Daddy, I Love You!

Daddy, I Love You!
Limapuluh lima



Pagi ini Fahisa kembali merasa mual dan sudah sekitar sepuluh menit sejak bangun dari tidur Fahisa belum beranjak dari kamar mandi karena rasanya dia masih ingin muntah. Disampingnya ada Daffa yang setia menemani Fahisa dan dengan lembut memjiat tengkuk istrinya sambil merangkul tubuh Fahisa yang sudah mulai lemas.


"Apa masih mual?" Tanya Daffa khawatir karena wajah Fahisa terlihat agak pucat


Menggelengkan kepalanya singkat Fahisa menegakkan tubuhnya dan sekali lagi ketika dia berdiri tegak perutnya terasa sakit.


"Akhhh"


"Ada apa Fahisa?" Tanya Daffa khawatir


"Sakit." Kata Fahisa sambil menggenggam tangan suaminya


"Apa kita perlu ke dokter?" Tanya Daffa masih dengan wajah khawatirnya


Fahisa menggelengkan kepalanya pelan, tapi dia memejamkan matanya berusaha menahan rasa nyeri di perutnya.


"Tidak perlu Mas sudah tidak terlalu sakit kok." Kata Fahisa sambil kembali berusaha menegakkan tubuhnya


Saat akan melangkahkan kakinya keluar kamar mandi Fahisa dibuat terkejut ketika tubuhnya yang terangkat dan langsung berada di gendongan suaminya.


Daffa merasa khawatir melihat wajah istrinya yang sedikit pucat.


"Sekarang kamu tidak boleh ngapa-ngapain istirahat saja dan hari ini aku juga tidak akan berangkat bekerja." Kata Daffa membuat Fahisa menatapnya dengan mata membulat


"Mas Daffa tidak perlu sampai segitunya aku baik-baik saja masalah perut dari kemarin memang seperti itu, tapi sakitnya hanya sebentar." Kata Fahisa


"Dari kemarin? Kita harus ke dokter Fahisa." Kata Daffa dengan wajahnya yang semakin terlihat khawatir


Merasa gemas Fahisa menangkup wajah suaminya lalu mengecup singkat bibir Daffa.


"Kita kan kemarin baru ke dokter sayang." Kata Fahisa sambil menekankan kata sayang


Tersenyum lebar Daffa begitu bahagia saat untuk pertama kalinya Fahisa memanggilnya dengan kata-kata sayang.


"Kamu panggil aku apa barusan?" Goda Daffa


"Sayang, suamiku sayang." Kata Fahisa sambil tersenyum lebar


Bukan Fahisa kali ini Daffa yang merasa salah tingkah dan dengan gerakan cepat dibawanya tubuh Fahisa kedalam dekapannya.


"Kamu tau hal lain yang buat aku bahagia saat kamu sedang hamil?" Tanya Daffa


"Apa?" Tanya Fahisa sambil mendongak dan menatap suaminya


Tersenyum tipis Daffa mendekatkan wajahnya lalu membisikkan sesuatu yang membuat Fahisa malu.


"Kamu jadi agresif aku suka. Selain itu kamu jadi suka cium dan ajakin aku main di kamar"


Memukul pelan dada suaminya Fahisa menyembunyikan wajahnya disana membuat Daffa tertawa kecil melihatnya.


"Ingin makan sesuatu?" Tanya Daffa dengan lembut


Mendongakkan kepalanya Fahisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan cepat membuatnya terlihat lucu dimata Daffa.


"Mau apa sayang?" Tanya Daffa lagi


"Mau nasi goreng buatan Mas Daffa." Kata Fahisa dengan penuh semangat


Mendengar hal itu Daffa tersenyum senang, untung saja permintaannya masih bisa dia turuti.


"Baiklah kalau begitu sekarang kita harus ke dapur untuk memasak." Kata Daffa


Saat perkataan itu selesai terucap pintu kamarnya dibuka dan Sahara dengan senyuman manisnya langsung berlari kedalam.


"Hey sayangnya Daddy sudah bangun?" Kata Daffa sambil memeluk Sahara dan membawa anak itu kedalam pangkuannya


"Sudah, selamat pagi Daddy." Kata Sahara sambil mencium pipi Daffa


"Selamat pagi juga sayang." Balas Daffa sambil mencium pipi anaknya dengan sayang


Setelahnya Sahara segera turun dari pangkuan Daffa dan mendudukkan dirinya dipangkuan Fahisa yang sekarang sedang setengah berbaring dengan tubuh yang disandarkan pada ranjang.


"Selamat pagi sayangnya Mommy." Kata Fahisa sambil tersenyum manis


Sahara ikut menyunggingkan senyumnya, tapi perlahan senyum itu memudar saat dia menyadari sesuatu.


"Apa Mommy sakit? Mommy kelihatan pucat." Kata Sahara dengan bibir mengerucut


Mendengar hal itu Fahisa tersenyum, dia sangat senang dengan perhatian dan kepedulian Sahara untuknya. Membawa anak itu kedalam pelukannya Fahisa mengusap rambut hitam Sahara dengan penuh kasih sayang.


"Tidak sayang, Mommy hanya lapar makanya jadi lemas begini." Kata Fahisa


"Mommy lapar? Daddy kita harus masak karena Mommy sudah lapar adiknya Ara juga pasti kelaparan." Kata Sahara dengan segera membuat kedua orang tuanya itu tersenyum geli


"Ayo kita masak sayang." Kata Daffa sambil membawa Sahara kedalam gendongannya


Mereka keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur dengan diikuti Fahisa dari belakang. Selama kegiatan memasak Fahisa hanya diam dan memperhatikan Daffa serta Sahara, anaknya yang masih berusia enam tahun itu berdiri diatas kursi agar dapat menjangkau meja.


Sejak tadi yang dilakukan Sahara adalah mencuci beberapa sayuran yang akan mereka masak dan selebihnya anak itu hanya diam sambil memperhatikan Daddy nya memasak.


"Daddy nanti kita goreng telur mata sapi ya? Terus bikin susu juga." Kata Sahara


"Siap sayangnya Daddy, apa Mommy juga mau minum susu?" Tanya Daffa sambil mendongak dan menatap istrinya


"Tidak Mas aku mau makan buah saja." Kata Fahisa


"Baiklah, mau buah apa sayang?" Tanya Daffa sambil memotong beberapa sayuran


"Emm mau pisang." Kata Fahisa dengan senyum lebarnya


"Akan aku siapkan untung saja masih ada." Kata Daffa


"Daddy Ara juga mau pisang." Kata Sahara membuat Daffa menoleh dan mencium pipi anaknya sekilas


"Iya Ara nanti akan Daddy siapkan sekarang kita masak dulu oke?" Kata Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Sahara


"Ara sini saja sama Mommy." Kata Fahisa saat melihat Daffa yang sudah ingin menghidupkan kompor


Dia takut kalau ada anak kecil yang berada di dekat kompor.


"Iya Ara sama Mommy saja ya? Biar Daddy yang selesaikan." Kata Daffa


Mengangguk singkat dengan bantuan Daffa anak itu turun dari kursi dan menghampiri Fahisa.


"Hanya sedikit lapar." Kata Fahisa sambil tertawa kecil


"Mommy kalau hari ini Ara tidak mau sekolah boleh tidak?" Tanya Sahara


Menggerakkan jari telunjuknya sambil menggelengkan kepalanya pelan Fahisa membuat Sahara mengerucutkan bibirnya kesal.


"Tidak sayang, memang kenapa Ara tidak ingin sekolah?" Tanya Fahisa penasaran


"Mau sama Mommy." Kata Sahara


"Ara sekolah ya? Kan hanya sebentar masa sudah besar tidak mau sekolah?" Kata Fahisa sambil mengapit hidung anaknya


"Tapi, nanti Mommy ikut antar sama jemput ya?" Kata Sahara


"Iya Ara nanti pulang sekolah kita ajak Daddy makan ice cream." Kata Fahisa membuat Sahara langsung tersenyum senang


"Yesss Ara mau makan ice cream!"


Sekitar sepuluh menit akhirnya Daffa sudah selesai memasak dan dengan bantuan Fahisa keduanya menata meja makan. Tidak lupa Daffa juga menyiapkan buah serta susu untuk Fahisa dan Sahara.


Setelah semua siap bersama-sama mereka memakan nasi goreng yang sudah Daffa buat.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Daffa


"Enak!"


Kata itu diucapkan Fahisa dan Sahara bersamaan.


¤¤¤


Sesaat setelah menerima telpon dari kantor Daffa berdecak kesal dia berniat libur hari ini, tapi tetap saja selalu ada yang menganggunya dan lebih mengesalkan lagi Fahisa malah membiarkannya pergi. Sungguh Daffa merasa tidak tenang harus meninggalkan Fahisa bahkan meskipun hanya sebentar dia hanya takut kejadian yang sama terulang lagi, tapi mata Fahisa yang menatapnya dengan penuh keyakinan membuat Daffa akhirnya luluh.


"Kamu jangan kemana-mana! Jangan melakukan pekerjaan apapun!" Tegas Daffa sebelum Fahisa turun


Menganggukkan kepalanya Fahisa mencium sekilas bibir suaminya.


"Iya sayang aku janji." Kata Fahisa membuat Daffa tersenyum singkat


"Aku benar-benar tidak ingin pergi Fahisa." Keluhnya


Menghela nafasnya pelan Fahisa menangkup wajah suaminya dan mengusap pipi Daffa dengan begitu lembut.


"Hanya sebentar kan Mas? Sudah aku akan baik-baik saja." Kata Fahisa sambil tersenyum manis


"Jangan pergi kemanapun...."


"Iya Mas aku akan berdiam diri saja di kamar hari ini." Kata Fahisa yang merasa gemas dengan tingkah suaminya


"Ide bagus sayang." Kata Daffa sambil menepuk-nepuk puncak kepalanya pelan


"Yasudah aku turun dulu." Kata Fahisa sambil meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya


"Aku berangkat dulu ya sayang"


Mengangguk singkat Fahisa mengatakan kepada suaminya untuk berhati-hati lalu setelahnya Fahisa keluar dari mobil dan melambaikan tangannya kepada Daffa.


Menghela nafasnya pelan Daffa melajukan mobilnya sesaat setelah Fahisa memasuki area rumah. Sekitar tiga puluh menit akhirnya Daffa sampai di kantornya dan untungnya adalah dia selalu menyimpan jas di mobilnya.


Saat memasuki area kantor para karyawan menunduk dengan sopan dan ketika melewati tempat sekretarisnya Daffa berhenti sejenak.


"Dina apa Kak Farhan sudah didalam?" Tanya Daffa


"Sudah Pak ada beberapa pemimpin perusahaan cabang juga yang datang." Kata Dina


Mengangguk singkat Daffa langsung memasuki ruangannya dan bergabung dengan mereka yang sudah menunggunya. Berdeham pelan Daffa mempirsalahkan mereka untuk mengatakan semua yang harus dia dengar.


Sekitar satu jam mereka berbicara mengenai masalah yang terjadi di kantor cabang karena adanya dugaan penggelapan uang.


"Kami sudah mulai melakukan penyelidikan sejak kemarin dan sementara proyek itu dihentikan, tapi ada beberapa pekerja yang melayangkan protes karena penghentian sementara itu." Jelas salah satu dari mereka kepada Daffa


Menghela nafasnya kasar Daffa merasa benar-benar kesal karena setiap tahun pasti selalu ada masalah yang sama, membuatnya pening saja. Padahal gaji yang dia berikan cukup besar, tapi orang-orang serakah itu masih saja melakukan penggelapan dana perusahaan.


"Siapa orangnya kali ini?"


¤¤¤¤


Menghabiskan waktu tiga jam di kantornya Daffa akhirnya bisa pulang dan kembali bertemu istrinya, masalah tadi sudah sedikit terselesaikan dengan jalan tengah yang ditemukan. Sebenarnya bukan sekali dua kali masalah seperti itu terjadi, tapi memang setiap tahun selalu terjadi masalah penggelapan dana.


Saat ini Daffa ingin melupakan sejenak masalah kantornya dengan menemui Fahisa dan bermanja-manja dengannya sebelum menjemput Sahara satu jam dari sekarang.


Memasuki pintu utama Daffa sama sekali tidak melihat istrinya dan dia yakin jika Fahisa sekarang sedang berada di kamar mereka.


Benar saja saat membuka pintu kamar istrinya itu sedang duduk manis dengan bersandar pada dinding ranjang dan terlihat sedang memainkan ponselnya sambil sesekali mengambil sesuatu dari mangkuk yang ada dipangkuannya.


"Fahisa"


Mendongakkan kepalanya Fahisa tersenyum lebar dia menepuk tempat disebelahnya menyuruh Daffa untuk duduk.


Melangkahkan kakinya mendekat mata Daffa menyipit saat dia tau apa yang sedang dimakan istrinya.


Itu es batu!


Satu mangkuk penuh es batu.


"Fahisa kamu ini makan apa?" Tanya Daffa menatap istrinya dengan tidak percaya


"Makan es batu enak tau." Kata Fahisa sambil memasukkan es itu kedalam mulutnya


Dan ketika Fahisa menggigit hingga menimbulkan suara Daffa menahan ngilu saat mendengarnya.


"Astaga Fahisa"


Daffa jadi ingin tertawa melihatnya, bagaimana mungkin es batu dikatakan enak?


Bahkan itu tidak ada rasanya sama sekali.


¤¤¤¤


Makasih yang masih setia baca cerita ini hehe sayang bangett deh sama kaliannn❤❤❤❤