan borgol di kedua tangannya lalu membawa wanita itu pergi meninggalkan Daffa yang masih berada disana sambil memijat dahinya pelan.


Brakk


Suara itu membuat Daffa menoleh dan mendapati Rania yang sudah pingsan sesaat setelah Jira dibawa pergi.


"Mamah"


¤¤¤¤


Memijat dahinya pelan Daffa merasa sangat bingung sekarang karena Rania yang pingsan lalu menangis ketika sadar jika anaknya dibawa oleh polisi. Berusaha menenangkan wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti orang tuanya itu Daffa jadi merasa bingung dan tidak enak, tapi menurutnya Jira memang pantas untuk mendapatkan itu semua.


"Daffa kamu pasti salah faham Jira tidak mungkin melakukan itu semua." Kata Rania sambil terisak di dalam pelukannya


Mengusap pundak Rania dengan lembut Daffa sama sekali tidak bisa berkata-kata dia hanya diam dan tidak menanggapi sama sekali. Semua keputusan Daffa sudah bulat dia melakukannya Fahisa sangat menderita karena perbuatan Jira dan dia tidak bisa memaafkannya.


"Daffa jangan penjarakan Jira nanti Mamah bagaimana?" Kata Rania yang masih terus menangis di pelukan Daffa


"Ada Daffa." Kata Daffa singkat


"Tapi Jira tidak mungkin melakukan itu semua Daffa." Kata Rania lagi


Tidak menanggapinya Daffa masih terus menenangkan Rania yang menangis di pelukannya. Saat ini mereka masih berada di rumah Jira karena Daffa yang memutuskan untuk menemani Rania sampai dia sadar dari pingsannya, bagaimanapun juga Daffa sudah menganggap Rania seperti orang tuanya sendiri.


"Semuanya pasti hanya salah faham Istri kamu pasti sudah menuduh Jira." Kata Rania yang membuat Daffa mengepalkan tangannya untuk menahan amarah


"Fahisa tidak pernah menuduh siapapun Mah bahkan sampai sekarang dia tidak tau bahwa dia kehilangan bayinya karena seseorang yang berusaha mencelaki mereka, jadi Mamah jangan bicara seperti itu tentang istriku." Kata Daffa tegas


Cukup lama Daffa menenangkan Rania sampai akhirnya ketika dia sudah cukup tenang Daffa berpamitan untuk segera pulang ke rumah karena waktu sudah hampir malam. Selain itu Daffa juga mengajak Rania untuk ikut serta dan dia akan mengantarkannya ke rumah Tania nanti, tapi dia menolak.


"Tidak perlu Daffa Mamah akan disini dan Mamah akan pergi menemui Jira." Kata Rania membuat Daffa menghela nafasnya pelan


Akhirnya setelah mencium punggung tangan Rania dia pergi tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, tidak akan Daffa tidak akan memaafkan Jira.


Semua sudah keterlaluan perbuatan Jira sudah tidak bisa dia maafkan.


¤¤¤¤


Memasuki rumahnya Daffa mendapati keluarganya sudah duduk rapih di meja makan menunggu makanan yang Santi siapkan dan dengan senyuman Daffa berjalan menghampiri mereka lalu bergabung dengan mendudukkan dirinya di samping Fahisa. Menolehkan kepalanya Fahisa yang ditinggal tanpa di beri kabar lebih dulu oleh Daffa itu menatap suaminya dengan malas lalu kembali mengajak mertuanya berbincang.


Melihat istrinya yang ternyata sedang merajuk membuat Daffa tersenyum geli ketika melihatnya. Memang Daffa tidak mengatakan apapun tadi karena kebetulan saat dia menerima kabar itu Tania baru saja sampai dan akhirnya dia hanya menitip pesan kepada Fahisa.


Tapi, ternyata istrinya itu merajuk.


"Mommy, apa besok Mommy akan antar Ara ke sekolah lagi?" Tanya Sahara yang langsung dijawab oleh Daffa dengan tegas


"Kenapa? Aku tidak akan lelah hanya dengan mengantar Sahara bahkan aku hanya duduk diam di dalam mobil lalu keluar untuk mengantar Sahara masuk ke dalam." Protes Fahisa


"Tidak Hisa beristirahatlah di rumah!" Tegas Daffa membuat istrinya itu mengerucutkan bibirnya kesal dan anaknya yang menatap bingung kedua orang tuanya


"Kalian ini kenapa malah berdebat? Lihat Ara jadi bingung." Kata Tania sambil menggelengkan kepalanya


Seakan sadar keduanya menatap ke arah Sahara yang juga sedang melihat ke arah mereka dengan wajah polosnya. Sedangkan itu Tania hanya bisa tersenyum sambil berusaha memaklumi kekhawatiran anaknya kepada Fahisa.


"Ara tidak papa berangkat sama Daddy saja, tapi nanti Mommy yang jemput Ara." Kata Sahara sambil tersenyum cerah


Perkataan Sahara seolah menjadi keputusan final bagi keduanya, tapi tentu saja Daffa tetap harus ikut menjemput Sahara supaya Fahisa akan berada di bawah pengawasannya.


¤¤¤¤


Seusai makan malam tanpa bantahan Daffa langsung menyuruh Fahisa untuk segera minum obat lalu tidur dan Tania yang memang menginap akan tidur bersama Sahara, meskipun awalnya anak itu merengek ingin tidur bersama Fahisa, tapi pada akhirnya dia menurut juga. Saat sampai di kamar Fahisa yang sudah berbaring di ranjang di kejutkan dengan pelukan suaminya yang tiba-tiba dan ketika mata mereka bertemu Daffa tersenyum dengan begitu manis.


Senyuman yang menggambarkan kebahagiaan karena istrinya sudah kembali ke rumah setelah seminggu lebih di rawat di rumah sakit. Memejamkan matanya Fahisa menikmati ketika tangan Daffa mulai menyentuh wajahnya dan mengusap dengan begitu lembut.


"Aku bahagia karena kamu sudah kembali Fahisa." Kata Daffa


Membuka matanya Fahisa tersenyum dengan begitu lebar lalu membalas pelukan Daffa dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya dengan begitu nyaman. Keduanya begitu menikmati pelukan ini, pelukan penuh kerinduan.


"Terima kasih karena Mas Daffa tidak meninggalkan Hisa." Kata Fahisa sambil mengeratkan pelukannya


"Kenapa aku harus meninggalkan kamu hmm?" Tanya Daffa


"Karena aku jahat tidak bisa menjaga anak kita dengan baik." Kata Fahisa sedih


Mencium puncak kepalanya Fahisa cukup lama Daffa merasa kesal karena perkataan Fahisa yang terus menyalahkan dirinya atas semua yang sudah terjadi.


"Kamu menjaga dia dengan baik Fahisa, kamu memperjuangkan anak kita sampai akhir, tapi memang belum waktunya bagi dia untuk melihat dunia. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri aku tidak suka." Kata Daffa


Mendongakkan kepalanya Fahisa melihat tatapan mata suaminya yang begitu dalam juga senyuman menghangatkannya. Mendekatkan wajahnya Fahisa mencium bibir Daffa cukup lama lalu membisikkan kalimat yang membuat Daffa merasa begitu bahagia.


"Fahisa cinta sama Mas Daffa"


¤¤¤¤


Pagi harinya ketika sarapan berlangsung Fahisa benar-benar merajuk dengan suaminya karena tidak di bolehkan untuk membantu membuat sarapan atau menata meja makan dan bahkan dia juga di larang untuk membantu Sahara bersiap ke sekolah dengan alasan nanti dia kelelahan. Rasanya menyebalkan Fahisa tidak suka jika di suruh berdiam diri terus begini dan lagi untuk sarapan Daffa yang mengambilkan untuknya juga obat yang sudah di letakkan di dekat air minum hangat miliknya.


Memperhatikan wajah cemeberut menantunya membuat Tania ingin tertawa dia yakin ini semua pasti karena anaknya yang melarang Fahisa melakukan apapun. Memakan makanannya dengan malas Fahisa sama sekali tidak perduli dengan tatapan penuh ancaman suaminya.


"Fahisa makanlah kamu harus minum obat, kenapa malah dimainkan begitu?" Tanya Daffa dengan lembut


Fahisa menggelengkan kepalanya pelan enggan untuk menjawab, tapi Daffa malah beranggapan dengan pemikirannya sendiri.


"Makanannya kurang enak? Kamu ingin makan yang lain? Biar aku minta Santi untuk memasak yang lan." Kata Daffa yang membuat Fahisa malah semakin cemberut dan Tania yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli


"Gak mau." Kata Fahisa yang sekarang mulai memakan maknannya


Tapi, Daffa yang menganggap jika Fahisa memang tidak menyukai makanannya malah menyuruh istrinya untuk berhenti.


"Jangan di paksakan kalau kamu tidak suka Fahisa aku akan menyuruh Santi untuk memasak yang lain, kamu mau makan apa?" Tanya Daffa membuat Fahisa jadi semakin sebal


"Tidak, aku suka makanannya!" Kata Fahisa sambil menatap suaminya dengan tajam


Sedangkan Sahara yang sejak tadi meyantap makanannya sama sekali tidak terusik dengan perdebatan kedua orang tuanya.


Melihat Fahisa yang seperti itu membuat Daffa terkekeh melihatnya, lucu sekali. Pada akhirnya Daffa hanya membiarkan Fahisa dan setelah usai menyantap sarapan dia mengajak Sahara untuk segera berangkat.


Setelah berpamitan dengan Tania keduanya melangkahkan kaki ke luar rumah dengan diantar oleh Fahisa sampai depan pintu. Mencium punggung tangan suaminya Fahisa mengerucutkan bibirnya kesal saat pipinya di cubit oleh Daffa.


"Jangan kemana-mana istirahat!" Kata Daffa yang hanya di angguki oleh istrinya


Setelah itu Fahisa menunduk untuk mencium pipi anaknya dan memeluknya dengan singkat.


"Belajar yang bener ya anak Mommy." Kata Fahisa


"Siap Mommy." Kata Sahara sambil tersenyum lebar


Sesaat setelah mereka berangkat Fahisa kembali masuk dan menghampiri mertuanya yang sedang menonton tv. Saat sadar jika menantunya itu telah duduk disampingnya Tania tersenyum singkat lalu mengajaknya mengobrol.


"Fahisa"


"Iya Mami?"


"Daffa pernah kehilangan istrinya dan apa yang dia lakukan kepada kamu sekarang adalah cara dia untuk menjaga kamu, supaya dia tidak lagi kehilangan untuk yang kedua kalinya." Kata Tania dengan lembut


Tertegun Fahisa hanya diam ketika mendengarkan perkataan mertuanya, itu benar Daffa hanya takut untuk kehilangan lagi. Seharusnya dia merasa beruntung karena memiliki suami seperti Daffa. Suara bel membuat Fahisa tersentak dan mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Ada tamu biar Hisa buka pintu dulu." Kata Fahisa kepada Tania


Melangkahkan kakinya ke pintu utama Fahisa merasa tidak enak jantungnya berdetak tidak karuan dan ketika pinti itu terbuka dia memundurkan langkahnya karena kaget.


"Tante Rania"