Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Limapuluh satu



Melewati satu tahun kebersamaan dengan Fahisa adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagi Daffa meskipun tujuan awal pernikahannya hanya untuk Sahara, tapi seiring berjalanannya waktu rasa cinta dan ingin memiliki tumbuh dengan sendirinya. Ada banyak hal yang sudah mereka berdua lewati entah itu kebahagaiaan yang begitu besar hingga kesedihan dan luka yang mendalam semua sudah terlewati.


Satu tahun bukan waktu yang singkat ada begitu banyak kenangan yang akan mereka rindukan suatu saat nanti. Bagi Daffa pernikahan ini adalah segalanya dia bahagia akan keputusan yang telah diambilnya, menikahi Fahisa adalah keputusan terbaiknya.


Saat ini Daffa dan Fahisa sedang menghabiskan waktu di halaman belakang rumah Tania yang menghadirkan pemandangan bunga-bunga indah dan kolam ikan. Berada di samping istrinya Daffa tersenyum ketika melihat Fahisa yang sedang bercerita tentang pertemuannya dengan Sahara.


"Apa Ara pernah menceritakan sesuatu yang tidak baik tentang aku?" Tanya Daffa


Tertawa kecil Fahisa mengangguk dengan semangat.


"Sering, dia pernah bilang Mas Daffa itu pemalas." Kata Fahisa membuat Daffa langsung menoleh dan menatapnya dengan tidak terima


"Aku? Malas? Aku ini sangat rajin Fahisa kalau kamu ingin tau." Kata Daffa membela dirinya


"Aku kan hanya menyampaikan perkataan Ara! Dia bilang Mas Daffa itu pemalas kalau makan piring selalu ditinggal terus kalau pulang kerja tas dan sepatu di taruh sembarangan terus...."


"Tunggu! Itu kata Ara atau kata kamu hmm?" Tanya Daffa sambil menaikkan sebelah alisnya


Tertawa kecil Fahisa mendekatkan wajahnya lalu mencium sekilas bibir Daffa membuat suaminya itu tersentak dan terdiam seketika.


"Kata aku hehe"


"Sudah mulai berani mencium aku hmm?" Goda Daffa berharap Fahisa akan merona malu


Tapi, Fahisa malah tersenyum lebar dan mengangguk singkat lalu kembali mendekatkan wajahnya.


Mengusap pelan bibir suaminya Fahisa mengecup singkat bibir milik Daffa berkali-kali hingga membuat pria itu terdiam. Setelah merasa cukup Fahisa menjauhkan dirinya lalu tersenyum manis membuat Daffa jadi gila melihatnya.


"Berani kan?" Kata Fahisa membuat Daffa menggelengkan kepalanya pelan


"Siapa yang mengajari kamu hmm?" Tanya Daffa sambil membawa kepala Fahisa untuk bersender dipundaknya


"Mas Daffa"


"Kapan aku mengajari kamu seperti itu?" Tanya Daffa dengan kening berkerut


"Pernah, Mas Daffa kan sering cium aku terus pernah bilang kalau aku suruh melakukan seperti apa yang Mas Daffa lakukan." Jawab Fahisa tanpa ragu


"Kapan aku mengatakannya?" Tanya Daffa


"Ishh pernah Mas Daffa bilang gini lakukan seperti apa yang aku lakukan Fahisa, gitu." Kata Fahisa membuat Daffa terdiam dan menatap istrinya dengan tidak percaya


"Heyy kenapa kamu jadi seberani ini Hisa?" Tanya Daffa sambil mencubit pipi Fahisa


Tertawa kecil Fahisa tidak menjawab pertanyaan Daffa dan malah semakin mengeratkan pelukannya lalu menanyakan hal yang lain kepada suaminya.


"Mas Daffa kamu menyesal gak?" Tanya Fahisa membuat Daffa secara refleks menoleh dan menatap mata istrinya


"Menyesal untuk apa?" Tanya Daffa bingung


"Menikah dengan aku." Kata Fahisa pelan


"Kenapa aku harus menyesal? Aku tidak menyesal sama sekali Fahisa sebaliknya aku malah sangat bahagia bisa menikah dengan wanita pemalu ini." Kata Daffa sambil mencium puncak kepala istrinya cukup lama


Tersenyum tipis Fahisa mulai bicara hal yang membuat Daffa jadi marah mendengarnya, tidak seharusnya Fahisa mengatakan hal itu.


"Sudah satu tahun dan kita belum punya anak selain itu aku pernah keguguran dan kata dokter akan sulit untuk aku hamil lagi, bagaimana kalau aku memang tidak bisa..."


Perkataan itu tidak dapat Fahisa selesaikan karena Daffa yang secara tiba-tiba langsung membungkam omongannya dengan sebuah ciuman. Menahan tengkuk Fahisa dengan kekesalan di hatinya Daffa sama sekali tidak memberikan kesempatan untuk bernafas.


"Mas"


Setelah pukulan di dadanya barulah Daffa melepaskan ciumannya dan membiarkan dahi mereka menyatu dengan sempurnya. Mengusap pelan bibir istrinya Daffa menangkup wajah Fahisa lalu tersenyum penuh arti dan menatapnya dengan begitu dalam.


"Kenapa kamu bertanya hal seperti itu Fahisa? Aku tidak masalah meskipun itu satu tahun, dua tahun, tiga tahun, atau bertahun-tahun lamanya aku sama sekali tidak mempersalahkan itu semua,"


Menghela nafasnya pelan Daffa mengusap lembut pipi Fahisa membuat istrinya itu menutup matanya.


"Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi Fahisa aku tidak akan pernah meninggalkan kamu dan aku tidak pernah menyesal menikah dengan kamu, jadi jangan bertanya hal seperti itu lagi hmm?" Kata Daffa yang langsung diangguki oleh Fahisa


"Aku cuman takut Mas Daffa pergi ninggalin aku." Kata Fahisa sambil memeluk suaminya dengam erat


"Tidak akan Fahisa, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu"


¤¤¤¤


Saat malam hari Daffa langsung mengajak Fahisa untuk pulang tanpa Sahara karena dia sudah meminta kepada Tania agar membujuk anaknya untuk menginap dan tidak ikut pulang. Malam ini Daffa ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan Fahisa dan untungnya dia berhasil membuat Sahara memilih untuk menginap.


"Daddy Ara mau menginap di rumah Oma soalnya besok Oma mau ajak Ara jalan-jalan sama Kakak Satria juga." Kata Sahara dengan semangat


"Baiklah kalau begitu Mommy sama Daddy pulang dulu hmm? Ara jangan nakal ya kasihan Oma." Kata Daffa yang langsung diangguki oleh anaknya


Membawa Sahara kedalam gendongannya Daffa mencium seluruh wajah anak itu kemudian mengucapkan ucapan selamat malam.


"Selamat malam tuan putri Daddy." Kata Daffa sambil mengapit hidung Sahara dengan gemas


"Mau sama Mommy." Kata Sahara membuat Fahisa langsung mendekat dan mengambil alih Sahara dari gendongan suaminya


"Mommy jangan kangen sama Ara ya?" Kata Sahara sambil mencium pipi berlubang Fahisa


"Selamat malam Mommy." Kata Sahara sambil memeluk Fahisa


"Selamat malam juga sayang"


Setelah itu keduanya pergi meninggalkan rumah Tania dan pulang ke rumah mereka. Selama perjalanan tidak ada percakapan sama sekali mereka hanya diam apalagi Daffa, pria itu terlihat sangat gugup karena sebentar lagi dia akan menunjukkan kejutan yang sudah disiapkannya kepada Fahisa.


Selama mereka pergi tadi rumahnya sudah dihias dan diubah menjadi suasana yang akan terlihat begitu romantis oleh Raya, teman baiknya. Sudah ada banyak kata-kata yang Daffa rangkai dan akan dia sampaikan kepada Fahisa nantinya.


"Mas Daffa aku ngantuk." Kata Fahisa


"Sebentar lagi kita akan sampai Hisa." Kata Daffa tanpa mengalihkan pandanganya dari jalanan


Mengerucutkan bibirnya kesal Fahisa merasa tidak suka dengan perkataan Daffa biasanya entah itu masih jauh atau tidak kalau dia mengantuk Daffa pasti akan menyuruhnya untuk tidur lalu menggendongnya ke kamar ketika sudah sampai.


Akhirnya Fahisa hanya diam dan tidak memejamkan matanya sama sekali, dia merasa kesal. Saat mereka berdua akhirnya sampai di rumah Fahisa langsung keluar lebih dulu meninggalkan Daffa yang buru-buru menyusul Fahisa karena kalau istrinya itu masuk duluan bisa gagal semua rencananya.


"Fahisa kenapa buru-buru sekali?" Tanya Daffa sambil meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan cukup erat


"Hisa ngantuk mau tidur." Kata Fahisa ketus


Tersenyum kecil Daffa mengusap lembut tangan mungil yang berada digenggamannya itu lalu berbisik pelan di telinga Fahisa.


"Kamu tidak akan aku biarkan tidur Fahisa." Kata Daffa membuat Fahisa menegang ditempatnya


Dia tau apa yang suaminya itu maksud.


"Aku capek mau tidur!" Kata Fahisa berusaha menolak


"Tidak Fahisa! Kita akan bermain sampai pagi nanti mumpung tidak ada Sahara." Kata Daffa membuat wajah istrinya itu memerah sempurna


Melihat Fahisa yang memerah membuat Daffa tersenyum bahagia, tapi dia tidak main-main dengan ucapannya. Alasannya membuat Sahara menginap di rumah Tania adalah untuk ini, menghabiskan sepanjang malam bersama Fahisa.


Saat Fahisa membuka pintu utama rumah mereka dia disambut dengan kegelapan tidak ada cahaya sama sekali membuat Fahisa langsung mendekatkan dirinya kepada Daffa.


"Mas kok gelap sih?" Tanya Fahisa


"Mungkin Santi kira kita tidak akan pulang makanya semua lampu dimatikan, tunggu disini aku akan hidupkan lampu dulu." Kata Daffa


Meninggalkan Fahisa sendirian dengan berhati-hati Daffa menuju ke arah dapur dan menemui Raya juga Wira meminta mereka untuk menghidupkan lampunya ketika dia sudah siap. Melangkahkan kakinya ke tengah ruangan Daffa yang sekarang menggenggam sebuket bunga yang cukup besar menghela nafasnya panjang, sudah saatnya.


"Mas Daffa." Panggil Fahisa


Beberapa detik setelah suara Fahisa terdengar ruangan berubah menjadi begitu terang dan Fahisa mendadak membeku ketika melihat rumah mereka yang sekarang nampak begitu indah, di penuhi balon berbentuk hati, kelopak-kelopak mawar yang disusun dengan sangat rapih dan suaminya yang tersenyum manis tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Daffa berdiri di tengah-tengah rangkaian kelopak mawar yang dibentuk seperti hati, terlihat begitu indah. Tersenyum lebar Daffa merentangkan tangannya membuat Fahisa tertawa kecil dan langsung berlari untuk memeluk suaminya.


"Selamat hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama sayang." Kata Daffa membuat Fahisa semakin mengeratkan pelukannya


"Aku kira Mas Daffa lupa." Kata Fahisa pelan


Tertawa kecil Daffa melepaskan pelukannya lalu menyerahkan bunga yang ada digenggamannya kepada Fahisa membuat wanita itu tersenyum bahagia.


"Terima kasih banyak Mas." Kata Fahisa sambil tersenyum lebar


"Apa hanya aku yang memberikan sebuah kejutan? Apa istri cantikku ini tidak ingin memberikan apapun?" Tanya Daffa sambil mengusap pipi istrinya dengan lembut


Terdiam untuk sesaat Fahisa merasa jantungnya berdetak dengan begitu capat dan setelah menghela nafasnya pelan dia mendongak dan tersenyum manis sambil menatap suaminya.


Memajukan wajahnya Fahisa mengecup bibir Daffa sekilas.


"Aku juga punya hadiah." Kata Fahisa


"Benarkah? Kalau begitu berikan!" Kata Daffa sedikit tidak percaya


Menggenggam erat tangan suaminya Fahisa membawa Daffa menuju kamar mereka membuat pria itu langsung tersenyum senang, biarkan saja Wira dan Raya dibawah nanti juga mereka akan pulang. Saat membuka pintu kamar Fahisa kembali dibuat terkejut dengan keadaan kamar yang sudah dihias dengan begitu indahnya, seperti kamar pengantin.


"Jadi? Apa hadiahnya sayang?" Tanya Daffa


"Tunggu disini." Kata Fahisa


Berlari kecil Fahisa membuka lemari dan mengeluarkan sebuah kotak dari dalam sana. Berjalan mendekat Fahisa menyerahkan kotak itu kepada suaminya.


"Apa ini Hisa?" Tanya Daffa penasaran


"Hadiah yang akan membuat Mas Daffa merasa sangat bahagia." Kata Fahisa sambil tersenyum manis


"Aku buka sekarang ya?" Kata Daffa


"Nanti dulu." Kata Fahisa


Menghela nafasnya pelan Fahisa memeluk Daffa dengan erat.


"Sudah sekarang boleh dibuka." Kata Fahisa


Tertawa kecil Daffa membuka kotak itu dengan rasa penasaran dan di dalam pelukannya Fahisa tersenyum.


Malam ini akan menjadi malam yang penuh kebahagiaan.