Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Limapuluh empat



Sahara Berlian Wijaya anak perempuan satu-satunya Daffa itu sejak tadi terdiam dan terlihat tidak bersemangat sama sekali padahal sebentar lagi mereka akan pergi ke pasar malam seperti yang sudah dijanjikan. Namun, Sahara terus diam sambil memeluk Fahisa karena keduanya sekarang sedang menunggu untuk makan malam.


Sebenarnya Fahisa mengerti dengan jelas apa yang membuat anak itu terus diam dengan wajah tidak bersemangatnya, dia merasa takut. Ketakutan yang Sahara rasakan sangat besar anak itu takut untuk ditinggalkan oleh seorang Ibu yang baru bisa dia rasakan kasih sayangnya satu tahun belakangan.


"Ara kenapa diam saja hmm? Anak Mommy terlihat sedih, ada apa?" Tanya Fahisa sambil mengangkat wajah Sahara agar menatap ke arahnya


Menggelengkan kepalanya pelan Sahara kembali memeluk Fahisa dengan erat. Melihat hal itu Fahisa hanya bisa tersenyum kecil dan setelahnya dia mulai berbicara mencoba untuk memberikan anak ini sebuah pengertian.


"Ara semua yang terjadi waktu itu bukan salah adik bayi dan Mommy juga sakit bukan karena adik bayi, jadi Ara jangan sedih hmm? Mommy sangat senang karena bisa memiliki adik bayi di dalam sini." Kata Fahisa sambil mengusap perut ratanya dengan begitu lembut


Mendongakkan wajahnya Sahara dapat melihat Fahisa yang tersenyum begitu manis kepadanya.


"Tapi Mommy sakit dan berdarah." Kata Sahara dengan wajah sedihnya


"Sayang dengar kan Mommy ya? Saat itu Mommy sakit dan berdarah bukan karena adik bayi bahkan adiknya Ara menjaga Mommy dengan baik dari dalam sini." Kata Fahisa


Dia tidak menyalahkan rasa takut yang Sahara rasakan karena itu adalah hal yang wajar mengingat selama bertahun-tahun dia tidak merasakan kasih sayang seorang Ibu.


"Ara jangan sedih dan takut ya? Mommy akan baik-baik saja sayang apalagi ada dua adik bayi yang akan menjaga Mommy disini." Kata Fahisa


Mengambil tangan mungil Sahara diletakkan tangan itu ke perut ratanya dan kemudian Fahisa menatap anak itu dengan senyuman lebarnya.


"Ada dua?" Tanya Sahara


"Hmm ada dua sebentar lagi Ara akan punya dua adik." Kata Fahisa masih dengan senyum manisnya


Perlahan senyum Sahara terbit dia merasa bahagia dan kebahagiaan itu telah menghilangkan rasa takut dihatinya.


"Jadi Ara akan punya dua adik." Kata Sahara dengan senyuman lebarnya


"Iya sayangnya Mommy." Kata Fahisa sambil menangkup wajah Sahara dan mencium seluruh wajahnya


Setelahnya kekhawatiran Sahara perlahan pudar dan dia menjadi bersemangat seperti biasanya. Sehabis percakapan itu Sahara mulai berbicara tentang banyak hal dan sesekali keduanya juga tertawa bahagia.


Saat Daffa membuka pintu keduanya sama sekali tidak sadar dan masih sibuk dengan obrolan yang entah tentang apa. Melihat hal itu tentu saja Daffa merasa sangat bahagia, dia yakin Fahisa pasti sudah membuat anaknya merasa lebih tenang.


"Hey ada apa ini? Kenapa terlihat bahagia sekali?" Tanya Daffa sambil menghampiri kedua wanita kesayangannya


Bukan menjawab Sahara malah membisikkan sesuatu yang membuat keduanya menahan tawa saat melihat Daffa.


"Kenapa malah diam?" Tanya Daffa penasaran


"Soalnya Daddy datang! Kami kan lagi ngomongin Daddy." Kata Sahara membuat Daffa menatapnya dengan tidak percaya


"Kalian sedang membicarakan Daddy? Apa kalian ini menggosip?" Tanya Daffa sambil mengambil alih Sahara kedalam gendongannya


Tertawa kecil Sahara menciumi pipi Daffa berkali-kali membuat Daffa tersenyum senang.


"Sekarang Daddy harus pangiil Ara dengan Kakak Ara! Soalnya Ara akan jadi Kakak!" Kata Sahara sambil menusuk-nusuk pipi Daffa dengan jari telunjuknya


Mendengar hal itu Daffa tertawa dan berniat untuk menjahili anaknya, tapi sebelumnya dia mendudukkan dirinya disebelah Fahisa dengan Sahara yang berada dipangkuannya.


"Kakak? Bagaimana kalau Daddy panggil Ara dengan Acil saja?" Kata Daffa


"Acil itu apa?" Tanya Sahara dengan wajah polosnya


"Acil itu Ara kecil." Kata Daffa sambil mengapit hidung anaknya


Mengerucutkan bibirnya kesal Sahara memukul-mukul dada bidang Daffa dengan penuh kekesalan.


"Ara sudah besar! Ara maunya dipanggil Kakak!" Kata Sahara


"Kata siapa Ara sudah besar? Ara masih sangat kecil." Kata Daffa membuat anaknya semakin cemberut dan Fahisa yang tersenyum geli melihat tingkah keduanya


"Ara sudah besar! Ara sudah masuk sd terus Ara akan punya adik dua!" Kata Sahara dengan wajah galaknya


"Tidak sayang kamu masih kecil." Kata Daffa membuat Fahisa memukul lengannya pelan


"Mas Daffa jangan gangguin Ara." Kata Fahisa merasa gemas dengan tingkah suaminya


"Pokoknya Ara sudah besar!"


"Iya sayang Ara sudah besar." Kata Fahisa berusaha menghentikan kejahilan yang mungkin akan berujung dengan tangisan Sahara


"Daddy jahat! Ara musuhan sama Daddy!" Kata Sahara sambil bangkit dari tempatnya duduk dan menghampiri Fahisa


"Yasudah kalau Ara musuhan sama Daddy berarti kita tidak jadi ke pasar malam." Kata Daffa


"Daddy jahat Ara bakalan bilang sama Oma!"


¤¤¤¤


Saat makan malam Sahara sama sekali tidak mau menatap mata Daffa anak itu masih merasa sangat kesal dan menutup mulutnya rapat-rapat, padahal biasanya ketika makan malam Sahara akan tetap berbicara dan mengobrol tentang banyak hal. Melihat hal itu Daffa malah merasa senang karena telah berhasil membuat anaknya kesal, dia suka wajah cemberut Sahara.


Malam ini bukan Sahara, tapi Tania yang setelah selesai menyantap makan malamnya mulai memberikan banyak sekali nasihat serta larangan untuk Fahisa.


"Dengar Fahisa! Kamu jangan melakukan pekerjaan rumah apapun dan kamu juga harus banyak-banyak makan buah sama sayuran! Jangan kebanyakan makan yang pedas-pedas karena kamu punya maag." Kata Tania


"Mami juga harus beri tau dia supaya mengatakan semua keinginannya dan tidak pergi keluar malam sendirian untuk membeli makanan." Tambah Daffa yang langsung membuat Fahisa cemberut bukan main


"Astaga Fahisa jadi kamu suka keluar malam untuk membeli makanan?! Kenapa tidak meminta Daffa saja? Itu bahaya sayang jangan seperti itu lagi!" Omel Tania membuat Fahisa hanya bergumam pelan


"Tapi kan dekat Mi tidak jauh dari rumah hanya di depan kompleks perumahan." Cicit Fahisa


"Tetap saja tidak boleh Fahisa! Kamu punya suami jadi katakan semua keinginan kamu kepada Daffa! Mami tidak mau dengar lagi kalau kamu keluar malam-malam sendirian! Bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk? Tidak! Jangan seperti itu lagi." Tegas Tania membuat Daffa tersenyum puas dan Fahisa mengangguk singkat


"Cucu Oma juga harus membantu jaga Mommy ya? Sebentar lagi Ara kan akan jadi seorang Kakak." Kata Tania kepada cucunya yang sekarang sedang menatapnya sambil mengangguk


"Ara ingat apa kata Oma tadi?" Tanya Tania


Mengangguk cepat Sahara langsung mengatakan semua perkataan Tania sore tadi.


"Ara harus taruh tas sama sepatu di tempatnya terus jangan acak-acak kamar dan mandi sama ganti baju sendiri." Kata Sahara


"Pintar sekali cucu Oma." Kata Tania membuat Sahara tersenyum lebar


"Kalau sudah begitu berarti Ara sudah besar kan Oma? Berarti Ara bukan anak kecil lagi kan?" Tanya Sahara membuat Daffa tersenyum geli mendengarnya


Anaknya sangat ingin dikatakan sebagai anak yang sudah tumbuh besar meskipun itu adalah kenyataannya, tapi tetap saja Daffa belum rela dia masih menganggap Sahara sebagai putri kecil kesayangannya.


"Tentu saja sayang." Kata Tania


Menoleh dan menatap Daffa dengan garang Sahara mengatakan hal yang membuat Daffa tidak bisa menahan tawanya karena melihat wajah lucu anaknya.


"Daddy dengar tidak? Ara sudah besar! Jangan panggil Ara anak kecil lagi! Oma harus beritau Daddy soalnya Daddy selalu bilang Ara masih kecil." Kata Sahara mengadu


Menatap Daffa dengan tajam Tania hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan saat anaknya itu mengangkat bahunya acuh.


"Jangan dengarkan Daddy ya sayang, Nanti Oma akan marahi Daddy." Kata Tania yang semakin membuat Sahara merasa senang


"Dengar tidak Daddy? Nanti Daddy akan dimarahi sama Oma!" Kata Sahara masih dengan wajah galaknya


"Hey kamu dendam sekali sama Daddy ya?" Kata Daffa sambil tertawa kecil


Tapi, Sahara malah semakin kesal melihatnya.


"Oma lihat Daddy malah tertawa!"


Sahara dan Daffa benar-benar sulit untuk akur, tapi keduanya punya ikatan yang begitu kuat.


¤¤¤¤


Malam ini rencana untuk pergi ke pasar malam dibatalkan karena Sahara sendiri yang mengatakan bahwa dia tidak mau ke pasar malam dan memilih untuk langsung pulang saja. Akhirnya Daffa menuruti keinginan anaknya dan segera melajukan mobilnya ke rumah karena Sahara yang terlihat sudah sangat mengantuk mengingat malam memang sudah semakin larut.


Selama perjalanan Sahara tidak lagi berbicara, tapi dia tertidur di dalam dekapan Fahisa dan seperti biasa ketika sudah sampai Daffa akan menggendong anaknya lalu membawanya ke kamar. Namun, kali ini Fahisa ikut serta dan mengatakan kepada Daffa bahwa dia akan menemani Sahara sebentar.


Menidurkan dirinya disebelah anaknya Fahisa mencium kening Sahara dengan begitu lembut lalu mengusap pipi tembamnya dengan penuh kasih sayang.


"Ara terima kasih banyak karena sudah membuat Mommy menjadi bagian di keluarga kecil ini"


Saat akan pergi Fahisa dibuat terkejut dengan pelukan Sahara, ternyata anak itu terbangun dari tidurnya.


"Apa Mommy mengganggu tidur Ara?" Tanya Fahisa


"Tidak Mommy." Kata Sahara sambil mengeratkan pelukannya


"Mommy"


"Kenapa sayang?"


"Ara juga terima kasih karena Mommy sudah mau jadi Mommy nya Ara"


Dan Fahisa merasa tersentuh ketika mendengarnya.