Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Empatpuluh empat



Persidangan Jira baru saja diselesaikan satu jam yang lalu dan sekarang wanita itu sudah resmi dinyatakan bersalah. Selama persidangan Rana hanya diam sambil terus memandang anaknya yang hanya bisa tersenyum tipis ketika tatapan mereka bertemu, ada rasa bersalah di mata Jira dan Rana dapat melihat semuanya.


Sedangkan Fahisa yang juga ikut hadir ke persidangan hanya diam sambil menundukkan wajahnya dengan Daffa yang setia berada disampingnya dan merangkul pundaknya penuh kasih sayang. Saat keluar dari ruang sidang Fahisa menghela nafasnya panjang lalu melepaskan tangan suaminya dan berjalan menghampiri Rana yang sedang duduk termenung.


Menepuk pundak wanita paruh baya itu pelan Fahisa sedikit takut ketika tatapan tajam mengarah kepadanya, tapi dengan niat yang baik Fahisa mendekatkan dirinya lalu memeluk Rana membuat dia jadi tersentak karena perlakuan Fahisa.


"Tante maaf untuk memenjarakan Jira, tapi Tante anak aku juga butuh keadilan dia pergi bahkan ketika dia belum sempat melihat indahnya dunia." Kata Fahisa pelan


Di tempatnya Rana hanya diam tanpa berniat membalas pelukan yang di berikan oleh Fahisa. Sedangkan tidak jauh dari tempat mereka duduk Daffa tersenyum penuh arti ketika melihat keduanya, dia menyayangi Rana dan tidak suka melihat wanita itu merasa sedih, tapi Jira tetap harus mendapat hukuman yang setimpal.


"Tante punya aku, Mas Daffa, Sahara dan juga Mami tolong jangan bersedih Jira akan keluar ketika waktunya tiba." Kata Fahisa lagi


Melepaskan pelukannya Fahisa memandang Rana sambil tersenyum menguatkan lalu menepuk pelan pundaknya dan berlalu pergi bersama Daffa. Sungguh, Fahisa sangat mengerti jika sebagai seorang Ibu Rana pasti merasa begitu sedih karena kejadian ini dan entah anaknya salah atau tidak sebagai seorang Ibu Rana tetap merasa terluka dengan dipenjarakannya Jira meskipun dia tau jika ananya salah.


Semua memang akan berjalan seiring berjalannya waktu dan selama itu juga Fahisa berharap bahwa segala sesuatu akan menjadi lebih baik lagi kedepannya.


Dia berharap tidak akan ada lagi luka, kecewa, dan air mata.


¤¤¤¤


Setelah dua minggu berlalu sejak persidangan Jira semua berjalan dengan sebagaimana mestinya dan keluarga Daffa pun sudah semakin harmonis juga bahagia tak lagi memikirkan luka atau air mata yang mereka dapatkan beberapa waktu lalu. Hidup harus terus berjalan dan semua yang sudah berlalu biarlah dijadikan pelajaran.


Sebanyak apapun luka atau air mata yang kita dapatkan, tapi ketika keluarga juga orang yang kita sayang ada disisi kita dan juga memberikan dukungannya maka semua akan menjadi lebih baik lagi.


Hal itulah yang Fahisa rasakan.


Daffa dan Sahara kedua orang itu adalah obatnya mereka yang memang manja itu membuat luka Fahisa sedikit demi sedikit terobati.


Beberapa kali Daffa mengajak keluarga kecilnya pergi keluar untuk jalan-jalan bahkan beberapa hari yang lalu mereka baru saja pulang dari Malaysia. Sekalian mengerjakan pekerjaannya Daffa mengajak keluarganya turut serta untuk sekalian berlibur disana.


Pagi ini Fahisa yang baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya mengeratkan pelukan kepada suaminya membawa kepalanya untuk bersandar di dada bidang milik Daffa. Merasa terusik Daffa mulai membuka matanya dan senyuman langsung mengembang ketika dia melihat Fahisa yang sedang memeluknya erat.


Sedikit tersentak karena Daffa yang membawanya lebih dekat Fahisa langsung mendongakkan kepalanya dan menatap suaminya yang juga sedang menatap ke arahnya.


"Selamat pagi"


Tersenyum lebar Daffa menundukkan kepalanya lalu mencium bibir Fahisa sekilas membuat pipi istrinya itu merona.


"Tidurmu nyenyak Fahisa?" Tanya Daffa yang langsung diangguki oleh istrinya


"Mas Daffa kenapa tidak bersiap ke kantor?" Tanya Fahisa kepada Daffa yang sekarang malah memejamkan matanya dan menyembunyikan wajah di ceruk leher Fahisa


Kebiasaan yang sudah lama tidak dia lakukan.


"Hari minggu Fahisa, apa kamu lupa?" Kata Daffa yang hanya ditanggapi dengan gumaman pelan oleh istrinya


Memberikan kecupan-kecupan di leher jenjang istrinya Daffa benar-benar menikmati kebersamaan mereka pagi ini, meskipun tanpa Sahara karena anaknya itu menginap di rumah Tania. Saat ini keduanya sering menghabiskan waktu berdua bahkan sering kali Daffa mengajak istrinya itu untuk pergi ke kantor lalu bersama-sama menjemput Sahara ketika waktu pulangnya tiba.


Merasakan gejolak di dalam dirinya Daffa mengecup lehar jenjang istrinya dan meninggalkan tanda merah di sana membuat Fahisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara yang ingin dikeluarkan. Setelah melakukan hal itu Daffa menjauhkan wajahnya dan mensejajarkan dengan wajah milik Fahisa menatap kecantikan istrinya dari jarak sedekat ini.


Pipinya merona dengan jantung yang berdetak cukup cepat.


"Fahisa"


Tatapan mata Daffa sudah mulai berbeda dan suaranya juga terdengar lain membuat Fahisa merasa jantungnya berdetak dengan semakin cepat.


"Fahisa"


Tepat setelah dia memanggil nama Fahisa sebuah ciuman Daffa berikan, ciuman yang begitu lembut dan menghanyutkan. Tangan Daffa yang ada di pinggang Fahisa menarik wanita itu untuk semakin mendekat ke arahnya dan tangan yang lain menekan tengkuk Fahisa untuk memperdalam ciuman mereka.


Ada perasaan yang tidak bisa tergambarkan dan Fahisa pun hanya bisa menikmati semuanya, ciuman dan pelukan.


"Ehmm"


Memukul-mukul dada bidang suaminya Fahisa merasa sulit untuk bernafas karena pasokan oksigennya yang hampir hilang karena ciuman menggebu dari suaminya. Menjauhkan diri keduanya sama-sama menarik nafas yang panjang dan sesaat setelahnya Daffa mengangkat dagu Fahisa untuk menatap ke arahnya.


Bibirnya terlihat cukup memerah dan pipinya juga merona.


Fahisanya sudah kembali.


Pipi merona itu sangat Daffa rindukan.


"Fahisa kiss me"


"Sudah kan?" Kata Fahisa sambil tersenyum lebar


Membawa Fahisa kedalam pelukannya Daffa benar-benar merasa bahagia dan bersyukur karena semua kembali seperti semula dengan waktu yang cukup singkat. Ternyata Fahisa begitu dewasa dalam menanggapi semua kejadian yang menimpanya.


Bahkan Daffa masih ingat perkataan Fahisa malam itu ketika mereka mengobrol hingga hampir tengah malam.


'Mas Daffa aku memang sedih dan terluka karena kehilangan anak kita, tapi ada yang pernah bilang sama aku kalau semua yang terjadi dalam hidup kita pasti ada alasannya dan saat ini aku hanya perlu percaya bahwa semua akan indah pada waktunya, aku gak mau terlalu larut dalam kesedihan'


Fahisanya benar-benar mengagumkan.


Selain itu setelah memikiran matang-matang beberapa hari yang lalu Daffa sudah jujur mengenai masalah yang ada di rahim Fahisa akibat kejadian yang memghilangkan nyawa anak mereka. Saat mengatakan itu istrinya memang menangis hingga sesenggukan, tapi ketika malam harinya Fahisa yang berada di pelukan Daffa mulai berbicara.


'Terima kasih karena sudah jujur, tapi dokter mengatakan bahwa aku masih bisa hamil kan? Jadi, aku hanya berharap yang terbaik untuk kita semua karena mulai sekarang aku tidak mau lagi memikirkan kemungkinan buruk yang belum tentu akan terjadi'


Ya! Daffa juga sama dia berharap yang terbaik untuk kedepannya.


"Fahisa"


"Emm?"


"Sudah lama ya?" Kata Daffa membuat Fahisa bingung akan maksudnya


"Sudah lama apa?" Tanyanya bingung


Lalu Daffa berbisik.


"Sudah lama kita tidak mandi bersama"


¤¤¤


Di balik jeruji besi yang mengurungnya Jira terdiam dengan pandangan mata yang lurus kedepan ingatannya teralih kepada kejadian beberapa hari yang lalu ketika Fahisa mengunjunginya, sendirian tanpa Daffa. Mereka bertatap muka dan berbincang satu sama lain, perbincangan yang membuat Jira benar-benar menyesal untuk semua yang sudah di lakukan.


Hari itu Fahisa datang mengunjunginya dan Jira dapat melihat keadannya yang lebih baik dari pada di persidangan. Mereka diam untuk beberapa saat sampai akhirnya Fahisa mulai berbicara tanpa ada emosi di dalamnya.


'Jira, kenapa kamu melakukannya?'


Nada bicaranya begitu lembut dan saa sekali tidak menuntut untuk segera dijawab.


'Apa karena aku menikah dengan Mas Daffa? Aku tidak mengerti Jira semuanya sangat tiba-tiba dan kandungan yang sebentar lagi akan lahir ini juga pergi secara tidak terduga'


Selama disana yang terus berbicara adalah Fahisa dan Jira hanya menyimak dengan penuh rasa penyesalan.


'Aku sungguh menantikan kehadirannya Jira bahkan aku sudah membeli beberapa pakaian, sepatu, dan sehari sebelum kejadian itu aku sempat melihat-lihat tempat tidur bayi yang sangat lucu-lucu'


Matanya menerawang jauh dan Fahisa tersenyum saat mengingatnya membuat Jira benar-benar terluka karena sudah mengacaukan segalanya.


Fahisa tidak menangis, tapi matanya benar-benar memperlihatkan luka yang mendalam.


'Aku selalu tidak sabar untuk mendengar tangisan pertama kalinya, menggenggam tangannya yang begitu mungil, menggendongnya, dan menyaksikan pertumbuhannya hanya saja semua harapan itu berakhir dengan begitu saja'


Tapi, semuanya sudah terjadi dan Jira hanya bisa menyesalinya.


¤¤¤¤


Malam semuanya😊


Sebelumnya aku ucapin makasih ya untuk kalian yang udah kasih saran dan kritik tentang karya ini karena itu bener-benar membantu tau😂


Aku baca ulang lagi dan memang nemuiin banyak banget typo atau kalimat-kalimat yang sedikit aneh😅 sorry kalo kualitas penulisannya malah menurun😁


Semakin lama memang makin banyak typonya sih karena aku emang gk teliti selesai nulis langsung up gitu gak di baca lagi beda banget sama yang awal-awal dimana aku baca berkali-kali sampe bosen sebelum di up😂


Makasih yaa atas saran dan kritiknya kalo ada typo di koreksi yaa biar langsung aku benerin😊


Part-part sebelumnya yang ada typo sudah mulai aku benerin dan juga memperbaiki kalimat yang menurutku agak aneh.


Aku bakal berusaha untuk nulis yang terbaik dan tidak mengecewakan kalian semua💜


Salam sayang,


Daddy Daffa💕