Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Tigapuluh tujuh



Semalaman Fahisa sama sekali tidak bisa tidur dan terus merasakan sakit di perutnya membuat Daffa jadi tidak tega melihatnya. Perasaan marah semakin menguasai diri Daffa saat melihat istrinya yang begitu merasakan sakit sampai tidak bisa tidur dan terus menangis.


Menggenggam erat tangan istrinya Daffa berusaha menenangkan Fahisa dan beberapa kali perawat juga sudah datang, tapi sama sekali tidak membuat sakit di perut Fahisa menghilang. Hampir pagi Fahisa baru bisa tertidur sekitar pukul tiga malam, tapi Daffa sama sekali tidak bisa tidur dia hanya diam sambil terus memandangi istrinya.


Tubuhnya sakit, tapi Daffa sama sekali tidak perduli dia masih merasa tidak tenang. Rasa takut menguasai diri Daffa dia bingung dengan semua yang terjadi.


Apa mungkin Jira?


Tapi, Jira ada bersamanya dan mungkinkah wanita itu melakukannya?


Apa Jira bisa setega itu?


'Daffa dokter akan bicara dengan kamu besok dia bilang hanya suaminya yang bisa mengambil keputusan, Kakak tidak tau apa maksudnya hanya saja tetaplah tenang dan kuat'


Apa yang ingin dokter katakan kepadanya?


Kepala Daffa benar-benar penuh selain memikirkan tentang banyak kemungkinan buruk dia juga terus bertanya-tanya tentang banyak hal.


Kenapa ini semua bisa terjadi?


Menatap mata istrinya tangan Daffa terulur untuk menghapus sisa air mata yang belum mengering di pipi Fahisa dan setelahnya dia mengusap lembut perut buncit Fahisa. Apapun yang akan terjadi nanti Daffa akan terus berada di sisi Fahisa dan siapapun orang yang sudah melakukan hal ini dia tidak akan pernah memaafkannya.


Tidak akan.


"Fahisa maaf karena sudah membuat kamu merasakan sakit." Kata Daffa pelan


Enam bulan mereka begitu bahagia dengan setiap proses kehamilan Fahisa mulai dari pemeriksaan rutin, menuruti semua keingin Fahisa, menemaninya ketika dia sedang merasa mual, dan menerima semua sikap manja Fahisa dengan senang hati. Sekarang semua kebahagiaannya lenyap dalam waktu yang sesingkat ini dan saat ini Daffa hanya bisa berharap jika semua akan baik-baik saja.


"Semua akan baik-baik saja Fahisa aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi sama kamu"


¤¤¤¤


"Akhhh"


Baru saja tertidur beberapa jam yang lalu Daffa dibuat terkejut dengan suara ringisan Fahisa dan ketika dia mendongak istrinya itu terlihat sedang menahan sakit dengan tangan yang memegangi perutnya. Panik Daffa merasa begitu panik dan dengan tergesa-gesa dia menekan bel berkali-kali agar perawat segera datang dan memeriksa keadaan istrinya.


"Mas Daffa sakit aku gak kuat." Isak Fahisa membuat jantung Daffa langsung berdetak dengan begitu cepat


"Tidak akan terjadi apa-apa Fahisa, kemana orang-orang ini pergi?! Kenapa lama sekali?!" Kata Daffa sambil terus memencet bel dengan tidak sabaran


"Akhh sakit"


Suara ringisan itu semakin membuat Daffa panik dan di tambah lagi dengan nafas Fahisa yang tampak tidak beraturan membuat Daffa semakin emosi karena belum ada satu orang pun yang datang.


"Fahisa"


Tidak lama kemudian beberapaa perawat datang dan kali ini bersama seorang dokter membuat Daffa sedikit merasa lega karena dia akan segera bicara masalah keadaan istrinya. Setelah menyuntikkan sesuatu nafas Fahisa mulai teratur dan tidak lama setelahnya dia tertidur.


"Dokter apa istri saya baik-baik saja?" Tanya Daffa dengan cepat


"Ikutlah ke ruangan saya kita akan bicara." Kata Dokter itu sambil berlalu pergi


Bersamaan dengan terbukanya pintu itu Tania datang bersama dengan Sahara dan dengan cepat anak itu langsung memeluk Daffa erat.


"Saya akan tunggu di ruangan." Kata Dokter itu saat melihat Daffa yang sepertinya perlu bicara dengan keluarganya


Menganggukkan kepalanya Daffa menundukkan tubunya dan membalas pelukan Sahara sama eratnya lalu mengusap rambut hitam anak itu dengan penuh kasih sayang.


"Ara tidak sekolah?" Tanya Daffa


Sahara menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak mau Ara mau disini sama Mommy." Kata Sahara


Mengangguk pelan Daffa melepaskan pelukannya lalu mencium kening anaknya cukup lama.


"Ara sama Oma ya jagaiin Mommy, sekarang Daddy mau ketemu sama Dokter dulu." Kata Daffa yang langsung diangguki oleh anaknya


Sebelum pergi Daffa menatap Tania dengan senyuman tipis membuat wanita paruh baya itu menghela nafasnya pelan. Sekali lagi Daffa merasa begitu takut untuk kehilangan istrinya.


Setiap langkah yang Daffa tapaki terasa begitu berat, dia sangat takut untuk mendengar segala hal yang akan dibicarakan nantinya. Bayangan wajah kesakitan Fahisa membuat Daffa merasa begitu sulit untuk bernafas, dia terlihat begitu kesakitan dan Daffa sangat tidak tega melihatnya.


Ceklek


Memasuki ruangan nafas Daffa semakin terasa berat apalagi ketika dia sudah duduk dan berharapan dengan Dokter yang kini sedang menatap ke arahnya. Semua yang dikatakan Dokter nantinya Daffa harus siap menerima, tapi ketika sebuah kalimat itu keluar seluruh kekuatan Daffa rasanya telah direnggut secara paksa.


Daffa merasa begitu hancur.


Pertama, Daffa harus kehilangan istrinya dan mempertahankan bayinya.


Lalu sekarang?


Apa Daffa harus kehilangan bayinya demi mempertahankan istrinya?


"Bisa jelaskan semuanya kepada saya Dokter?" Pinta Daffa dengan nafas tertahan


Semua keputusan yang dia ambil hanya akan menyakiti mereka.


Tapi, Daffa harus mempertahankan salah satu dari keduanya.


¤¤¤¤


Di dalam ruang rawat Fahisa terlihat Sahara yang nampak begitu sedih sedang duduk dipangkuan Tania dan mengusap tangan Fahisa sambil sesekali memainkan jarinya. Sesekali Sahara memanggil nama Fahisa untuk mengetahui apa dia sudah sadar atau belum, tapi sayangnya sejak tadi Fahisa masih memejamkan matanya.


"Oma, kenapa Mommy belum bangun? Apa Mommy tidak sarapan? Kalau tidak sarapan nanti Mommy jadi tambah sakit." Kata Sahara sambil mendongak dan menatap Tania dengan wajah polosnya


Tania tersenyum lalu mengecup puncak kepala cucunya.


"Mommy lagi istirahat sayang nanti kalau sudah bangun Mommy akan makan." Kata Tania


Mengangguk pelan tangan Sahara kemudian terulur mengusap perut buncit Fahisa lalu tersenyum.


"Ada adik Ara yang akan menjaga Mommy, iyakan Oma?" Tanya Sahara sambil tersenyum kecil


Tania hanya menganggukkan kepalanya dan berharap jika perkataan Sahara benar, cucunya akan menjaga Fahisa.


Tangan Sahara masih terus mengusap perut itu dengan lembut dan tanpa ada yang tau dari balik pintu Daffa yang melihat semuanya merasa begitu sesak. Semuanya telah hancur keputusannya akan menyakiti banyak orang.


Menutup pintu dengan perlahan Daffa tidak jadi masuk kedalam ruangan dan langsung pergi untuk menenangkan fikirannya sejenak. Dia bersumpah tidak akan membiarkan orang yang melakukannya hidup dengan tenang.


Semua kebahagiaan dan harapan yang sudah tersusun dengan rapih ini akan segera berakhir sebentar lagi. Semua salahnya karena tidak bisa menjaga Fahisa dengan baik.


Di sisi lain Fahisa yang baru saja terbangun mendapati jika ada Sahara yang mengusap tangannya dan dengan senyuman tipisnya Fahisa memanggil nama Sahara membuat anak yang sebelumnya murung itu langsung tersenyum.


"Ara"


"Mommy"


Melihat menantunya yang sudah bangun Tania tersenyum bahagia dan dengan penuh semangat Sahara menoleh lalu berbicara dengan penuh kebahagiaan.


"Oma lihat Mommy sudah bangun!"


"Ara kenapa tidak ke sekolah?" Tanya Fahisa pelan


"Tidak mau, Ara mau sama Mommy saja disini." Kata Sahara membuat Fahisa tersenyum haru


Beberapa saat setelahnya Fahisa menyadari sesuatu dan dia langsung memandang ke segala arah mencari keberadaan suaminya. Menyadari jika Fahisa mencari keberadaan Daffa dengan cepat Tania langsung menjelaskan jika pria itu sedang menemui Dokter.


"Apa terjadi sesuatu yang buruk Mi?" Tanya Fahisa takut


"Semua baik-baik saja Fahisa." Kata Tania sambil tersenyum menenangkan


Meskipun Tania tau jika sesuatu yang buruk memang sudah terjadi, tapi menantunya tidak boleh stress karena memikirkannya.


Tidak lama setelahnya pintu ruangan di buka dan Daffa melangkahkan kakinya kedalam. Wajahnya terlihat sangat kusut dan begitu lelah membuat Fahisa jadi merasa begitu jahat.


"Sudah lebih baik?" Tanya Daffa lembut


Fahisa menganggukkan kepalanya lalu menatap Daffa dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


"Mas Daffa sudah sarapan? Sudah mandi?" Tanya Fahisa yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Daffa


"Mas Daffa pulang saja istirahat." Kata Fahisa pelan


Dia sangat merasa bersalah karena menahan Daffa disini padahal suaminya baru saja kembali dari luar kota dan pastinya sangat lelah.


"Fahisa"


"Emm?"


"Kamu percaya sama aku kan?"


Semua sudah di putuskan.