
Kekesalan Fahisa ternyata masih terus berlanjut hingga mereka pulang ke rumah, dia sama sekali tidak ingin mengajak suaminya berbicara. Sebenarnya bukan hanya Daffa yang bingung, tapi Fahisa sendiri juga merasa bingung dan aneh dengan sikapnya.
Tapi, dia meyakinkan bahwa yang dilakukannya adalah benar.
Suaminya memang menyebalkan dan sangat cerewet, dia tidak suka.
Sejak pulang dari rumah Dara sore tadi Fahisa sama sekali tidak mau bicara dengan suaminya bahkan perkataannya hanya dia balas dengan begitu singkat.
Tidak tau kenapa yang jelas Fahisa masih merasa kesal.
"Fahisa"
Saat ini keduanya sedang berbaring di ranjang dengan posisi Fahisa yang membelakangi Daffa dan Daffa yang memeluk istrinya dari belakang. Sahara sudah tidur dan sekarang adalah waktunya bagi Daffa untuk berbaikan dengan istrinya, dia tidak suka di diami seperti sekarang.
"Fahisa berbaliklah jangan membelakangi aku." Pinta Daffa yang sama sekali tidak dihiraukan oleh istrinya
"Maafkan aku karena sudah membuat kamu kesal hmm? Jangan diami aku seperti ini sayang." Kata Daffa lagi
"Aku tidak suka dimarahi." Kata Fahisa tanpa mau menoleh
Menghela nafasnya pelan Daffa menyembunyikan wajahnya diceruk leher Fahisa dan menciumnya sesekali membuat wanita itu sedikit memberontak.
"Maaf karena sudah membuat kamu marah, tapi aku sama sekali tidak bermaksud untuk memarahimu kamu sayang,"
Tidak ada jawaban Fahisa masih tetap diam dan hal itu membuat Daffa harus berbicara lebih banyak lagi.
"Aku khawatir Fahisa sungguh hanya itu aku sama sekali tidak berniat memarahi kamu, aku hanya tidak mau kamu sakit." Kata Daffa berusaha membuat istrinya mengerti
Kali ini Fahisa berbalik dan menghadap ke arah Daffa dengan bibir mengerucut.
"Tapi, aku tidak sakit." Kata Fahisa
"Tetap saja aku khawatir sayang, kamu punya maag kan? Aku takut kalau kamu sakit karena telat makan." Kata Daffa sambil mengusap kedua pipi istrinya
Masih tetap diam Fahisa menyandarkan wajahnya di dada bidang Daffa dan tidak mau menanggapi ucapan suaminya.
"Aku minta maaf hmm? Jangan diami aku sayang." Kata Daffa lagi
"Tadi siang Mas Daffa sangat cerewet dan tidak sabaran." Keluh Fahisa membuat Daffa terkekeh mendengarnya
"Maaf tidak akan aku ulangi lagi." Kata Daffa sambil mencium puncak kepala istrinya
Mendongakkan kepalanya Fahisa mengecup sekilas bibir suaminya lalu menatapnya dengan galak.
"Janji? Aku akan sangat marah kalau Mas Daffa ulangi lagi!" Ancam Fahisa
"Janji"
Menyunggingkan senyumannya Fahisa memeluk Daffa cukup erat, dia tidak bisa bohong kalau dia tidak bisa terlalu lama mendiami suaminya. Apalagi setiap malam dia hanya akan tidur di dalam pelukan suaminya dan bangun masih dengan posisi yang sama.
"Aku hanya takut Fahisa, maaf." Kata Daffa dengan nada yang terdengar begitu sendu
"Aku selalu takut jika sesuatu terjadi sama kamu dan aku takut kehilangan lagi, maaf." Kata Daffa sambil mengeratkan pelukannya
Mendadak Fahisa merasa menyesal karena sudah bersikap kekanakan padahal suaminya melakukan hal yang benar dan semua yang dilakukannya hanya untuk melindungi Fahisa.
Tapi, kenapa dia malah kekanakan begini?
"Aku gak mau kamu sakit dan aku gak mau kamu sedih, tapi tadi aku malah membuat kamu menangis. Maaf, jangan menangis lagi hmm?" Kata Daffa sambil mencium puncak kepala Fahisa dengan lembut
Mendongakkan kepalanya Fahisa menatap mata Daffa yang begitu teduh lalu tersenyum.
"Hisa yang minta maaf karena sudah buat Mas Daffa khawatir." Kata Fahisa sambil mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir milik Daffa
Awalnya Daffa sedikit tersentak, tapi setelahnya dia tersenyum dan dia sedikit tidak percaya ketika Fahisa mulai menggerakkan bibirnya dengan kedua tangan yang bersandar di dada bidangnya.
Hanya sebentar karena Fahisa langsung menghentikan ciumannya dengan wajah yang sudah sangat memerah.
Membawa Fahisa kedalam pelukannya Daffa merasa begitu bahagia dan perlahan mereka mulai memejamkan mata berusaha untuk pergi ke alam mimpi.
Semuanya sudah selesai Fahisanya sudah kembali.
¤¤¤¤
Pagi hari yang cerah telah berhasil membangunkan Fahisa lebih awal dari suaminya dan dengan penuh semangat Fahisa segera membersihkan diri lalu pergi ke dapur untuk membuatkan sarapan. Tentu saja tanpa membangunkan suaminya karena pria itu pasti tidak akan mengizinkan padahal membuat sarapan tidak terlalu melelahkan.
Di dapur juga Santi langsung melarang majikannya itu untuk membuat sarapan karena takut dimarahi oleh Daffa, tapi karena Fahisa yang sekarang cukup keras kepala memaksa untuk melakukannya. Bukan sarapan mewah Fahisa hanya menyiapkan makanan yang sangat sederhana.
Sekitar dua puluh menit berkutat di dapur sebuah tangan melingkari pinggang Fahisa dan tentu saja sudah bisa ditebak milik siapa.
"Siapa yang mengizinkan kamu membuat sarapan?" Tanya Daffa sambil memainkan hidungnya di leher jenjang Fahisa
"Aku sendiri yang mengizinkan." Jawab Fahisa membuat suaminya terkekeh
"Kamu masak apa sayang?" Tanya Daffa
"Aku goreng ayam sama telur, terus sekarang aku lagi bikin susu untuk Sahara." Kata Fahisa dengan senyum manisnya
"Sudah selesai? Kalau sudah aku akan panggil Sahara tadi dia masih bersiap." Kata Daffa
"Hmm sudah"
Setelahnya Daffa pergi untuk memanggil Sahara dan Fahisa segera menata meja makan, dia bahagia akhirnya bisa melakukan hal yang sama seperti dulu.
Tidak butuh waktu lama Daffa dengan Sahara di gendongannya sudah menghampiri Fahisa yang sedang duduk manis di meja makan.
"Selamat pagi Mommy nya Ara." Sapa Sahara dengan senyuman lebarnya
"Selamat pagi sayang, wahh Ara sudah cantik sekali." Kata Fahisa sambil mencubit pipi Sahara yang sekarang duduk disebelahnya
"Wahh ada ayam goreng." Seru Sahara saat melihat ke arah meja makan
Tersenyum senang Fahisa mengambil piring dan menyiapkan makan untuk keduanya. Selama sarapan sesekali mereka mengobrol hingga akhirnya suara ponsel Daffa membuat pria itu pergi untuk mengangkatnya.
Sekitar lima menit berbicara di telpon Daffa kembali dengan tergesa-gesa dan langsung menenggak air minumnya.
"Sayang aku harus pergi kantor nanti aku saja yang mengantar Ara ya? Kamu di rumah saja." Kata Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh istrinya
"Hmm apa ada urusan penting?" Tanya Fahisa ketika melihat Daffa yang terlihat terburu-buru
"Ada meeting mendadak, Ara sudah selesai makannya?" Tanya Daffa
"Hmm sudah tinggal minum susu." Kata Sahara
"Yasudah Daddy mau ambil berkas-berkas dulu di kamar nanti kita langsung berangkat." Kata Daffa sambil bergegas pergi ke kamarnya
Setelahnya Fahisa langsung memakaikan sepatu mungil milik Sahara lalu menangkup wajah anak itu dan mencium keningnya dengan lembut.
"Belajar yang benar ya sayang." Kata Fahisa
Tersenyum lebar Sahara menganggukkan kepalanya dengan semangat membuat anak itu terlihat begitu menggemaskan di matanya.
Tidak lama Daffa yang sudah lengkap dengan pakaian kantornya turun dan menghampiri keduanya.
"Fahisa aku berangkat jangan pergi kemana-mana sendirian dan jangan lupa tutup pintu karena Pak Hadi sedang mengantar Santi belanja kebutuhan rumah." Kata Daffa mengingatkan
"Hmm Mas Daffa juga hati-hati di jalan." Kata Fahisa sambil mencium punggung tangan suaminya dan memeluk singkat Sahara
Melambaikan tangannya Fahisa menunggu hingga keduanya memasuki mobil dan menghilang dari pandangannya lalu pergi ke dalam, tanpa mengunci pintu.
Saat ini Fahisa ingin bermalas-malasan jadi di pergi untuk mengambil beberapa buah dan menuju kamarnya, dia ingin menonton film dari ponselnya.
Tapi, ketika baru membuka pintu kamar ada sebuah map hijau yang tergeletak di lantai dan Fahisa dapat memastikan jika itu milik suaminya.
"Pasti terjatuh karena Mas Daffa buru-buru"
¤¤¤¤
Saat sampai di sekolah Sahara dan akan menuju kantor ponsel Daffa berbunyi dan menunjukkan jika istrinya sedang menelpon, tentu saja Daffa langsung mengangkatnya. Mengatakan jika ada berkas yang terjatuh membuat Daffa langsung membuka tasnya dan mengecek satu persatu dan ternyara benar.
"Astaga simpan saja Fahisa nanti katakan pada Pak Hadi untuk mengantarnya ke kantor"
'Hmm yasudah aku tutup dulu'
Mendengar suara lembut itu membuat Daffa secara refleks menyunggingkan senyumannya, dia jadi merindukan Fahisa.
"Kamu lagi ngapain hmm?" Tanya Daffa sambil mulai melajukan mobilnya
'Lagi makan apel, Mas Daffa sudah sampai belum?"
"Masih di jalan Hisa aku baru saja sampai di sekolah Ara tadi." Kata Daffa
'Yasudah menyetir saja dengan benar, aku tutup dulu telponnya'
"Nanti Fahisa aku ingin mengatakan sesuatu." Kata Daffa masih dengan senyumannya
'Apa?'
"I love you"
Hening, tidak ada jawaban dan Daffa yakin jika Fahisa pasti sedang tersenyum dengan pipi memerah disebrang sana.
'I love you too'
Tepat setelah kata itu diucapkan sambungan telponnya langsung terputus.
Dan senyum Daffa mengembang lebih lebar dari sebelumnya.
¤¤¤¤
Saat siang hari Fahisa dibuat khawatir dengan telpon dari mertuanya yang mengatakan jika Daffa sekarang ada disana karena sakit dan Fahisa diminta untuk menjemput Sahara lalu pergi ke rumahnya. Selama perjalanan ke rumah mertuanya Fahisa merasa tidak tenang dan cemas meskipun Tania sudah mengatakan jika Daffa sudah lebih baik.
"Mommy kenapa kita ke rumah Oma?" Tanya Sahara yang sekarang duduk dipangkuannya
"Kata Oma Daddy sedang sakit jadi kita disuruh kesana." Kata Fahisa membuat ekpsresi anak itu berubah seketika
"Daddy sakit apa?" Tanya Sahara dengan wajah sedihnya
"Mommy juga tidak tau sayang." Kata Fahisa
Ketika sampai keduanya bergegas turun dan memasuki rumah besar keluarga Wijaya. Di ruang tamu sudah ada Tania yang ketika melihat mereka langsung berdiri dan menghempiri keduanya.
"Mas Daffa dimana?" Tanya Fahisa khawatir
"Daffa sedang diperiksa jangan khawatir." Kata Tania
Tapi, perkataan itu sama sekali tidak membuat Fahisa merasa lega.
"Oma Daddy sakit apa?" Tanya Sahara dengan bibir menekuk
Wajah anak itu terlihat begitu sedih.
"Alerginya kambuh mungkin tanpa sadar Daffa memakan udang padahal dia sangat alergi dengan makanan itu." Kata Tania
Setelah mengatakan hal itu Tania mengajak keduanya untuk ke kamar Daffa dan bersamaan dengan itu seorang berjas putih keluar dari dalam sana. Tidak ingin mendengar Fahisa langsung memasuki kamar milik suaminya dan melihat pria itu sedang terbaring lemah di ranjang.
Berjalan mendekat tubuh Daffa terlihat begitu merah dan sesekali dia menggaruk bagian tangan serta lehernya yang mungkin terasa gatal.
"Mas Daffa"
Panggilan itu membuat suaminya menoleh dan Fahisa jadi ingin menangis melihatnya, efek kehamilan yang membuatnya semakin sensitif setiap harinya. Senyum Daffa mengembang, tapi sesekali dia batuk dan kembali menggaruk bagian tangannya.
"Kenapa? Mas Daffa ini suka kasih tau Hisa supaya jaga pola makan dan jangan makan sembarangan! Tapi, kenapa Mas Daffa malah begini?! Lihat kan jadi sakit." Omel Fahisa sambil berjalan menghampiri suaminya
"Maaf"
"Memang Mas Daffa makan apa? Kenapa bisa sampai begini?! Lihat tuh gatal kan merah-merah juga! Mas Daffa jadi jelek!" Kata Fahisa dengan penuh kekesalan
Tertawa kecil Daffa menarik tangan Fahisa agar duduk disebelahnya dan tidak lama setelah itu Sahara berlari ke dalam dengan bibir mengerucut juga wajah sedihnya.
"Daddy sakit apa? Kok badannya merah-merah sekarang Daddy jadi jelek." Kata Sahara sambil menaiki ranjang dan duduk di sebelah Daffa
Tersenyum kecil Daffa mengusap rambut hitam Sahara sebentar sebelum akhirnya dia kembali menggaruk bagian lehernya yang terasa gatal, dia benci kalau sudah begini. Saat alerginya kambuh begini pasti tidak akan cukup satu hari, tapi bisa sampai tiga hari lamanya.
"Daffa kalian menginap saja disini dulu ya?" Kata Tania yang dijawab dengan anggukan oleh Daffa
"Yasudah Mami akan siapkan makan siang setelah ini kamu minum obatnya." Kata Tania lagi
Sekali lagi Daffa hanya mengangguk dan setelahnya Tania keluar diikuti dengan Sahara yang katanya ingin membantu. Sekarang anak itu sangat senang membantu memasak makanan, mungkin dia ingin jadi koki.
"Sekarang bilang! Kenapa bisa begini?" Tanya Fahisa dengan wajah kesalnya
Tapi, kemudian tangannya menjelajahi wajah Daffa yang dipenuhi dengan ruam merah.
Dia tidak punya alergi jadi Fahisa tidak tau jika alergi bisa sampai separah ini, bahkan sejak tadi tangan suaminya tidak bisa diam.
"Aku hanya makan sedikit Fahisa tadinya aku fikir akan baik-baik saja, tapi ternyata malah sampai begini." Kata Daffa membuat Fahisa secara refleks memukul lengan pria itu cukup kuat
Pria itu selalu mengatakan jika dia harus menjaga pola makan dan tidak makan sembarangan, tapi lihat Daffa malah melanggar semua perkataannya sendiri.
Dia hanya bisa menasehati orang saja!
"Tidak ada kata sedikit kata kamu kalau tidak boleh ya tidak boleh! Mas Daffa ini kenapa sih?!" Keluh Fahisa
Kali ini matanya sudah mulai memerah membuat Daffa jadi panik sendiri.
"Memangnya cuman Mas Daffa yang tidak mau melihat aku sakit? Aku juga tidak mau kalau Mas Daffa sakit!"
Dan Fahisa malah menangis.
Lalu Daffa jadi merasa bersalah.
"Aku marah sama Mas Daffa!"
¤¤¤¤¤
Maaf bangettt karena lama😭
Aku banyak tugas sering begadang tadinya abis nugas mau nulis, tapi malah ketiduran :(
Huhuuu maaf ya :"
Besok mau update berapa part???