
Renata
Nama itu mendadak memenuhi fikiran Fahisa sejak rentetan pesan panjang yang entah di kirim oleh siapa masuk ke dalam ponselnya. Dia tau tentang Renata karena sebelum menikah Daffa memang sempat menceritakan tentang dia, wanita yang merupakan ibu kandung Fahisa dan wanita yang sangat dicintai oleh Daffa.
Daffa sangat mencintai Renata.
Hatinya hanya untuk dia, tidak ada seorang wanitapun yang bisa menggantikan Renata di hati Daffa.
Bahkan semua kenangan mereka tidak pernah benar-benar Daffa hilangkan, kamu bodoh kalau percaya bahwa dia akan mencintai kamu seiring berjalannya waktu.
Hati Daffa hanya untuk Renata dan itu akan berlaku selamanya.
Kalimat demi kalimat yang di kirim orang itu membuat Fahisa merasa sesak. Menurutnya Daffa sudah mulai membuka hati untuk dia pria itu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang.
Tapi, bagaimana jika itu semua benar?
Memijat dahinya pelan Fahisa yang sekarang berada di kamarnya mendadak teringat sesuatu dengan ragu dia melangkahkan kakinya ke arah salah satu lemari pakaian Daffa. Di genggamnya gagang lemari itu cukup kuat dan perlahan di tariknya sampai terbuka, tidak ada yang aneh disana semua hanya dipenuhi oleh pakaian suaminya.
Tidak berhenti sampai disitu Fahisa mulai membuka laci yang berada di dalam lemari. Menahan nafasnya Fahisa melihat kotak beludru berwarna merah dan di ambilnya kotak itu lalu di buka yang ternyata berisi dua buah cincin, cincin pernikahan mereka.
Menggigit bibir bawahnya cukup kuat Fahisa kembali meletakkannya kemudian mengambil salah satu album foto bertuliskan our memories dari dalam sana. Melangkahkan kakinya Fahisa mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang dan dengan nafas yang tercekat Fahisa mulai membuka album penuh kenangan tersebut.
Nama Daffa dan Renata terukir dengan indah disana membuat Fahisa tersenyum getir ketika melihatnya. Satu persatu Fahisa mulai membalik lembaran itu dan setiap lembaran yang di lihatnya telah berhasil menghancurkan Fahisa.
Foto masa kecil mereka, foto ketika mereka masih remaja, foto pernikahan, dan foto ketika Renata sedang mengandung.
Semuanya terlihat bahagia dan begitu romantis senyuman Daffa terlihat sangat lebar mereka berdua nampak begitu serasi.
Di akhir ada sebuah foto yang tidak melekat pada album dan itu adalah foto Renata seorang diri. Sebuah foto yang menampilkan wanita cantik yang tengah tertawa.
Tertawa miris Fahisa mulai terisak.
Apa yang dia harapkan?
Berharap jika Daffa akan melupakan Renata yang dikenalnya sejak belasan tahun dan mencintainya yang bahkan baru di kenal selama satu tahun belakangan?
Harapannya terlalu tinggi ya?
¤¤¤¤
Selama makan malam Daffa merasa ada yang sedikit berbeda dia melirik ke arah Fahisa yang sedang menyantap makan malamnya dengan diam bahkan wanita itu hanya menanggapi celotehan Sahara dengan sangat singkat. Namun, mata Fahisa yang menarik perhatian Daffa tatapannya terlihat sendu tidak ada binar seperti biasanya dan senyum yang sesekali dia tampilkan juga tak sama, senyuman itu terpaksa.
Selesai makan malam Fahisa yang sudah membersihkan meja makan berniat untuk menghampiri Sahara di kamarnya, tapi langkahnya terhenti ketika Daffa berdiri di hadapannya. Mendongakkan kepala Daffa menatap Fahisa dengan dalam membuat Fahisa jadi merasa ingin menangis.
"Ada sesuatu yang terjadi? Kamu terlihat sedih." Kata Daffa
Fahisa tersenyum tipis lalu menggelangkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak ada, aku hanya lelah saja." Kata Fahisa
Daffa mengerutkan dahinya dia tidak percaya dengan ucapan Fahisa.
"Kamu yakin?" Tanya Daffa lagi
Fahisa tersenyum lebih lebar dan mengangguk pasti membuat Daffa sedikit percaya.
"Aku mau ke kamar Ara dulu." Kata Fahisa meninggalkan Daffa yang masih terus menatapnya
Daffa yakin ada sesuatu yang salah, tapi apa? Tatapan istrinya berbeda dia menyimpan sesuatu di dalam sana yang tidak ingin disampaikan.
Di sisi lain Fahisa menghela nafasnya pelan sebelum memasuki kamar Sahara dan senyumnya mengembang ketika melihat anak itu sedang bermain boneka. Melihat Mommy nya datang Sahara langsung berlari kedalam pelukan Fahisa dan setelahnya Fahisa membawa Sahara kedalam gendongannya lalu membawanya ke tempat tidur.
"Sudah ya? Sudah malam Ara harus tidur." Kata Fahisa
Sahara mengangguk patuh dia mencium pipi berlubang Fahisa sebelum akhirnya mereka berdua berbaring di tempat tidur.
"Mommy lagi sedih ya?" Tanya Sahara
Fahisa hanya tersenyum menanggapinya dia mengelus rambut hitam Sahara dengan penuh kasih sayang membuat anak itu mulai memejamkan matanya.
Tidak masalah sebenarnya, tapi Daffa menyembunyikan itu semua. Seandainya saja dia mengatakannya Fahisa tidak akan sesedih ini mereka bisa berbagi cerita tentang masa lalu Daffa, dia tidak akan marah sungguh.
Fahisa tidak mengerti kenapa dia sesedih ini?
Biasanya dia selalu bisa menahan tangis untuk hal sesedih apapun itu, tapi kali ini di hadapan Sahara dia tidak bisa menahannya air matanya mulai turun.
Apa dia salah?
Fahisa masih cukup muda dia ingin merasa bahagia ketika di cintai oleh seorang lelaki, tapi sekarang dia malah menangis karena kenyataan ini. Mungkin akan lebih baik jika Daffa selingkuh dia bisa memakinya mengatakan bahwa dia adalah pria brengsek.
Tapi, dia tidak bisa karena Daffa adalah pria setia yang masih mencintai istrinya yang sudah lama tiada.
Di saat lelaki di luar sana dengan mudah menatap wanita lain meski sudah memiliki istri, Daffa justru tetap menetap di satu hati meskipun dia sudah pergi dan banyak wanita di hadapannya.
Daffa tetap setia hatinya masih tetap sama.
Pesan itu benar dia bodoh kalau berharap jika Daffa akan mencintainya seiring berjalannya waktu.
Fahisa hanya ingin dicintai, tapi ternyata itu hal yang mustahil terjadi.
Tanpa sadar tangisan Fahisa yang kini disertai isakan membuat Sahara yang sudah ingin ke alam mimpi kini kembali membuka matanya. Mata anak itu membulat ketika melihat Mommy nya yang dibanjiri air mata.
Sahara mendekatkan diri dia mendongak lalu menghapus air mata yang mengalir itu dengan hati-hati dia menangkup wajah Fahisa dan menatap mata yang berkabut itu dengan raut wajah sedih.
"Mommy kenapa? Kenapa menangis?" Tanya Sahara
Fahisa tidak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu menarik Sahara ke dalam pelukannya.
"Apa ada orang yang jahat sama Mommy? Ara akan pukul mereka nanti, tapi Mommy jangan nangis." Kata Sahara sambil memeluk erat Fahisa
Dia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu dan satu-satunya yang keluar hanyalah isakan. Fahisa tidak mengerti benar-benar tidak mengerti kenapa dia bisa secengeng ini, dia tidak pernah menangis di hadapan orang lain.
"Mommy sudah jangan nangis lagi nanti Ara ikut sedih." Kata Sahara
Melepaskan pelukannya Sahara kembali menghapus air mata Fahisa yang mengalir deras di pipi berlubangnya.
"Ada Ara Mommy jangan sedih." Kata Sahara sambil tersenyum lebar
Mengangguk pelan Fahisa mencium kening Sahara cukup lama dan kembali memeluk anak itu dengan erat.
"Apa Daddy yang buat Mommy sedih? Apa Daddy sudah jahat?"
¤¤¤¤
Sekitar tiga puluh menit berlalu Fahisa tertidur di kamar Sahara setelah dia cukup lama menangis mungkin beberapa orang akan berfikir jika dia terlalu berlebihan, tapi mereka tidak mengerti perasaannya. Mendongakkan kepalanya Sahara menatap Fahisa yang sudah tertidur lelap dan perlahan dia mulai bergerak mundur lalu berlari keluar kamar untuk menghampiri Daffa.
Di kamarnya Daffa yang memang sedang menunggu kedatangan Fahisa terkejut dengan Sahara yang tiba-tiba memeluknya erat. Merasa bingung Daffa langsung membawa Sahara untuk duduk di pangkuannya.
"Ara kenapa?" Tanya Daffa
"Daddy, apa Daddy sudah jahat sama Mommy? Kenapa Mommy menangis?" Tanya Sahara dengan wajah sedihnya
Membulatkan matanya Daffa terkejut mendengar perkataan Sahara berarti dugaannya benar jika sesuatu sudah terjadi karena tidak mungkin kalau Fahisa menangis tanpa alasan.
"Sekarang Mommy dimana?" Tanya Daffa cemas
"Mommy tidur di kamar Ara, Daddy kenapa Mommy menangis?" Tanya Sahara
Raut wajahnya terlihat sangat sedih membuat Daffa juga ikut merasa sedih dia harus mencari tau kenapa Fahisa bisa seperti ini.
"Ara jangan sedih sekarang kita lihat Mommy ya." Kata Daffa
Membawa Sahara kedalam gendongannya Daffa membawa anak itu kembali ke kamarnya dan disana dia dapat melihat Fahisa yang sedang tertidur dengan sangat pulas. Ada air mata yang masih berbekas disana membuat Daffa merasa sakit ketika melihatnya.
"Kamu kenapa Fahisa?"